Ketika Kepercayaan Diri Berlebihan Bertemu FOMO: Dampaknya terhadap Keputusan Investasi Derivatif Kripto

Investasi Derivatif Kripto
Ilustrasi Investasi Derivatif Kripto (Sumber: MMI)

Abstrak

Pertumbuhan jumlah investor muda di pasar modal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menimbulkan pertanyaan yang lebih kompleks daripada sekadar angka: sejauh mana keputusan mereka benar-benar didasarkan pada informasi?

Artikel ini melakukan tinjauan secara kritis terhadap bagaimana dua kekuatan yang berlawanan. Fear of Missing Out (FOMO) sebagai motor penggerak impulsivitas dan prospektus digital sebagai sumber informasi fundamental berinteraksi dalam membentuk keputusan investasi saham IPO pada Generasi Z.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Menggunakan pendekatan tinjauan konseptual yang didasarkan pada literatur keuangan perilaku dan kebijakan pasar modal Indonesia, tulisan ini berargumen bahwa FOMO mendominasi proses pengambilan keputusan justru karena ekosistem digital dirancang demikian, sementara prospektus digital, meskipun tersedia secara luas gagal berfungsi sebagai penyeimbang yang efektif akibat hambatan dalam keterbacaan dan motivasi. Implikasi dari analisis ini mencakup aspek regulasi, desain platform, dan literasi keuangan berbasis perilaku.

Kata Kunci: FOMO, Prospektus Digital, IPO, Generasi Z, Keuangan Perilaku, Investor Muda

 

Abstract 

The increase in the number of young investors within Indonesia’s capital market prompts a question more intricate than mere statistical figures: to what degree are their investment choices genuinely rooted in information? This paper critically examines the interaction between two contrasting forces Fear of Missing Out (FOMO) as a catalyst for impulsivity and digital prospectuses as providers of fundamental information, in shaping the investment decisions of Generation Z regarding initial public offerings (ipos).

Utilising a conceptual review based on behavioral finance literature and Indonesian capital market policies, it is argued that FOMO exerts dominance over decision-making, largely because digital ecosystems are intentionally engineered to facilitate such behavior.

Conversely, digital prospectuses although widely accessible fail to act as effective counterweights due to issues related to readability and motivational barriers. The findings of this analysis bear significance for regulatory frameworks, platform design considerations, and financial literacy initiatives grounded in behavioural insights.

Keywords: FOMO, Digital Prospectus, IPO, Generation Z, Behavioral Finance, Young Investors

 

Pendahuluan

Perkembangan teknologi digital membuat kegiatan investasi menjadi lebih mudah dilakukan oleh masyarakat. Melalui aplikasi di smartphone, investor dapat mengakses berbagai instrumen investasi, termasuk aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum. Selain perdagangan kripto secara langsung, tersedia juga produk derivatif seperti futures dan perpetual contract yang memberikan peluang keuntungan lebih besar dengan bantuan leverage.

Meskipun menawarkan potensi keuntungan yang menarik, keputusan investasi sering kali dipengaruhi oleh faktor psikologis. Dalam investasi kripto, dua faktor yang cukup sering memengaruhi perilaku investor adalah overconfidence atau rasa percaya diri yang berlebihan dan Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut kehilangan peluang keuntungan.

Overconfidence dapat membuat investor terlalu yakin terhadap kemampuan dan prediksi yang dimilikinya sehingga kurang memperhatikan risiko yang ada.

Di sisi lain, FOMO mendorong investor untuk segera mengambil keputusan karena tidak ingin tertinggal dari tren yang sedang berkembang. Kombinasi kedua faktor tersebut dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang kurang rasional, terutama dalam investasi derivatif kripto yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Oleh karena itu, pemahaman mengenai pengaruh overconfidence dan FOMO penting untuk membantu investor mengambil keputusan yang lebih tepat dan terukur.

Overconfidence dalam Investasi Derivatif Kripto

Overconfidence merupakan kondisi ketika seseorang memiliki keyakinan yang terlalu tinggi terhadap kemampuan, pengetahuan, atau prediksinya. Dalam dunia investasi kripto, kondisi ini sering muncul ketika investor merasa mampu memprediksi arah pergerakan pasar hanya berdasarkan pengalaman atau keberhasilan yang pernah diperoleh sebelumnya.

Misalnya, seorang investor yang beberapa kali memperoleh keuntungan dari transaksi futures Bitcoin dapat merasa bahwa dirinya memiliki kemampuan khusus dalam membaca pasar. Akibatnya, ia mulai meningkatkan jumlah investasi atau menggunakan leverage yang lebih tinggi tanpa mempertimbangkan kemungkinan terjadinya perubahan pasar secara tiba-tiba.

Padahal, pasar kripto dikenal memiliki tingkat volatilitas yang sangat tinggi. Harga aset dapat berubah secara signifikan dalam waktu singkat, sehingga kepercayaan diri yang berlebihan justru dapat meningkatkan risiko kerugian yang besar.

 

Pengaruh FOMO terhadap Perilaku Investor

Selain overconfidence, Fear of Missing Out (FOMO) juga menjadi salah satu faktor psikologis yang sering memengaruhi perilaku investor di era digital.

FOMO adalah kondisi ketika seseorang merasa khawatir atau takut tertinggal peluang keuntungan yang sedang diperoleh oleh orang lain. Perasaan ini sering muncul karena investor melihat keberhasilan orang lain dalam mendapatkan keuntungan dari suatu investasi dan ingin merasakan hasil yang sama dalam waktu singkat.

Perkembangan media sosial semakin memperkuat munculnya fenomena FOMO. Informasi mengenai keuntungan investasi dapat tersebar dengan cepat melalui berbagai platform, seperti Instagram, TikTok, X, maupun komunitas investasi online.

Unggahan yang menampilkan keberhasilan seseorang dalam memperoleh keuntungan besar dari aset kripto sering kali menarik perhatian banyak orang dan memicu keinginan untuk ikut berinvestasi. Akibatnya, sebagian investor mengambil keputusan hanya berdasarkan tren yang sedang populer tanpa melakukan analisis yang mendalam mengenai risiko dan potensi kerugiannya.

Sebagai contoh, ketika harga Bitcoin mengalami kenaikan yang tajam dalam waktu singkat, banyak investor baru langsung membeli kontrak derivatif kripto karena takut kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan.

Padahal, keputusan tersebut sering kali dilakukan tanpa memahami kondisi pasar, mekanisme leverage, maupun risiko yang melekat pada instrumen derivatif. Dalam situasi seperti ini, keputusan investasi lebih banyak dipengaruhi oleh emosi dan dorongan untuk mengikuti tren dibandingkan pertimbangan yang rasional dan objektif. Akibatnya, investor berisiko mengalami kerugian ketika harga pasar bergerak tidak sesuai dengan harapan mereka.

Dampak terhadap Pengambilan Keputusan Investasi

Ketika overconfidence dan Fear of Missing Out (FOMO) muncul secara bersamaan, risiko yang dihadapi investor dapat meningkat secara signifikan.

Overconfidence membuat investor terlalu yakin terhadap kemampuan dan prediksi yang dimilikinya, sedangkan FOMO mendorong investor untuk segera mengambil tindakan agar tidak kehilangan peluang keuntungan. Kombinasi kedua faktor tersebut sering kali menyebabkan investor bertindak terburu-buru tanpa mempertimbangkan risiko secara matang.

Baca juga: GameStop dan Psikologi Investor: Ketika Euforia Pasar Memengaruhi Keputusan Investasi

Dalam kondisi ini, investor cenderung menggunakan leverage yang tinggi karena merasa yakin bahwa prediksinya akan benar. Selain itu, perhatian terhadap manajemen risiko menjadi berkurang karena investor lebih fokus pada potensi keuntungan dibandingkan kemungkinan kerugian. Keputusan investasi juga sering didasarkan pada emosi dan dorongan untuk mengikuti tren pasar, bukan pada analisis yang objektif.

Beberapa dampak yang dapat timbul dari kombinasi overconfidence dan FOMO antara lain penggunaan leverage yang berlebihan, pengabaian strategi manajemen risiko, keputusan investasi yang impulsif, serta kurangnya perhatian terhadap analisis fundamental maupun teknikal.

Akibatnya, investor memiliki peluang yang lebih besar untuk mengalami kerugian, bahkan berisiko terkena likuidasi ketika pergerakan harga pasar tidak sesuai dengan perkiraan.

Dalam perspektif Behavioral Corporate Finance, fenomena ini menunjukkan bahwa pengambilan keputusan keuangan tidak selalu dilakukan secara rasional. Faktor psikologis dan emosi sering kali memengaruhi cara investor menilai peluang serta risiko yang ada.

Oleh karena itu, pemahaman terhadap bias perilaku seperti overconfidence dan FOMO sangat penting agar investor dapat mengambil keputusan yang lebih objektif, terukur, dan sesuai dengan tingkat risiko yang mampu ditanggung.

Pengaruh Overconfidence dan FOMO dalam Investasi Kripto

Maraknya investasi aset kripto di era digital telah menciptakan berbagai peluang keuntungan yang menarik bagi masyarakat. Kemudahan akses melalui aplikasi investasi serta cepatnya penyebaran informasi di media sosial membuat semakin banyak orang tertarik untuk terjun ke pasar kripto, termasuk pada instrumen derivatif seperti futures dan perpetual contract.

Fenomena ini terlihat jelas ketika harga aset kripto, terutama Bitcoin, mengalami kenaikan yang signifikan dalam waktu singkat. Berbagai platform media sosial dipenuhi dengan unggahan mengenai keuntungan besar yang diperoleh para investor.

Tidak sedikit konten yang menampilkan keberhasilan seseorang meraih keuntungan dalam hitungan hari bahkan jam. Kondisi tersebut memicu minat masyarakat untuk ikut berinvestasi agar tidak kehilangan peluang yang dianggap menguntungkan.

Banyak investor kemudian membuka posisi pada perdagangan futures dengan menggunakan leverage yang tinggi. Sebagian dari mereka merasa yakin bahwa tren kenaikan harga akan terus berlanjut sehingga berani mengambil risiko yang lebih besar.

Di sisi lain, dorongan untuk segera memperoleh keuntungan membuat banyak investor masuk ke pasar tanpa melakukan analisis yang mendalam maupun menyiapkan strategi manajemen risiko yang memadai.

Pada awalnya, beberapa investor memang berhasil memperoleh keuntungan yang cukup besar. Keberhasilan tersebut semakin memperkuat rasa percaya diri mereka dan mendorong lebih banyak orang untuk mengikuti tren yang sedang berlangsung.

Namun, kondisi pasar kripto yang sangat fluktuatif membuat situasi dapat berubah dengan cepat. Ketika terjadi koreksi harga atau penurunan pasar secara tiba-tiba, banyak investor tidak siap menghadapi perubahan tersebut.

Akibatnya, sejumlah posisi perdagangan mengalami kerugian besar bahkan berakhir dengan likuidasi. Penggunaan leverage yang tinggi membuat kerugian yang terjadi jauh lebih besar dibandingkan modal yang dimiliki investor. Banyak investor kehilangan sebagian besar dana investasinya karena tidak menerapkan batas kerugian (stop loss) dan kurang memperhatikan manajemen risiko.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa keputusan investasi yang dipengaruhi oleh overconfidence dan Fear of Missing Out (FOMO) dapat menimbulkan konsekuensi finansial yang serius. Rasa terlalu percaya diri sering membuat investor meremehkan risiko, sementara FOMO mendorong mereka mengambil keputusan secara terburu-buru hanya karena mengikuti tren pasar.

Oleh karena itu, para investor perlu mengedepankan analisis yang objektif, disiplin dalam mengelola risiko, dan tidak mudah terpengaruh oleh euforia yang berkembang di media sosial agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijaksana.

 

Simpulan

Perkembangan teknologi digital telah memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk berinvestasi, termasuk pada instrumen derivatif kripto yang menawarkan potensi keuntungan tinggi. Namun, di balik peluang tersebut terdapat risiko yang tidak kecil, terutama ketika keputusan investasi dipengaruhi oleh faktor psikologis.

Dalam praktiknya, banyak investor tidak hanya mengandalkan analisis pasar, tetapi juga dipengaruhi oleh emosi dan persepsi pribadi dalam mengambil keputusan.

Dua faktor psikologis yang sering muncul dalam investasi derivatif kripto adalah overconfidence dan Fear of Missing Out (FOMO). Overconfidence membuat investor terlalu yakin terhadap kemampuan dan prediksinya sehingga cenderung mengabaikan risiko yang ada.

Sementara itu, FOMO mendorong investor untuk mengikuti tren pasar karena takut kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan. Kombinasi kedua faktor tersebut dapat menyebabkan penggunaan leverage yang berlebihan, pengambilan keputusan yang impulsif, serta kurangnya penerapan manajemen risiko.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membaca pergerakan pasar, tetapi juga oleh kemampuan investor dalam mengendalikan emosi dan menghindari bias psikologis.

Oleh karena itu, investor perlu membangun sikap yang lebih rasional dengan melakukan analisis yang matang, memahami risiko setiap instrumen investasi, serta menerapkan strategi manajemen risiko yang disiplin. Dengan demikian, keputusan investasi dapat dilakukan secara lebih bijaksana, terukur, dan berkelanjutan sehingga dapat meminimalkan potensi kerugian di tengah dinamika pasar kripto yang sangat fluktuatif.

 


Penulis:

  1. Wilda Erlia Amirullah
  2. Diah Puspitasari
  3. Tiara Rida Kurniawati
  4. Sarah Maharani Dewi
  5. Raka Hafit
  6. Ria Aulia

Mahasiswa Manajemen, Universitas Pamulang 


Dosen Pengampu: Ria Aulia S.EI., M.Sc.


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses