Abstrak
Makroekonomi adalah studi tentang kegiatan ekonomi di suatu negara. Indikator ekonomi makro meliputi inflasi, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh pengangguran dan inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara.
Penelitian ini menggunakan metode regresi berganda dengan data yang diambil per semester pada periode 2011–2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya variabel pengangguran yang berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Kata kunci: inflasi, pengangguran, pertumbuhan ekonomi.
Pendahuluan
Pembangunan ekonomi pada hakikatnya merupakan serangkaian usaha kebijakan yang bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas kesempatan kerja, dan mengarahkan pembagian pendapatan secara merata. Masalah kesempatan kerja atau pengangguran merupakan persoalan yang sangat sulit dihindari oleh suatu negara maupun daerah serta dapat menimbulkan berbagai masalah sosial, seperti kriminalitas dan masalah ekonomi.
Kondisi tersebut dapat menurunkan tingkat kesejahteraan dan daya beli masyarakat. Semakin rendah angka pengangguran, maka semakin makmur kehidupan masyarakat suatu negara, begitu pula sebaliknya.
Keberhasilan suatu negara dalam memecahkan permasalahan ekonominya dapat dilihat melalui kondisi ekonomi makro dan mikro. Ekonomi makro merupakan kajian mengenai aktivitas ekonomi suatu negara. Salah satu indikator ekonomi makro yang digunakan untuk mengukur stabilitas perekonomian adalah inflasi.
Perubahan tingkat inflasi akan berdampak terhadap dinamika pertumbuhan ekonomi. Dalam perspektif ekonomi, inflasi merupakan fenomena moneter yang cenderung menimbulkan gejolak ekonomi. Inflasi adalah suatu gejala ketika tingkat harga umum mengalami kenaikan secara terus-menerus.
Landasan Teoritis
Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan suatu negara, khususnya di bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat diukur melalui tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan pada lingkup wilayah digunakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Selain dipengaruhi faktor internal, pertumbuhan ekonomi suatu negara juga dipengaruhi faktor eksternal, terutama pada era globalisasi ekonomi. Secara internal terdapat tiga komponen utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi, yaitu pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Menurut Murni (2006:173), pertumbuhan ekonomi adalah kondisi ketika terjadi perkembangan GNP potensial yang mencerminkan pertumbuhan output per kapita dan meningkatnya standar hidup masyarakat.
Menurut Sukirno (2010), Teori Schumpeter menekankan pentingnya peran pengusaha dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Schumpeter menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat kemajuan suatu perekonomian, semakin terbatas kemungkinan untuk melakukan inovasi baru.
Baca Juga: Dilema Migrasi Tenaga Kerja: Antara Impian Kesejahteraan dan Realita di Negeri Orang
Pengangguran
Menurut Suparmoko (2007), pengangguran adalah ketidakmampuan angkatan kerja untuk memperoleh pekerjaan sesuai dengan kebutuhan atau keinginan mereka. Dengan demikian, pengangguran merupakan kondisi ketika seseorang yang tergolong angkatan kerja belum memperoleh pekerjaan dan masih berusaha mencarinya.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), dalam indikator ketenagakerjaan, pengangguran merupakan penduduk yang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan, sedang mempersiapkan usaha baru, atau tidak mencari pekerjaan karena telah diterima bekerja tetapi belum mulai bekerja.
Menurut Murni (2006), pengangguran adalah orang yang tidak mempunyai pekerjaan atau penghasilan. Sementara itu, Sukirno (2008) menjelaskan bahwa pengangguran adalah keadaan ketika seseorang yang termasuk angkatan kerja ingin memperoleh pekerjaan tetapi belum berhasil mendapatkannya.
Inflasi
Menurut Sukirno (2006), inflasi tarikan permintaan biasanya terjadi ketika perekonomian berkembang pesat. Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan pendapatan yang tinggi sehingga mendorong pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi dalam menghasilkan barang dan jasa.
Sementara itu, inflasi desakan biaya terjadi ketika perekonomian berkembang pesat dan tingkat pengangguran sangat rendah. Dalam kondisi tersebut perusahaan akan meningkatkan produksi dengan memberikan gaji dan upah yang lebih tinggi kepada pekerja. Hal ini meningkatkan biaya produksi yang kemudian mendorong kenaikan harga berbagai barang.
Suseno dan Astiyah (2009) mengartikan inflasi sebagai kecenderungan meningkatnya harga barang dan jasa secara umum serta berlangsung terus-menerus.
Menurut Budiono (2008), inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum barang secara terus-menerus. Sukirno (2008) juga mendefinisikan inflasi sebagai proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian.
Berdasarkan berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa inflasi merupakan kecenderungan naiknya harga barang secara umum yang berlangsung secara terus-menerus.
Kerangka Konseptual
Gambar 1. Kerangka Konseptual
Pengangguran (X1)
Inflasi (X2)
↓
Pertumbuhan Ekonomi (Y)
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pengangguran dan inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi pada periode 2011–2015. Penelitian bertujuan mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat.
Definisi Operasional Variabel
Variabel Dependen
Variabel dependen (Y) dalam penelitian ini adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Pendapatan Nasional Bruto tanpa memandang apakah kenaikan tersebut lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk maupun perubahan struktur ekonomi.
Data operasional diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan perhitungan per semester pada periode 2011–2015 yang dinyatakan dalam persentase.
Gt = (PDBRt – PDBRt-1) / PDBRt-1 × 100%
Variabel Independen
Pengangguran
Pengangguran merupakan ukuran bagi seseorang yang tidak memiliki pekerjaan, tetapi secara aktif melakukan usaha mencari pekerjaan dalam empat minggu terakhir.
Tingkat Pengangguran = Jumlah Pengangguran / Jumlah Angkatan Kerja × 100%
Inflasi
Inflasi adalah gejala meningkatnya tingkat harga secara umum yang berlangsung terus-menerus. Data inflasi diperoleh dari Bank Indonesia (BI) berdasarkan perhitungan per semester pada periode 2011–2015 yang dinyatakan dalam persentase.
Rate of Inflation = (Tingkat Hargat – Tingkat Hargat-1) / Tingkat Hargat × 100%
Baca Juga: Investasi dan UMKM Menjadi Harapan Ekonomi Indonesia Tahun 2026 di Tengah Ketidakpastian Global
Hasil dan Pembahasan
Hasil Analisis Data
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh pengangguran (X1) dan inflasi (X2) terhadap pertumbuhan ekonomi (Y).
Uji Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas.
Uji Normalitas
Tabel 1. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
- N = 165
- Mean = 0.0000000
- Std. Deviation = 1.65764809
- Absolute = 0.079
- Positive = 0.069
- Negative = -0.079
- Kolmogorov-Smirnov Z = 1.021
- Asymp. Sig. (2-tailed) = 0.248
Hasil pengujian menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,248 > 0,05 sehingga data berdistribusi normal.
Uji Multikolinearitas
Tabel 2. Collinearity Statistics
| Variabel | Tolerance | VIF |
|---|---|---|
| Pengangguran | 0,994 | 1,006 |
| Inflasi | 0,994 | 1,006 |
Nilai tolerance lebih besar dari 0,10 dan nilai VIF lebih kecil dari 10 sehingga tidak terjadi multikolinearitas.
Uji Heteroskedastisitas
Tabel 3. Coefficients
| Variabel | B | Std. Error | Beta | t | Sig. |
|---|---|---|---|---|---|
| Konstanta | 4,616 | 0,163 | – | 28,250 | 0,000 |
| Pengangguran | -0,146 | 0,056 | -0,200 | -2,593 | 0,010 |
| Inflasi | 0,000 | 0,001 | -0,037 | -0,480 | 0,632 |
Nilai signifikansi seluruh variabel lebih besar dari 0,05 sehingga tidak terjadi heteroskedastisitas.
Uji Autokorelasi
Tabel 4. Model Summary
- R = 0,201
- R Square = 0,040
- Adjusted R Square = 0,028
- Std. Error = 1,66785
- Durbin-Watson = 1,168
Nilai Durbin-Watson sebesar 1,168 berada pada rentang du < DW < 4 – du sehingga tidak terdapat autokorelasi pada model regresi.
Baca Juga: Analisis Strategi Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Era Transformasi Digital
Pengujian Hipotesis
Uji Simultan (Uji F)
Tabel 5. ANOVA
- F hitung = 3,401
- F tabel = 2,89
- Sig. = 0,036
Nilai signifikansi sebesar 0,036 < 0,05 dan F hitung lebih besar daripada F tabel sehingga secara simultan pengangguran dan inflasi berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Uji Parsial (Uji t)
Nilai konstanta sebesar 4,616 menunjukkan bahwa apabila pengangguran dan inflasi dianggap konstan, maka pertumbuhan ekonomi sebesar 4,616 di Sumatera Utara selama periode 2011–2015.
Tabel 6. Coefficients
| Variabel | B | Std. Error | Beta | t | Sig. |
|---|---|---|---|---|---|
| Konstanta | 4,616 | 0,163 | – | 28,250 | 0,000 |
| Pengangguran | -0,146 | 0,056 | -0,200 | -2,593 | 0,010 |
| Inflasi | 0,000 | 0,001 | -0,037 | -0,480 | 0,632 |
Nilai signifikansi pengangguran sebesar 0,010 lebih kecil dari 0,05 sehingga pengangguran berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, nilai signifikansi inflasi sebesar 0,632 lebih besar dari 0,05 sehingga inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pembahasan
Variabel pengangguran memiliki nilai signifikansi sebesar 0,010 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa pengangguran berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Nilai t-hitung sebesar -2,593 dengan t-tabel sebesar 2,89 menunjukkan bahwa pengangguran berpengaruh secara parsial terhadap pertumbuhan ekonomi.
Penjelasan tersebut membuktikan bahwa peningkatan pengangguran diikuti dengan penurunan pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya.
Variabel inflasi memiliki nilai signifikansi sebesar 0,632 atau lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Nilai t-hitung sebesar -0,480 dengan t-tabel sebesar 2,89 juga menunjukkan bahwa inflasi tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Penjelasan tersebut membuktikan bahwa inflasi menunjukkan penurunan terhadap pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya.
Baca Juga: Prospek Kerja Jurusan Ekonomi Pembangunan dan Belajar Mata Kuliah Apa Saja?
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pengujian data secara statistik, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut.
- Variabel pengangguran berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara. Artinya, ketika pengangguran meningkat maka pertumbuhan ekonomi meningkat.
- Variabel inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara. Artinya, ketika inflasi meningkat maka akan berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi.
Saran
Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis data di atas, terdapat beberapa saran bagi peneliti selanjutnya antara lain sebagai berikut:
- Pemerintah sebaiknya mendorong para pengusaha untuk meningkatkan hasil produksi, memperbaiki sistem penggajian dan tingkat upah, melakukan pengawasan harga, serta menetapkan harga maksimum.
- Selain itu, pemerintah diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru dengan memberikan perhatian lebih kepada usaha kecil dan menengah karena sektor tersebut mampu menyerap banyak tenaga kerja yang menganggur.
Penulis: Moh. Anggip Maulana (251010550001)
Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Dr. Isep Amas Priatna, STP., M.Si.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Adiwarman Karim,2014, Ekonomi Makro Islam, PT. Raja Grafindo, Jakarta.
Adrian Sutawijaya, Zulfahmi, Pengaruh faktor-faktor ekonomi terhadap inflasi di Indonesia, Jurnal Organisasi dan Manajemen, Volume 8, Nomor 2, September 2012, 85-10.
Alghofari, Farid, 2010. Analisis Tingkat Pengangguran di Indonesia‖ Tahun 1980- 2007.Undip.
Bick, Alexander, 2010, Threshold Effects of Inflation on Economic Growth in Developing Countries.
Budiono, 2009, Ekonomi Moneter. BPFE UGM, Yogyakarta.
Dharmayanti, Yenny. 2011. Analisis Pengaruh PDRB, Upah dan Inflasi terhadap Pengangguran Terbuka di Provinsi Jawa Tengah Tahun 1991-2009. Skripsi. Dipublikasikan.
Ditha, Rima Kurniasari. Analisis pengaruh investasi, inflasi, nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, (Thesis, 2011).
Endri, 2008. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi di Indonesia. Dalam Jurnal Ekonomi Pembangunan Kajian Ekonomi Negara Berkembang, hlm: 61-70.
Engla Desnim Silvia, dkk, Analisis Pertumbuhan Ekonomi, Investasi, dan Inflasi di Indonesia‖, Jurnal Kajian Ekonomi,Vol. I, No. 02 Januari 2013, hlm. 224.
Fatmi Ratna Ningsih, Pengaruh Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Pengangguran di Indonesia periode tahun 1988-2008.
Isti Qomariyah, Dhiah Fitrayati. Pengaruh tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat pengangguran di Jawa Timur‖, Jurnal Pendidikan Ekonomi (JUPE), vol 1, No 3 (2013).
Jonathan Sarwono, 2006, Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Mankiw N Gregory. 2003, Pengantar Ekonomi Makro. Edisi.3, Salemba Empat, Jakarta.
Maryam Sangadji, dkk, Analisis Pengaruh Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Pengangguran di kota Ambon‖, Journal Ekonomi, 8, No. 1.
M. Iqbal Hasan, 2005, Pokok-Pokok Materi Statistik 2 (Statistik Inferensif)), Bumi Aksara, Jakarta.
Muana Nanga, 2005, Makro Ekonomi: Teori, Masalah dan Kebijakan, Rajawali Pers, Jakarta.
Murni Asfia. Ekonomika Makro. (Bandung: Refika Aditama, 2006), hlm. 202 Pandangan Al-Maqrizi ini sangat jelas terlihat ketika ia menguraikan sebab-sebab berbagai bencana kelaparan yang menimpa Mesir sejak masa Mesir Kuno hingga masa pemerintahan Sultan Mamluk Bahri, Al-Ashraf Sha’ban (767-778 H/1363- 1376 M). Lihat—ibid., hlm. 27-49.
Rahardja, Prathama dan Mandala Manurung. 2008, Teori Makro Suatu Pengantar, FEUI, Jakarta.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













