Logam Tanah Jarang: Perebutan Sumber Daya Strategis di Era Geopolitik Global

logam tanah jarang untuk apa
Logam Tanah Jarang: Perebutan Sumber Daya Strategis di Era Geopolitik Global. Sumber: MMI.

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REEs) semakin sering terdengar di pemberitaan nasional dan internasional. Bagi kebanyakan orang, nama ini mungkin terdengar asing.

Namun tanpa disadari, hampir semua perangkat modern yang kita temui setiap hari, mulai dari ponsel, laptop, kendaraan listrik, hingga sistem pertahanan militer, sangat bergantung pada keberadaan logam ini. Jadi tidak berlebihan jika LTJ disebut juga sebagai “vitamin teknologi”.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sekilas tentang Logam Tanah Jarang

LTJ terdiri dari 17 unsur kimia yang ditemukan dalam jumlah sangat kecil di kerak bumi, hanya sekitar 0,1% saja. Beberapa diantaranya adalah neodimium, europium, cerium, dan lantanum. Meski jumlahnya sedikit, manfaatnya sangat vital. Sifat unik LTJ membuatnya tidak tergantikan.

Sifat unik ini di antaranya adalah tahan terhadap suhu tinggi yang ekstrim, bersifat magnetik super kuat, memiliki sifat optik yang baik, bisa digunakan sebagai katalis yang efektif, serta memiliki sifat superkonduktor.

Sehingga tanpa LTJ, hampir mustahil untuk mengembangkan dunia digital, transisi energi ramah lingkungan, kendaraan listrik, atau sistem persenjataan canggih (USGS, 2025).

Pola pergerakan harga jual LTJ agak berbeda dengan logam mulia, seperti emas, perak dan platinum yang depositnya di kerak bumi lebih sedikit dibandingkan LTJ. Dalam 15 tahun terakhir, harga emas naik dari sekitar USD 30.000/kg menjadi lebih dari USD 100.000/kg pada 2025.

Meski ada sedikit fluktuasi, kenaikan harga emas umumnya bertambah dengan lamanya waktu, dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global dan inflasi. Oleh karena kenaikan harga emas yang konsisten dengan bertambahnya waktu tersebut, maka emas dikenal sebagai safe haven atau penyimpan nilai aset yang stabil.

Sebaliknya, harga LTJ jauh lebih fluktuatif. Pada periode tahun 2010–2011, harga neodimium melonjak 700% hanya karena Cina sengaja membatasi ekspor LTJ yang disebabkan terjadinya eskalasi geopolitik di Asia, khususnya antara Cina dan Jepang.

Europium bahkan sempat menembus USD 3.000/kg pada 2011, lalu jatuh di bawah USD 400/kg hanya dalam beberapa tahun kemudian (Investing News, 2024). Hal ini menunjukkan bahwa harga LTJ lebih ditentukan oleh dinamika geopolitik dan kebijakan perdagangan dibandingkan faktor makroekonomi semata.

Baca Juga: Harta Karun Indonesia Incaran Dunia

Dominasi Cina dan Eskalasi Geopolitik

Sekitar 85% produksi LTJ dunia beserta pemurniannya berasal dan dilakukan di Cina. Dominasi ini membuat banyak negara maju, terutama Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang merasa tidak nyaman, karena pasokan LTJ sangat menentukan keberlangsungan industri di negaranya.

Cina sendiri tidak segan menggunakan LTJ sebagai alat politik, seperti yang terjadi pada tahun 2010 silam. Untuk mempertahankan keberlangsungan pasokan LTJ, baru-baru ini Amerika Serikat menghidupkan kembali tambang Mountain Pass di California, Uni Eropa meluncurkan Critical Raw Materials Act, sementara Australia menambah kuota ekspor, dst.

Meski demikian, posisi Cina tetap dominan karena teknologi pemurnian LTJ yang dikuasainya masih sulit ditandingi negara lain.

Ketergantungan Amerika Serikat terhadap LTJ dari Cina menjadi rintangan besar dalam rivalitas strategis kedua negara tersebut, karena LTJ sangat dibutuhkan untuk produksi jet tempur, rudal, dan kapal perang AS (Reuters, 2025).

Situasi ini semakin memanas ketika Cina membatasi ekspor LTJ ke Amerika. Sebagai respons langsung, Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan mengenakan tarif hingga 200% terhadap barang-barang asal Cina jika Beijing tidak menjamin pasokan komoditas berbasis LTJ (South China Morning Post, 2025).

Pernyataan ini menggambarkan betapa besar dominasi yang dimiliki Cina atas pasokan global, dan sekaligus betapa tajam tekanan dagang yang diterapkan oleh Amerika saat ketegangan meningkat.

Uni Eropa juga menghadapi dilema serupa. Proyek energi terbarukan mereka sangat bergantung pada pasokan LTJ, sementara upaya diversifikasi pasokan masih terlalu mahal dan terkendala isu lingkungan.

Negara-negara lain seperti Myanmar, Vietnam, Tanzania, dan Malawi pun mulai dilirik sebagai alternatif pemasok LTJ, tetapi persaingan pengaruh antara Barat dan Cina membuat kawasan ini rawan konflik baru.

Penambangan LTJ tidak bisa lepas dari masalah lingkungan. Proses ekstraksi LTJ menghasilkan limbah radioaktif yang berbahaya. Cina, yang menjadi produsen LTJ terbesar di dunia, menanggung dampak parah di daerah Baotou, Mongolia. Sungai tercemar, tanah rusak, dan masyarakat setempat mengalami masalah kesehatan.

Negara-negara maju pun menghadapi dilema, mereka ingin mandiri dalam pasokan LTJ, tetapi enggan menanggung beban kerusakan lingkungan di wilayah mereka sendiri.

Baca Juga: Perang Dagang AS-China: Ancaman atau Peluang bagi Ekonomi Indonesia?

Indonesia: Pemain Baru dengan Potensi Besar

Bagaimana dengan Indonesia? Negeri ini ternyata memiliki cadangan LTJ cukup besar, terutama dari mineral ikutan timah di Bangka Belitung, mineral monasit di Kalimantan dan Sulawesi, serta daerah lainnya yang belum dieksplorasi secara detail.

Jika dikelola dengan baik, cadangan ini bisa mendukung industri berbagai mineral nasional, program hilirisasi dan industrialisasi, hingga memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi global.

Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan BUMN terkait telah menegaskan pentingnya hilirisasi, tidak lagi sekadar mengekspor bahan mentah, melainkan membangun industri pengolahan di dalam negeri.

Langkah ini sejalan dengan Asta Cita pemerintah, antara lain memperkuat kemandirian ekonomi, mempercepat transisi energi ramah lingkungan, dan membangun lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Meski potensinya besar, Indonesia menghadapi beberapa tantangan utama, seperti: (1) teknologi pemrosesan yang saat ini masih dikuasai Cina, sehingga Indonesia perlu mendorong transfer teknologi; (2) regulasi, payung hukum khusus untuk eksploitasi LTJ belum ada; dan (3) risiko pencemaran lingkungan, limbah radioaktif yang dihasilkan harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan bencana ekologi.

Jika tantangan ini bisa diatasi, Indonesia berpeluang besar menjadi salah satu pemain kunci dalam rantai pasok LTJ dunia.

Logam tanah jarang adalah sumber daya strategis yang menentukan arah masa depan teknologi dan geopolitik dunia. Harga yang fluktuatif, dominasi Cina, serta ketergantungan negara-negara maju menjadikannya komoditas sensitif sekaligus strategis.

Indonesia, dengan cadangan besar yang dimiliki, punya peluang besar untuk menjadi pemain global, asal berani menguasai teknologi, menjaga lingkungan, dan konsisten dalam hilirisasi.

Dengan pengelolaan yang tepat, LTJ tidak hanya bisa menjadi motor penggerak ekonomi hijau nasional, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan geopolitik internasional.


Penulis: M. Lutfi Firdaus
Dosen S2 Pendidikan IPA Universitas Bengkulu (Unib)


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses