Bayangkan sebuah dunia yang terus berlari; gedung-gedung menjulang semakin tinggi, jalan tol membentang keji, dan angka pertumbuhan ekonomi sebagai tanda keberhasilan atau tidaknya semua negeri.
Selama beberapa dekade ini, semua manusia kontemporer terhabituasi selalu meyakini bahwa pembangunan adalah tentang pertumbuhan yang tervalidasi, melalui besarnya ekonomi menjadi standar baku dan kakunya untuk tanda berhasilnya negara tersebut.
Negara yang mampu meningkatkan: produksi, konsumsi, dan investasi dianggap bergerak menuju masa depan yang lebih baik (Skidmore & Smith, 2001). Namun, di balik berbagai capaian tersebut, muncul ironi yang sulit diabaikan.
Saat ekonomi global terus tumbuh, dunia justru menghadapi krisis iklim yang semakin serius, kerusakan lingkungan yang meluas, dan ketimpangan sosial yang semakin dalam.
Hutan-hutan menyusut untuk memenuhi kebutuhan industri, sungai-sungai tercemar oleh aktivitas ekonomi, dan masyarakat adat seringkali menjadi kelompok pertama yang harus menanggung biaya dari apa yang disebut sebagai ‘kemajuan’.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: jika pembangunan berhasil menciptakan kemajuan, mengapa berbagai krisis tersebut justru semakin memburuk?
Pertanyaan inilah yang mendorong lahirnya berbagai kritik terhadap paradigma pembangunan modern, terutama di Amerika Latin.
Salah satu kritik yang paling menarik datang dari konsep Buen Vivir, sebuah gagasan yang berkembang dari tradisi masyarakat adat Andes dan menawarkan cara pandang yang berbeda mengenai kesejahteraan dan pembangunan (Fatheuer, 2011).
Selama ini proses habituasi masyarakat yang berpikir bahwa, pembangunan modern banyak dipengaruhi oleh logika kapitalistik yang menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama.
Dalam paradigma tersebut, keberhasilan suatu negara diukur melalui angka-angka statistik seperti Produk Domestik Bruto (PDB), tingkat investasi, atau peningkatan konsumsi masyarakat. Semakin tinggi angka-angka tersebut, semakin maju negara tersebut dianggap.
Cara pandang ini secara tidak langsung membentuk hubungan tertentu antara manusia dan alam. Alam dipandang sebagai sumber daya yang harus dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Hutan bernilai ketika dapat ditebang, sungai bernilai ketika dapat dieksploitasi, dan tanah bernilai ketika mampu menghasilkan keuntungan ekonomi. Akibatnya, pembangunan seringkali berjalan beriringan dengan eksploitasi sumber daya alam yang semakin intensif.
Francisco Panizza (2009) menjelaskan bahwa berbagai negara Amerika Latin mengalami dilema pembangunan yang serupa. Di satu sisi, mereka dituntut untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan terintegrasi ke dalam pasar global.
Baca Juga: Dampak Lingkungan Pembangunan Bandar Antariksa di Biak Utara
Namun disisi lain, proses tersebut seringkali memperkuat ketergantungan terhadap ekspor sumber daya alam serta memperbesar kerusakan lingkungan. Dengan kata lain, pembangunan tidak selalu menghasilkan kesejahteraan yang merata. Di tengah situasi tersebut, Buen Vivir hadir sebagai kritik sekaligus alternatif.
Konsep ini berasal dari istilah Sumak Kawsay dalam bahasa Quechua yang secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai “hidup yang baik” atau “kehidupan yang bermakna” (Fatheuer, 2011). Namun, makna Buen Vivir jauh lebih dalam daripada sekadar hidup nyaman atau sejahtera secara material.
Bagi masyarakat adat Andes, kehidupan yang baik tidak ditentukan oleh seberapa banyak seseorang memiliki kekayaan. Kehidupan yang baik justru lahir dari hubungan yang harmonis antara manusia, komunitas, dan alam. Dalam pandangan ini, manusia bukanlah penguasa alam, melainkan bagian dari alam itu sendiri.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara Buen Vivir dan pembangunan kapitalistik. Jika kapitalisme bertanya bagaimana manusia dapat menguasai alam untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi, Buen Vivir justru bertanya bagaimana manusia dapat hidup berdampingan dengan alam tanpa merusaknya.
Jika pembangunan modern menekankan kompetisi dan akumulasi, Buen Vivir menekankan keseimbangan dan kehidupan kolektif.
Karena itu, Buen Vivir bukan hanya kritik terhadap sistem ekonomi tertentu, tetapi juga kritik terhadap cara berpikir modern yang menganggap pertumbuhan tanpa batas sebagai tujuan utama pembangunan. Konsep ini mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak selalu identik dengan peningkatan konsumsi atau akumulasi kekayaan.
Menariknya, Buen Vivir tidak berhenti sebagai gagasan filosofis. Di Amerika Latin, konsep ini berhasil memasuki arena politik formal. Ekuador menjadi salah satu contoh paling penting ketika memasukkan prinsip Buen Vivir ke dalam Konstitusi 2008.
Bahkan, negara tersebut mengakui hak-hak alam (Rights of Nature), sebuah langkah yang sangat jarang ditemukan dalam sistem hukum modern (Fatheuer, 2011).
Bolivia juga sama; mengembangkan pendekatan serupa melalui pengakuan yang lebih besar terhadap masyarakat adat dan nilai-nilai yang mereka bawa ke dalam kehidupan politik nasional (Subono, 2017).
Baca Juga: Burundi: Tantangan Geografis, Ekonomi, dan Politik dalam Pembangunan Nasional
Kehadiran Buen Vivir dalam kebijakan negara menunjukkan bahwa konsep yang lahir dari komunitas adat tidak harus selalu berada di pinggiran, tetapi dapat menjadi bagian dari perdebatan politik dan pembangunan di tingkat nasional.
Yang menarik dari Buen Vivir adalah konsep ini tidak berhenti sebagai gagasan filosofis masyarakat adat, tetapi berhasil masuk ke arena politik formal.
Proses ini merupakan hasil perjuangan panjang gerakan masyarakat adat di kawasan Andes, terutama di Ekuador dan Bolivia, yang selama bertahun-tahun mengkritik model pembangunan yang dianggap merusak lingkungan dan mengabaikan hak-hak komunitas adat (Fatheuer, 2011).
Di Ekuador, organisasi masyarakat adat seperti CONAIE berperan penting dalam memperjuangkan gagasan Sumak Kawsay atau Buen Vivir ke tingkat nasional. Perjuangan tersebut mencapai puncaknya ketika Konstitusi Ekuador tahun 2008 secara resmi memasukkan Buen Vivir sebagai salah satu prinsip pembangunan negara.
Ekuador bahkan menjadi negara pertama yang mengakui hak-hak alam (Rights of Nature) dalam konstitusinya (Acosta, 2013). Perkembangan serupa terjadi di Bolivia pada masa pemerintahan Evo Morales.
Melalui konsep Vivir Bien, pemerintah berupaya mengadopsi nilai-nilai masyarakat adat yang menekankan keseimbangan antara manusia, komunitas, dan lingkungan (Gudynas, 2011).
Namun, penerapan Buen Vivir tidak selalu berjalan sesuai harapan. Baik Ekuador maupun Bolivia masih bergantung pada ekspor minyak, gas, dan hasil tambang untuk menopang perekonomian negara.
Akibatnya, sering muncul konflik antara agenda pembangunan, kepentingan investasi, dan tuntutan masyarakat adat untuk melindungi lingkungan hidup (Acosta, 2013). Meski menghadapi berbagai tantangan, Buen Vivir tetap relevan hingga saat ini.
Di tengah krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin parah, konsep ini menawarkan cara pandang alternatif bahwa pembangunan tidak semata-mata tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Karena itu, Buen Vivir masih terus menjadi inspirasi bagi berbagai gerakan sosial dan lingkungan di Amerika Latin hingga sekarang.
Penulis: Joanna Valencia
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia
Dosen Pengampu:
1. Irwansyah, S.I.P., M.A., Ph.D.
2. Dr. Nur Iman Subono, M.Hum.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Bruce, I. (2004). The Porto Alegre Alternative: Direct Democracy in Action.
Fatheuer, T. (2011). Buen Vivir: A Brief Introduction to Latin America’s New Concepts for the Good Life and the Rights of Nature.
Panizza, F. (2009). Contemporary Latin America: Development and Democracy Beyond the Washington Consensus.
Skidmore, T. L., & Smith, P. H. (2001). Modern Latin America.
Subono, N. I. (2017). Dari Adat ke Politik: Transformasi Gerakan Sosial di Amerika Latin.
Wiarda, H. J. (1999). “Toward Consensus in Interpreting Latin American Politics: Developmentalism, Dependency, and the Latin American Tradition.”
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














