Kearifan Lokal Kesenian Besutan Jombang merupakan salah satu warisan budaya yang unik dan penuh makna. Besutan adalah kesenian tradisional yang tumbuh di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dan memiliki nilai filosofis yang mendalam.
Seni pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga cerminan kehidupan sosial masyarakat pada masanya. Lewat kidungan, gerak tari, hingga simbol-simbol dalam kostum pemain, Besutan menyuarakan jeritan hati rakyat kecil yang hidup di bawah tekanan kolonialisme dan feodalisme.
Sayangnya, di era modern seperti sekarang, eksistensi Besutan semakin memudar. Generasi muda lebih tertarik pada hiburan populer berbasis teknologi digital, sementara pertunjukan tradisional dianggap ketinggalan zaman.
Padahal, di balik kesederhanaannya, kesenian ini menyimpan pesan moral, nilai karakter, serta identitas budaya yang patut dijaga.
Pelestarian Kearifan Lokal Kesenian Besutan Jombang bukan hanya soal menjaga tradisi, melainkan juga upaya mempertahankan identitas daerah di tengah derasnya arus globalisasi.
Jika dibiarkan hilang begitu saja, generasi mendatang akan kehilangan salah satu warisan luhur yang mengajarkan tentang keberanian, kesederhanaan, dan ketulusan hidup.
Oleh sebab itu, penting untuk memahami sejarah, ciri khas, serta tantangan yang dihadapi kesenian ini, agar dapat dirumuskan langkah strategis untuk melestarikannya.
Baca juga: Berkembangnya Kearifan Lokal Kesenian Bantengan Mojokerto
Sejarah Kesenian Besutan
Asal-Usul dari Kesenian Bandan
Besutan memiliki akar sejarah yang panjang. Pada awalnya, kesenian ini berawal dari kesenian Bandan, yaitu sebuah pertunjukan tradisional yang menampilkan atraksi kekuatan tubuh atau kekebalan.
Pertunjukan semacam ini sering kali dilakukan di ruang terbuka, menjadi hiburan masyarakat sekaligus simbol perlawanan terhadap keadaan sosial yang keras pada masa itu.
Bandan bukan sekadar tontonan fisik, tetapi juga mengandung unsur spiritual. Para pemain sering kali melakukan ritual tertentu sebelum tampil, menunjukkan adanya keterkaitan erat antara kesenian rakyat dengan kepercayaan lokal. Dari sinilah cikal bakal lahirnya bentuk kesenian yang lebih teatrikal, yaitu Lerok.
Perkembangan dari Lerok ke Besutan
Sekitar tahun 1907–1915, kesenian Bandan mulai berkembang menjadi Lerok. Pertunjukan Lerok biasanya dimainkan oleh tiga orang pelaku utama, yang tampil dengan gaya sederhana namun sarat makna sindiran terhadap kondisi sosial.
Bentuk kesenian ini mulai menambahkan unsur drama dan cerita, meskipun masih terbilang sederhana dibandingkan dengan teater modern.
Lerok berfungsi sebagai hiburan sekaligus media kritik sosial. Masyarakat Jombang kala itu, yang hidup di bawah bayang-bayang penjajahan, menemukan ruang untuk menyuarakan kegelisahan melalui pertunjukan ini.
Dari Lerok inilah lahir kesenian Besutan, yang kemudian berkembang lebih kaya dengan tambahan unsur tari, musik gamelan, serta dialog simbolis.
Transformasi Menjadi Ludruk Besut
Transformasi paling penting dari perjalanan kesenian ini adalah lahirnya Ludruk Besut. Tokoh utama bernama Besut menjadi ikon yang dikenal luas.
Ia muncul di panggung dari kegelapan, membawakan kidungan berisi pantun, sindiran, serta syair tentang kehidupan rakyat kecil. Kidungan inilah yang membuat penonton merasa dekat, karena menggambarkan realitas yang mereka alami sehari-hari.
Dalam pertunjukan, Besut tidak hanya bernyanyi, tetapi juga menari, berlari-lari menyalakan obor, hingga melakukan improvisasi untuk memperkuat pesan sosial.
Kostumnya pun sarat makna: kopiah merah melambangkan keberanian, tubuh tanpa baju sebagai simbol kemiskinan, celana pendek hitam sebagai tanda keterbatasan, serta lilitan benang lawe putih di pinggang yang merepresentasikan kesucian.
Pertunjukan ini tidak sekadar hiburan, melainkan media perlawanan simbolis terhadap kolonialisme dan feodalisme.
Tak heran jika masyarakat Jombang menganggap Besutan sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan lokal mereka.
Ciri Khas dan Nilai Filosofis Besutan
Tokoh Besut dan Simbol-Simbol dalam Pertunjukan
Salah satu daya tarik utama dari Kearifan Lokal Kesenian Besutan Jombang adalah tokoh sentral yang bernama Besut. Tokoh ini bukan sekadar pemain, melainkan simbol yang merepresentasikan kondisi masyarakat pada zamannya. Setiap elemen yang dikenakan oleh Besut memiliki arti filosofis yang dalam.
- Kopiah merah: melambangkan keberanian rakyat kecil dalam menghadapi ketidakadilan.
- Tidak mengenakan baju: simbol dari kemiskinan dan penderitaan.
- Celana pendek hitam: menggambarkan keterbatasan dan ketidakmampuan ekonomi.
- Benang lawe putih yang dililitkan di pinggang: lambang kesucian, menunjukkan bahwa meskipun rakyat kecil miskin, mereka tetap hidup dengan hati yang bersih.
Melalui tokoh Besut, masyarakat dapat melihat cermin kehidupan mereka sendiri. Penonton merasa bahwa penderitaan, perjuangan, dan harapan mereka diwakili oleh sosok ini.
Makna Kidungan dan Pesan Sosial
Salah satu elemen yang tidak bisa dipisahkan dari kesenian Besutan adalah kidungan. Kidungan berisi pantun, syair, dan sindiran yang disampaikan dengan gaya khas Jawa. Isinya bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk kritik sosial yang halus namun mengena.
Misalnya, dalam kidungan sering terselip cerita tentang:
- Nasib rakyat kecil yang ditindas feodalisme.
- Kesulitan hidup sehari-hari di bawah kolonialisme.
- Kerinduan terhadap kebebasan dan kemerdekaan.
Dengan bahasa sederhana, kidungan mampu menggugah emosi penonton. Mereka tertawa karena lucu, tetapi juga merenung karena merasa pesan itu benar-benar menggambarkan realitas yang mereka hadapi. Inilah kekuatan seni pertunjukan rakyat yang tidak dimiliki oleh hiburan modern.
Kostum, Properti, dan Unsur Simbolis
Selain tokoh dan kidungan, kesenian Besutan juga sarat dengan simbol dalam kostum dan properti yang digunakan.
Properti paling penting adalah obor yang dinyalakan oleh tokoh Besut di tengah pertunjukan. Prosesi ini diartikan sebagai:
- Harapan rakyat kecil terhadap masa depan yang lebih terang.
- Simbol perlawanan terhadap kegelapan penjajahan.
- Doa agar kesulitan hidup segera berganti dengan kebebasan.
Tata busana, dialog, hingga gerakan tari yang sederhana semuanya menyimpan nilai-nilai filosofi. Itulah sebabnya, meskipun tampilannya terkesan sederhana, seni Besutan justru sangat kaya akan makna simbolis.
Besutan sebagai Seni yang Menghidupkan Identitas
Lebih jauh, ciri khas Besutan menunjukkan bahwa seni ini bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga alat komunikasi sosial dan politik.
Dengan menyelipkan kritik dalam kidungan serta simbol-simbol kostum, para seniman Besutan berhasil menyampaikan aspirasi rakyat tanpa harus berhadapan langsung dengan penguasa.
Kekuatan inilah yang menjadikan Besutan sebagai kearifan lokal yang sangat berharga. Sayangnya, seiring perkembangan zaman, makna filosofis ini mulai dilupakan, terutama oleh generasi muda yang lebih akrab dengan budaya populer modern.
Baca juga: Mengenal Tari Dolalak Kesenian Khas Daerah Kabupaten Purworejo
Besutan sebagai Kearifan Lokal
Nilai-Nilai Luhur dalam Besutan
Kearifan Lokal Besutan Jombang bukan hanya tentang pertunjukan seni, tetapi juga sebuah wadah nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam setiap adegan, dialog, hingga kidungan, terdapat pesan moral yang bisa menjadi pedoman hidup.
Beberapa nilai luhur yang terkandung dalam Besutan antara lain:
- Keberanian
Simbol kopiah merah tokoh Besut mengajarkan bahwa rakyat kecil sekalipun harus berani memperjuangkan kebenaran. - Kesederhanaan
Kostum tanpa baju dan celana hitam pendek menggambarkan hidup apa adanya, jauh dari kesombongan. - Kesucian hati
Benang lawe putih mengajarkan nilai keikhlasan, bahwa kesucian tidak diukur dari kekayaan materi. - Kritik sosial yang bijak
Kidungan memberikan contoh bagaimana menyuarakan aspirasi dengan cara halus namun tetap mengena.
Nilai-nilai tersebut tidak hanya relevan pada masa kolonial, tetapi juga pada kehidupan masyarakat modern. Dalam dunia yang serba cepat dan kompetitif, kesenian ini mengingatkan kita untuk tetap rendah hati, jujur, dan berani menyampaikan kebenaran.
Besutan sebagai Identitas Budaya Jombang
Setiap daerah memiliki seni tradisional yang menjadi identitas lokal. Bagi masyarakat Jombang, Besutan adalah salah satu ikon kebudayaan yang membedakan mereka dari daerah lain di Jawa Timur. Jika Ludruk identik dengan Surabaya, maka Besutan adalah ciri khas Jombang.
Identitas ini menjadi penting karena budaya lokal adalah penanda jati diri sebuah masyarakat. Tanpa mempertahankan kesenian daerah, sebuah komunitas bisa kehilangan karakter aslinya dan mudah tergerus budaya luar. Besutan tidak hanya mewakili ekspresi seni, tetapi juga menegaskan bahwa Jombang memiliki kontribusi besar dalam khazanah budaya Jawa Timur.
Lebih dari itu, Besutan juga menjadi bukti bahwa masyarakat Jombang memiliki cara tersendiri untuk merekam sejarah, menyampaikan kritik, sekaligus menjaga keharmonisan sosial melalui seni pertunjukan.
Potensi Besutan dalam Pendidikan Karakter
Salah satu aspek penting dari Kearifan Lokal Besutan Jombang adalah potensinya dalam pendidikan karakter. Seni ini sarat dengan nilai moral yang bisa dijadikan bahan ajar di sekolah maupun pesantren, dua lingkungan pendidikan yang banyak berkembang di Jombang.
Melalui Besutan, peserta didik dapat belajar tentang:
- Pentingnya keberanian menghadapi kesulitan hidup.
- Nilai kesederhanaan dan menjauhi sifat sombong.
- Makna gotong royong, karena pertunjukan ini tidak bisa berjalan tanpa kerja sama para pemain.
- Cara menyampaikan kritik sosial secara santun dan kreatif.
Jika diintegrasikan ke dalam kurikulum lokal atau kegiatan ekstrakurikuler, Besutan dapat menjadi media yang efektif untuk menanamkan pendidikan karakter pada generasi muda. Dengan begitu, kesenian ini tidak hanya bertahan sebagai pertunjukan, tetapi juga hidup sebagai sumber pembelajaran nilai-nilai luhur.
Baca juga: Melestarikan Kesenian Jaranan di Era Modern sebagai Bentuk Tradisi Kearifan Lokal Bangsa Indonesia
Faktor Penyebab Pudarnya Besutan
Pengaruh Globalisasi dan Perubahan Zaman
Salah satu faktor utama pudarnya Kearifan Lokal Besutan Jombang adalah derasnya arus globalisasi.
Masyarakat, khususnya generasi muda, kini lebih mudah mengakses budaya luar melalui televisi, musik modern, hingga media sosial. Dampaknya, kesenian tradisional dianggap kuno dan tidak lagi relevan dengan gaya hidup mereka.
Globalisasi membawa westernisasi, di mana budaya Barat dianggap lebih modern dan keren. Anak muda lebih memilih musik pop, film asing, atau hiburan digital daripada menghadiri pertunjukan tradisional yang dianggap lambat dan monoton.
Padahal, jika ditelusuri, nilai yang terkandung dalam Besutan jauh lebih mendalam dibanding hiburan instan tersebut.
Kurangnya Minat Generasi Muda
Selain globalisasi, rendahnya minat generasi muda juga menjadi masalah besar. Banyak anak muda Jombang hanya mengenal nama “Besutan” tanpa pernah benar-benar menonton atau memainkannya. Mereka lebih aktif di dunia maya, sibuk dengan smartphone, gim online, dan media sosial.
Akibatnya, interaksi sosial dalam bentuk menonton seni pertunjukan bersama-sama semakin jarang terjadi.
Jika dulu masyarakat menjadikan pentas Besutan sebagai sarana hiburan sekaligus mempererat silaturahmi, kini hal itu tergantikan dengan hiburan digital yang lebih individualistis.
Minimnya Sosialisasi dan Regenerasi
Besutan biasanya hanya dipertunjukkan di pusat kota Jombang pada acara tertentu, misalnya festival budaya atau program pemerintah daerah.
Padahal, Kabupaten Jombang memiliki 21 kecamatan, dan banyak di antaranya jauh dari pusat kota. Minimnya sosialisasi ke daerah-daerah membuat kesenian ini tidak dikenal secara merata.
Lebih parah lagi, tidak adanya program regenerasi yang jelas. Para pemain senior jarang melatih generasi muda.
Sekolah-sekolah maupun pesantren pun kurang memberikan ruang untuk mengenalkan Besutan. Akibatnya, generasi muda hanya tahu nama tanpa memahami cara memainkan, apalagi makna filosofisnya.
Peran Pemerintah yang Belum Optimal
Pemerintah daerah sebenarnya pernah mengadakan acara untuk menampilkan Besutan, tetapi sayangnya kegiatan ini tidak dilakukan secara berkelanjutan. Tidak ada program rutin, fasilitas, maupun dukungan akomodasi yang memadai untuk para pelaku seni.
Di tingkat kecamatan, perhatian terhadap pelestarian budaya juga sangat minim. Kebanyakan pemerintah kecamatan lebih fokus pada urusan administrasi dan kesejahteraan penduduk, sehingga melupakan potensi besar dalam bidang kebudayaan.
Padahal, jika setiap kecamatan berperan aktif, eksistensi Besutan akan lebih luas dan berkelanjutan.
Lemahnya Peran Organisasi Kebudayaan
Di Jombang, organisasi yang berkembang lebih banyak berbasis keagamaan, seperti Fatayat NU, Muslimat NU, atau komunitas rebana. Sayangnya, organisasi yang fokus pada pelestarian kesenian tradisional jumlahnya sangat terbatas.
Padahal, jika ada komunitas seni yang solid dan beranggotakan anak muda, mereka bisa menjadi motor penggerak untuk menghidupkan kembali Besutan. Semangat anak muda yang masih membara dapat menjadi modal besar untuk menghidupkan kesenian ini di kalangan sebayanya.
Baca juga: Kesenian Tari Babalu yang Menjadi Identitas Batang!
Upaya Pelestarian Besutan
Peran Pemerintah dalam Melestarikan Kesenian Daerah
Pemerintah memiliki peranan penting dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional. Dukungan bisa diwujudkan dalam beberapa bentuk, seperti:
- Program rutin pertunjukan budaya
Tidak hanya pada acara tertentu, tetapi dibuat jadwal tahunan atau bulanan agar Besutan terus tampil di hadapan publik. - Fasilitas dan infrastruktur
Penyediaan panggung, perlengkapan musik, dan kostum untuk memudahkan para pemain berkarya. - Sosialisasi ke sekolah dan pesantren
Pemerintah dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk mengenalkan kesenian Besutan sejak dini. - Festival budaya daerah
Mengadakan lomba atau festival Besutan antar-kecamatan, sehingga minat masyarakat meningkat.
Dengan langkah tersebut, Besutan tidak hanya dipertunjukkan di kota, tetapi bisa menjangkau hingga pelosok desa di Kabupaten Jombang.
Kreativitas dan Inovasi dari Seniman Lokal
Selain pemerintah, seniman lokal juga harus melakukan inovasi. Pertunjukan Besutan bisa dikemas lebih menarik tanpa meninggalkan nilai aslinya. Beberapa ide yang bisa diterapkan antara lain:
- Menggabungkan Besutan dengan seni musik modern agar lebih dekat dengan generasi muda.
- Menambahkan sentuhan teatrikal dan pencahayaan agar lebih atraktif.
- Membuat alur cerita yang relevan dengan isu sosial masa kini, seperti permasalahan anak muda, lingkungan, atau teknologi.
Dengan kreativitas, Besutan bisa tetap hidup dan tidak kehilangan peminat, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z.
Keterlibatan Generasi Muda dan Komunitas
Generasi muda merupakan kunci utama dalam pelestarian budaya. Tanpa minat mereka, kesenian tradisional akan sulit bertahan. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan anak-anak muda melalui:
- Ekstrakurikuler sekolah yang berfokus pada seni tradisional.
- Komunitas kreatif yang bisa menggabungkan Besutan dengan seni kontemporer.
- Pelatihan khusus bagi generasi muda yang berminat menjadi pemain Besutan.
Selain itu, komunitas lokal juga dapat membuat wadah seperti sanggar seni. Dengan adanya sanggar, anak-anak muda bisa berlatih sekaligus belajar filosofi di balik kesenian ini.
Kolaborasi Sekolah, Pesantren, dan Masyarakat
Jombang dikenal sebagai daerah dengan banyak pesantren dan sekolah formal. Kedua lembaga pendidikan ini sebenarnya memiliki peran strategis untuk ikut melestarikan Besutan.
Guru seni budaya dapat memasukkan pertunjukan Besutan dalam kegiatan pembelajaran, sementara pesantren bisa menjadikannya sebagai sarana hiburan sekaligus pendidikan karakter bagi santri.
Masyarakat pun perlu dilibatkan. Mereka dapat berpartisipasi dengan menghadiri setiap pertunjukan, mendukung para pemain, dan menjadikan Besutan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar tontonan festival tahunan.
Baca juga: Kesenian di Kelurahan Mandan: Mengupas Jejak Tradisi dan Warisan Negeri
Strategi Optimalisasi Besutan di Era Digital
Promosi Melalui Media Sosial
Di era digital, media sosial adalah senjata paling efektif untuk memperkenalkan seni tradisional kepada masyarakat luas. Besutan dapat dipromosikan melalui platform seperti YouTube, Instagram, TikTok, dan Facebook.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Membuat konten video pendek berisi potongan pertunjukan Besutan agar lebih mudah dikonsumsi anak muda.
- Mengunggah dokumentasi kidungan yang penuh sindiran sosial, sehingga bisa viral karena relevan dengan isu kekinian.
- Membuat akun resmi komunitas Besutan yang rutin memberikan informasi tentang sejarah, filosofi, hingga jadwal pertunjukan.
Dengan strategi ini, Besutan tidak hanya dikenal di Jombang, tetapi juga bisa menjangkau audiens nasional bahkan internasional.
Dokumentasi dan Digitalisasi Seni Pertunjukan
Salah satu kelemahan kesenian tradisional adalah kurangnya dokumentasi. Banyak pertunjukan yang hanya sekali tampil, lalu hilang begitu saja. Untuk itu, perlu adanya digitalisasi Besutan dalam bentuk:
- Video rekaman pertunjukan penuh.
- E-book atau artikel yang menjelaskan sejarah dan filosofi Besutan.
- Podcast yang membahas nilai-nilai kearifan lokal dalam Besutan.
Digitalisasi membuat kesenian ini dapat diakses kapan saja dan di mana saja, sekaligus menjadi arsip budaya yang bisa diwariskan ke generasi mendatang.
Festival dan Event Budaya Jombang
Menggelar festival budaya secara rutin adalah strategi efektif untuk menarik perhatian publik. Festival bisa menampilkan pertunjukan Besutan dari berbagai kelompok seni, dikombinasikan dengan pameran, workshop, dan diskusi budaya.
Event budaya tidak hanya menghidupkan kembali Besutan, tetapi juga bisa mendatangkan dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal. Misalnya, festival dapat memicu sektor pariwisata, kuliner, dan UMKM, sehingga kesenian tradisional tidak hanya dilihat dari sisi budaya, tetapi juga bernilai ekonomi.
Kolaborasi dengan Industri Kreatif
Besutan juga bisa diangkat ke level yang lebih modern dengan berkolaborasi bersama industri kreatif, misalnya:
- Membuat film pendek atau animasi tentang tokoh Besut.
- Mengadaptasi kidungan Besutan ke dalam musik kontemporer.
- Mendesain merchandise seperti kaos, totebag, atau stiker dengan simbol-simbol Besutan.
Dengan cara ini, Besutan bisa lebih mudah diterima oleh anak muda tanpa kehilangan esensi tradisionalnya.
Kesimpulan
Besutan sebagai Warisan yang Harus Dijaga
Kearifan Lokal Besutan Jombang bukan hanya sebuah seni pertunjukan, melainkan juga cerminan perjalanan sejarah, kritik sosial, serta nilai-nilai luhur masyarakat Jawa. Dari simbol kostum, kidungan penuh sindiran, hingga prosesi obor, semuanya merekam perjuangan rakyat kecil menghadapi ketidakadilan.
Namun, seiring arus globalisasi dan perkembangan teknologi, kesenian ini semakin terpinggirkan. Faktor kurangnya minat generasi muda, minimnya sosialisasi, hingga lemahnya dukungan pemerintah membuat Besutan terancam hilang. Jika tidak ada langkah konkret, warisan budaya ini bisa benar-benar lenyap dari kehidupan masyarakat Jombang.
Harapan untuk Generasi Mendatang
Pelestarian Besutan membutuhkan kerja sama dari semua pihak. Pemerintah harus lebih aktif memberi dukungan, seniman dituntut untuk berinovasi, organisasi budaya perlu digerakkan, dan generasi muda harus berani mengambil peran. Dengan memanfaatkan media sosial, digitalisasi, serta festival budaya, Besutan bisa kembali populer di era modern.
Lebih dari itu, nilai-nilai yang terkandung dalam Besutan sangat relevan untuk pendidikan karakter generasi sekarang: keberanian, kesederhanaan, kesucian hati, serta semangat gotong royong. Jika dilestarikan dengan baik, Besutan tidak hanya menjadi kebanggaan Jombang, tetapi juga aset budaya nasional yang layak mendunia.
Penulis: Fina Fikriatul Ilmi
Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













