Tekad Kuat Penyandang Difabel Sebagai Ajang Pembuktian Diri

Fahmi, Faqih, Fatih, dan Faris mereka adalah empat anak dari pasangan suami istri Murtandlo dan Anik Marwati. Fahmi, Faqih, dan Faris 3 anak laki-laki yang memiliki dan terlahir dengan keterbatasan fisik karena mengidap penyakit duchenne muscular dystrophy, tetapi Fatih terlahir dengan keadaan normal. Walaupun Fahmi, Faqih, dan Faris memiliki keterbatasan fisik dan berbeda dengan Faqih yang memiliki tubuh normal. Namum, kekurangan yang mereka miliki tak lantas membuat mereka patah semangat. Dengan dorongan keluarga yang selalu menyemangati dan darah muda yang masih mengalir dalam tubuh merekalah yang membuat mereka semangat.

Pemuda berumur 21 tahun dan 18 tahun tak mau kalah dengan teman-teman sebayanya. Mereka memiliki tekat yang besar untuk melawan keterbatasan fisiknya melalui belajar dan keterampilan yang lain. Puluhan lomba telah mereka raih dalam berbagai kompetisi. Berikut ini sebagian lomba yang diraih pemuda berusia 21 tahun dari SMP sampai peguruan tinggi peroleh yaitu Special Mention (Juara III) Indonesia ICT Award Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia 2013,  Medali Perak Olimpiade Sains Nasional Inklusi 2015 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2015, Juara 2 Liga Program Kreativitas Mahasiswa Sekolah Vokasi 2017 Fakultas Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada 2017, Desain Terbaik Muscle Car Indonesia Electric Car Design Contest Muscle Car Indonesia 2018, 2 Medali Emas PKM – KC kategori presentasi dan poster pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ke 31. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi 2018,  Medali perak Seoul International Invention Fair Korea Invention Promotion Association 2018 dan Special Award Seoul International Invention Fair King Abdul Azis University 2018.

Adiknya yag masih berumur 18 tahun juga tidak mau kalah dengan kakaknya. Berikut ini lomba yang ia raih dari SD sampai SMA juara 1 Olimpiade matematika SD/Inklusi,Juara 2 Olimpiade IPA SMP tingkat kabupaten dan Medali emas pameran KIR sagasitas se DIY tingkat SMA.

Paemuda yang berumur 15 tahun pun tidak mau kalah dengan kakak-kakanya walaupun dia terlahir normal berikut ini prestasi yang dia raih: Juara 3 praktik sholat kecamatan turi TPA 2013, Juara 3 MHQ kecamatan pakem 2014 SD, Juara 1 MH Q kecamatan pakem 2015 SD, Juara 1 MHQ kabupaten sleman 2015 SD, Juara 3 KIR Kabuaten Sleman 2014 SD, Juara harapan 2 lomba desain penelitian 2015 dan Juara 1 KIR kabupaten sleman 2018 SMP. Anak terahir yang memiliki umur 11 tahun belum terlihat bakatnya karena masih kecil.

Saat ditemui di kediaman yang terletak di Desa Dadapan RT 5 RW 27 Wonokerto, Turi, Sleman, DI Yogyakarta Fahmi bercerita tentang kesulitan mendaftar SMA. Ia berujar, “Ketika saya mendaftar SMA Negeri di dekat rumah saya, SMA tersebut menolaknya alasannya karena belum pernah menerima anak difabel” ucap Fahmi. Padahal di dalam Pancasila sila ke lima yaitu “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sehinga Fahmi seharusnya berhak mendapatkan apa yang mereka butuhkan tanpa dibeda-bedakan keadaan sosial, kondisi sosial maupun kondisi fisik. Tetapi Fahmi tidak patah semangat diapun berkata “dengan keterbatasan yang saya miliki saya tidak mau berputus asa, saya harus meraih prestasi yang sama bahkan lebih seperti anak-anak di usia saya” ucap Fahmi saat ditemui pada sabtu (4/05/2019).

Muhammad Zaki Ramadhani
Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

Baca juga:
Problematika Hak Pilih Bagi Penyandang Disabilitas Mental di Indonesia
Optimalisasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Sebagai Upaya Kebangkitan Pendidikan Kaum Disabilitas
Program Kartu Sakti Jokowi Perlu Diperbaiki

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

1 Komentar

Komentar ditutup.