Goeboek Pentjeng, Ponpes yang Berbasis Santripreneur

Semarang – Pondok pesantren (ponpes) Goeboek Pentjeng yang terletak di RT 4 RW7, Kampung Ngrembel, Gunungpati, Semarang merupakan ponpes yang didirikan oleh KH Ahmad Saksono Al-Habsyi atau Abah Saksono yang beraliran ahlussunnah wal jama’ah dan berbasis wirausaha. Ponpes ini berdiri pada tahun 1993.berdiri pada tahun 1993.

Menjadi santri di ponpes sering dibayangkan hanya berkutat dengan ilmu agama dan kegiatan mengaji Al Quran dari pagi hingga malam hari. Namun di Pondok Pesantren Goeboek Pentjeng ini, para santri tidak hanya diajari mengaji ataupun belajar ilmu agama, sebaliknya mereka dibina dengan kemampuan usaha terutama di sektor pertanian atau agribisnis.

Dengan adanya ponpes Goboek Pentjeng, dari awal kami memiliki tujuan untuk mencetak para santri selain pandai ilmu agama tetapi juga harus memiliki jiwa pengusaha, agar kelak lulus para santri tidak kesulitan mencari pekerjaan, melainkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Kata KH Ahmad Saksono, pengasuh Ponpes Goeboek Pentjeng di sela-sela pengajian mujadahan rutinan malam jumat, kamis (13/12/2018).

Bacaan Lainnya
DONASI

Kegiatan sehari-harinya, para santri sebenarnya berkegiatan seperti ponpes pada umumnya, akan tetapi di ponpes ini para santri diajarkan untuk berwirausaha, di antaranya usaha yang sudah berjalan yaitu kebun  hidroponik, budidaya jamur, kebun durian dan budidaya ikan lele.

Usaha hidroponik bermula dari alumni santri yang berinisiatif mendirikan perkebunan hidroponik di goeboek pentjeng. Kemudian perkebunan itu dikelola dan diteruskan oleh para santri goeboek pentjeng.

Sebelumnya para santri diajarkan oleh pemilik kebun tersebut yang bernama Bu Dewi. Beliau mengajarkan dari awal, mulai dari penyemaian hingga sayuran hidroponik bisa dipanen.

“Saya disini merasa senang, karena selain di sini saya belajar agama, saya juga dapat mengetahui berbagai usaha agribisnis yang sangat bermanfaat bagi saya kelak kemudian hari. Salah satunya sayuran hidroponik. Di sini saya menanam sayuran sawi, selada, tomat dan sayuran jenis lainnya”. Ujar Kholil (25), salah satu santri Goeboek Pentjeng.

Dari berbagai bidang usaha agribisnis tersebut, hasilnya produksinya dipasarkan oleh para santri di masyarakat sekitar Kec. Gunungpati. Bahkan usaha kebun durian, yang pada bulan ini merupakan musim panen, hasil panennya sampai menembus pasar luar provinsi yaitu DKI Jakarta. Para santri di ponpes ini pada umumnya merasa senang dengan adanya pendidikan kewirausahaan di tengah padatnya mempelajari ilmu agama. Tak salah jika banyak masyarakat sekitar ponpes ini memberikan julukan kepada para santri Goeboek Pentjeng dengan sebutan santripreneur.

Kontributor:
Muhammad Rizqi Asy Syfa
Ronaldi Agung Saputra
Hirzanun Nafi’ Kusuma

Baca juga:
Perhatikan Potensi UMKM, Mahasiswa Ini Buat Acara Bandung Creative Entrepreneur Market 2017
Wirausaha Muda (Sejak Mahasiswa), Kenapa Tidak?
Bagaimana Seharusnya Mahasiswa?

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI