Andragogi sebagai Ruh Gerakan PMII; Reformasi Gerakan PMII

Gerakan andragogi, harusnya menjadi kerangka pemikiran dasar kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk menjawab problematika sosial saat ini. Dengan pola kaderisasi tersebut, nantinya tidak akan terjadi kesalahan dalam memilih kader dan bingung dalam memecahkan problem. Lalu bagaimana dengan PMII saat ini?

Berbicara Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tidak lepas dari yang namanya “gerakan”. Tentunya gerakan tersebut nantinya berujung pada berkembangnya peradaban bangsa, cerdas dan berintegritas. Mengingat PMII berawal dari jagongangan anak pesantren, tidak heran, jika gerakannya selalu berjibaku dengan dunia pesantren. Pola pendekatan tersebut dinilai cukup potensial dan merakyat. Namun, seiring dengan rotasi zaman, gerakan pun harus dimodifikasi. Bukan menafikan gerakan pesantren, tetapi bagaimana gerakan tersebut linear dengan perkembangan zaman.

Untuk itu, Alexander Kapp (1883) dalam rumusan sosial-pedagogi dan sosial-andragogi-nya menegaskan, output suatu gerakan akan terlihat berintegritas, jika menanamkan nilai andragogi. Sosial-pedagogi menurutnya, hanya mencetak kader-kader yang berketergantungan. Pola gerakannya pun tidak jauh berbeda dengan pola pendidikan yang diterapkan pada anak sekolah dasar (SD). Bagaimana guru seolah menjadi sumber pengetahuan utama, dan pola gerakannya tergantung dengan perintah guru. Gerakan ini, menjadi sangat kacau jika dipraktekkan dalam ruh gerakan PMII. Bukan mencetak kader yang dinamis, malah hanya menciptakan kader yang stagnan, dan nantinya bertumpu pada satu titik, yakni; pengangguran.

Dalam kaitannya dengan pedagogi, ia menejelaskan secara literal bahwa pedagogi adalah seni dan ilmu pengetahuan tentang mendidik anak-anak. Pedagogi berasal dari bahasa Yunani, paid yang berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Pada kesimpulannya, Pedagogi mewujudkan pendidikan yang berfokuskan guru. Model gerakan pedagogi, dalam sejarahnya, tidak pernah dipraktikkan oleh guru-guru yang hebat di zaman kuno. Mulai dari Confusius hingga Plato tidak mengajar cara teknik yang bersifat autoritarian tersebut. Ia berpikir, pendekatan tersebut akan memupuskan kemandirian anak didik. Celakanya ketika ia dewasa, ia akan bungkam terhadap problematika sosial serta kebingungan untuk menentukan sikap.

Lalu bagaimana dengan andragogi? Aktif dalam institusi gerakan, tidak lain adalah bertujuan untuk membangun bangsa serta memberikan kehidupan layak bagi masyarakat yang ter-alianasi dari kota metropolitan. Tentunya, menggapai cita-cita tersebut, tidaklah mudah. Dibutuhakn sosok yang beritegritas, kreatif, cerdik, cerdas, dan yang terahir adalah mandiri. Untuk itu, menjadi wajib bagi institusi PMII untuk mencetak kader yang mempunyai integritas, mandiri serta mempunyai jiwa yang humanis. Tidak hanya mencetak kader yang berujung pada dunia empirik sesaat. Misalnya, saling senggol masuk dunia partai, atau saling selimpung dalam dunia LSM.

Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno: aner, dengan akar kata andr, yang berarti orang dewasa, dan agogus yang berarti membimbing atau membina. Dalam artian lain, andragogi adalah seni dan ilmu yang bertugas untuk membantu belajar dewasa alias mandiri. Pendikan ini, tidak hanya difokuskan pada tingkatan usia baligh saja, tetapi elastis untuk semua umur.

Penulis sepakat, bahwa PMII harus melakukan reformasi gerakan, agar tidak tergilas oleh zaman. Bukan menolak sistem pendekatan pesentren tidak layak. Namun, perlu adanya integrasi gerakan pesentren dan gerakan modern. Gerakan modern, adalah salah satu pintu bagaimana mengetuk hati kader yang bukan dari golongan pesantren, sedangkan pendekatan pesantren adalah gerakan yang dilakukan setelah bisa menguasai egoisme kader.

Living PMII

Untuk itu, sudah saatnya PMII merumuskan kembali gerakannya, agar tidak teralianasi oleh zaman. Boleh saja dengan pendekatan naturalis klasik atau dunia pesantren, tetapi setidaknya bagaimana mendesain pola tersebut sedikit berjiwa modern. Tidak kaku dan tidak terlalu ke Pe-De-an. Dalam kajian lain, studi living Quran/Hadis dalam perjalannya ialah mengkontekstualisasikan Al-Quran dengan kehidupan sehari-hari. Artinya, seluruh patologi sosial yang terjadi saat itu akan dibawa ke ranah Al-Quran dan Hadis dengan tujuan agar bisa terpecahkan. Lalu apa kaitannya studi tersebut dengan gerakan PMII ? PMII sebagai satu gerakan yang mempunyai visi melumpuhkan kaum kapitalis, sangat penting untuk membahas kompas gerakaannya kembali alias tidak hanya berjibaku dalam gerakan klasik. Living PMII menjadi salah satu solusi yang potensial untuk menyelesaikan seluruh persoalan yang terjadi, mulai dari pendidikan yang amburadul, politik yang tak punya kemaluan, hingga para pejabat yang tak bisa berjabat tangan kembali.

Selain itu, Living Quran or Hadis tersebut merupakan salah satu wacana dari para pemikir muslim, untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di luar tubuh institusi tersebut. Misalnya, bagaimana menyelesaikan persoalan kader yang semakin tak jelas pangkalnya?. Ambil contoh kasus, ngeluruk di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, hampir 60 persen, calon mahasiswa dari baru adalah golongan umum, bukan datang dari dunia pesantren. Ini menjadi persoalan penting untuk dikaji. Banyaknya mahasiswa baru di luar pesantren, tidak hanya menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi kader PMII untuk kembali melancarkan aktivitasnya, tetapi juga menjadi PR bagi petinggi kampus UIN-SA agar tetap mempertahankan nilai religiutasnya.

Lalu bagaimana dengan proses kaderisasi? Inti pokok tulisan tersebut adalah bagaimana menjadikan pemikiran Alexander Kopp menjadi salah satu ide pokok atau gagasan utama dalam melancarkan proses kaderisasi. Mahasiswa butuh yang empiris bukan yang abstrak. Mahasiswa butuh kreatifitas bukan hentakan atau bentakan, dan ia pun butuh belaian ilmu modern dalam dirinya yang kemudian disandingkan dengan nilai-nilai religiutas.

Relevansi Andragogi dan Pedagogi dengan PMII

Sejalan dengan penjelasan mengenai pedagogi dan andragogi yang sudah disebutkan di atas, bahwa pedagogi merupakan teknik belajar yang “menuhankan” guru dibanding kemampuan diri (siswa), sedangkan andragogi adalah salah satu teknik belajar yang mengdepankan nilai kemandrian. Kaitannya dengan PMII adalah? Gerakan yang dipraktikkan oleh PMII saat ini adalah gerakan yang sudah jadi. Ibarat sebuah danau, ia sudah menjadi danau yang indah dan tidak perlu adanya reklamasi. Keadaan tersebut terkadang hanya menjadikan kader PMII miskin moral, integritas dan intelektual karena hanya mengandalkan dari ilmu sakral senioritas alias pendekatan pedagogi. Yang dibutuhkan mahasiswa sekarang adalah, dunia kreatifitas, dunia mimpi, serta dunia imajiner. Ibaratnya, berikan ia danau yang amburadul biarkan ia mereklamasi sesuai dengan pemikiranya, namun tidak keluar dari garis lurus PMII, atau yang disebut oleh Alexander Kopp adalah pendekatan andragogi.

Surabaya, 30 Juli 2016

FAKHRUR ROZIQ
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya
Anggota PMII

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI