Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat seseorang mengulang suatu perilaku, entah itu karena mendapatkan pujian, hadiah, atau bahkan untuk menghindari hal yang tidak menyenangkan.
Di lingkungan pendidikan, fenomena ini sangat sering terjadi misalnya siswa menjadi lebih aktif setelah diberikan apresiasi oleh guru, atau lebih disiplin karena adanya aturan tertentu.
Dalam dunia pendidikan, pemberian hadiah kepada siswa yang memperoleh peringkat maupun nilai tertinggi dalam ujian masih menjadi hal yang umum dilakukan.
Reward berarti hadiah, penghargaan, atau imbalan. Reward umumnya digunakan sebagai salah satu alat pendidikan yang akan diberikan ketika siswa melakukan sesuatu yang baik.
Siswa biasanya mendapatkan piala, sertifikat, uang pembinaan, maupun penghargaan berbentuk hadiah barang dari sekolah.
Kondisi ini umumnya membuat siswa berlomba-lomba dan semakin semangat dalam memperoleh nilai tinggi di sekolah. Hal ini dikenal dengan nama reinforcement atau penguatan.
Reinforcement menjadi salah satu strategi penting yang digunakan guru untuk membentuk perilaku positif siswa di kelas.
Melalui pemberian dorongan atau stimulus yang tepat, baik berupa penghargaan maupun pengurangan kondisi yang tidak menyenangkan, perilaku belajar siswa dapat diarahkan menjadi lebih baik.
Reinforcement atau penguatan berasal dari kata reinforce yang berarti memperkuat.
Dalam psikologi, reinforcement adalah suatu hal atau yang mendorong sebuah perilaku akan meningkat dan muncul kembali (Skinner, 1953; Santrock, 2011).
Konsep reinforcement sendiri sebenarnya berasal dari teori operant conditioning yang dipelopori oleh Burrhus Frederic Skinner atau lebih dikenal dengan B.F Skinner.
Operant conditioning adalah proses pembelajaran dimana perilaku seseorang dipengaruhi oleh konsekuensi yang diterimanya.
Operant conditioning merupakan salah satu teori pembelajaran behaviorisme.
Teori belajar behaviorisme menekankan pentingnya pengulangan dan latihan dalam proses belajar.
Penguatan atau reinforcement terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu Positive Reinforcement dan Negative Reinforcement.
Positive reinforcement adalah pemberian sesuatu yang menyenangkan setelah seseorang melakukan perilaku yang diharapkan.
Bentuk penghargaan ini bertujuan agar perilaku tersebut cenderung diulang kembali di masa mendatang (Skinner, 1953).
Sedangkan negative reinforcement adalah penguatan yang dilakukan dengan cara menghilangkan atau mengurangi sesuatu yang tidak menyenangkan agar perilaku tertentu meningkat (Santrock, 2011).
Contoh penerapan reinforcement dalam dunia pendidikan dapat ditemukan dalam berbagai situasi di sekolah, penguatan positif seperti guru yang memberikan pujian kepada siswa yang aktif di kelas, siswa memperoleh tambahan nilai atau penghargaan setelah menyelesaikan tugas tepat waktu, guru memberikan kesempatan istirahat lebih awal kepada siswa yang mampu menjaga ketertiban kelas.
Penguatan negatif seperti tugas lanjutan yang ditiadakan jika siswa mendapat nilai yang bagus, siswa belajar lebih giat untuk menghindari teguran guru, dan nilai tugas yang ditambah jika siswa mengumpulkan lebih cepat.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana reinforcement memperkuat perilaku belajar dan motivasi siswa.
Dengan adanya reward yang diberikan akan memberikan motivasi ekstrinsik atau motivasi dari luar diri yang akan menguatkan aktivitas belajar itu sendiri.
Dalam pendidikan, konsep penguatan atau reinforcement dianggap menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil belajar melalui dorongan motivasi belajar.
Didasarkan pada beberapa penelitian yang sudah dilakukan seperti oleh Nafira, dkk. (2025), dan Nurcahya & Hadijah (2020) dampak dari penerapan reinforcement di dunia pendidikan berupa penghargaan sebagai penguat dapat memunculkan dampak positif dalam memotivasi siswa dalam belajar, dan motivasi belajar menjadi faktor yang memengaruhi hasil belajar siswa.
Penerapan reward juga menjadi pendorong keberanian siswa untuk mencoba, sehingga siswa menjadi lebih percaya diri di dalam kelas karena merasa dihargai.
Sehingga penerapan penguatan dianggap penting dalam menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan meningkatkan perilaku yang ingin ditingkatkan dari siswa.
Pada penguatan negatif juga berdampak dalam meningkatkan kedisiplinan siswa serta menjadikan siswa menghindari konsekuensi tidak menyenangkan.
Namun, dalam pelaksanaannya, penguatan positif maupun negatif tidak hanya akan memberikan dampak positif dalam proses pembelajaran siswa melainkan juga dapat memberikan ketergantungan terhadap reward oleh siswa dan juga menurunkan motivasi intrinsik atau motivasi dari dalam diri siswa saat belajar.
Pada akhirnya, penguatan baik secara positif maupun negatif sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia pendidikan.
Penghargaan, pujian, pengurangan tugas dan segala bentuk apresiasi kepada siswa dapat membantu meningkatkan motivasi dan perilaku belajar siswa.
Dengan penggunaan reinforcement secara tepat dan seimbang, pendidikan dapat menjadi sarana pengembangan potensi yang lebih bermakna.
Penulis:
1. Anggun Sekar Yulianti (G1C124005)
2. Bunga Lestari (G1C124027)
3. Dyan Ayu Fitria (G1C124033)
4. Nazwa Arinby Ramadhini (G1C124037)
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Jambi
Dosen Pengampu:
1. Dessy Pramudiani, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
2. Annisa Andriani, M.Psi., Psikolog.
3. Ayu Ulivia, M.Pd.
4. Azkya Milfa Laensadi, S.Psi., M.Si.
Daftar Pustaka
- Burrhus Frederic Skinner. (1953). Science and Human Behavior. New York: Macmillan.
- John W. Santrock. (2011). Educational Psychology (5th ed.). New York: McGraw-Hill.
- Nafira, Muzeyyenah, Salsabila, A. R., & Sa’diyah, H. (2025). Peran guru dalam membangun kepercayaan diri siswa melalui apresiasi dan reward di SDN Ambat 2.
- Nurcahaya, A., & Hadijah, H. S. (2020). Pemberian penguatan (reinforcement) dan kreativitas mengajar guru sebagai determinan motivasi belajar siswa. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran.
- Safira, E., & Fitriani, W. (2024). Analisis Penerapan Teori Belajar Operant
- Conditioning. INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 4(1), 366-374.
- Ulum, M., & Fauzi, A. (2023). Behaviorism theory and its implications for learning. Journal of Insan Mulia Education, 1(2), 53-57.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













