Mahasiswa K3 Polteknaker Gelar Edukasi Banjir Interaktif untuk Siswa Sekolah Dasar di Daerah Jakarta Utara

edukasi banjir

Pakai Botol Bekas, Mahasiswa K3 Ajari Siswa SD Hadapi Banjir — Hasilnya?

Sebuah botol bekas, beberapa genggam sampah plastik dengan berbagai ukuran dan jenis, dan segelas air — bahan-bahan sederhana ini ternyata cukup untuk mengubah pandangan siswa kelas 5 SDN Rawa Badak Selatan 03 terhadap awal permasalahan terjadinya banjir.

Edukasi Banjir Sekolah

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pada hari Senin, 11 Mei 2026, lima mahasiswa dari Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Politeknik Ketenagakerjaan melaksanakan program edukasi di sekolah yang berlokasi di Jl. Kemudi No. 1, Kecamatan Koja, Jakarta Utara tepatnya di SDN Rawa Badak Selatan 03.

Kegiatan ini bukanlah sekedar seminar biasa, melainkan Project Based Learning (PjBL) dengan tema “Edukasi Banjir: Solusi dan Peran Kebersihan Sekolah,” yang merupakan bagian dari tugas dalam Mata Kuliah Sistem Informasi K3 di bawah bimbingan Yusnita Handayani, S.K.M., M.A.

Mengapa Harus SDN Rawa Badak Selatan 03?

Sebelum kegiatan dilaksanakan, kelompok yang terdiri dari Zenida Bachtiar Rozaqi, Anisa Sitanggang, Ardelia Putri Dewintasari, Anggi Habiba Salsabila Sibuea, dan Salman Aji Maulana Karepesina melakukan Preliminary Hazard Analysis (PHA) di lingkungan sekolah. Dari hasil analisis menunjukkan adanya beberapa kondisi yang masih perlu diperhatikan, seperti selokan yang mudah tersumbat oleh sampah dan genangan air di koridor serta halaman. Mengingat sekolah tersebut berada di wilayah Jakarta Utara yang memiliki risiko banjir cukup tinggi, lokasi ini dinilai sesuai untuk pelaksanaan kegiatan tersebut.

Isi kegiatannya

Kegiatan dibuka dengan melakukan sesi pre-test dengan menggunakan Kahoot!. Setelah melakukan pre-test, sesi dilanjutkan dengan pemaparan materi yang mencakup video animasi mengenai proses terjadinya banjir, penjelasan mengenai faktor-faktor penyebabnya — seperti curah hujan yang tinggi, penggundulan hutan, dan sampah yang menyumbat drainase — serta tanda-tanda awal banjir yang perlu dikenali.

Edukasi Banjir Sekolah (2)

Sesi praktikum merupakan bagian yang paling dinanti. Di lapangan sekolah yang teduh, 32 siswa kelas V-B diajak untuk mengikuti empat simulasi secara berturut-turut dengan sangat antusias.

1. Simulasi Pertama

Dua botol bekas dipotong bagian atasnya, salah satu botol diisi dengan sampah anorganik, sementara yang lainnya dibiarkan kosong. Keduanya dialiri air secara bersamaan, sehingga siswa dapat langsung melihat perbedaan antara botol yang berisi sampah dengan tidak dan bagaimana botol yang tersumbat oleh sampah dapat menyebabkan banjir.

2. Simulasi Kedua

Dua botol yang berisi air bersih dan air kotor dibandingkan secara langsung. Dua botol yang berisi air bersih dan air tercemar digunakan sebagai media simulasi untuk memperlihatkan perbedaan kualitas air. Simulasi ini juga memberikan pemahaman mengenai berbagai gangguan kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh air banjir atau air yang terkontaminasi, seperti gatal-gatal, flu, dan penyakit kulit.

3. Simulasi Ketiga

Dua jenis media tanah, yang ditanami vegetasi dan yang tidak, lalu disiram dengan air secara bersamaan. Melalui perbandingan antara tanah yang memiliki vegetasi dan tanah tanpa vegetasi, terlihat bahwa keberadaan vegetasi membantu meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah. Kondisi ini mengurangi limpasan air di permukaan dan berkontribusi dalam menekan risiko banjir.

4. Simulasi Keempat

Kembali ke kelas, siswa diperkenalkan dengan poster tanggap darurat banjir dan diajak untuk mempraktikkan penyusunan tas darurat, mulai dari memilih barang penting hingga menghafal nomor layanan darurat yang perlu diingat..

Hasilnya?

Kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test melalui Kahoot!, media kuis interaktif yang mampu meningkatkan keterlibatan siswa sejak awal kegiatan. Setelah seluruh materi dan simulasi selesai diberikan, peserta kembali mengerjakan post-test dengan soal yang sama guna mengetahui efektivitas edukasi yang telah dilakukan. Evaluasi ini diikuti oleh 28 siswa, hasilnya yaitu:

Rata-rata pre-test: 6,07

Rata-rata post-test: 7,71

Peningkatan: +1,64 poin (27%)

Nilai N-Gain: 0,42 (kategori Sedang, sesuai kriteria Hake 1999)

21 dari 28 siswa (75%) mengalami peningkatan pemahaman

Nilai N-Gain sebesar 0,42 tergolong dalam kategori sedang. Namun, perlu dicatat bahwa ini adalah kali pertama siswa-siswa tersebut mendapatkan edukasi kebencanaan dengan pendekatan praktikum.

Lima siswa mengalami penurunan yang mungkin disebabkan oleh kondisi kelas yang cukup ramai dan kurang fokus saat mengerjakan tes, sehingga menjadi catatan untuk perbaikan kegiatan yang serupa di masa mendatang. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto serta pembuatan konten video bersama dengan seluruh siswa kelas V-B.

Sebagai penutup, plakat kenang-kenangan diserahkan bersama Dosen Pengampu kepada pihak SDN Rawa Badak Selatan 03 sebagai bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih atas sambutan hangat serta dukungan yang diberikan selama kegiatan berlangsung.

Edukasi Banjir Sekolah (1)

Edukasi mengenai bencana sejak dini bukanlah suatu kemewahan, melainkan sebuah kebutuhan, terutama bagi anak-anak yang tumbuh di daerah rawan banjir seperti Jakarta Utara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas Project Based Learning Mata Kuliah Sistem Informasi K3, Program Studi D-IV K3 Politeknik Ketenagakerjaan, di bawah bimbingan Ibu Yusnita Handayani, S.K.M., M.A.

Penulis:
1. Ardelia Putri
2. Anisa Sitanggang
3. Anggi Habiba
4. Zenida Bachtiar
5. Salman Aji

Mahasiswa D-IV Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker)

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses