Apa Perbedaan Psikologi Islam dan Psikologi Barat?

perbedaan psikologi Islam dan Psikologi Barat

Psikologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental manusia. Namun, jika Kamu mendalami lebih jauh, akan terlihat jelas perbedaan psikologi Islam dan psikologi Barat.

Kedua pendekatan ini sama-sama membahas tentang jiwa, kepribadian, serta kesehatan mental, tetapi berangkat dari landasan filosofis yang berbeda.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Psikologi Barat tumbuh dari tradisi filsafat, eksperimen, dan sains modern, sedangkan psikologi Islam bertumpu pada Al-Qur’an, As-Sunnah, serta khazanah keilmuan ulama.

Artikel ini akan mengajak Kamu memahami sejarah, definisi, serta perbedaan psikologi Islam psikologi Barat dari berbagai aspek penting. Dengan begitu, Kamu bisa melihat apakah keduanya saling bertentangan, atau justru bisa saling melengkapi dalam memahami manusia secara menyeluruh.

Psikologi sebagai ilmu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu yang masih cukup baru. Hal ini ditandai oleh eksperimen yang dilakukan oleh Wilhelm Wundt pada tahun 1879. Dalam perkembangannya, psikologi memiliki beberapa pendekatan, salah satunya yakni pendekatan Islam.

Meskipun pada asalnya Islam telah memiliki kajian psikologi sejak awal (dengan istilah yang berbeda) tetapi baru beberapa tahun terakhir ini menjadi kajian yang ilmiah. Tentu saja pendekatan psikologi Islam memiliki perbedaan dengan psikologi barat.

Sebagai seorang muslim yang mempelajari psikologi, perbedaan ini perlu dipelajari agar kita mengetahui teori mana yang bertentangan dan tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Baca juga: Kenapa Harus Belajar Psikologi?

Mengenal Psikologi Islam dan Psikologi Barat: Definisi dan Sejarah Singkat

Sebelum membahas lebih dalam perbedaan keduanya, mari kita pahami dulu bagaimana masing-masing aliran ini lahir dan berkembang.

Apa itu Psikologi Barat dan Sejarahnya?

Psikologi Barat adalah cabang ilmu pengetahuan modern yang muncul pada akhir abad ke-19. Tokoh yang dianggap sebagai pelopornya adalah Wilhelm Wundt melalui laboratorium eksperimen psikologi yang didirikannya pada tahun 1879 di Leipzig, Jerman. Dari sinilah, psikologi mulai dikenal sebagai disiplin ilmiah yang terpisah dari filsafat.

Sejak saat itu, psikologi Barat berkembang menjadi berbagai teori, mulai dari behaviorisme, psikoanalisis, humanistik, hingga kognitif.

Fokus utamanya adalah memahami perilaku manusia berdasarkan data empiris yang dapat diukur. Karena itu, dalam perbedaan psikologi barat dan psikologi islam, salah satu titik krusialnya adalah bahwa psikologi Barat lebih menekankan aspek rasional dan observasi ilmiah tanpa memasukkan elemen spiritual secara eksplisit.

Memahami Psikologi Islam: Definisi dan Ruang Lingkupnya

Lalu, apa itu psikologi Islam? Psikologi Islam adalah ilmu yang mempelajari manusia, jiwa, dan perilakunya dengan berpijak pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan kata lain, pengertian psikologi Islam bukan sekadar menyalin teori Barat lalu diberi label Islami, melainkan sebuah kajian yang lahir dari nilai-nilai tauhid.

Psikologi Islam adalah ilmu yang memandang manusia sebagai makhluk jasmani, akal, dan ruh. Oleh karena itu, ruang lingkup kajiannya lebih luas dibanding psikologi umum. Psikologi menurut Islam bahkan sudah dibicarakan oleh ulama sejak zaman klasik.

Tokoh-tokoh seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Qayyim banyak menulis tentang jiwa (nafs), hati (qalb), dan akhlak manusia, jauh sebelum Wilhelm Wundt mendirikan laboratorium psikologi.

Dari sini sudah jelas terlihat perbedaan psikologi dan psikologi Islam. Psikologi Barat berkembang dari filsafat dan eksperimen, sedangkan psikologi Islam bersumber dari wahyu.

Baca juga: Apa itu Sensasi dan Persepsi dalam Psikologi?

Tiga Perbedaan Fundamental antara Psikologi Islam dan Psikologi Barat

Sekarang mari kita masuk ke inti pembahasan: perbedaan psikologi Barat psikologi Islam. Secara garis besar, terdapat tiga perbedaan mendasar, yaitu dalam pandangan tentang jiwa manusia, konsep kepribadian dan kesehatan mental, serta tujuan psikoterapi.

1. Perbedaan Pandangan tentang Perkembangan dan Jiwa Manusia

Pendekatan pertama adalah tentang psikologi perkembangan manusia. Selama ini psikologi barat hanya mempelajari kehidupan manusia yang bersifat empiris. Mereka mengatakan bahwa kehidupan manusia dimulai sejak mereka diciptakan (konsepsi) sampai mereka mati (Santrock, 2019),

Padahal menurut Islam pandangan ini tidak lengkap. Manusia pada dasarnya sudah memiliki kehidupan sebelum ia berada di dunia (pra-eksistensi) dan setelah ia meninggalkan dunia (pasca-eksistensi).

Kita dapat mengetahui pra-eksistensi manusia ini melalui penjelasan QS. Al- A’raf (7): 172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ
 

yang artinya, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari pinggang anak-anak Adam keturunan mereka dan menyuruh mereka bersaksi tentang diri mereka sendiri. (Allah bertanya,) “Bukankah Aku milikmu? Tuhan?” Mereka menjawab, “Ya, Anda! Kami bersaksi.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa sebelum manusia diciptakan di dunia mereka memiliki kehidupan di alam ruh dan bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Adapun kehidupan pasca-eksistensi adalah kehidupan akhirat yang dimulai ketika nyawa dicabut oleh Allah (kematian).

Kedua kehidupan ini tidak dapat dijangkau oleh indra dan akal tetapi kebenarannya dapat kita yakini melalui penjelasan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dalam perbedaan pandangan Barat Islam tentang jiwa manusia, psikologi Barat hanya fokus pada fase kehidupan empiris, yaitu sejak konsepsi hingga kematian.

Misalnya, menurut Santrock (2019), kehidupan manusia dipelajari dalam kerangka perkembangan usia, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia.

Sebaliknya, psikologi Islam memandang manusia dalam spektrum yang jauh lebih luas. Islam mengajarkan bahwa manusia sudah ada sejak pra-eksistensi (alam ruh), kemudian hidup di dunia, lalu memasuki pasca-eksistensi (kehidupan akhirat).

Dengan demikian, perbedaan psikologi barat dan islam di sini sangat jelas: Barat membatasi manusia dalam kerangka duniawi, sedangkan Islam menempatkan manusia dalam konteks spiritual yang abadi.

2. Perbandingan Teori Kepribadian dan Kesehatan Mental

Perbedaan berikutnya bisa dilihat dari teori kepribadian perspektif psikologi Islam dan psikologi Barat. Dalam psikologi Barat, kesehatan mental biasanya diukur dari seberapa baik seseorang mampu mengelola emosi, berpikir rasional, dan berfungsi sosial.

Namun, dalam Islam, kesehatan mental tidak hanya diukur dari keberhasilan duniawi, melainkan juga dari ketaatan kepada Allah. Seorang Muslim dianggap sehat mental jika ia beriman, beramal saleh, dan menjauhi larangan Allah.

Contohnya, perilaku homoseksual atau konsumsi alkohol dalam psikologi Barat sering kali tidak dianggap sebagai gangguan jiwa jika pelaku mampu berfungsi sosial dengan baik. Tetapi dalam Islam, perilaku tersebut termasuk bentuk penyimpangan jiwa, karena bertentangan dengan syariat. Di sinilah terlihat jelas psikologi Islam vs psikologi Barat.

Psikologi Barat dan Islam memiliki penilaian yang berbeda terhadap kesehatan mental seseorang. Psikologi Islam memandang manusia sehat mental jika beriman kepada Allah dan menaati perintah-Nya (Ariadi, 2013) sedangkan psikologi barat memandang manusia sehat mental hanya dari keberhasilannya dalam memanfaatkan kemampuan kognitif dan emosional dalam komunitasnya dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya (Zulkarnain & Fatimah, 2019).

Sebagai contoh, dalam pandangan barat, orang yang berperilaku normal tetapi mengkonsumsi alkohol dan berpacaran dengan sesama jenis, maka tidak disebut gangguan jiwa tetapi dalam Islam perilaku tersebut dikatakan gangguan jiwa karena melanggar perintah Allah.

3. Perbedaan Konsep dan Tujuan Psikoterapi

Selanjutnya adalah perbedaan psikoterapi Islam dan psikoterapi Barat. Psikoterapi Barat biasanya menekankan pada teknik konseling, kognitif-behavioral therapy, atau terapi medis untuk memulihkan kesehatan mental seseorang.

Sedangkan dalam Islam, psikoterapi bukan hanya penyembuhan mental, tetapi juga penguatan spiritual. Teori psikologi Islam menekankan bahwa manusia harus sadar posisinya sebagai hamba Allah. Psikoterapi Islam membantu seseorang kembali kepada Allah, mencari rida-Nya, dan merasakan ketenangan iman.

Dengan kata lain, psikoterapi Barat lebih berorientasi pada “well-being” duniawi, sedangkan psikoterapi Islam berorientasi pada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Psikologi Barat sangat membantu dalam perkembangan terapi psikologi. Islam dalam pengobatan gangguan jiwa juga terbantu dengan ditemukannya psikoterapi oleh psikologi barat. Namun, dalam psikologi barat, mereka kehilangan elemen inti dari psikoterapi sejati, yaitu menyembah Allah.

Rajab et al., (2016) menjelaskan bahwa psikoterapi Islam adalah proses pelayanan dan bantuan bagi individu untuk menyadari bahwa mereka adalah makhluk Allah yang harus menyembah Allah sebagai prinsip tujuan penciptaan mereka sebagai pribadi yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Oleh karena itu, psikoterapi Islam dapat menimbulkan rasa nikmat iman dan pahala ketika dengan ikhlas mengharap ridha Allah. Misalnya, jika seseorang mengalami depresi, orang yang menggunakan psikoterapi barat hanya seperti meditasi dan olahraga sehingga dia tidak mendapatkan kedamaian spiritual dan pahala dari Allah.

Baca juga: Peran Muhasabah dalam Pengembangan Kesadaran Diri: Perspektif Psikologi Tasawuf

Psikologi Islam dan Psikologi Umum: Saling Melengkapi atau Bertentangan?

Apakah semua perbedaan ini membuat psikologi Islam dan psikologi umum (Barat) saling bertentangan? Tidak selalu. Ada banyak teori psikologi Barat yang bisa melengkapi pemahaman Islam, asalkan tidak bertentangan dengan syariat.

Sinergi antara Psikologi Umum dan Psikologi Islam

Dalam praktiknya, perbedaan psikologi Islam dan psikologi umum tidak harus dilihat sebagai konflik. Beberapa teori Barat, seperti konsep memori, motivasi, atau perkembangan kognitif, bisa digunakan untuk memperkaya kajian psikologi Islam.

Misalnya, konsep behaviorisme tentang pembiasaan perilaku bisa dipadukan dengan nilai-nilai Islami dalam membentuk akhlak. Atau teori kognitif bisa membantu menjelaskan bagaimana manusia memahami pesan-pesan agama.

Dengan cara ini, perbandingan psikologi Islam psikologi Barat justru bisa menghasilkan sintesis yang lebih komprehensif.

Kesimpulan: Mengintegrasikan Keilmuan dan Keimanan

Dari pembahasan panjang di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga perbedaan psikologi Islam dan psikologi Barat yang paling fundamental:

  1. Pandangan tentang perkembangan dan jiwa manusia.
  2. Konsep kepribadian dan kesehatan mental.
  3. Tujuan psikoterapi.

Namun, bukan berarti keduanya harus dipertentangkan. Perbedaan psikologi Barat dan psikologi Islam bisa dipandang sebagai peluang untuk memperkaya pemahaman kita tentang manusia.

Bagi Kamu yang sedang belajar psikologi, penting sekali untuk mengenali batas-batas ini. Ambil manfaat dari teori psikologi Barat yang sejalan dengan Islam, tetapi tetap jadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan utama.

Dengan begitu, Kamu tidak hanya memahami manusia sebagai makhluk biologis dan psikologis, tetapi juga sebagai makhluk spiritual yang tujuan akhirnya adalah bertemu Allah di akhirat. Inilah yang tidak bisa diberikan oleh psikologi Barat semata.

Psikologi barat dan psikologi Islam memiliki banyak perbedaan tetapi tidak semua teori psikologi barat bertentangan dengan ajaran Islam.

Beberapa teori mereka tidak bertentangan dan bahkan selaras dengan Islam sehingga teori seperti ini dapat melengkapi kajian psikologi Islam dalam memperoleh pengetahuan yang komprehensif tentang manusia.

Melalui kajian perbedaan ini dapat menjadi pengingat dan motivasi mahasiswa psikologi yang bercita-cita menjadi psikolog atau ilmuwan psikologi agar senantiasa menjunjung tinggi integritas Islam dan tidak hanyut dengan teori-teori yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Tim Penulis:

1. Shafira Dhaisani Sutra
Mahasiswa Psikologi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia

2. Nur Zaytun Hasanah
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia

 

Referensi:

Ariadi, P. (2013). Kesehatan mental dalam perspektif Islam. Syifa ‘Medika, 3(2), 118-127.

Rajab, K., Zein. M., & Bardansyah, Y. (2016). Rekonstruksi psikoterapi Islam. Cahaya Firdaus.

Santrock, J.W. (2019). Live-span development (17th ed.). McGraw-Hill.

Zulkarnain & Fatimah, S. (2019). Kesehatan mental dan kebahagiaan: Tinjauan psikologi Islam. Mawa’izh, 10(1), 18-38. https://doi.org/10.32923/maw.v10i1.715

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses