Di Balik Jadwal Penerbangan yang Padat

jadwal penerbangan pilot
Di Balik Jadwal Penerbangan yang Padat. Sumber: MMI.

“Berangkat saat masih gelap, pulang pun saat langit kembali gelap. Bagaimana awak pesawat istirahat dengan selamat?”

Perjalanan udara sering terasa cepat. Datang ke bandara, boarding, duduk beberapa jam, lalu tiba di tujuan. Selesai.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Ternyata, bagi awak pesawat ritme itu tidak sesederhana itu. Ada yang mulai bekerja saat yang lain masih tertidur. Ada yang baru kembali ketika hari berikutnya bahkan belum benar-benar “dimulai”.

Di industri ini, ada istilah yang kadang muncul di kalangan kru: “schedule gelap ketemu gelap.” Dari situlah, pelan-pelan, isu fatigue risk mulai menjadi sesuatu yang tidak bisa diabaikan lagi. Dan burung besi bagaikan rumah bagi awak pesawat.

Ketika Lelah Bukan Sekadar Rasa Kantuk

Fatigue sering disederhanakan sebagai rasa lelah biasa. Padahal dalam dunia penerbangan, maknanya jauh lebih dalam dari itu. Ini adalah kondisi ketika tubuh dan otak tidak lagi bekerja pada performa optimalnya. Dalam kacamata Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), fatigue merupakan ancaman laten terhadap keselamatan kerja.

Gangguan utamanya pada ritme sirkadian. Ketika awak pesawat harus bekerja melintasi zona waktu atau bertugas pada jam tidur biologis mereka yang dikenal sebagai Window of Circadian Low (WOCL), terjadi desinkronisasi sirkadian (referensi).

Kondisi ini menurunkan kewaspadaan fungsional secara drastis, sehingga meningkatkan risiko kesalahan manusia dalam operasional penerbangan (Caldwell et al., 2019).

ICAO dalam Doc 9966 Fatigue Risk Management Systems Manual menegaskan bahwa kelelahan adalah salah satu risiko serius yang harus dikelola dalam operasi penerbangan (ICAO, 2012).

FAA juga menjelaskan bahwa fatigue dapat menurunkan kewaspadaan dan memperlambat respons manusia, terutama dalam situasi yang menuntut keputusan cepat (FAA FRMS Guidance Material).

Baca Juga: Pesan Tiket Pesawat Internasional Tanpa Paspor, Apakah Bisa? Ini Penjelasan Lengkapnya

Schedule Gelap Ketemu ‘Gelap’: Ritme Kerja yang Tidak Selalu Terlihat Penumpang

Istilah “schedule gelap ketemu gelap” terasa nyata. Berangkat saat malam masih gelap, kembali saat hari belum benar-benar terang. Kadang bahkan tubuh belum sempat menyesuaikan diri, sudah harus bersiap lagi untuk jadwal berikutnya.

Kondisi desinkronisasi ini menyebabkan penurunan fungsi eksekutif. Secara psikologis, individu yang mengalami gangguan ritme sirkadian akan menunjukkan penurunan dalam ketahanan mental dan peningkatan kesalahan manusia (human error).

Menurut penelitian, bekerja saat ritme sirkadian berada pada titik terendah setara dengan efek gangguan kognitif akibat konsumsi alkohol, yang secara drastis menurunkan kesadaran situasional di lingkungan kerja yang berisiko tinggi (Dawson & McCulloch, 2005).

Operator perlu memahami bahwa memaksakan performa saat jam biologis menuntut istirahat akan menciptakan fenomena micro-sleep yang berbahaya.

Oleh karena itu, sinkronisasi kembali ritme sirkadian melalui pengaturan pola paparan cahaya dan jadwal istirahat yang strategis menjadi krusial untuk menjaga kesejahteraan psikologis serta keselamatan operasional (Caldwell et al., 2019).

Di Balik Senyum Profesional, Ada Tekanan yang Tidak Selalu Terlihat

Dibalik jam kerja sudah panjang. Awak pesawat tetap tenang dalam situasi yang tidak selalu ideal. Dan tetap mengambil keputusan cepat dalam waktu yang sangat terbatas. Dalam psikologi kerja, kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan cognitive overload, yaitu ketika otak menerima terlalu banyak tuntutan dalam satu waktu.

Dalam situasi kerja penerbangan, otak dipaksa menangani berbagai variabel secara simultan mulai dari teknis operasional hingga pelayanan penumpang.

Akibatnya, kapasitas pemrosesan informasi mencapai titik jenuh, yang dalam literatur Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) dikenal sebagai penurunan situational awareness (Endsley, 1995).

FRMS: Ketika Sistem Mulai Belajar Memahami Manusia

Untuk menjawab tantangan ini, dunia penerbangan mengembangkan pendekatan yang dikenal sebagai Fatigue Risk Management System (FRMS). Berbagai langkah strategis, mulai dari mengidentifikasi risiko, mengumpulkan data operasional, melihat pola kerja, hingga menyusun strategi pencegahan dan evaluasi secara berkelanjutan.

FRMS berperan sebagai jembatan antara kebutuhan operasional maskapai dan batasan fisiologis manusia. International Civil Aviation Organization (ICAO, 2012) menegaskan bahwa pengelolaan fatigue harus dilakukan secara sistemik dan berbasis data, bukan hanya dibebankan pada individu.

Baca Juga: Memudahkan Perjalanan Anda dengan tiket.com: Pilihan Terbaik untuk Layanan Hotel dan Pesawat

Di Balik Keselamatan Penerbangan, Ada Manusia yang Terus Beradaptasi

Fatigue risk, tekanan psikologis, dan human error pada akhirnya mengingatkan satu hal sederhana  keselamatan penerbangan bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal bagaimana sistem memperlakukan batas manusia di dalamnya.

Mengabaikan ritme sirkadian dan membiarkan cognitive overload terus terjadi adalah bentuk kegagalan sistem dalam melindungi aset terpentingnya. Kesadaran akan keterbatasan manusia inilah yang justru menjadi kekuatan utama untuk membangun ekosistem penerbangan yang lebih tangguh, empatik, dan berkelanjutan.

Banyak penerbangan terasa seperti rutinitas biasa. Berangkat, terbang, mendarat. Selesai. Tapi di balik itu semua, ada sistem yang terus berjalan tanpa jeda. Ada prosedur yang dijaga ketat. Dan ada manusia yang tetap harus bekerja, meskipun tidak selalu dalam kondisi paling ideal.

Karena pada akhirnya, pesawat memang terbang dengan teknologi.  Tapi hal yang paling sering dilupakan adalah bahwa di balik setiap penerbangan yang aman, ada manusia yang sedang berusaha menjaga semuanya tetap aman bahkan ketika tubuhnya sudah memberi sinyal untuk berhenti.


Penulis:
1. Lulu Sri Suwandini
2. Dini Febriani
3. Laila Meilyandarrie Indah Wardani
Mahasiswa Psikologi Universitas Mercu Buana


Dosen Pengampu: Laila Meilyandarrie Indah Wardani


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


References

Caldwell, J. A., Caldwell, J. L., Thompson, L. A., & Lieberman, H. R. (2019). Fatigue and its management in the workplace. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 96, 272-289. https://doi.org/10.1016/j.neubiorev.2018.10.024

Dawson, D., & McCulloch, K. (2005). Managing fatigue: It’s about sleep. Sleep Medicine Reviews, 9(5), 365-380. https://doi.org/10.1016/j.smrv.2005.05.002

Endsley, M. R. (1995). Toward a theory of situation awareness in dynamic systems. Human Factors: The Journal of the Human Factors and Ergonomics Society, 37(1), 32–64. https://doi.org/10.1518/001872095779049543

Goel, N., Basner, M., Rao, H., & Dinges, D. F. (2013). Circadian rhythms, sleep deprivation, and human performance. Progress in Molecular Biology and Translational Science, 119, 155–190. https://www.sciencedirect.com/science/chapter/bookseries/abs/pii/B9780123969712000075?via%253Dihu

International Civil Aviation Organization. (2012). Manual for the oversight of fatigue management approaches (Doc 9966, 1st ed.). ICAO.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses