Kerusakan lingkungan kerap dibicarakan sebagai persoalan teknis meliputi hal-hal seperti izin, teknologi, regulasi, atau lemahnya pengawasan. Namun jika ditelusuri lebih dalam, kerusakan itu hampir selalu berakar pada sesuatu yang lebih mendasar dan sesuatu yang “basic”, yaitu bagaimana sebuah organisasi dipimpin dan nilai apa yang hidup di dalam budayanya.
Lingkungan yang rusak tidak pernah lahir dari satu keputusan tunggal, melainkan dari rangkaian pilihan yang diambil, dibenarkan, dilakukan terus menerus dan diwariskan secara sistematis.
Indonesia adalah negeri yang indah dengan kekayaan alam luar biasa. Hutan tropis, kandungan mineral, dan sumber daya laut menjadikannya salah satu negara paling potensial di dunia. Namun dalam praktiknya, kekayaan ini sering diperlakukan seolah tak memiliki batas.
Demi pertumbuhan dan pencapaian target, alam direduksi menjadi komoditas yang bisa dieksploitasi tanpa mempertimbangkan daya dukung dan keberlanjutannya. Di titik inilah kita perlu bertanya dengan jujur: keuntungan seperti apa yang sebenarnya sedang kita banggakan? Keberhasilan bisnis seperti apa pula yang sebenarnya sedang kita publikasikan?
Di banyak organisasi, keputusan untuk membuka lahan, mempercepat produksi, atau menunda pemulihan lingkungan sering dibungkus dengan narasi efisiensi dan kebutuhan bisnis.
Padahal, keputusan-keputusan tersebut adalah ekspresi nyata dari kepemimpinan dan merupakan gambaran bagaimana bisnis tersebut dikelola oleh para pemegang keputusan di organisasi. Pemimpinlah yang menentukan apakah organisasi memilih jalan yang mudah namun merusak, atau jalan yang lebih menantang tetapi bertanggung jawab tanpa harus merusak.
Ketika pemimpin hanya mengejar hasil jangka pendek, organisasi secara tidak sadar sedang menukar masa depan dengan kenyamanan dan keberhasilan sesaat tanpa mempertimbangkan akibat di masa yang akan datang. Angka laba memang bisa tumbuh cepat, tetapi bersamaan dengan itu, risiko juga menumpuk termasuk konflik dengan masyarakat, rusaknya ekosistem, meningkatnya bencana, hingga hilangnya kepercayaan publik.
Baca juga: Pemimpin Hebat Gaya Kepemimpinan yang Menginspirasi
Semua ini bukan risiko teoritis, melainkan realitas yang kini dihadapi banyak perusahaan di Indonesia jika tidak memperhatikan keberlanjutan dan keberlangsungan ekosistem yang ada yang harus dijaga bersama.
Kerusakan lingkungan juga membentuk budaya internal organisasi. Budaya bukanlah slogan di dinding kantor, melainkan pesan tak tertulis tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ketika pelanggaran lingkungan dibiarkan, ketika suara kritis dianggap mengganggu, dan ketika keberhasilan hanya diukur dari pencapaian target, maka organisasi sedang mengajarkan satu hal yaitu bahwa dampak bukan urusan kita.
Budaya seperti ini berbahaya karena menciptakan pembenaran kolektif. Karyawan belajar untuk diam, menyesuaikan diri, dan menormalisasi praktik yang seharusnya dipertanyakan. Dalam jangka panjang, organisasi kehilangan keberanian moral dan kemampuan reflektifnya. Ia mungkin terlihat kuat dari luar, tetapi rapuh dari dalam.
Di sinilah peran Human Resources menjadi sangat strategis. HR bukan sekadar pengelola administrasi atau pelatihan, melainkan penjaga nilai dan arah budaya organisasi. Melalui proses rekrutmen, promosi, penilaian kinerja, dan pengembangan kepemimpinan, HR ikut menentukan tipe pemimpin seperti apa yang tumbuh dan diwariskan.
Budaya dan nilai-nilai baik menjadi kunci yang harus dijaga oleh HR dan selalu akan digaungkan di setiap kesempatan baik kepada karyawan ataupun kepada para leader yang merupakan “role model” di organisasi.
Jika HR hanya fokus pada pencapaian KPI tanpa mempertimbangkan cara mencapainya, maka HR secara tidak langsung ikut melanggengkan budaya yang nantinya akan menimbulkan kerusakan. Namun ketika HR berani memasukkan keberlanjutan, etika, dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari kepemimpinan yang dinilai, organisasi mulai bergerak ke arah yang lebih dewasa.
Pemimpin tidak lagi dinilai hanya dari hasil, tetapi juga dari dampak. Perhatian organisasi pun akan bergeser dari sekedar nilai untung menjadi nilai untung dan nilai keberlanjutan dan kepedulian akan lestari alam dan ekosistem.
Tekanan untuk berubah kini datang dari berbagai arah. Pemerintah mulai memperketat penegakan hukum lingkungan dan kontrol pemerintah juga semakin detail sehingga organisasi akan dianggap tidak patuh aturan apabila terjadi pelanggaran atas aturan tentang lingkungan.
Investor global semakin selektif dan menempatkan aspek ESG, Environmental (Lingkungan), Social (Sosial), dan Governance (Tata Kelola) sebagai pertimbangan utama. Di sisi lain, generasi profesional muda semakin kritis dalam memilih tempat bekerja.
Mereka ingin menjadi bagian dari organisasi yang tidak hanya sukses secara finansial, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan ekologis. Mereka bangga menjadi bagian organisasi yang peduli atas keberlanjutan dan menjaga lingkungan sebagai bagian tanggung jawab bersama.
Dalam konteks ini, kepemimpinan diuji bukan saat kondisi stabil, melainkan saat harus mengambil keputusan sulit. Memilih keberlanjutan sering kali berarti menolak keuntungan instan, berinvestasi lebih besar di awal, dan menghadapi resistensi internal. Namun justru di situlah kualitas kepemimpinan terlihat.
Pemimpin yang matang memahami bahwa lingkungan bukan penghambat bisnis, melainkan fondasi yang menopang keberlanjutan jangka panjang.
Budaya organisasi yang menghargai lingkungan biasanya juga lebih disiplin, lebih transparan, dan lebih kuat dalam manajemen risiko. Organisasi semacam ini cenderung lebih siap menghadapi perubahan regulasi, tekanan publik, dan krisis global. Mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga dipercaya.
Kepemimpinan semacam ini menuntut kemampuan mendengar yang tinggi. Pemimpin perlu mendengar suara karyawan di lapangan, kekhawatiran masyarakat sekitar, serta sinyal peringatan dari lingkungan. Tanpa kemampuan mendengar, organisasi mudah terjebak dalam ilusi keberhasilan dan menutup mata terhadap dampak yang sedang terjadi.
Pada akhirnya, lingkungan yang rusak adalah cermin kegagalan kolektif dalam memimpin. Ini menunjukkan bahwa organisasi terlalu lama memuja keuntungan semata dan lupa pada tanggung jawab. Sebaliknya, lingkungan yang terjaga adalah bukti kedewasaan kepemimpinan dan kematangan budaya organisasi yang selalu dijaga oleh semua yang terlibat dalam organisasi tersebut.
Keuntungan yang merusak lingkungan hanyalah kemenangan semu. Selanjutnya yang akan bertahan adalah organisasi yang memahami bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya menciptakan keuntungan, tetapi juga menjaga kehidupan dan masa depan.
“Kerusakan lingkungan adalah puisi sunyi tentang keputusan yang tak pernah direnungkan. Alam tak pernah menuntut untuk diselamatkan, ia hanya meminta untuk tidak dikorbankan”
Penulis: Agus Muslih
Mahasiswa Magister Manajemen, Universitas Satya Negara Indonesia
Aktif juga sebagai Praktisi HR & Trainer
Dosen Pengampu: Noviarti, Dr., SE., MM
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












