Kolektivisme Sebagai Upaya Mereduksi Penularan Virus Corona

corona

Berbicara Virus Corona (Covid-19) artinya membicarakan situasi dunia saat ini. Sekitar 4 bulan lamanya wabah Covid-19 melanda hampir seluruh negara di dunia. Kejadian Luar Biasa (KLB) yang diperkirakan bermula di Wuhan, China dalam kurun waktu yang singkat telah merembet luas hingga ke luar kota Wuhan, bahkan penyebaran telah mencakup wilayah yang lebih luas atau antar negara akibat tren kasus yang terus meningkat. Hal ini yang akhirnya membuat organisasi kesehatan dunia (WHO) mengubah status wabah yang sebelumnya endemik menjadi pandemik.

Di Indonesia per 18 April 2020 jumlah yang terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 6.248 jiwa dengan 631 sembuh dan 535 meninggal (covid19.go.id). Dampak yang ditimbulkan akibat wabah Covid-19 cukup krusial dan komprehensif sehingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan bencana non-alam ini sebagai bencana nasional.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), virus corona adalah kelompok virus yang umumnya menjangkiti hewan. Namun dalam beberapa kasus dapat menjangkiti manusia melalui transmisi atau kontak langsung dengan hewan, yang kemudian menjadi penularan antar manusia. Virus corona atau Corona Virus Disease-19 (Covid-19) merupakan jasad renik yang masih satu kerabat dengan virus MERS dan SARS yang juga sempat melanda negeri tirai bambu beberapa tahun ke belakang.

Virus corona yang terdapat dalam tubuh penderita dapat berpindah ke orang lain melalui droplet (cairan) yang keluar melalui hidung dan mulut ketika penderita batuk dan bersin. Jika mengenai tangan atau kulit orang yang sehat dan tidak sengaja menyentuh area wajah seperti mata, hidung, dan mulut maka berpotensi menimbulkan transmisi, apalagi bila imunitas tubuh sedang tidak baik.

Gejala yang timbul bila terinfeksi virus ini seperti sesak napas, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam. Akan tetapi di beberapa kasus juga ditemukan infeksi tanpa gejala (asimptomatis). Virus corona merupakan penyebab penyakit radang paru-paru (pneumonia) yang jika tidak segera ditangani akan berujung pada kematian.

Mobilitas dan sosialita masyarakat global yang tinggi menjadi salah satu faktor yang menambah panjang rantai penularan Corona Virus Disease-19 (Covid-19). Bak teori domino, jatuh satu menumbangkan banyak domino lain di dekatnya secara kontinu. Langkah yang dapat dilakukan untuk memutus efek domino ini ialah dengan memberi jarak antar domino sehingga bila jatuh tidak menumbangkan yang lainnya. Dari model ini kemudian disebut dengan physical distancing atau menjaga jarak fisik.

Di saat situasi seperti ini, mementingkan dan memikirkan diri sendiri daripada keselamatan banyak orang bukanlah sebuah hal yang bisa dibenarkan. Menimbun masker, hand sanitizer dan alat kesehatan lainnya sehingga persediaan di pasar menjadi langka dan mahal merupakan moral hazard dan tindakan yang tidak manusawi. Meskipun ancaman kesehatan hingga kemerosotan ekonomi terus menghantui bukan berarti menjadi penghalang untuk peduli terhadap sesama.

Sebaliknya justru saat ini yang mesti dikedepankan ialah kepentingan dan keselamatan banyak orang melalui gerakan bersama dan mendisiplinkan diri dengan social distancing. Hal ini yang kemudian kita sebut dengan kolektivisme atau mengedepankan kepentingan orang banyak di atas kepentingan diri sendiri (individualisme).

Dalam upaya mereduksi wabah Covid-19, membangun kesadaran kolektif di masyarakat yang pluralis perlu ditumbuhkan. Dengan keragaman yang ada semestinya dapat menjadi kekuatan dalam mengentaskan masalah bersama. Sudah sejatinya masyarakat saling bahu membahu, menjaga dan saling menguatkan di masa-masa yang menentukan.

Selain penerapan social distancing sebagai upaya memutus rantai penularan Covid-19, juga menerapkan kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah preventif (pencegahan). Meskipun terlihat sepele namun manfaat yang dirasakan cukup kentara sebab dangan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dapat mempertahankan kesehatan dan menyelamatkan kehidupan orang banyak.

Kolektivisme berarti tidak bisa hanya dilakukan oleh sekelompok orang atau instansi yang berwenang saja melainkan seluruh lapisan masyarakat turut berperan dalam mereduksi dan mengakhiri pandemik Covid-19. Mulai dari unit terkecil di masyarakat yaitu keluarga, kemudian di atasnya terdapat RT, RW, hingga Desa. Dalam menghadapi wabah Covid-19, selain pencegahan juga perlu melakukan mitigasi sebagai upaya mencegah dampak dan mengurangi risiko sebuah bencana.

Upaya mitigasi berbasis komunitas yang dapat dilakukan seperti membentuk satgas Covid-19 di setiap desa, mendirikan dan mengaktifkan kembali pos kesehatan, koordinasi dengan puskesmas dan dinas kesehatan setempat, dan diperkuat dengan dukungan tokoh masyarakat, agama, dan aparat desa lewat regulasi dan kesepakatan bersama. Selain itu perlu melakukan pencerdasan ke masyarakat melalui penyuluhan atau menyebarkan brosur maupun baligho tentang cara pencegahan dan memutus mata rantai penularan Covid-19.

Meskipun telah diterapkan pembatasan sosial, tidak lantas hal tersebut menjadi sekat untuk menjalin komunikasi. Kini saatnya teknologi digital lebih dioptimalkan perannya sebagai media sosial. Melalui teknologi, ragam informasi dengan mudah di akses, tentu dengan penyaringan terlebih dahulu agar tidak terjebak dengan disinformasi (hoaks) yang dapat menambah kisruh situasi.

Dalam mengentaskan masalah sosial semua orang memiliki perannya masing-masing. Seperti yang dikatakan Roosevelt “Lakukan apa yang kamu bisa, dengan apa yang kamu miliki, di mana pun kamu berada”. Kesadaran kolektif menjadi kunci dalam menyokong progesifitas penanganan pandemik Covid-19. Dengan membiasakan diri berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta mendisiplinkan diri dengan social distancing kita telah berupaya untuk mereduksi wabah Covid-19.

Ahmad Yudi S
Mahasiswa STIKes Respati Tasikmalaya

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI