Mengasuh anak adalah anugerah sekaligus tanggung jawab besar bagi setiap orang tua (Anggraini et al., 2020).
Peran utama dalam mendidik anak harus dijalankan dengan penuh perhatian dan kesungguhan, terutama dalam mendukung perkembangan kognitif dan emosional mereka (Agung et al., 2022).
Peran orang tua sangat penting dalam hal ini, sehingga membangun hubungan yang harmonis dengan anak menjadi prioritas (Van Berkel & Bosman, 2023).
Keharmonisan tersebut dapat tercapai melalui interaksi, komunikasi yang efektif, serta perhatian dan pemberian dukungan emosional dari orang tua. Hubungan yang kokoh ini menjadi fondasi bagi anak dalam menghadapi berbagai tantangan di era Generasi Z (Zablotsky & Amanda, 2021).
Anak-anak di era ini menghadapi tantangan yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan apa yang dialami oleh orang tua mereka di masa lampau (Afnita et al., 2023).
Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, termasuk tingginya intensitas penggunaan teknologi digital, memberikan pengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan teknologi digital oleh anak-anak (Turner & Zepeda, 2023).
Di era digital ini, peran orang tua meliputi memastikan anak memanfaatkan teknologi secara bijak, dengan mengakses informasi yang sesuai dengan usia mereka (Detter, 2023).
Meskipun teknologi menawarkan banyak manfaat, penggunaannya juga membawa risiko, salah satunya dampak negatif terhadap kesehatan mental anak. Maka dari itu, perhatian terhadap kesehatan mental anak menjadi prioritas penting bagi orang tua di generasi ini (Desi et al., 2020).
Kesehatan mental anak mencakup kemampuan mereka menyadari potensi diri, mengatasi tekanan hidup, menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah, serta menjalani aktivitas yang produktif.
Hal ini melibatkan keseimbangan aspek fisik, psikologis dan sosial dalam kehidupan sehari-hari (Prihatiningsih & Wijayanti, 2019).
Baca Juga: Pentingnya Komunikasi Orang Tua terhadap Anak Tunggal untuk Menjaga Kesehatan Mental
Tantangan Kesehatan Mental di Era Generasi Z
Penelitian Kementerian Kesehatan RI (2018) menunjukkan bahwa 20% dari total populasi Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental, dan angka ini diperkirakan meningkat.
WHO pada tahun 2021 melaporkan bahwa 10-15% anak usia 7-13 tahun di seluruh dunia mengalami gangguan kesehatan mental, seperti hambatan perkembangan, depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku.
Penyebab utama adalah penggunaan teknologi yang tidak terkontrol, menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mengawasi aktivitas digital anak (Putera et al.,2019).
Kesehatan mental yang baik memungkinkan anak untuk menjalani kehidupan sesuai norma, nilai, dan perilaku yang berlaku di masyarakat. Orang tua berperan memastikan anak memiliki landasan mental yang kuat melalui pengawasan dan hubungan yang harmonis (Hidayati et al., 2021).
Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental Anak
Terdapat beberapa faktor penting yang memengaruhi peran orang tua dalam mendukung kesehatan mental anak:
Komunikasi yang Efektif
Komunikasi yang terjalin secara intens dan harmonis antara orang tua dan anak sangat berperan dalam membangun kesehatan mental anak sejak dini.
Orang tua perlu secara aktif bertanya tentang aktivitas harian, kendala yang dihadapi, dan cara anak mengatasi masalah. Hal ini berlaku baik untuk aspek akademik maupun non-akademik.
Baca Juga: Pola Asuh Orang Tua dan Faktor Utama Pembentukan Karakter Anak
Dukungan Emosional dan Finansial
Dukungan emosional menciptakan rasa nyaman bagi anak untuk berbagi pikiran dan pengalaman mereka. Orang tua yang memberikan perhatian penuh membantu anak membangun perilaku positif tanpa mencari pelarian ke aktivitas yang merugikan.
Dukungan finansial juga mendukung kebutuhan anak, baik di bidang akademik maupun kegiatan lainnya.
Pemahaman Orang Tua tentang Kesehatan Mental
Orang tua perlu memiliki wawasan yang mendalam tentang tantangan kesehatan mental di era Generasi Z. Sebagai generasi yang erat kaitannya dengan digitalisasi, dampaknya bisa positif maupun negatif.
Dengan pemahaman yang baik, orang tua dapat mendukung perkembangan kognitif dan emosional anak secara efektif.
Pendekatan Orang Tua dalam Mendukung Kesehatan Mental Anak
Penelitian menunjukkan tiga aspek utama yang memengaruhi kesehatan mental anak di era Generasi Z, pola asuh yang tepat, hubungan yang harmonis, dan pemahaman mendalam tentang kesehatan mental. Berikut delapan langkah praktis yang dapat diterapkan orang tua:
1. Menghargai Anak
Berikan apresiasi atas usaha anak, meskipun hasilnya belum maksimal. Pujian yang tepat mendorong anak untuk terus belajar dan berkembang.
2. Mendengarkan Anak
Berikan ruang bagi anak untuk menyampaikan perasaan dan keinginannya. Dengarkan dengan empati untuk menciptakan komunikasi yang terbuka.
Baca Juga: Anak-anak yang Menjadi Korban Verbal Bullying: Bagaimana Peran Orang Tua dalam Menyikapinya?
3. Membangun Kepercayaan
Berikan kepercayaan kepada anak dalam mengambil keputusan atau menjalani aktivitas tertentu. Hal ini menciptakan rasa aman dan nyaman secara psikologis.
4. Menciptakan Lingkungan Positif
Tunjukkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Dengan memahami ini, anak akan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan.
5. Membimbing Anak Menyelesaikan Masalah
Dampingi anak dalam menyelesaikan konflik tanpa menimbulkan rasa marah atau dendam. Ajarkan cara-cara menyelesaikan masalah secara konstruktif.
6. Menetapkan Tujuan Realistis
Anak perlu diajarkan untuk memiliki ambisi yang seimbang dengan kemampuannya. Berikan tantangan yang membantu anak mengembangkan keterampilan tanpa membuat mereka kewalahan.
7. Menghindari Komentar Sarkastik
Hindari kritik yang menjatuhkan jika anak gagal dalam suatu hal. Sebaliknya, dorong anak untuk terus mencoba dan belajar dari kesalahan.
8. Memberikan Motivasi dan Semangat
Fokuskan perhatian pada proses, bukan hanya hasil akhir. Dorong anak untuk menikmati pengalaman belajar dan eksplorasi.
Kesimpulan
Kesehatan mental anak di era Generasi Z adalah salah satu tantangan yang memerlukan perhatian serius dari orang tua. Dengan pola asuh yang tepat, hubungan yang harmonis, dan pemahaman mendalam tentang kesehatan mental, orang tua dapat membantu anak menghadapi tantangan era ini.
Baca Juga: Peran Orang Tua dalam Mendampingi Pembelajaran Daring Siswa SD
Langkah-langkah, seperti menghargai anak, mendengarkan anak, membangun kepercayaan, membimbing anak menyelesaikan masalah, memberikan motivasi dan semangat, menghindari komentar sarkastik, menetapkan tujuan realistis, membimbing anak menyelesaikan masalah, memberikan dukungan emosional, dan menciptakan lingkungan positif adalah beberapa cara efektif untuk menjaga stabilitas kesehatan mental mereka.
Tugas orang tua bukan hanya untuk mendampingi anak dalam kesehariannya, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk tumbuh menjadi individu yang tangguh, adaptif, dan mampu berkontribusi di masyarakat.
Penulis: Baiq Annisa Hidayatussyifa
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Afnita, N., Wandi, J. I., & Wijaya, A. S. (2023). Peran Edukasi Spritual Untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Orang Tua. Jabdimas: Journal of Humanity Dedication, 1(1), 30–36. https://doi.org/10.55062/org./Jabdimas
Agung, P. S. A., Surilena, & Gustiawan, E. (2022). Hubungan Pola Asuh Dengan Masalah Perilaku Dan Emosi Pada Siswa Sekolah Dasar Di Kecamatan Penjaringan. Damianus Journal of Medicine, 21(1), 26–35.
Anggraini, D., Juniarly, A., Mardhiyah, S. A., & Purpasari, M. (2020). Meningkatkan Kesehatan Mental dengan Membangun Hubungan Kelekatan Antara Orang Tua dan Anak. Jurnal Pengabdian Masyarakat Humanity And Madicine, 1(2), 64-75. https://doi.org/10.32539/Hummed.V1I1.19
Detter, A.M. (2023). Analysis of an In-School Mental Health Services Model for K-12 Students Requiring Intensive Clinical Support A White Paper Report on Tier 3 School-Based Mental Health Programming. Yale Child Study Center, 1(1), 1–11.
Hidayati, H. N., Hayat, B., & Rahayu, W. (2021). Assessment of The Validity and Reliability of Mental Health Instruments of High School Student in Indonesia. European Journal of Educational Research, 10(2), 729–742. https://doi.org/10.12973/eu-jer. 10.2.729
Jones, C. (2022). The Purpose of Parents: School Personnel Perceptions of the Role of Parents in Secondary Schools. School Community Journal, 32(1), 85–104. http://www.school.communitynetwork.org/SCJ.aspx
Prihatiningsih, E., & Wijayanti, Y. (2019). Gangguan Mental Emosional Siswa Sekolah Dasar. HIGEA Journal Of Public Health Research and Development, 3(2), 252–262. https://doi.org/10.15294/higeia/v3i2/26024
Putera, D. A. D. A., Wahyuni, A. A. S., & Ariani, N. K. P. (2019). Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Masalah Perilaku Dan Emosional Pada Anak Di SD Saraswati 5 Denpasar. MEDIKA UDAYANA, 8(8), 2597–8012. https://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
Turner, P., & Zepeda, E. M. (2023). Navigating White Waters: Generation Z Untraditional College Transition Amid Unprecedented Social, Health, and Academic Crisis. Higher Education Studies, 13(2), 87. https://doi.org/10.5539/hes.v13n2p87
Van Berkel, A. J. M., & Bosman, A. M. T. (2023). Sociable in Someone Else’s Shoes: Review of Drama as Social Skills Training for Elementary School Children. International Journal of Research in Education and Science, 9(1), 165–187. https://doi.org/10.46328/ijres.3037
Zablotsky, B., & Amanda. (2021). Mental Health Treatment Among Children Aged 5-17 Years: United States, 2021. NCHS Data Brief, 1(1), 1–8. https://www.cdc.gov/nchs/products/index.htm.
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












