Stop, Bullying di Kalangan Anak

Bullying merupakan suatu bentuk intimidasi, perilaku kekerasan baik fisik maupun verbal yang dilakukan individu atau suatu kelompok terhadap individu atau kelompok lain yang dilakukan secara terus menerus dengan maksud melemahkan lawan. Bullying dapat mengakibatkan keadaan mental korban terganggu, seperti menutup diri untuk bersosial, minder, depresi, kecemasan terhadap hal baru, cedera fisik, dan bahkan sampai bunuh diri. Dewasa ini, bullying seringkali terjadi di masyarakat, dan parahnya, bullying juga terjadi dikalangan anak-anak. Seperti contoh, anak-anak seringkali memanggil nama temannya dengan kalimat ejekan, menghina, menganiaya, dan perilaku buruk lainnya. Anak-anak kurang mengerti apa itu bullying dan bagaimana dampaknya sehingga mereka merasa okey-okey saja ketika melakukan hal itu kepada temannya.

Bullying tidak serta merta muncul begitu saja. Biasanya ada beberapa faktor yang memengaruhi perilaku bullying, seperti faktor keluarga, media sosial, dan lingkungan baik sekolah maupun masyarakat dapat memengaruhi perilaku anak untuk melakukan bullying pada temannya. Anak-anak yang dibesarkan dengan latar belakang pendidikan keluarga dengan kekerasan (memukul, menampar, menendang, dan sebagainya) maupun kekerasan verbal (komunikasi kasar dan penuh makian) kepada anak, bisa menyebabkan anak menjadi pelaku bullying. Sebab, perilaku anak cenderung meniru apa yang ia lihat dan rasakan. Jika selama ini orang tua mendidik anak dengan makian dan kekerasan, maka anak akan berperilaku sama ketika sedang bersama temannya. Selain itu, orangtua seringkali menganggap bahwa mereka telah memenuhi kewajiban atas kebutuhan anak dengan materi. Di sisi lain,mereka malah  mengesampingkan kebutuhan immaterial anak berupa kasih sayang, perhatian, dukungan, dan motivasi. Ketika orangtua sibuk dengan aktivitasnya, anak akan merasa kurang diperhatikan, kurang adanya kasih sayang dan dukungan dari orangtua. Hal ini dapat  membuat anak menjadi pribadi yang introvert, tertutup, dan sebagai pelampiasan atas kekesalannya, ia lakukan pada temannya dengan perlakuan yang sama sesuai apa yang anak terima di dalam keluarga.

Selain keluarga, lingkungan juga berpengaruh terhadap perilaku bullying anak, termasuk lingkungan sekolah dan masyarakat. Sekolah yang menganggap bullying adalah masalah sepele dapat memberi kesempatan kepada pelaku untuk terus membully temannya. Pelaku merasa ia memiliki kekuatan untuk terus mengintimidasi siswa lain karena tidak ada sanksi atas  perilakunya dan ia cenderung mengabaikan peraturan sekolah. Jadi, ketika ada perilaku bullying di kalangan siswa maka sekolah harus memberikan sanksi terhadap pelaku. Di sisi lain, lingkungan masyarakat juga menjadi pemicu anak melakukan bullying. Dimana jika seorang anak hidup di lingkungan negatif, maka ia akan terpengaruh dengan kondisi sosial tersebut.

Dewasa ini, media sosial sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Anak-anak pun tidak kalah pintar dalam menggunakannya. Diketahui bahwa perilaku bullying dapat pula terjadi karena penggunaan media sosial. Adanya tayangan dan game immoral, penggunaan gadget dan media sosial pada anak yang kurang terkontrol, dan bebas dalam menulis status serta komentar di akun sosmed tanpa menyaring informasi, mengakibatkan anak sering mengumbar kekesalan dan rasa benci terhadap sesuatu atau seseorang tidak lagi secara face to face sehingga kurang adanya nilai-nilai dalam memahami orang lain.

 Bullying memang tindakan yang membahayakan kesehatan mental korbannya. Jika tindakan ini dianggap sepele, maka akan berdampak pada diri korban baik dalam jangka pendek (seperti: shock, cidera fisik jika mengalami kekerasan fisik, cemas saat bersosial) maupun jangka panjang (seperti: konsep diri menjadi negative, menutup diri dari pergaulan, dan depresi). Karena sifat anak yang selalu meniru apa yang ia lihat dan rasakan, terkadang mereka yang menjadi korban bullying melakukan hal yang sama terhadap teman yang lain. Sehingga perilaku bullying memang harus dicegah praktiknya dengan cara memberikan sanksi terhadap pelaku bullying dan memberikan dorongan motivasi kepada korban.

Sebagai orangtua, dan guru, jangan  menganggap bullying merupakan masalah sepele. Kita memiliki tanggung jawab terhadap kondisi mental anak. Jika kita melihat anak menjadi pelaku bullying maka berikan edukasi tentang bullying, apa saja dampaknya, kita sebagai orangtua harus menerapkan pola asuh anak yang baik tanpa adanya kekerasan fisik maupun mental. Sebagai orangtua harus memiliki waktu intensif untuk sekedar membicarakan bullying pada anak, memberikan pemahaman tentang bullying dan dampaknya, bagaimana kita harus memiliki rasa empati terhadap sesama, dan mengetahui bahwa setiap manusia hakikatnya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Begitupun sebaliknya untuk para korban bullying, kita juga harus memberikan dukungan terhadap korban anak. Berikan pemahaman tentang bullying beserta dampaknya bagi anak, serta usaha untuk mencegah tindakan bullying terhadap teman yang lain.  

Yunisa Fitriyani
Mahasiswa IAIN Pekalongan

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI