Pendidikan Kritis untuk Menjawab Kondisi Krisis

Pendidikan kritis
Foto: Dok. Penulis

Mari kembali mengingat masa saat kita masih anak-anak, dunia sekitar kita merupakan tempat bermain yang tidak terbatas, rasa penasaran selalu tumbuh dan semangat mempelajari sesuatu yang baru saja kita temui, apa yang kita pikirkan saat kecil dan bagaimana cara kita memandang dunia, seolah-olah menggambarkan kita seperti orang yang merdeka saat berpikir dan memutuskan sesuatu tanpa interupsi dari siapapun.

Namun jika dipikir ulang, apakah benar kita sudah merdeka berpikir saat kita kecil, apakah jalan yang kita tempuh saat ini adalah hasil dari keputusan kita sendiri.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bagaimana jika apa yang kita mainkan, apa yang kita pakai, apa yang kita lihat sudah ditentukan oleh orang tua kita, guru-guru di sekolah kita, atau orang-orang di sekitar kita, agar saat kita semakin tumbuh dewasa akan menjadi apa yang mereka inginkan.

Ini bukan berbicara tentang orang tua, guru, atau lingkungan sosial yang memilihkan anaknya, muridnya, atau anak-anak di lingkungannya agar terhindar dari mainan, pakaian, tontonan, dan hal-hal yang berdampak buruk, tapi berbicara mengenai hal baik seperti apa yang mereka pilihkan. 

Kesadaran akan hal ini, mengantarkan pada pertanyaan “apakah pendidikan di Indonesia sudah mampu memfasilitasi gagasan serta potensi anak-anak generasi penerus?”.

Berbagai ide dan gagasan menarik muncul dari pertanyaan sederhana yang didorong oleh rasa penasaran kita saat masih anak-anak, bahkan hal tersebut membuat kita mampu menyelesaikan masalah-masalah yang sedang kita hadapi, seperti PR sekolah yang sulit, menolong teman yang kesusahan, atau hambatan-hambatan lainnya.

Maka, sudahkah sistem pendidikan yang ada di Indonesia menghargai ide-ide yang ada pada para peserta didik, atau malah mengubur jauh potensi tersebut.

Seperti yang kita ketahui, negara kita saat ini tengah mengalami masa sulit, mulai dari melemahnya rupiah, sulitnya mencari pekerjaan, ancaman kondisi global, dan kondisi krisis lainnya.

Tentu fenomena ini merupakan tugas bersama untuk memperbaiki kondisi bangsa kita, mulai dari masyarakat hingga pemerintah.

Maka dari itu, sepertinya diperlukan perbaikan mulai dari hal yang paling mendasar, yaitu pendidikan atau sistem pendidikan.

Terdapat satu model pendidikan yang selama ini kita kurang perhatikan, yaitu pendidikan kritis.

Melalui pendidikan kritis, peserta didik bukanlah sebuah objek semata, melainkan subjek aktif yang ide-idenya begitu berharga.

Model ini berupaya untuk menjaga kualitas dalam kegiatan belajar mengajar, bukan lagi skor yang mati-matian untuk dikejar.

Penting bagi kita untuk memperhatikan hal ini, karena peserta didik tidak seharusnya selalu berkompetisi, karena potensi selalu tumbuh dengan adanya kolaborasi.

Langkah pertama memang harus dilakukan dari rumah, orang tua tentu berperan penting pada tumbuh kembang anaknya, mereka harus paham bahwa anak bukanlah proyek ambisi orang dewasa, melainkan agen aktif yang memiliki cara sendiri dalam memahami dunianya.

Ketika orang tua sudah sadar akan hal ini, giliran selanjutnya adalah pilihan pendidikan formal atau tidak formal bukan lagi menjadi masalah serius, anak bisa belajar di mana saja serta menumbuhkan potensinya tanpa harus memikirkan skor dan peringkat.

Masuklah peran pendidik, guru, serta dosen untuk memberikan pendidikan yang memberdayakan.

Ketika para pendidik ini menganggap peserta didiknya sebagai subjek aktif, tentu kegiatan belajar mengajar akan selalu memberikan perhatian pada pengalaman peserta didiknya, tidak memaksakan metode mengajar yang berorientasi skor tanpa memperhatikan kualitas materi, seperti halnya metode menghafal yang marak di negara kita.

Seluruh upaya membangun pendidikan kritis ini masih sangat tergantung pada satu pihak, yaitu pemerintah atau pembuat kebijakan.

Meskipun orang tua, guru, serta dosen sudah sadar akan hal ini, tetap tidak akan berhasil dengan absennya dukungan pemerintah.

Sering kali guru dan dosen diberi beban administrasi yang begitu banyak, kurikulum yang berubah secara tiba-tiba, dan orang tua yang terbelenggu pada istilah “sekolah atau kampus favorit”.

Dengan begitu, pemerintah sangat perlu memperhatikan sistem pendidikan ini.

Rancangan kurikulum tidak seharusnya menyeragamkan materi yang melupakan gagasan-gagasan dari para peserta didik, dan hanya melihat pendidikan untuk memenuhi keperluan pasar dan industri semata.

Sistem pendidikan harus dirancang sebagai tempat di mana pengalaman dihargai dan peserta didik diposisikan sebagai agen aktif yang memiliki gagasan kritis.

Seperti yang sudah sempat disampaikan sebelumnya, negara kita sedang menghadapi kondisi krisis, perlu adanya respon untuk menyelamatkan masa depan negara kita.

Menyelesaikan persoalan tersebut memang tugas utama pemerintah, namun kita sebagai warga negara juga harus tetap aktif dalam menyikapi kondisi saat ini.

Seperti halnya evaluasi pada sistem pendidikan, hal ini penting karena menyangkut generasi mendatang dan mereka berperan penting dalam memastikan kondisi negara di masa depan.

Dari situ, pendidikan kritis perlu diperhatikan, karena di dalamnya terdapat penghargaan atas pengalaman, ide, gagasan, serta potensi dari para peserta didik.

Kerumitan administrasi yang membelenggu guru, dosen, atau tenaga pengajar lainnya harus segera dievaluasi, skor dan peringkat memang menumbuhkan ambisi serta semangat para peserta didik, namun sering kali hanya dipandang sebagai pelengkap kebutuhan industri dan pasar.

Cerita sederhana dari pengalaman keseharian, ide-ide spontan, dan pendapat dari para peserta didik sangatlah berharga dan harus diberi apresiasi lebih.

Seperti halnya para penemu yang berteori atas fenomena sehari-hari, Isaac Newton dengan apel yang jatuh dan lahir teori gravitasi lalu Prof. Ir. R.M. Sedyatmo dengan pohon kelapa di pantai dan lahir konstruksi cakar ayam.

Orang tua, pengajar, dan pemerintah sudah seharusnya menghargai murid, mahasiswa, atau anak-anak yang bercerita, karena solusi dan temuan hebat tidak selalu harus berdasarkan pada rumus-rumus rumit, angka melimpah, dan istilah yang sulit diucapkan, sering kali mereka muncul dari rasa ingin tahu yang tinggi tentang bagaimana dunia bekerja.


Penulis: Zhafran Ryan Gibran
Mahasiswa Prodi Antropologi Budaya, Universitas Gadjah Mada


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses