Milenial Dalam Pusaran Politik 2019

Kata milenial menjadi salah satu perbincangan menarik saat ini, baik media sosial ataupun dalam diskusi-diskusi publik. Menurut informasi yang didapat dari salah satu media di tanah air, yaitu Wikipedia menyebutkan bahwa generasi milenial (juga dikenal sebagai generasi Y, gen Y atau generasi Langgas), adalah kelompok demografi setelah generasi X (Gen X). Lebih lanjut dikatakan bahwa, para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal tahun 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran.

Lebih lanjut, dalam laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, diterangkan bahwa istilah milenial berasal dari kata milennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Melalui Kominfo juga yang mengambil dari laporan Ericsson yang melakukan wawancara kepada 4.000 responden yang tersebar di 24 negara di dunia. Dari 10 tren tersebut beberapa di antaranya, adalah adanya perhatian khusus terhadap prilaku generasi milenial. Dalam laporan tersebut Ericsson mencatat, produk teknologi akan mengikuti gaya hidup masyarakat milenial. Sebab, pergeseran prilaku turut berubah beriringan dengan teknologi. “produk teknologi baru akan muncul sebagai akomodasi perubahan teknologi,” ujar presiden Director Ericsson Indonesia Thomas Jul.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), milenial dapat diartikan berkaitan dengan generasi yang lahir di antara tahun 1980-an dan 2000-an: kehidupan generasi — tidak dapat dilepaskan dari teknologi informasi, terutama internet.

Milenial seakan menjadi salah satu trending topic pembicaraan yang tengah dibicarakan oleh semua kalangan. Membicarakan milenial seakan menjadi suatu topik pembicaraan yang tidak pernah berhenti, meskipun gelombang topik lain juga turut mewarnai ruang media ataupun diskusi-diskusi. Tetapi semua kalangan lebih banyak terobsesi membicarakan perihal generasi milenial. Menjadi menarik jika kita mengkaji secara lebih jauh, apa yang menjadi dasar dari pembicaraan generasi milenial. Mengapa topik pembicaraan milenial begitu terasa hangat untuk dibicarakan secara terus menerus? Apakah generasi milenial begitu penting sehingga perlu dibicarakan sekaligus disorot oleh berbagai kalangan? Inilah sebagian pertanyaan pengantar yang coba dihadirkan oleh penulis dalam tulisan kali ini.

Membicarakan milenial sepertinya menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dibicarakan, apalagi kehadiran milenial dianggap sebagai pembawa pengaruh yang cukup signifikan kedepannya. Tentunya hal ini kita semua sepakat, karena pembangunan kedepannya juga akan bergantung pada sikap generasi milenial. Apakah generasi milenial proaktif dalam pembangunan ataukah menjadi pihak yang pasif yang seakan-akan bersikap acuh tak acuh pada pembangunan itu sendiri. Itulah mengapa saat ini semua kalangan sangat gencar membicarakan topik mengenai milenial.

Namun bagaimana jika topik mengenai milenial dipertautkan dengan situasi politik kekinian? Bagaimana sikap milenial dalam pusaran politik saat ini? Apakah sikap milenial lebih condong pada sikap yang proaktif ataukah malah sebaliknya? Apakah pengaruh situasi politik hari-hari ini juga turut mengundang partisipasi peran milenial ataukah malah milenial mengambil sikap berseberang dengan situasi politik itu sendiri? Lebih jauh akan kita kupas secara bersama-sama mengenai perihal milenial dalam pusaran politik 2019.

Jika kita merujuk pada pengertian di atas maka secara jelas arti mienial ialah orang-orang yang dapat diharapkan demi suatu kemajuan bangsa dan Negara. Bagi penulis, arti kata milenial lebih mengerucut pada kemajuan bagi sebuah Negara. Artinya, kemajuan yang dilihat oleh penulis lebih menitikberatkan pada pembangunan, apakah itu pembangunan ekonomi, sosial, pendidikan, politik dan pembangunan-pembangunan yang lain. Jadi, benang merah yang dapat penulis muatkan dalam tulisan ini ialah bahwa kehadiran milenial saat ini memang tengah dibutuhkan oleh berbagai pihak dalam meneruskan pembangunan ke depannya. Sinkron dengan apa yang tengah dibicarakan dimedia ataupun di ruang-ruang diskusi, bahwa generasi milenial diharapkan mampu bersikap aktif dalam menyikapi arah serta tujuan pembangunan yang saat ini sedang diupayakan. Namun, bagaimana jika konteks milenial kita pertautkan dengan term politik? ini menarik jika kita membedah sekaligus mengkaji secara mendalam untuk menemukan titik tempat yang pas dari generasi milenial dalam term politik.

Wacana politik saat ini memang tengah dihembuskan oleh beberapa pasangan calon guna mendulang sekaligus menarik minat para pemilih. Pemilih disodorkan oleh berbagai macam wacana politik yang sangat menarik hati serta mengundang pemilih untuk semakin mendekatkan dirinya pada pasangan calon tersebut. Namun, pembaca sekalian tidak boleh lupa bahwa panggung politik tidak hanya diramaikan oleh generasi tua (old generation), tetapi generasi muda (milenial) juga turut mewarnai percaturan politik lima tahunan itu.

Hadirnya generasi milenial dalam pentas politik, nasional ataupun lokal menjadi begitu menarik ketika generasi yang banyak dibicarakan ini diharapkan mampu menjadi generasi yang berkembang dalam kemajuan peradaban. Apalagi konteks politik jika dipertautkan pula dengan revolusi 4.0 yang saat ini sedang dibicarakan, tentunya harus mampu menarik minat generasi milenial untuk terlibat secara aktif dalam kemajuan tegnologi dan informasi. Generasi milenial memang diharapkan mampu mewujudkan daya saing yang bisa diharapkan mampu melahirkan pemikiran-pemikiran baru sekaligus produk-produk baru di tengah masyarakat. Sehingga tidak beralasan untuk tidak membicarakan tentang milenial, seperti apa persiapan sekaligus pemahaman mereka dalam menjawab tantangan serta mampu bersaing dengan Negara-negara tetangga dan Negara-negara luar lainnya.

Dalam artikelnya Syafiq Hasyim yang dimuat dalam media mata-mata politik yang sekaligus merujuk pada data yang dilakukan melalui riset di Amerika Serikat, bahwa karakteristik yang kuat dari generasi millenial ialah tingginya angka literasi dan keterlibatan mereka di Internet. Boston Consulting Group (BCG) dan University of Berkeley dalam penelitian “Milenials Amerika 2011: Menguraikan Generasi Enigma” mengidentifikasi wajah kuat milenial Amerika sebagai penduduk asli digital. Sekitar 57 persen milenial Amerika termasuk di antara kelompok pertama yang mencoba teknologi baru. Aktivitas online mereka dalam mengunggah dan membuat konten mulai dari foto, blog, blog mikro, dan lainnya sangatlah tinggi: 60 persen, apabila dibandingkan dengan aktivitas kelompok non-milenial sebanyak 29 persen.

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2016 oleh Pusat Penelitian Alvara Indonesia menunjukkan bahwa generasi milenial Indonesia memiliki karakteristik yang hampir sama dengan milenial Amerika. Milenial Indonesia memanfaatkan sumber digital untuk mengetahui dan memahami politik dengan mengandalkan kanal Twitter, Facebook, YouTube, Instagram, dan LINE (alih-alih WhatsApp) untuk membentuk persepsi mereka tentang politik. Kandidat presiden yang bersaing yang mempraktekkan politik secara teoretis sekarang perlu mengatasi fenomena politik baru ini untuk mencapai kesuksesan.

Sangat jelas sekali bahwa kehadiran milenial dalam pusaran politik 2019 tidak terlepas dari pengaruh tegnologi informasi yang turut memberikan impact yang besar dalam menentukan sikap politik milenial. Panggung politik saat ini tengah memanas dengan hadirnya paslon-paslon yang tentunya sangat meyakinkan sekaligus diharapkan bisa membawa perubahan bagi masyarakat. Dalam kontestasi politik yang sedemikian rumit, generasi milenial diharapkan mampu menentukan segala sikap politik pada pasangan calon yang memang segala track record ataupun visi dan misi bisa dilaksanakan nantinya. Begitu pentingnya generasi milenial dalam pusaran politik di tahun 2019 ini, karena alih-alih melihat bahwa kedepannya generasi milenial inilah yang diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan baru sekaligus produk-produk baru bagi kemajuan bangsa dan Negara. Semuanya itu bergantung dari sikap serta perilaku politik (political behavior) dari generasi milenial dalam menyikapi perkembangan politik sekaligus turut serta menentukan sikap politik yang .

Patrisius Eduardus Kurniawan Jenila
Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik Universitas Merdeka Malang
Pengurus Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (DPM-F)
Pengurus Perhimpunan Mahasiswa Khatolik Republik Indonesia (PMKRI) cabang Malang-Komisariat Merdeka

Baca juga:
Penerapan Ekonomi Islam di Era Milenial
Krisis Kapabilitas dalam Literasi di Era Milenial
Paradigma Kontemporer Sikap Politik Generasi Z Setelah Era Milenial

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI