Kebonsari, MMI – Dalam rangka menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN), Kelompok 7 Mahasiswa Institut Agama Islam (IAI) Al-Khoziny Buduran Sidoarjo melakukan kunjungan sekaligus kolaborasi dengan salah satu UMKM unggulan di Desa Kebonsari, yaitu Telur Asin Jamlin milik UD. Doa Bunda. (8/8/2025)
Kegiatan ini berlangsung pada Jumat pagi, 8 Agustus 2025 pukul 06.00 WIB, di rumah sekaligus tempat produksi milik Bapak Mushollin, pengusaha lokal yang telah merintis usaha ini sejak tahun 2007. Para mahasiswa disambut hangat dan diberi kesempatan untuk menyaksikan langsung proses produksi telur asin dari awal hingga akhir.
Usaha Telur Asin Jamlin memproduksi tiga varian telur asin yang semuanya dibuat dari telur bebek segar, yakni: telur asin kukus, telur asin oven, dan telur asin asap. Proses diawali dengan pemilihan telur bebek berkualitas yang kemudian dibersihkan dan dikeringkan.
Setelah itu, telur dilapisi adonan khusus dari batu bata merah yang dihaluskan, garam halus, dan air secukupnya hingga menyerupai adonan lumpur. Setiap butir telur dilapisi secara merata, lalu disimpan dalam wadah tertutup selama 10 hari agar rasa asin meresap dengan sempurna.
Setelah masa pengasinan, telur-telur diolah menjadi tiga jenis olahan:
Telur Asin Kukus
Telur yang telah diasinkan dibersihkan, lalu dikukus selama 3 jam. Teksturnya lembut, rasa asin merata, dan warna kuning telurnya cerah. Cocok dikonsumsi langsung.
Telur Asin Oven
Telur ini dipanggang dalam oven bersuhu sedang selama 2 jam setelah pengasinan. Hasilnya lebih kering dan kenyal, dengan rasa khas yang unik dibanding versi kukus.
Telur Asin Asap
Menggunakan teknik pengasapan tradisional dengan sabut kelapa dan serbuk kayu, varian ini menghasilkan telur dengan aroma asap yang kuat dan rasa gurih yang menggoda. Prosesnya berlangsung selama 2 jam, dan banyak diminati oleh pecinta kuliner tradisional.
Sebagai bentuk legalitas dan jaminan mutu, produk Telur Asin Jamlin telah resmi terdaftar di Dinas Kesehatan dengan nomor P-IRT: 3033515010576-20. Hal ini menjadi bukti keseriusan UMKM dalam menjaga kualitas dan keamanan produk sebelum sampai ke tangan konsumen.
Menurut Bapak Mushollin, dalam sehari ia mampu memproduksi sekitar 240 butir telur asi per hari, dengan harga jual per butir hanya Rp3.700. Produk ini telah dikenal luas dan menjadi oleh-oleh khas yang banyak dicari, baik oleh warga lokal maupun dari luar desa.
Baca Juga: Mahasiswa UBY Gelar Pelatihan Pengolahan Telur bagi UMKM di Desa Tambak, Boyolali
Mahasiswa KKN tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga aktif dalam kegiatan dokumentasi, wawancara, dan ikut membantu proses produksi. Mereka bahkan turut merancang strategi promosi sederhana, seperti membuat video dokumenter, desain label kemasan, dan mengelola publikasi di media sosial.
“Kami belajar banyak dari kunjungan ini, bukan hanya tentang proses produksi, tetapi juga semangat pelaku UMKM dalam menjaga kualitas dan identitas lokal,” ujar Indah Firdausi Nuzula, salah satu anggota KKN dari Kelompok 7.
Kegiatan kolaboratif ini menjadi bentuk nyata sinergi antara dunia pendidikan dan pelaku usaha desa. Mahasiswa KKN berperan dalam menjembatani potensi lokal dengan pendekatan modern, sekaligus ikut mendorong penguatan ekonomi desa berbasis kearifan lokal.
Harapannya, langkah kecil ini dapat menjadi pemantik kolaborasi berkelanjutan antara kampus dan masyarakat dalam membangun potensi desa yang berdaya saing tinggi dan tetap menjunjung nilai-nilai tradisional.
Penulis: Kelompok 7 Desa Kebonsari
Intitut Agama Islam Al Khoziny Buduran Sidoarjo
Dosen Pengampu: Bu Hj. Ainur Risalah, M.Pd
Editor: I. Khairunnisa
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












