Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat, terutama dalam membangun kebiasaan mengelola uang sejak usia dini.
Banyak orang dewasa mengalami kesulitan dalam mengatur keuangan karena tidak terbiasa memahami pentingnya menabung, menyusun prioritas kebutuhan, dan mengelola pengeluaran sejak kecil. Padahal, kemampuan mengatur keuangan merupakan keterampilan hidup (life skill) yang sangat penting untuk dimiliki setiap individu.
Sayangnya, pendidikan mengenai pengelolaan keuangan sederhana belum menjadi fokus utama dalam pembelajaran anak-anak di sekolah dasar. Sebagian besar anak hanya memahami uang sebagai alat untuk membeli sesuatu, tanpa mengetahui cara mengelolanya dengan bijak.
Akibatnya, kebiasaan konsumtif dapat terbentuk sejak dini apabila tidak diberikan edukasi yang tepat.
Menabung merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat diajarkan kepada anak-anak untuk melatih kedisiplinan dan tanggung jawab. Kebiasaan menyisihkan sebagian uang jajan setiap hari akan membantu anak memahami bahwa uang tidak harus selalu dihabiskan.
Dari kebiasaan kecil inilah, anak belajar mengenai pentingnya perencanaan dan pengendalian diri dalam memenuhi keinginan.
Baca juga: Budaya Konsumtif di Kalangan Remaja: Tren atau Masalah?
Namun, edukasi menabung bagi siswa sekolah dasar tentu harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami. Anak-anak lebih cepat memahami materi apabila pembelajaran dikaitkan langsung dengan aktivitas sehari-hari mereka.
Oleh karena itu, pendekatan praktik sederhana seperti pengelolaan dan pencatatan uang jajan menjadi metode yang efektif untuk mengenalkan konsep dasar literasi keuangan.
Melalui kegiatan Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat (PMKM), mahasiswa program studi Sarjana Akuntansi Universitas Pamulang menginisiasi pendekatan ini di SD Negeri Pisangan 02.
Kegiatan yang melibatkan 60 siswa dari 4 kelas ini bertujuan membantu siswa memahami cara membedakan kebutuhan dan keinginan, menyisihkan uang untuk ditabung, serta mencatat pemasukan dan pengeluaran harian mereka.
Dalam pelaksanaannya, siswa diajak untuk membuat catatan sederhana mengenai uang jajan yang diterima setiap hari. Mereka belajar menuliskan berapa uang yang digunakan untuk membeli kebutuhan, berapa yang tersisa, dan berapa yang berhasil ditabung.
Dengan cara ini, siswa mulai memahami bahwa uang dapat dikelola dengan baik apabila dicatat dan direncanakan.
Selain itu, siswa juga diberikan motivasi bahwa menabung tidak harus dimulai dengan jumlah besar. Menyisihkan uang Rp1.000 atau Rp2.000 setiap hari dapat menjadi kebiasaan positif apabila dilakukan secara rutin.
Baca juga: Tips agar Bisa Menabung Setiap Hari: Panduan Praktis dan Terbukti di 2026!
Konsep “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit” menjadi pesan utama dalam kegiatan ini untuk menunjukkan bahwa uang yang ditabung akan bertambah banyak seiring berjalannya waktu.
Kegiatan edukasi ini mendapatkan respons yang sangat positif dari para siswa. Mereka terlihat antusias saat belajar mencatat uang jajan dan mulai memahami manfaat menabung untuk masa depan. Banyak siswa yang merasa bangga ketika berhasil menyisihkan sebagian uang jajannya sendiri.
Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak sebenarnya mampu belajar mengelola keuangan apabila diberikan metode pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan usia mereka.
Guru-guru yang mendampingi kegiatan juga menyampaikan bahwa pembelajaran seperti ini sangat bermanfaat karena memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Kebiasaan mencatat pengeluaran sederhana dapat membantu anak menjadi lebih disiplin, teliti, dan bertanggung jawab terhadap uang yang dimiliki.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga dalam menerapkan ilmu akuntansi kepada masyarakat. Selain melatih kemampuan komunikasi dan kerja sama tim, mahasiswa juga belajar bagaimana menyampaikan materi keuangan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak-anak.

Dapat disimpulkan bahwa edukasi menabung sejak dini memiliki peran penting dalam membentuk karakter finansial anak. Pengelolaan dan pencatatan uang jajan sederhana dapat menjadi langkah awal untuk mengenalkan konsep literasi keuangan kepada siswa sekolah dasar.
Dengan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang lebih bijak dalam mengelola keuangan di masa depan.
Ke depannya, kegiatan edukasi seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan dengan metode yang lebih kreatif dan interaktif agar semakin banyak anak yang memahami pentingnya menabung sejak dini.
Dengan begitu, budaya hidup hemat dan bijak dalam mengelola uang dapat tumbuh sejak kecil serta menjadi bekal penting bagi kehidupan mereka di masa mendatang.
Penulis:
Amara Grestianti
Mahasiswa Program Studi Sarjana Akuntansi, Universitas Pamulang
Siwi Audhina Risty
Mahasiswa Program Studi Sarjana Akuntansi, Universitas Pamulang
Dona Artanti
Mahasiswa Program Studi Sarjana Akuntansi, Universitas Pamulang
Mochammad Khaidir S
Mahasiswa Program Studi Sarjana Akuntansi, Universitas Pamulang
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













