Budaya Konsumtif di Kalangan Remaja: Tren atau Masalah?

Budaya Konsumtif di Kalangan Remaja: Tren atau Masalah?
Sumber: freepik.com

Fenomena budaya konsumtif di kalangan para remaja kini semakin mudah terlihat, terutama di era media sosial yang penuh dengan promosi visual.

Saat ini para remaja membeli barang bukan lagi berdasarkan kebutuhan, tetapi karena adanya dorongan tren dan keinginan untuk diakui (fomo).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dalam konteks ini, budaya konsumtif bukan lagi sekedar kebiasaan berbelanja, tetapi menjadi bagian dari identitas sosial para remaja.

Pertanyaannya, apakah budaya konsumtif ini wajar sebagai bagian dari perkembangan remaja, atau justru menjadi masalah serius yang harus diwaspadai?

Fenomena ini penting untuk dibahas karena dapat mempengaruhi pola pikir, keuangan,serta gaya hidup remaja yang berkepanjangan.

Media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dll. menjadi salah faktor utama terbesar yang mendorong para remaja untuk bersikap konsumtif.

Salah satu bukti kuat mengenai pengaruh media sosial terhadap perilaku konsumtif remaja datang dari penelitian yang dilakukan di Kota Samarinda.

Data yang digunakan terdapat pada E-journals Unmul tepatnya pada jurnal ilmiah psikologi Universitas Mulawarman yang dipublikasikan di psikoborneo ditemukan bahwa intensitas penggunaan Instagram berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja.

Baca Juga: Bangun Kesadaran Digital, Mahasiswa Mercu Buana Ajak Siswa SMKN 19 Bahas Pengaruh Influencer terhadap Perilaku Konsumtif

Dengan kontribusi lebih dari 50% terhadap meningkatnya kecenderungan membeli barang tanpa melihat kebutuhan yang jelas.

Dari hal ini menunjukkan bahwa adanya dampak konten visual dapat mempengaruhi keputusan membeli bahkan Ketika barang tersebut tidak diperlukan.

Remaja yang sering melihat konten-konten promosi terbukti untuk lebih impulsif dalam melakukan pembelian.

Media sosial pada akhirnya bukan hanya sekadar tempat hiburan, tetapi juga menjadi sebuah ruang yang membentuk standar gaya hidup yang baru bagi remaja.

Kemudahan yang diakses yang dapat diraih para remaja, seperti belanja online, diskon besar-besaran, serta adanya fitur flash sale yang selalu muncul setiap saat, membuat para remaja lebih mudah untuk mengeluarkan uang tanpa mempertimbangkan banyak hal.

Kondisi ini tentu berbahaya bagi remaja yang tidak bisa mengontrol diri mereka. Banyak dari mereka yang bisa menghabiskan uang mereka dalam hitungan hari karena merasa tergoda oleh potongan harga dan teknik promosi yang menarik kebiasaan ini dapat menjadi hal buruk dalam pengelolaan keuangan yang di masa yang akan datang.

Selain pengaruh dari media sosial, tekanan sosial seperti lingkungan pertemanan sangat mempengaruhi dan menjadi penyebab utama tingginya perilaku konsumtif.

Remaja pada dasarnya berada pada tahap perkembangan psikologis, di mana mereka selalu ingin diterima dan selalu dihargai oleh orang di sekelilingnya.

Hal ini membuat mereka selalu untuk mengikuti gaya hidup teman-temannya, seperti pakaian, sepatu, gadget, serta aksesoris lainnya.

Banyak remaja yang merasa tidak percaya diri jika tidak memiliki barang yang sama dengan teman-temannya.

Akibatnya, mereka memaksakan diri mereka untuk membeli barang yang sebenarnya di luar kemampuan finansial mereka.

Baca Juga: “Perilaku Konsumtif” dari Sudut Pandang Ekonomi Islam

Namun, tidak semua perilaku konsumtif ini juga dapat dipandang negatif, pada masa pencarian jati diri seperti masa remaja, mengeksplorasi gaya pribadi merupakan hal yang wajar.

Di masa itu remaja sedang mencoba untuk menemukan gaya yang mencerminkan siapa mereka sebenarnya.

Membeli barang-barang tertentu juga merupakan bagian dari sebuah proses eksplorasi jati diri tersebut.

Selama konsumsi dilakukan dengan bijak dan tidak berlebihan, perilaku ini masih bisa untuk diterima.

Masalah baru muncul ketika pembelian barang dilakukan karena adanya tekanan sosial, bukan karena keinginan atau kebutuhan pribadi.

Jika remaja masih menilai harga diri mereka berdasarkan barang yang dimiliki, dari hal ini dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan mental mereka.

Dalam jangka panjang, dampak dari adanya budaya konsumtif tentu perlu untuk diperhatikan.

Remaja yang terbiasa berbelanja tanpa pengendalian berpotensi mengalami masalah keuangan di masa depan.

Mereka akan merasa kesulitan untuk menabung, terbiasa berhutang, dan tidak memiliki kemampuan untuk mengatur prioritas keuangan.

Baca Juga: Saatnya Remaja Peduli! BEM FKIK UNJA Gelar ProIde Minggu ke-2 dengan Topik Posyandu Remaja & Konseling Sebaya

Selain itu, fokus berlebihan dalam memperhatikan penampilan dapat memicu rasa cemas, kurang percaya diri, hingga perasaan tidak puas kepada diri sendiri.

Ketika remaja merasa harus selalu mengikuti tren agar dapat diterima, mereka sebenarnya sedang terjebak dalam lingkungan yang melelahkan secara emosional.

Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk para remaja untuk belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Mereka perlu belajar untuk mengembangkan kemampuan mengatur keuangan, termasuk membuat anggaran sederhana dan menghindari pembelian secara impulsif.

Orang tua dan sekolah mempunyai peran penting dalam memberikan edukasi yang bijak.

Bimbingan kecil seperti mengajarkan pentingnya untuk menabung, mempertimbangkan manfaat barang sebelum membeli, atau membatasi dalam penggunaan media sosial dapat membantu remaja untuk mengendalikan perilaku konsumtif mereka.

Pada akhirnya, budaya konsumtif di kalangan remaja merupakan fenomena yang wajar selama berada dalam batas yang sehat.

Namun jika tidak dikendalikan, perilaku ini dapat berkembang menjadi masalah yang dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian, keuangan, dan kesehatan mental bagi remaja.

Para remaja harus mengetahui dan menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan dari barang yang kita miliki, tetapi oleh sikap, karakter, dan kemampuan mereka dalam menjalani kehidupan.

Dengan kesadaran diri yang tepat, budaya konsumtif dapat diubah menjadi perilaku yang lebih bijaksana dan bermanfaat.

 

Penulis: Andini Kusuma Putri
Mahasiswa Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Mulawarman
Aktif Juga di Organisasi Himpunan Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan (HMPKn)

Dosen Pengampu: Nia Novita Putri, S.Pd., M.Pd.

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses