Realitas Masyarakat Perkotaan dalam Pertarungan Perspektif 3 Tokoh Besar Sosiologi

masyarakat perkotaan
Foto: Pixabay.com

Berbicara tentang masyarakat perkotaan, kita tidak bisa lepas dari gambaran gedung-gedung tinggi, jalanan yang sibuk, dan kehidupan modern yang bergerak cepat. Di balik gemerlap lampu kota, terdapat dinamika sosial yang unik dan kompleks, di mana keberagaman menjadi ciri khasnya.

Masyarakat di kota bukan hanya sekadar kumpulan individu, melainkan jaringan sosial yang terbentuk dari interaksi beragam latar belakang, profesi, dan budaya. Fenomena ini telah lama menjadi perhatian para ahli sosiologi, termasuk Émile Durkheim, Karl Marx, dan Max Weber.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kota bukan hanya pusat ekonomi dan politik, tetapi juga arena di mana perubahan sosial berlangsung lebih cepat dibandingkan wilayah lain. Mobilitas tinggi, perkembangan teknologi, serta tuntutan efisiensi membuat masyarakat kota terus beradaptasi.

Di sini, peluang dan tantangan berjalan beriringan—membuka jalan bagi kemajuan, namun juga memunculkan masalah sosial baru seperti kesenjangan, individualisme, dan alienasi. Semua ini menjadikan kehidupan perkotaan menarik untuk diteliti dari berbagai perspektif ilmiah.

Artikel ini akan mengajak kamu memahami realitas kehidupan di kota melalui sudut pandang tiga tokoh besar sosiologi. Durkheim melihat masyarakat modern dari kacamata solidaritas, Marx menyoroti struktur kelas dan dominasi ekonomi, sedangkan Weber fokus pada aspek politik, hukum, dan tindakan sosial.

Dengan memahami pemikiran mereka, kamu bisa melihat bahwa masyarakat perkotaan bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi sebuah sistem sosial yang terus berkembang dan membentuk cara kita hidup.

Baca juga: Dampak Media Sosial terhadap Pola Interaksi Sosial Masyarakat Perkotaan: Kajian Sosiologis tentang Transformasi Relasi Sosial di Era Digital

Definisi Masyarakat Perkotaan

Berbicara mengenai masyarakat perkotaan, kamu pasti membayangkan gedung-gedung menjulang, jalanan ramai, dan ritme kehidupan modern yang cepat.

Pengertian masyarakat perkotaan (urban society) adalah kelompok sosial yang hidup di daerah perkotaan, dengan jumlah penduduk padat, pekerjaan non-agraris, serta struktur sosial kompleks.

Sebaliknya, masyarakat pedesaan (rural society atau masyarakat desa) cenderung homogen, bergantung pada sumber daya alam, dan memiliki hubungan sosial yang lebih akrab.

Secara garis besar, perbedaan masyarakat perkotaan dan pedesaan meliputi:

  • Struktur sosial: Kota memiliki masyarakat heterogen dan kelompok masyarakat yang beragam, sedangkan desa homogen dan solid.
  • Akses: Perkotaan menawarkan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan teknologi yang lebih memadai.
  • Mata pencarian masyarakat: Kota beragam profesi modern, desa bertumpu pada pertanian dan pemanfaatan alam.
  • Komunikasi yang memadai: Kota menggunakan teknologi informasi dan transportasi canggih, desa mengandalkan interaksi langsung.
  • Sumber daya alam: Desa mengelola secara langsung, kota bergantung pada pasokan dari luar.

Pengertian masyarakat sendiri adalah sekelompok orang yang saling berinteraksi, berbagi nilai dan norma, serta membentuk aturan hidup bersama.

Dalam konteks ini, masyarakat perkotaan merupakan masyarakat dengan kelompok sosial lebih besar dan kompleks. Mereka umumnya memiliki sifat dinamis, individualis, dan terbuka terhadap perubahan sosial.

Baca juga: Dampak Media Sosial terhadap Interaksi Sosial Generasi Muda dalam Tinjauan Sosiologis

1. Perspektif Émile Durkheim

Emile Durkheim mengatakan bahwa masyarakat perkotaan tertuju pada sebuah solidaritas, dimana solidaritas masyarakat perkotaan (gesellschaft) menurutnya berbeda dengan masyarakat pedesaan (gemeinschaft).

Karena masyarakat kota dikategorikan masyarakat yang memiliki solidaritas organik dan masuk dalam hukum restuitif yang mana hukum ini menghendaki para pelanggar untuk memberikan ganti rugi atas kesejahteraan mereka.

Dari sinilah masyarakat kota bisa dipahami sebagai masyarakat yang memiliki solidaritas kolektif rendah, karena masyarakat kota yang notabene sebagai masyarakat pendatang.

Berbeda dengan masyarakat pedesaan yang relatif dominan sebagai masyarakat asli dan memiliki solidaritas yang kuat atau solidaritas mekanik.

Mereka saling bahu membahu, gotong-royong dengan menerapkan slogan “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Pekerjaan yang berat sekalipun apabila dilakukan bersama-sama akan terasa ringan, itulah masyarakat kota dalam pandangan Durkheim.

Solidaritas Mekanis vs Organis

Emile Durkheim membedakan dua tipe solidaritas: mekanis dan organis. Masyarakat primitif serta masyarakat desa memiliki solidaritas mekanis yang ditopang kesamaan pekerjaan, nilai, dan tradisi. Hubungan personal kuat, hukum informal berlaku, dan jarang terjadi fragmentasi sosial.

Masyarakat perkotaan modern berbeda. Mereka dibangun di atas solidaritas organis, di mana pembagian kerja (division of labour) menciptakan saling ketergantungan antarindividu. Masyarakat kota dianggap sebagai masyarakat yang berfungsi karena spesialisasi pekerjaan.

Inilah salah satu karakteristik masyarakat perkotaan yang paling menonjol: hubungan sosial lahir dari kebutuhan fungsional, bukan semata kedekatan emosional.

Dampak Divisi Kerja pada Solidaritas

Dalam kehidupan modern, perkotaan cenderung melahirkan individualisme. Masyarakat perkotaan memiliki tingkat keberagaman tinggi, dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang padat. Arsitektur dan industri yang canggih berkembang pesat, menciptakan bentuk karakteristik sebuah kota yang penuh inovasi.

Perkotaan tertuju pada sebuah solidaritas fungsional. Hubungan sosial diatur secara formal melalui hukum dan aturan pemerintah. Masyarakat yang cenderung memiliki sifat rasional dan efisien ini sangat berbeda dengan masyarakat pedesaan yang lebih komunal.

Anomie dan Perubahan Sosial

Durkheim memperkenalkan konsep anomie—keadaan di mana norma sosial menjadi kabur. Di masyarakat kota, mobilitas tinggi dan perubahan sosial cepat membuat nilai-nilai lama tergeser. Masyarakat perkotaan menggunakan pengawasan formal seperti undang-undang, peraturan lalu lintas, dan sistem keamanan publik untuk menjaga keteraturan.

Baca juga: Penegakan Hukum terhadap Pelaku Perpeloncoan Mahasiswa Baru dalam Kerangka Sosiologi Hukum

2. Perspektif Karl Marx

Karl Marx yang mendefinisikan masyarakat umumnya yang terpaut dengan struktur sosial dan lebih condong dengan sistem ekonomi.

Masyarakat sebagai struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi. Jika ditarik pada masyarakat perkotaan, ia membagi dua bagian masyarakat yaitu masyarakat borjuis dan proletariat.

Keduanya merupakan hal yang berbeda dalam kedudukan, borjuis yang termasuk kategori kaum kaya, sedangkan proletar kaum miskin. Keduanya merupakan dua kelas utama dalam kedudukan sistem kapitalisme.

Menurutnya, kota sebagai perserikatan yang dibentuk guna untuk melindungi hak milik dan memperbanyak alat produksi dalam mempertahankan diri dari penduduknya. Pernyataan ini ada keterkaitannya dengan dua aspek yang sebelumya telah dijelaskan.

Struktur Sosial dan Ekonomi

Marx memandang perkotaan dan masyarakat modern melalui kacamata konflik kelas. Hukum ekonomi kapitalisme mengatur kehidupan kota: siapa yang memiliki modal menguasai produksi, dan siapa yang tidak menjadi pekerja. Kota dianggap sebagai masyarakat maju, namun di dalamnya ada ketimpangan ekonomi yang tajam.

Masyarakat kota cenderung terbagi dalam kelas pemilik modal dan kelas pekerja. Mata pencarian masyarakat semakin beragam, namun banyak yang terjebak dalam pekerjaan rutin yang tidak memberi kontrol terhadap hasil kerja.

Kota sebagai Arena Dominasi Kapitalisme

Bagi Marx, perkotaan merupakan masyarakat yang cenderung tunduk pada logika kapitalisme. Masyarakat perkotaan dengan pemikirannya yang rasional diarahkan pada pertumbuhan industri dan konsumsi. Kelompok masyarakat pekerja menjadi bagian dari sistem yang lebih besar dan sering kehilangan kemandirian.

Masyarakat perkotaan bersifat formal, kontraktual, dan impersonal. Hal ini sangat berbeda dengan masyarakat desa yang cenderung mengandalkan solidaritas personal.

Masyarakat yang Cenderung Mengalami Alienasi

Anggota masyarakat kota kerap merasa terasing atau terputus dari lingkungan sekitarnya. Mereka bekerja, tinggal, dan berinteraksi dalam sistem yang mengutamakan produktivitas, bukan hubungan emosional.

Baca juga: Mengapa Mereka Melompat? Tafsir Sosiologi Hukum Atas Maraknya Bunuh Diri Di Jembatan Teluk Kendari

3. Perspektif Max Weber

Sedangkan ketiga dalam pemikiran Max Weber, masyarakat perkotaan dikaitkan dengan konsep yang ia cetuskan yaitu spirit capitalism and protestant etics. Melihat realita yang terjadi pada era sekarang masyarakat perkotaan memiliki semangat yang senada dengan konsep Weber.

Dalam hal pekerjaan masyarakat kota dibekali dengan semangat kapitalisme, dengan kata lain untuk terus memperoleh uang sebanyak-banyaknya, berlomba-lomba dalam mencari finansial.

Max Weber menyebut sebuah kota jika penghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi kebutuhan lewat pasar.

Keterkaitan hal tersebut juga terdapat dukungan dari konsep yang dibawa Weber mengenai etika protestan, karena menurutnya masyarakat disebut urban society apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal.

Definisi Sosiologi Perkotaan & “The City”

Weber memberikan definisi sosiologi perkotaan sebagai kajian tentang kota sebagai entitas sosial-politik-ekonomi yang memiliki pemerintahan, hukum, dan asosiasi warga sendiri. Definisi masyarakat perkotaan menurut Weber menekankan pada keberadaan pasar, institusi formal, dan otonomi, hal yang jelas berbeda dengan masyarakat pedesaan.

Ideal Type dan Verstehen

Weber menggunakan ideal type untuk memahami karakteristik masyarakat kota dan desa secara konseptual. Dengan metode verstehen, ia menafsirkan makna tindakan sosial berdasarkan perspektif pelaku. Ini penting untuk memahami konteks masyarakat perkotaan yang kompleks.

Gesellschaft vs Gemeinschaft

Weber mengadopsi gagasan Tönnies bahwa masyarakat kota dianggap sebagai masyarakat Gesellschaft—ditandai ikatan formal, hubungan transaksional, dan rasionalitas. Sebaliknya, desa dan masyarakat pedesaan lebih dekat dengan Gemeinschaft, yang mengutamakan tradisi dan kebersamaan.

Perbandingan Karakteristik: Kota vs Desa

Struktur Sosial dan Keberagaman

Masyarakat perkotaan memiliki tingkat keberagaman tinggi. Komunikasi yang memadai, akses transportasi, dan arsitektur dan industri yang canggih membuat kota menjadi pusat inovasi. Desa lebih homogen, berorientasi pada sumber daya alam, dan memiliki struktur sosial yang sederhana.

Mata Pencarian & Akses

Masyarakat kota adalah kelompok dengan peluang kerja luas—dari sektor formal hingga industri kreatif. Perkotaan memiliki tingkat keberagaman sosial tinggi karena arus migrasi. Masyarakat desa memiliki pekerjaan yang lebih terkonsentrasi pada sektor agraris.

Perubahan Sosial & Dinamika

Perubahan sosial di kota berjalan cepat. Kebanyakan masyarakat perkotaan harus menyesuaikan diri dengan teknologi dan globalisasi. Desa mengalami perubahan lebih lambat dan mempertahankan hukum informal.

Sintesis Antara Ketiga Perspektif

Pandangan Durkheim, Marx, dan Weber memberi gambaran lengkap: masyarakat perkotaan adalah masyarakat yang individualis, heterogen, dan cepat berubah. Mereka punya karakteristik yang melekat pada masyarakat modern—solidaritas fungsional, konflik kelas, dan institusi formal.

Masyarakat maju yang berbeda dengan desa menunjukkan maju yang berbeda dengan masyarakat tradisional. Kota adalah pusat inovasi sekaligus tantangan sosial.

Kesimpulan

Memahami pengertian masyarakat kota bukan hanya untuk akademisi, tapi juga penting bagi perencana kebijakan. Contoh sosiologi perkotaan tampak di kehidupan modern—mulai dari arsitektur dan industri yang canggih hingga struktur sosial yang kompleks.

Perkotaan dengan segala keunikannya adalah hasil interaksi sejarah, ekonomi, dan budaya. Kota dianggap sebagai masyarakat maju, namun tetap membutuhkan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan solidaritas sosial.

Masyarakat merupakan salah satu komponen yang sangat urgent dalam berbagai bidang, mulai dari sosial, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Masyarakat berdasarkan peradabannya dibagi menjadi tiga yaitu masyarakat primitif, desa dan masyarakat kota. Hal ini juga dapat ditilik melalui berbagai aspek yang lain. Karena jika ditinjau dari karakteristik awal, perbedaan antara masyarakat primitif (primitive society), masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community) saling bertolak belakang. Tapi, bagaimana jika ditarik pada era kontemporer saat ini, apakah hal tersebut berlaku atau masih bias dalam pandangan?

Tulisan ini menfokuskan pada masyarakat perkotaan dimana kota dianggap sebagai tempat mengundi nasib. Jika orang terdahulu bahkan sekarang berkata “saya ingin mencari pekerjaan ke kota dan mengundi nasib di sana”.  Perkotaan dengan segala keunikannya dan seluruh peristiwa yang dialami oleh penduduknya, menggambarkan bagaimana bentuk karakteristik sebuah kota tersebut. Masyarakat kota dianggap sebagai masyarakat maju yang berbeda dengan masyarakat desa dengan segala kesederhanaan. Apalagi masyarakat kota didukung dengan teknologi, informasi dan komunikasi yang memadai.

Dalam memahami konteks masyarakat perkotaan bisa dilihat bagaimana ciri atau karakteristik yang melekat pada masyarakat itu sendiri. Begitupun dengan masyarakat pedesaan, melalui tokoh besar sosiologi yang tentunya tidak asing lagi apalagi bagi mahasiwa sosiologi, yaitu Durkheim, Marx, dan Weber. Mereka juga berbicara mengenai masyarakat perkotaan dengan pemikirannya masing-masing.

Berbagai dimensi karakteristik masyarakat perkotaan di atas menunjukkan bahwa perkotaan dinilai kondisi peradabannya berbeda dengan pedesaan. Jika Durkheim mengartikan masyarakat kota melalui solidaritasnya. Marx dengan sistem kapitalisme yang ada antara kaum borju dan proletar. Max Weber memberi konsep pada masyarakat perkotaan dengan semangat kapitalisme. Dari sinilah masyarakat kota bisa dilihat dan dipahami bahwa masyarakat kota kebanyakan dipahami sebagai masyarakat pendatang (urban society). Tapi apakah pemikiran ketiga tokoh di atas relevan dengan kondisi perkotaan saat ini?

Lagi-lagi kembali pada sistem yang ada di dalamnya. Seperti menurut Durkheim tentang solidaritas. Untuk solidaritas saat ini tidak ditentukan oleh wilayah baik perkotaan ataupun pedesaan. Karena sering juga kita temui masyarakat kota yang memiliki solidaritas tinggi begitupun sebaliknya bagi masyarakat pedesaan. Tidak menafikan pula terhadap pemikiran Marx dan Weber mengenai konsep kapitalisme dan semangat kapitalisme yang juga tidak semua dapat dicocokkan dengan realita sekarang.

Jadi sebuah teori itu dapat dipatahkan apabila ditemukan keganjalan yang ada di lapangan, karena perubahan sosial akan terus terjadi dan circle mempengaruhinya. Saat ini penilaian pada masyarakat perkotaan maupun pedesaan sudah tidak dapat ditafsirkan dengan cara tekstual saja, tetapi harus dengan cara kontekstual. Penilaian harus memperhatikan realita yang benar-benar terjadi di wilayah yang diteliti.

Penulis: Muhammad Syihabuddin
Mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Daftar Baacaan:
Jamaluddin, Adon Nasrullah. Sosiologi Perkotaan: Memahami Masyarakat Kota dan Problematikanya, Bandung: CV Pustaka Setia. 2017.
Yulianhar, Aang. Masyarakat Perkotaan dan Pedesaan dalam aangyulianhar.blogspot.com. 2020.
Selena, Gryselda Sheryl, Puji Aenun dan Lulu Lathifah. Masyarakat Perkotaan dan Pedesaan . Makalah Mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syari’ah Universitas Darussalam Gontor Mantingan 2017.

—————————–

Editor: Ningga Yudha Prajna
Instagram: @ninggayudha

Baca juga:
Dibalik Indahnya Kota Dubai

Pertanian Perkotaan Membuat Kota Lebih Layak Ditinggali: Whats Wrong?

Kini Saatnya Kota Surabaya! MasukKampus Selalu Berhasil dalam Acara Try Out Menuju Kampus Impian

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses