Danau Cipondoh: Dari Ikon Wisata yang Ramai Menjadi Surga Tersembunyi bagi Para Pemancing

Danau Cipondoh
Di tepian Danau Cipondoh,di balik riak air yang tenang, tersimpan cerita sederhana para pemancing yang datang bukan sekedar mencari ikan, tetapi juga menikmati ketenangan dan kesabaran. Danau Cipondoh, Kota Tangerang,Banten ini memang telah lama menjadi ruang pelarian bagi warga yang ingin menjauh sejenak dari kebisingan kota.

Situ Cipondoh bukanlah danau biasa. Dibangun pada tahun 1930 oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai bendungan untuk menyimpan air saat musim kemarau dan mengairi persawahan,danau buautan ini awalnya memiliki luas sekitar 143 hektare. Kini luasnya terus menyusut, namun fungsinya sebagai tandon air dan pengendali banjir tetap terasa bagi masyarakat sekitar

Pada masa kejayaannya, terutama setelah direvitalisasi pada akhir tahun 2022, Danau Cipondoh menjadi destinasi wisata favorit warga Tangerang. Jembatan untuk jogging, area kuliner dengan atap bergelombang yang dijuluki “Sydney Opera House-nya Tangerang”, hingga wahana perahu bebek dan perahu bermesin memeriahkan kawasan ini. Keramaian bahkan bisa berlangsung

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, wajah Danau Cipondoh kini jauh berbeda. Pandemi COVID-19 dan banjir berulang menjadi pukulan telak bagi kawasan wisata ini.

Bangunan bambu yang dulu menjadi ciri khas kini terlihat menghitam, rapuh, bahkan banyak yang roboh. Wahana air tidak lagi beroperasi. “Dulu rame banget, sekarang ya sepi. Sekarang paling pemancing aja,” ujar seorang warga. Pedagang yang tersisa hanya dua atau tiga warung, dari yang dulu memadati kawasan. hingga larut malam.

Meski kondisi danau kini sepi, para pemancing tetap setia. Mereka datang bukan hanya untuk menangkap ikan, tetapi juga untuk menikmati keindahan alam yang masih tersisa, terutama saat senja tiba. “Harapannya sih dibagusin lagi biar rame lagi,” harap seorang pedagang.

Danau Cipondoh mungkin telah kehilangan gemerlapnya sebagai destinasi wisata utama. Namun di balik kesunyian itu, ia tetap menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang mencari ketenangan—di mana kesabaran dan ketenangan menyatu dalam ujung joran.


Penulis: Maulana Fahrurrozi
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses