Dinamika Kehidupan Perempuan Single Parent dalam Membangun Ketahanan Keluarga

perempuan single parent
Dokumentasi saat Wawancara bersama Ibu Mumun (Foto: Dok. Penulis)

Abstrak

Keluarga merupakan lembaga sosial yang memiliki peran fundamental dalam membentuk kepribadian, nilai moral, serta kestabilan emosional individu. Di dalam keluarga, seseorang pertama kali mengenal nilai tanggung jawab, kasih sayang, serta norma-norma sosial yang menjadi dasar kehidupan bermasyarakat.

Namun, dalam perkembangan masyarakat modern, tidak semua keluarga mampu bertahan dalam struktur ideal dengan kehadiran dua orang tua. Kondisi ini memunculkan fenomena keluarga dengan orang tua tunggal, terutama perempuan yang harus berperan sebagai single parent.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Situasi tersebut menimbulkan beragam tantangan, baik secara ekonomi, sosial, maupun psikologis, karena seorang ibu harus memikul peran ganda sebagai pengasuh sekaligus pencari nafkah. Perempuan yang menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal sering kali menghadapi tekanan emosional akibat kehilangan pasangan, keterbatasan sumber daya ekonomi, serta pandangan negatif masyarakat.

Meski demikian, banyak di antara mereka yang berhasil menunjukkan ketahanan yang kuat melalui keikhlasan, kedewasaan emosional, kemampuan mengatur keuangan, dan tekad yang tinggi untuk menjaga kesejahteraan anak.

Ketahanan keluarga dalam konteks perempuan single parent dibangun melalui empat aspek utama, yaitu dukungan sosial, kekuatan spiritual, kemandirian ekonomi, serta kemampuan mengelola waktu dan peran dengan seimbang. Oleh sebab itu, dukungan masyarakat dan kebijakan sosial yang berpihak sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, suportif, dan berkeadilan bagi keluarga dengan orang tua tunggal.

Kata kunci: Keluarga, Perempuan, Orang Tua Tunggal, Ketahanan Keluarga, Dukungan Sosial

Abstract

The family serves as a fundamental social unit that plays a vital role in shaping individual character, moral values, and emotional stability. Within the family, individuals first experience responsibility, affection, and social norms that form the foundation of community life.

In today’s modern context, however, not all families can function within an ideal structure involving both parents. This reality gives rise to the phenomenon of single-parent families, particularly women who must take on dual roles as single parents.

Such a condition presents multiple challenges economic, social, and psychological as mothers are required to act simultaneously as caregivers and providers. Women living as single parents often encounter emotional distress due to the loss of a partner, limited financial resources, and lingering social stigma.

Nevertheless, many demonstrate remarkable resilience through sincerity, emotional maturity, financial discipline, and strong determination to ensure their children’s well-being.

Family resilience among female single parents can be sustained through four main elements: social support, spiritual strength, economic independence, and effective time and role management. Therefore, social awareness and inclusive public policies are essential to create a supportive, empowering, and equitable environment for single-parent families.

Keywords: Family, Women, Single Parent, Family Resilience, Social Support.

Pendahuluan

Keluarga merupakan lembaga sosial terkecil yang memiliki peran fundamental dalam membentuk kepribadian, nilai moral, serta kesejahteraan psikologis setiap individu. Melalui keluarga, seseorang pertama kali belajar mengenai norma, tanggung jawab, dan hubungan sosial.

Dalam konteks masyarakat modern, keluarga tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat pendidikan informal yang membentuk karakter anak sejak dini. Oleh karena itu, struktur dan dinamika keluarga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan pribadi dan sosial setiap anggotanya.

Namun, tidak semua keluarga terbentuk dalam struktur yang ideal dengan kehadiran kedua orang tua. Fenomena keluarga dengan orang tua tunggal kini menjadi bagian dari realitas sosial yang semakin sering dijumpai di berbagai lapisan masyarakat.

Orang tua tunggal, baik karena perceraian, kematian pasangan, maupun keputusan pribadi untuk membesarkan anak tanpa pasangan, menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan fungsi ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengasuh utama. Kondisi ini memerlukan ketahanan emosional, mental, dan sosial yang tinggi agar keseimbangan dalam keluarga tetap terjaga.

Dari sudut pandang psikologis dan sosiologis, keberadaan keluarga dengan orang tua tunggal menimbulkan dinamika yang kompleks. Di satu sisi, anak membutuhkan figur dan dukungan emosional dari kedua orang tua, sementara di sisi lain, orang tua tunggal seringkali harus beradaptasi dengan keterbatasan waktu, tenaga, dan sumber daya.

Hal ini dapat memengaruhi pola komunikasi, pola asuh, serta pembentukan kemandirian anak. Meski demikian, banyak orang tua tunggal yang mampu menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mendidik anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab, sehingga tetap dapat membentuk keluarga yang harmonis dan berfungsi dengan baik.

Selain itu, perubahan nilai dan struktur sosial dalam masyarakat turut memengaruhi pandangan terhadap keluarga dengan orang tua tunggal. Jika dulu status orang tua tunggal sering dianggap negatif, kini masyarakat mulai menunjukkan penerimaan yang lebih terbuka.

Dukungan dari lingkungan sosial, kebijakan pemerintah, serta lembaga pendidikan menjadi faktor penting dalam membantu keluarga dengan orang tua tunggal menjalankan peran dan fungsinya secara optimal. Dengan demikian, peran lingkungan sosial sangat menentukan keberhasilan keluarga tunggal dalam membangun kemandirian dan kesejahteraan anak.

Oleh karena itu, penting untuk melakukan kajian lebih mendalam mengenai bagaimana pola komunikasi, karakteristik orang tua tunggal, serta faktor lingkungan memengaruhi pembentukan kemandirian anak dalam keluarga jenis ini.

Pemahaman tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan strategi pendidikan keluarga, kebijakan sosial, serta program pemberdayaan yang lebih efektif dalam mendukung keberlangsungan keluarga dengan orang tua tunggal di Indonesia.

Untuk keluarga orang tua tunggal dapat menjalankan fungsinya secara optimal, dukungan psikososial dan kebijakan yang inklusif sangat penting. Untuk meningkatkan ketahanan keluarga, langkah-langkah strategis termasuk akses ke layanan konseling, pelatihan keterampilan ekonomi, dan program bimbingan keluarga.

Selain itu, penghapusan stigma negatif terhadap orang tua tunggal dan peran masyarakat dalam membangun solidaritas sosial akan menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk pertumbuhan anak-anak mereka.

Pembahasan

Perempuan sebagai Single Parent

1. Konsep dan Makna Single Parent

Secara etimologis, single parent berarti orang tua tunggal, yaitu individu baik ibu maupun ayah yang menanggung seluruh tanggung jawab keluarga karena perceraian atau kematian pasangan. Dalam konteks ini, perempuan yang menjadi single parent harus berperan ganda sebagai ibu dan ayah, menjadi pencari nafkah, pengasuh, sekaligus pengambil keputusan dalam keluarga. Ia dituntut mandiri, tegas, dan bijak dalam mengatur waktu agar kehidupan keluarga tetap berjalan harmonis.

Sementara itu, janda adalah perempuan yang ditinggal mati atau diceraikan oleh suaminya. Secara sosial, status janda sering kali menimbulkan pandangan negatif di masyarakat karena dianggap terkait dengan kegagalan rumah tangga. Dengan demikian, janda dan single parent sama-sama menghadapi tantangan berat, baik secara ekonomi maupun psikologis, dalam mempertahankan kesejahteraan keluarga dan membesarkan anak-anaknya.

2. Ciri-Ciri Orang Tua Tunggal

Bahwa umumnya orang tua tunggal memiliki beberapa karakteristik, seperti:

  1. Bersikap pasif dan mudah menyerah,
  2. Kurang memiliki ketahanan untuk menolak bujukan atau godaan,
  3. Merasakan kerinduan mendalam terhadap kasih sayang dan kehangatan keluarga.

Ciri-ciri ini menunjukkan adanya beban psikologis yang cukup berat akibat kehilangan pasangan dan tanggung jawab ganda yang harus dijalani.

3. Faktor Penyebab Perempuan Menjadi Orang Tua Tunggal

Hal-hal seperti menjadi single parent tidak terjadi begitu saja; ada alasan yang mendorong hal ini terjadi. Tiga alasan umum untuk menjadi single parent adalah sebagai berikut:

a. Perceraian

Perceraian sering kali menjadi pilihan terakhir ketika konflik rumah tangga tak dapat diselesaikan. Penyebabnya beragam, seperti ketidakharmonisan, perbedaan prinsip, masalah ekonomi, perselingkuhan, kurangnya komunikasi, hingga kekerasan dalam rumah tangga.

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 39 ayat (2) dan Peraturan Pemerintahan  Nomor 9 Tahun 1975, perceraian dapat terjadi karena salah satu pihak berbuat zina, pemabuk, meninggalkan pasangan lebih dari dua tahun, mendapat hukuman berat, cacat yang menghalangi kewajiban, kekerasan fisik, atau pertengkaran terus-menerus.

b. Kematian Suami

Kematian pasangan menjadikan seorang istri harus memikul seluruh tanggung jawab keluarga. Seorang ibu harus berperan sebagai kepala rumah tangga, pendidik, pelindung, dan teladan bagi anak-anaknya. Ia juga menjadi pengatur ekonomi, pengambil keputusan, bahkan penanam nilai-nilai agama dan sosial dalam keluarga. Karena itu, diperlukan keteguhan mental dan spiritual agar dapat menjalankan peran ganda tersebut dengan baik.

c. Ditinggal Tanpa Dicerai

Beberapa perempuan menjadi single parent karena ditinggalkan pasangan tanpa kejelasan hukum atau tanggung jawab. Kondisi ini menempatkan mereka pada posisi sulit karena harus menanggung beban rumah tangga dan anak tanpa dukungan suami, baik secara emosional maupun finansial.

d. Permasalahan yang Dihadapi Perempuan Single Parent

Menjadi orang tua tunggal (single parent) bukanlah hal mudah. Seorang perempuan harus menyeimbangkan peran domestik dan publik, yaitu bekerja mencari nafkah, mengurus rumah, mendidik anak, serta memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis keluarga.

Selain tekanan ekonomi, mereka juga menghadapi kelelahan emosional dan sosial, terutama ketika harus menggantikan figur ayah bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, perempuan single parent dituntut memiliki mental yang kuat, keterampilan manajemen waktu yang baik, serta dukungan sosial agar dapat menjalani kehidupan keluarga dengan stabil.

4. Dampak Menjadi Single Parent

Menjadi orang tua tunggal membawa berbagai dampak yang kompleks bagi kehidupan anak, baik secara psikologis, sosial, maupun ekonomi. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Mumun Maimunah (53 tahun), seorang kasir di toko roti yang telah menjadi single parent sejak tahun 2020 setelah ditinggalkan suaminya tanpa kabar, dapat tergambar sejumlah tantangan yang dihadapi oleh perempuan dalam situasi serupa.

1) Dampak Psikologis Ibu

Secara emosional, perempuan yang menjadi orang tua tunggal kerap mengalami tekanan batin akibat rasa kehilangan, kesepian, dan kelelahan mental. Ibu Mumun mengaku bahwa perubahan paling terasa setelah ditinggalkan suami adalah rasa sepi karena tidak lagi memiliki pendamping hidup.

Meski demikian, ia berusaha tetap kuat dan ikhlas demi anaknya. Kondisi seperti ini menunjukkan pentingnya ketahanan mental dan dukungan sosial agar ibu tunggal mampu menjalani perannya dengan baik. Stres dan beban emosional yang dialami orang tua tunggal sering muncul akibat tanggung jawab ganda dan minimnya dukungan emosional dari lingkungan sekitar. 

2) Dampak terhadap Perkembangan Anak

Anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal juga dapat merasakan dampak psikologis dan sosial. Ibu Mumun menyampaikan bahwa tantangan terberat adalah kurangnya komunikasi dengan anak karena kesibukan masing-masing. Kondisi ini dapat memengaruhi kedekatan emosional antara ibu dan anak.

Anak dari keluarga single parent berpotensi mengalami kesulitan dalam mengelola emosi dan perilaku, terutama karena tidak adanya figur ayah sebagai panutan. Meski demikian, dengan pengawasan dan komunikasi yang baik, anak tetap dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berprestasi, sebagaimana anak Ibu Mumun yang kini bekerja secara mandiri.

3) Dampak Sosial dan Ekonomi

Secara ekonomi, menjadi tulang punggung keluarga seorang diri menuntut perempuan untuk lebih mandiri dan tangguh. Ibu Mumun bekerja sebagai kasir di toko roti dan mengatur keuangan secara ketat, bahkan memiliki tabungan terpisah untuk kebutuhan rumah dan anak. Meskipun hidup sederhana, ia tetap bersyukur atas rezeki yang diterima.

Namun, di sisi lain, masih ada tantangan berupa keterbatasan pendapatan dan stigma sosial terhadap status janda. Banyak perempuan single parent menghadapi hambatan ekonomi akibat rendahnya akses terhadap pekerjaan layak dan masih kuatnya stereotip negatif masyarakat.

Secara keseluruhan, pengalaman Ibu Mumun mencerminkan bahwa menjadi single parent bukan hanya perjuangan ekonomi, tetapi juga ujian mental dan sosial. Keteguhan hati, dukungan keluarga, serta keimanan menjadi faktor penting agar perempuan dapat bertahan dan menata kembali kehidupannya bersama anak.

5. Strategi atau Upaya Mengatasi Permasalahan

Perempuan yang menjadi orang tua tunggal, atau single parent, harus kuat dalam menghadapi berbagai masalah hidup, baik psikologis, sosial, maupun ekonomi. Setelah kehilangan pasangan, mereka harus menyesuaikan diri dengan hal-hal baru: menanggung beban rumah tangga, mendidik anak sendirian, dan tetap stabil secara emosional. Para ibu tunggal menemukan berbagai cara untuk bertahan hidup agar kehidupan keluarga tetap harmonis dan anak-anak dapat tumbuh dengan baik.

1) Dukungan Sosial

Dukungan sosial dari teman, tetangga, keluarga besar, dan komunitas merupakan sumber kekuatan utama bagi perempuan single parent. Dukungan ini dapat berupa bantuan emosional, materi, atau informasi yang membantu mereka menghadapi keadaan sulit. Misalnya, Ibu Mumun, yang menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal, mengatakan bahwa keluarga adalah pihak yang paling membantunya.

Keluarga memerlukan bantuan tidak hanya secara moneter, tetapi juga dengan memberikan inspirasi dan tempat untuk berbagi cerita saat menghadapi kesulitan hidup. Resiliensi dan kemampuan ibu tunggal untuk mengelola stres sangat dipengaruhi oleh dukungan sosial. Karena dukungan ini, mereka merasa diterima dan yakin bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan.

2) Penguatan Spiritual dan Emosional

Salah satu cara untuk mencapai keseimbangan batin adalah dengan mendapatkan dukungan spiritual selain dukungan sosial. Ketika berpartisipasi dalam aktivitas keagamaan, seperti belajar secara teratur, berdoa, berdzikir, atau membaca Al-Qur’an, akan merasa lebih tenang dan lebih tawakal.

Ibu Mumun mengatakan bahwa ia secara teratur menghadiri pertemuan ibu-ibu setiap pekan di rusun rumahnya. Dengan melakukan kegiatan ini, ia merasa lebih dekat dengan Allah SWT, mendapat banyak nasihat yang baik, dan termotivasi untuk hidup dengan kuat dan ikhlas.

Kegiatan keagamaan juga dapat membangun hubungan sosial baru dan mendapatkan dukungan emosional dari sesama anggota jamaah. Peningkatan religiusitas, seperti berpartisipasi dalam kegiatan spiritual, mungkin membantu ibu tunggal bertahan dalam menghadapi tekanan hidup.

3) Kemandirian Ekonomi

Kemandirian finansial atau ekonomi penting bagi ibu tunggal untuk bertahan hidup. Jika mereka bekerja sebagai karyawan, pedagang, atau pemilik usaha kecil, perempuan yang memiliki seorang ibu harus bekerja lebih keras. Seperti yang dialami Ibu Mumun, yang bekerja sebagai kasir di toko roti untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan sekolah anaknya.

Selain itu, ia mengatur keuangan secara ketat dengan membuat tabungan terpisah untuk kebutuhan rumah, anak, dan pengeluaran sehari-hari. Strategi ekonomi ibu tunggal termasuk mendiversifikasi sumber pendapatan, menghemat, dan mengatur waktu kerja mereka agar mereka dapat tetap bekerja saat mengasuh anak. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya membangun ketahanan keluarga melalui kemandirian finansial.

4) Manajemen Waktu dan Peran Ganda

Kemampuan untuk mengatur waktu dengan baik diperlukan ketika bekerja sebagai ibu dan ayah sekaligus. Ibu tunggal harus dapat menyeimbangkan kebutuhan pribadi, pekerjaan, pengasuhan anak, dan tanggung jawab rumah tangga.

Menurut Ibu Mumun, masalah terbesarnya adalah dia jarang berbicara dengan anaknya karena keduanya sibuk bekerja. Untuk mengatasi masalah ini, ia berusaha menghabiskan waktu malam atau akhir pekan untuk berbicara dan makan bersama anaknya. Ibu tunggal dapat membantu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan peran domestik, menjaga hubungan keluarga harmonis, dengan mengatur jadwal kegiatan harian dan membagi tanggung jawab rumah tangga.

Kesimpulan

Perempuan yang menjalani kehidupan sebagai single parent dihadapkan pada berbagai tantangan yang tidak ringan, baik dalam hal psikologis, sosial, ekonomi, maupun spiritual. Dalam kondisi ini, mereka harus memerankan dua peran sekaligus, yaitu sebagai pengasuh utama dan pencari nafkah bagi keluarga. Hal tersebut menuntut keteguhan hati, kemampuan beradaptasi, serta kecerdasan dalam mengatur waktu dan emosi agar keluarga tetap berjalan harmonis dan seimbang.

Berdasarkan wawancara dengan Ibu Mumun Maimunah (53 tahun), yang bekerja sebagai kasir di toko roti dan telah menjadi orang tua tunggal sejak tahun 2020, tergambar bahwa kehidupan sebagai single parent menuntut keteguhan hati dan daya juang tinggi.

Setelah ditinggalkan suaminya tanpa kabar, ia mengalami perubahan besar dalam hidupnya, terutama rasa sepi dan beratnya tanggung jawab yang harus dipikul sendiri. Namun, melalui keikhlasan, kesabaran, dan semangat untuk bertahan demi anak, ia berhasil menyesuaikan diri dan terus berjuang menjaga keseimbangan hidupnya.

Dalam kesehariannya, Ibu Mumun menunjukkan bahwa dukungan keluarga dan lingkungan sosial menjadi sumber kekuatan yang penting. Selain itu, kedekatan spiritual melalui kegiatan pengajian dan doa menjadikannya lebih tenang dan tabah dalam menghadapi cobaan.

Di sisi lain, kemandirian ekonomi juga menjadi hal utama, di mana ia bekerja dengan tekun dan mengatur keuangan secara cermat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak. Walaupun kesibukan kadang mengurangi waktu bersama, ia tetap berusaha menjalin komunikasi serta menanamkan nilai-nilai agama dan tanggung jawab pada anaknya.

Berdasarkan pengalaman tersebut, dapat dipahami bahwa ketahanan keluarga pada perempuan single parent bertumpu pada empat hal utama, yaitu dukungan sosial, kekuatan spiritual, kemandirian ekonomi, kemampuan mengatur waktu dan peran. 

Keempat aspek ini menunjukkan bahwa ketahanan keluarga tidak hanya bergantung pada keberadaan dua orang tua, tetapi juga pada keteguhan hati, kerja keras, dan nilai-nilai spiritual yang kuat. Kisah Ibu Mumun menggambarkan bahwa dengan keikhlasan, tanggung jawab, serta dukungan sosial yang baik, seorang ibu tunggal mampu membangun keluarga yang tetap harmonis, mandiri, dan berdaya.

Oleh karena itu, diperlukan peran masyarakat dan lingkungan sekitar untuk lebih menghargai, mendukung, dan menghapus stigma terhadap perempuan yang berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya.


Penulis:
1. Khajah Indri Saputri (2407015046)
2. Nur Hikmatusuriah (2407015102)
3. Khalid Rahman Hakim (2407015026)
Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


Dosen Pengampu: DR. Usni M.Si.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Febrianto, Priyono Tri, ‘Strategi Bertahan Hidup Ibu Tunggal Mahasiswa Universitas Selama Pandemi COVID-19’, Artikel Hasil Penelitian Sitasi, 9.1 (2021), 20–39 <https://doi.org/10.33019/society.v9i1.301>

Febriyanti, Cindy Nurul, ‘Perempuan Sebagai Orang Tua Tunggal Dan Pengasuhan Anak’, 2023, 54–57

Hidayati, Diana Savitri, ‘Family Functioning Dan Loneliness Pada Remaja Dengan Orang Tua Tunggal’, Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 06.01 (2018), 54–62

Indonesia, Presiden Republik, ‘Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan’, 1974, 15

Intan Faizah, Ahmad Afan Zaini, ‘Pola Asuh Orang Tua Tunggal (Single Parent) Dalam Membentuk Perkembangan Kepribadian Remaja Di Desa Banyutengah Panceng Gresik’, Journal of Broadcasting and Islamic Communication Studies, 02.02 (2021), 83–91

Jihan Syarifa Amanta Fajri, Endang Sri Indrawati, ‘Studi Fenomenologis Tentang Pengalaman Single Parent Mother Pada Usia Dewasa Madya’, Jurnal Empati, 13.03 (2024), 270–79

Layliyah, Zahrotul, ‘Perjuangan Hidup Single Parent’, Jurnal Sosiologi Islam, 3.1 (2013), 90

Rizka Fibria Nugrahani, Wulan Charisma Fitri, ‘Pola Asuh Orang Tua Single Parents’, Jurnal Literasi Psikologi, 3.2 (2023), 35–45

Wahyuni, Nini Sri, ‘Motivasi Menjadi Orang Tua Tunggal’, Jurnal Ilmiah Psikologi, 6.1 (2011), 64

Yaniaria, Ervita, ‘Pengaruh Self-Compassion, Harapan Dan Dukungan Sosial Terhadap Resiliensi Pada Ibu Tunggal’, 2024, 34–38

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses