Menenangkan sebelum Menyembuhkan: Empati Perawat dalam Perspektif Al-Quran

empati perawat
Gambar: Dok. MMI

Perkembangan dunia kesehatan modern telah membawa banyak kemajuan.

Teknologi diagnostik semakin akurat, prosedur medis semakin cepat, obat-obatan semakin beragam, dan sistem rumah sakit semakin tertata.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dalam banyak hal, manusia hari ini memiliki peluang hidup yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya.

Namun di balik seluruh capaian itu, masih tersisa persoalan mendasar yang kerap tidak tertangani secara serius: krisis empati dalam pelayanan kesehatan.

Pasien memang datang untuk disembuhkan, tetapi sering kali mereka terlebih dahulu membutuhkan ketenangan.

Ketika seseorang memasuki ruang rawat inap, instalasi gawat darurat, atau ruang operasi, yang hadir bukan hanya tubuh yang sakit.

Bersamanya datang kecemasan, rasa takut, ketidakpastian, tekanan ekonomi, kekhawatiran ke luarga, dan kegelisahan spiritual.

Karena itu, memandang pasien hanya sebagai objek klinis adalah penyederhanaan yang berbahaya.

Baca Juga: Perkuat Mutu Layanan Kesehatan, Tim Dosen IKH Adakan Sosialisasi dan Pendampingan Peningkatan Kinerja Keperawatan di Rumah Sakit Mitra Medika Tanjung Mulia

Ahmad Nurrohim menegaskan bahwa manusia tidak cukup dipahami sebagai makhluk biologis, tetapi juga memiliki dimensi psikis dan spiritual yang saling memengaruhi (Nurrohim, 2016).

Dalam konteks ini, profesi perawat memiliki posisi strategis karena menjadi tenaga kesehatan yang paling intens berinteraksi dengan pasien.

Perawat hadir bukan hanya saat tindakan medis dilakukan, tetapi juga saat pasien menangis diam-diam, kesulitan makan, takut menghadapi operasi, atau merasa putus asa terhadap penyakitnya.

Mereka berada di garis depan relasi kemanusiaan dalam rumah sakit.

Karena itu, kualitas empati perawat bukan unsur tambahan, melainkan bagian inti dari pelayanan kesehatan.

Sayangnya, fenomena yang berkembang hari ini menunjukkan kecenderungan sebaliknya.

Banyak rumah sakit lebih menonjolkan kecepatan layanan, standar administrasi, target efisiensi, dan performa sistem, tetapi kurang serius menilai kualitas hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien.

Keluhan yang sering muncul dari masyarakat bukan semata soal obat atau alat, melainkan komunikasi yang dingin, respons lambat terhadap kegelisahan pasien, minim penjelasan, serta sikap terburu-buru dari tenaga kesehatan.

Baca Juga: Integrasi Empati, Komunikasi, Kesehatan Mental, Edukasi Pasien, dan Etika dalam Pelayanan Radiografi: Pilar Humanisme dalam Praktik Radiologi Modern

Dalam beberapa kasus, pasien merasa dirawat secara prosedural tetapi tidak diperlakukan sebagai manusia yang sedang rapuh.

Fenomena ini memiliki sebab yang kompleks. Pertama, beban kerja tinggi dan rasio perawat-pasien yang tidak seimbang menyebabkan interaksi kemanusiaan tersisih oleh tuntutan teknis.

Kedua, budaya birokrasi kesehatan yang sangat administratif menyita energi tenaga kesehatan untuk dokumentasi dan pelaporan.

Ketiga, kelelahan emosional membuat sebagian perawat kehilangan cadangan psikologis untuk terus peduli.

Keempat, pendidikan kesehatan kadang lebih menekankan keterampilan klinis dibanding pembinaan karakter pelayanan.

Dalam ilmu keperawatan modern, persoalan ini telah lama dibahas.

Jean Watson melalui Theory of Human Caring menegaskan bahwa esensi keperawatan bukan sekadar tindakan teknis, tetapi relasi transpersonal yang memulihkan martabat manusia (Watson, 2008).

Perawat yang hadir secara autentik, mendengar dengan sungguh-sungguh, dan menunjukkan kepedulian dapat membantu proses penyembuhan secara lebih utuh.

Baca Juga: Melanggar Etika Pejabat: Gaya Hidup Hedon Istri Gubernur Kaltim

Teori ini sangat selaras dengan nilai-nilai Islam tentang rahmah, ihsan, dan kelembutan.

Al-Quran memberikan dasar etik yang kuat tentang pentingnya empati.

Dalam QS. Ali Imran: 159, Rasulullah dipuji karena bersikap lemah lembut kepada manusia.

Ayat ini menunjukkan bahwa kelembutan adalah kekuatan kepemimpinan, bukan kelemahan.

Dalam QS. At-Taubah: 128, Nabi digambarkan sebagai sosok yang berat merasakan penderitaan umatnya.

Ini adalah gambaran empati tingkat tinggi.

Dalam profesi perawat, nilai ini tercermin ketika tenaga kesehatan tidak memandang keluhan pasien sebagai gangguan, tetapi sebagai ekspresi penderitaan yang harus ditanggapi dengan hormat.

Lebih jauh, Al-Quran juga menegaskan pentingnya ketenangan batin.

QS. Ar-Ra’d: 28 menyatakan bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ini menunjukkan bahwa kesehatan manusia tidak bisa dilepaskan dari dimensi psikologis dan spiritual.

Baca Juga: Di Balik Jas Putih: Wajah Pendidikan Kewarganegaraan dalam Dunia Kesehatan

Ahmad Nurrohim bersama Cita Aprilda Kirana menjelaskan bahwa kecemasan merupakan persoalan nyata manusia modern dan membutuhkan pendekatan integratif antara psikologi serta nilai spiritual (Kirana & Nurrohim, 2024).

Kajian psikoneuroimunologi modern juga menunjukkan bahwa stres psikologis dapat memengaruhi sistem imun tubuh (Ader, 2007).

Artinya, menenangkan pasien bukan sekadar memberi rasa nyaman, tetapi dapat berdampak pada respons biologis tubuh terhadap penyakit.

Di sinilah empati memiliki nilai klinis sekaligus spiritual.

Dalam karya Kesehatan dalam Al-Quran, Ahmad Nurrohim dan Khusnia A’inun Nisa menempatkan kesehatan sebagai amanah yang harus dijaga secara menyeluruh, tidak terbatas pada bebas dari penyakit fisik (Nurrohim & Nisa, 2025).

Sementara dalam Kesehatan Jiwa dalam Al-Quran, Nurrohim menekankan pentingnya kestabilan emosi, makna hidup, dan ketenangan batin sebagai bagian dari kesehatan manusia (Nurrohim & Istiqomah, 2025).

Kedua karya ini memperluas cara pandang bahwa pelayanan kesehatan harus bersifat holistik.

Baca Juga: Lebih dari Sekadar Merawat: Sentuhan Komunikasi Hangat Perawat bagi Lansia di Era Modern

Nurrohim juga menulis tentang pentingnya pendidikan karakter berbasis nilai Islam sebagai fondasi perilaku profesional (Nurrohim, 2016).

Gagasan ini relevan bagi profesi perawat, sebab kecakapan teknis tanpa karakter mudah melahirkan pelayanan yang mekanis.

Seorang perawat bisa mahir memasang infus, tetapi bila kehilangan empati, pasien tetap merasa sendirian.

Dalam studi bibliometrik tentang tema Quran dan kesehatan, Nurrohim dan tim menemukan bahwa kajian hubungan wahyu dengan isu kesehatan terus meningkat dan menjadi perhatian akademik lintas disiplin (Nisa, Nurrohim, dkk., 2024).

Ini menunjukkan bahwa pendekatan spiritual dalam kesehatan bukan wacana pinggiran, tetapi semakin diakui sebagai kebutuhan ilmiah dan sosial.

Akibat dari minimnya empati sangat luas. Pada level pasien, muncul rasa takut, ketidakpercayaan, dan kepatuhan terapi yang rendah.

Pada level keluarga, timbul kecemasan dan konflik dengan tenaga kesehatan.

Pada level institusi, reputasi rumah sakit menurun meski fasilitasnya baik.

Pada level perawat sendiri, pekerjaan kehilangan makna dan berubah menjadi rutinitas melelahkan.

Baca Juga: Antara Stetoskop dan Tanggung Jawab Sosial: Pendidikan Kewarganegaraan di Dunia Kesehatan

Lalu Apa Solusi yang Dapat Ditawarkan?

Pertama, reformasi pendidikan keperawatan. Kurikulum harus menyeimbangkan hard skills dan soft skills.

Mahasiswa perlu dilatih komunikasi terapeutik, manajemen emosi, sensitivitas budaya, etika Islam, dan refleksi spiritual.

Ahmad Nurrohim menegaskan bahwa pendidikan karakter perlu diintegrasikan dengan kesehatan mental agar profesi tidak kehilangan orientasi kemanusiaan (Nurrohim, 2016).

Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan empati harus dimulai sejak masa pendidikan.

Kedua, perbaikan sistem kerja di rumah sakit.

Organisasi kesehatan perlu memastikan rasio perawat memadai, beban kerja manusiawi, dan dukungan psikologis bagi tenaga kesehatan.

World Health Organization menegaskan bahwa kesejahteraan tenaga kesehatan merupakan faktor penting bagi mutu layanan dan keselamatan pasien (WHO, 2022).

Baca Juga: Amerika Serikat Keluar dari WHO? Bagaimana Kondisi Kesehatan Internasional Setelahnya?

Perawat yang sehat secara mental lebih mampu memberikan perhatian emosional kepada pasien.

Ketiga, pembinaan spiritual-profesional.

Bagi perawat muslim, pekerjaan merawat orang sakit perlu dibingkai sebagai amanah dan ibadah.

Dalam Kesehatan Jiwa dalam Al-Quran, Nurrohim menunjukkan bahwa kestabilan batin dan orientasi spiritual berpengaruh pada kualitas hidup manusia (Nurrohim & Istiqomah, 2025).

Dengan demikian, spiritualitas kerja dapat menjadi sumber daya psikologis agar perawat tetap sabar dan tulus dalam pelayanan.

Keempat, evaluasi mutu layanan harus memasukkan indikator empati.

Kepuasan pasien tidak hanya ditentukan kecepatan tindakan, tetapi juga kualitas komunikasi, rasa aman, dan penghormatan terhadap martabat pasien.

Penelitian keperawatan berbasis caring science menunjukkan bahwa hubungan interpersonal yang baik meningkatkan kepuasan pasien dan kepercayaan terhadap institusi kesehatan (Watson, 2008).

Kelima, pasien harus dipandang sebagai subjek, bukan objek.

Mereka bukan nomor kamar, hasil laboratorium, atau diagnosis semata, tetapi manusia yang sedang menghadapi fase rentan dalam hidupnya.

Baca Juga: Konsep Self-Love dalam Al-Quran

Ahmad Nurrohim dan Khusnia A’inun Nisa menegaskan bahwa kesehatan dalam Al-Quran dipahami secara menyeluruh, mencakup dimensi fisik, psikis, dan sosial (Nurrohim & Nisa, 2025).

Karena itu, pelayanan yang manusiawi merupakan bagian dari konsep sehat yang utuh.

Pada akhirnya, dunia kesehatan memang membutuhkan teknologi, obat, dan prosedur klinis.

Namun, seluruh instrumen itu sering kali baru bekerja optimal ketika pasien merasa aman dan ditenangkan.

Di sinilah letak kemuliaan profesi perawat.

Dengan empati, mereka bukan hanya membantu menyembuhkan tubuh, tetapi juga memulihkan harapan, mengurangi rasa takut, dan menjaga martabat manusia.

Dalam perspektif Al-Quran, tindakan seperti ini bukan sekadar pekerjaan profesional, melainkan bentuk rahmat yang hadir di tengah penderitaan.

Karena itu, sebelum menyembuhkan, perawat sering kali harus lebih dahulu menenangkan.


Penulis: Putri Oktaviana Susanti, A.Md.Kep.
Mahasiswa Prodi Ilmu Quran dan Tafsir, Universitas Muhammadiyah Surakarta 


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses