Saat ini anak muda terkhusus generasi z tidak lepas dengan obat sakit kepala, obat asam lambung, bahkan minyak angin dalam beraktivitas. Fenomena lansia berkedok remaja alias remaja jompo saat ini masih ramai diperbincangkan setelah adanya konten yang viral di TikTok. Banyak anak muda merasakan hal yang sama dengan adanya video tersebut.
Dien Kalbu Ady (Kompas.com 23 Maret 2023) selaku dokter dan direktur rumah sakit PKU Muhammadiyah Prambanan, mengatakan bahwa istilah ‘remaja jompo’ merujuk kepada para remaja yang mudah mengalami kelelahan, pegal, sakit punggung dan pinggang, badan lemas, serta sering pusing.
Mengacu pada anak-anak muda yang gampang merasa lelah ini memang banyak dialami oleh orang-orang sekitar. Banyak dijumpai saat beraktivitas apapun, isi tas lengkap dengan kebutuhan P3K. Banyak faktor yang menjadi penyebab ramainya fenomena ini yaitu:
- Overthinking, anak muda saat ini tidak lepas dari yang namanya overthinking. Banyak sekali yang dipikirkan mulai dari hal yang penting hingga tidak penting sekalipun, ditambah anak muda sering terpapar secara berlebihan pada media sosial, yang dapat mendorong terjadinya overthinking. Charles Goodstein, profesor klinis psikiatri New York University, mengatakan bahwa perasaan dan pikiran akan memicu pelepasan sistem endokrin yang mengatur pelepasan hormon dan mempengaruhi sistem kerja organ tubuh seseorang. Dengan kata lain, akan berdampak pada penurunan fisik.
- Kualitas tidur yang kurang baik, seperti yang kita lihat di sekitar kita bahwa banyak anak muda memiliki kualitas tidur yang kurang baik. Ditambah maraknya anak muda yang overthinking pada malam hari hingga dapat menyebabkan insomnia. Kualitas tidur kurang baik akan memicu kelelahan hingga tidak fokus dalam beraktivitas.
- Makanan kurang sehat, anak muda saat ini lebih tertarik pada makanan yang kurang sehat seperti junk food maupun fast food. Jika terlalu sering mengonsumsi makanan yang kurang sehat dalam durasi yang lama juga akan berdampak pada kesehatan tubuh.
Dari fenomena di atas, pencegahan ataupun cara mengatasi permasalahan tersebut yaitu mengubah pola hidup dari diri sendiri, dan dapat juga diimbagi dengan makanan yang bergizi seperti minuman yang masih asing di kalangan anak muda tapi kaya akan manfaat.
Di wilayah Tuban sendiri memiliki jenis minuman khas Tuban yang berasal dari pohon siwalan. Minuman ini masih asing di masyarakat khususnya di kalangan anak muda dan sudah seharusnya eksis. Minuman berwarna putih keruh namun terlihat segar ini dikenal dengan ‘air legen’. Air legen memang belum terlalu populer di kalangan masyarakat khususnya anak muda, karena belum banyak dijual bebas seperti es degan.
Air legen memiliki arti dalam bahasa jawa yakni legi atau manis. Air legen berasal dari bunga pohon siwalan betina. Airnya sendiri didapatkan dari sulur bunga pohon siwalan yang di potong sedikit untuk disadap dan diambil getahnya.
Kandungan air legen sendiri memiliki banyak manfaat yaitu gula, protein, nitrogen, PH 6,7 sampai 6,9, mineral, fosfor, zat besi, dan vitamin C, serta vitamin B1. Beberapa kandungan dalam air legen, membuat air legen tidak hanya segar, akan tetapi dapat bermanfaat untuk kesehatan ketika meminumnya.
Ditambah kandungan kadar kalium darah di dalam air legen lebih baik daripada air kelapa. Sehingga minuman ini sangat disarankan untuk dikonsumsi khususnya untuk anak muda yang gampang kelelahan.
Namun sayangnya, minuman tersebut tidak tahan lama jika tidak diolah dengan baik karena air legen hanya bertahan kurang lebih 24 jam sebelum air legen mengalami fermentasi dan berubah menjadi minuman tuak yang rasanya pahit dan mengandung alkohol yang tinggi.
Sehingga dalam memasarkannya masih menjadi tantangan tersendiri agar minuman ini dapat bertahan lama. Karena keterbatasan tersebut, minuman ini dapat diolah menjadi nata de Legen. Nata berbentuk seperti agar yang mengandung 98% air.
Nata mempunyai ciri khas seperti gel, berwarna putih hingga sedikit abu-abu, memiliki rasa yang kadangkala manis, transparan, dan memiliki tekstur kenyal. Nata memiliki banyak manfaat untuk kesehatan karena kandungan serat dan air yang tinggi dapat menyerap zat sisa-sisa metabolisme tubuh.
Nata juga dapat menjadi pilihan sebagai dietary food bagi penderita diabetes melitus ataupun penyakit lain yang menyarankan diet kaya serat.
Selain itu, kandungan yang ada di dalam legen sendiri sudah banyak manfaat, ditambah dengan menginovasikan legen menjadi nata yang juga memiliki banyak manfaat membuat inovasi ini dapat menjadi pilihan untuk produsen dalam mengolah air legen.
Pembuatan nata de legen dapat dibuat menggunakan bakteri Acetobacter xylinum, yaitu bakteri yang biasanya digunakan dalam pembuatan nata de coco, hanya saja bahan dasarnya berbeda. Nata de coco yang bahan dasarnya terbuat dari air kelapa, sedangkan nata de legen sendiri bahan dasarnya berasal dari air legen.
Sehingga dapat inovasi ini disebut nata de legen. Karena anak muda saat ini lebih tergoda dengan penampilan dari makanan atau minuman yang menarik atau istilah lain aesthetic. Dan dilihat di sekitar kita juga sajian nata seringkali hanya berupa potongan dadu saja.
Oleh karena itu, nata de legen dapat dibuat dalam bentuk yang bervariasi, dapat berbentuk seperti hewan, bunga ataupun kartun yang menarik bagi anak muda, dapat juga menambahkan pewarna alami untuk menambah kesan visual. Sehingga nantinya nata de legen tidak akan kalah dengan nata de coco yang dijual di pasaran.
Dan nata de legen dapat masuk atau digunakan sebagai campuran minuman yang eksis di kalangan anak muda, khususnya di kafe-kafe. Dari inovasi ini, diharapkan masyarakat khususnya anak muda dapat mengenal nata de legen.
Pengetahuan tentang pengolahan buah siwalan menjadi produk olahan lanjutan seperti nata mempunyai nilai ekonomis dan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat di Tuban terutama tentang pengolahan bahan makanan agar dapat dijadikan sebagai alternatif dalam mengembangkan potensi daerah Tuban dalam berwiraswasta.
Penulis:
Selena Albinia Syaputri
Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














