Hoax dan Media Sosial

Momen pemilihan kepala daerah menjadi ladang subur tumbuhnya situs berita palsu. Direktur Operasional Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) Sigit Widodo melihat pola tersebut terjadi di Pilkada lalu.

Perkembangan teknologi informasi membawa sebuah perubahan dalam masyarakat. Lahirnya media sosial menjadikan pola perilaku masyarakat mengalami pergeseran baik budaya, etika dan norma yang ada. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.

Di Indonesia perkembangan sosial media sangat pesat, pun dampak yang ditimbulkan. Salah satu dampaknya adalah penyebaran berita hoax. Hoax atau berita bohong dewasa ini merupakan paradoks kemewahan informasi di era post truth menjadi fenomena global. Namun, sekaligus menciptakan tantangan dalam pengendalian lalu lintas informasi serta emosi setiap individu, di tengah potensi ancamannya tidak cuma pada kejiwaan individu, tapi juga karakter sebuah bangsa.

Banyaknya berita hoax yang tersebar bukan hanya merusak karakter sebuah bangsa, tapi juga dapat memecah belah persatuan bangsa.

Berdasarkan data Kominfo Sebanyak 486 hoax diidentifikasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) selama April 2019. Tercatat, 209 hoax berasal dari kategori politik.

Berikut ini beberapa temuan yang didapatkan dari situs DayliSocial.id

1. Informasi hoax paling banyak ditemukan di platform Facebook (82,25%), WhatsApp (56,55%), dan Instagram (29,48%).

2. Sebagian besar responden (44,19%) tidak yakin memiliki kepiawaian dalam mendeteksi berita hoax.

3. Mayoritas responden (51,03%) dari responden memilih untuk berdiam diri (dan tidak percaya dengan informasi) ketika menemui hoax.

Kita layaknya sebagai generasi milenial sudah seharusnya sadar akan penggunaan sosial media sebagai salah satu media penyebaran berita. Gerakan untuk mencegah hoax itu bisa kita mulai dari hal kecil, misalnya melakukan penelusuran apakah berita yang disebarkan itu fakta. Lalu peran dari platform pun sangat penting, seperti penambahan fitur penyaring pesan yang bisa mendeteksi apakan pesan yang disebarkan itu hoaks atau bukan. Tetapi hal yang paling penting adalah kita sebagai generasi muda tidak ikut termakan dan mudah menyebarkan berita yang belum diketahui kebenarannya.

Menurut data analisis kami—kominfo–,  penyebar hoaks itu bukan anak-anak muda, lebih cenderung orang tua yang menyebarkan. Sebagai contoh banyak dilakukan ibu-ibu melalui chat. Asal forward tanpa harus membaca dahulu. Kira-kira penyebar hoaks itu umur 45 ke atas,” ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kominfo, Ferdinandus Setu saat ditemu oleh Liputan6.com, Kamis (15/11/2018).

Masyarakat berusia di atas 45 tahun adalah pelaku penyebaran hoaks terbanyak di Indonesia. Hal ini sangat bisa terjadi karena kurangnya edukasi dan karena orang tua lebih cenderung berspekulasi bahwa berita tersebut benar.

Pentingnya edukasi dan kesadaran dalam penggunaan sosial media dalam penyebaran berita perlu ditanamkan sejak dini. Pemilihan platform sebuah berita juga sangat penting. Majunya negeri ini bukan hanya karena kinerja para pemegang jabatan tapi juga karena karakter warga negaranya yang akan membawa nama baik bangsa tersebut.

Tyas Rasid Giri Ningrum
Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

Baca juga:
Tawarkan Banyak Kemudahan, Gadget dan Media Sosial Juga Bisa Jadi Racun Bagi Generasi Muda
Body Shaming di Sosial Media
Pendidikan Perdamaian dan Anti Kekerasan di Media Sosial

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI