Edukasi Pancasila Mahasiswa UB: Kikis Individualisme Kampus Lewat Sikap Pro-Sosial

Edukasi Pancasila di Kampus
Potret Krisis Interaksi Sosial: Sekelompok mahasiswa tampak asyik dengan gawai masing-masing meski sedang berkumpul bersama. Fenomena phubbing dan sikap individualistis inilah yang menjadi latar belakang utama mahasiswa Teknologi Industri Pertanian UB menggelar edukasi penguatan nilai Pancasila untuk menumbuhkan kembali sikap pro-sosial. (Foto: Dok. Penulis)

Malang, MMI – Mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB), Universitas Brawijaya Malang melaksanakan kegiatan edukasi bertajuk “Efektivitas Penerapan Nilai-Nilai Kesatuan dan Kesetaraan Pancasila dalam Kesadaran Perilaku Tolong-Menolong Mahasiswa Universitas Brawijaya.”

Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari mata kuliah Pancasila yang bertujuan menanamkan nilai persatuan, keadilan, serta kepedulian sosial sebagai landasan utama dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Baca juga: Pancasila sebagai Landasan Filosofis dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Kelompok 3 yang beranggotakan Aramita Vania Salsabilla, Firman Ghani Agustiar, Elsa Rani Alfani Manurung, dan Reza Aidil Nur Rahman di bawah bimbingan dosen pengampu mata kuliah Pancasila, Andi Setiawan, S.IP., M.Si.

Program ini dilatarbelakangi oleh fenomena sosial yang masih sering dijumpai di lingkungan kampus maupun masyarakat luas, yaitu meningkatnya sikap individualisme, berkurangnya rasa empati, serta rendahnya kesadaran untuk saling menolong antarindividu.

Fondasi Nilai Kesatuan dan Kesetaraan

Dalam pemaparannya, tim mahasiswa menjelaskan bahwa nilai kesatuan yang terkandung dalam Sila Ketiga Pancasila menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman.

Sementara itu, nilai kesetaraan yang terkandung dalam Sila Kedua dan Sila Kelima mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki hak, kewajiban, dan kedudukan yang sama tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun status sosial.

Kedua nilai fundamental tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem kehidupan kampus yang harmonis, inklusif, dan saling mendukung.

Melalui kegiatan edukasi ini, mahasiswa diberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya perilaku tolong-menolong sebagai bentuk nyata pengamalan Pancasila.

Perilaku tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai aktivitas praktis sehari-hari, seperti membantu rekan yang mengalami kesulitan akademik, saling berbagi informasi perkuliahan, bekerja sama secara sehat dalam tugas kelompok, serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Sikap saling membantu tersebut diyakini mampu memperkuat solidaritas dan rasa kebersamaan yang kokoh di kalangan mahasiswa.

“Kemanusiaan yang adil dan beradab tidak diuji dari seberapa hafal kita akan teori Pancasila, melainkan dari bagaimana kita memperlakukan sesama. Menurunkan ego individualisme untuk membantu teman yang kesulitan adalah cara paling murni dalam menjaga Persatuan Indonesia,” ujar salah seorang anggota kelompok, Firman Ghani.

Baca juga: Bahaya Individualisme di Era Digital

Metode Pelaksanaan dan Evaluasi Dampak

Kegiatan edukasi dilaksanakan menggunakan metode pemaparan materi secara langsung kepada mahasiswa Universitas Brawijaya. Selain penyampaian konsep dan teori mengenai nilai kesatuan serta kesetaraan, peserta juga diberikan contoh-contoh konkret penerapan sikap tolong-menolong dalam kehidupan nyata di kampus.

Setelah pematerian berlangsung, tim pelaksana melakukan observasi lapangan terhadap pengubahan perilaku peserta sebagai bentuk evaluasi terhadap efektivitas program kerja tersebut.

Hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan kesadaran yang signifikan dari mahasiswa dalam menerapkan perilaku tolong-menolong. Sebelum kegiatan dilaksanakan, interaksi sosial antar-mahasiswa cenderung menunjukkan kecenderungan individualistis dan minim inisiatif untuk membantu sesama.

Namun, setelah memperoleh analisis dan pemahaman komprehensif mengenai pentingnya nilai kesatuan dan kesetaraan, mahasiswa mulai menunjukkan peningkatan empati, kepedulian sosial, kemauan untuk membantu tanpa diminta, serta kemampuan bekerja sama yang lebih baik dalam berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik.

 Baca juga: Peran Mahasiswa dalam Mencegah Bystander Effect dengan Meningkatkan Kepedulian Sosial

Di samping itu, terjadi pula peningkatan kualitas hubungan sosial antar-mahasiswa. Sikap saling menghargai perbedaan pendapat, kemampuan untuk memahami kondisi orang lain, serta rasa tanggung jawab kolektif terhadap lingkungan sosial menjadi jauh lebih baik dibandingkan sebelum kegiatan berlangsung.

Perubahan positif ini membuktikan bahwa pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila dapat memberikan dampak nyata yang transformatif terhadap pembentukan perilaku prososial mahasiswa.

Urgensi Aktualisasi Nilai Pancasila di Kampus

Edukasi Pancasila di Kampus
Dekat Secara Fisik, Berjarak Secara Sosial: Meski duduk di meja yang sama di lingkungan kampus, interaksi langsung antar-mahasiswa kerap tergantikan oleh layar gawai. Melalui pengamalan Sila Ke-2 dan Ke-3 Pancasila, program ini diharapkan mampu mengikis sekat individualisme tersebut. (Foto: Dok. Penulis)

Menurut penjelasan tim pelaksana, lingkungan perguruan tinggi memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai Pancasila tidak boleh hanya berhenti pada tataran pembelajaran teoritis di ruang kelas, melainkan harus diaktualisasikan secara nyata melalui praktik kehidupan sehari-hari.

Kegiatan seperti ini diharapkan mampu terus mendorong mahasiswa untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih peduli, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi.

Melalui program pengabdian ini, mahasiswa Teknologi Industri Pertanian Universitas Brawijaya berhasil menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tetap hidup dan sangat relevan untuk diterapkan dalam menjawab tantangan kehidupan modern.

Kesatuan, kesetaraan, dan semangat tolong-menolong menjadi modal krusial dalam membangun lingkungan kampus yang harmonis, sekaligus mempersiapkan generasi muda yang berkarakter, berintegritas, dan berjiwa sosial tinggi.


Penulis:
Aramita Vania Salsabilla
Mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Universitas Brawijaya
Firman Ghani Agustiar
Mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Universitas Brawijaya
Elsa Rani Alfani Manurung
Mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Universitas Brawijaya
Reza Aidil Nur Rahman
Mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Universitas Brawijaya


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Daftar Isi dan Poin-Poin Artikel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses