Ironi Kecanduan Gadget Terhadap Kesehatan Mental Anak

Kecanduan gadget

Gadget tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat segala aktivitas keseharian tidak bisa lepas dari yang namanya gadget. Gadget atau gawai sendiri merupakan suatu peranti elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis

“Walau memberi banyak keuntungan. Namun, jika tidak bijak dalam menggunakannya, gadget dapat memberi kerugian. Salah satunya ketidakmampuan untuk hidup mandiri, membuat anak-anak menjadi malas, tidak mau berusaha dan tidak tahan banting”. tutur ibu Ratih seorang psikolog anak dan remaja.

Penggunaan gadget yang berlebihan akan berdampak buruk bagi anak. Anak yang menghabiskan waktunya dengan gadget akan lebih emosional, menjadi pemberontak karena merasa sedang diganggu saat asyik bermain game, malas mengerjakan rutinitas sehari-hari, bahkan untuk makanpun harus disuap saking asyiknya dengan gadget. Yang lebih mengakhawatirkan lagi, jika mereka sudah tidak mempedulikan orang di sekitarnya dan enggan menyapa kepada orang yang lebih tua. Ini menandakan bahwa interaksi sosial anak dengan lingkungannya sudah tidak berjalan dengan baik.

Tak perlu jauh-jauh untuk membuktikan dampak buruk dari gadget ini di lingkungan keluarga saya saja adik saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 1 SD tidak bisa lepas dari gawai yang kaya akan game, saat asyik bermain game ia lupa makan, belajar, dan enggan  bermain dengan teman diluar rumah. Hal ini mengkhawatirkan kami sekeluarga karena jika gadget itu diminta ia akan menagis dan merengek keras. Maka dicarilah solusi terbaik untuk meredam kecanduan tersebut yakni dengan cara pembatasan penggunaan gadget dalam sehari dan hanya memberikanya gadget setelah ia selesai dari tugas- tugasnya terutama tugas sekolah dan kebutuhan dirinya. Dan hasilnya lumayan baik ada peningkatan karena adanya  pengawasan dan pengendalian tersebut.

Ada beberapa perilaku anak terkait dengan gadget yang harus diwaspadai guru maupun orang tua yaitu:
a. Ketika keasyikan dengan gadget anak jadi kehilangan minat dalam kegiatan lain.
b. Anak tidak lagi suka bergaul atau bermain diluar rumah dengan teman sebaya.
c. Anak cenderung bersikap membela diri dan marah ketika ada upaya untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan games.
d. Anak berani berbohong atau mencuri-curi waktu untuk bermain gadget.

Perilaku-perilaku tersebut merupakan tanda bahwa mereka sedang membutuhkan bantuan dalam menghentikan aktifitasnya dengan kecanduan bermain gadget. Meskipun sebenarnya bermain gadget memiliki beberapa manfaat untuk membentuk sikap cekatan, melatih fokus, serta meningkatkan kecakapan dalam berkomunikasi.

Penangan yang tepat untuk mengatasi kecanduan anak terhadap gadget salah satunya yaitu melalui konseling dengan pendekatan behavioristik teknik token ekonomi. Token ekonomi adalah bentuk penguatan untuk memodifikasi perilaku yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan. Token ekonomi juga diartikan sebagai suatu tanda yang diberikan sesegera mungkin setelah perilaku sasaran muncul. Tujuan token ekonomi adalah untuk menguatkan perilaku yang diinginkan terhadap klien. Jika permasalahan yang dialami adalah kecanduan terhadap gadget, maka harus dimunculkan perubahan perilaku positif yang diinginkan agar dapat mengurangi perilaku yang tidak diinginkan yaitu bermain gadget secara terus menerus.

Token ekonomi dapat digunakan secara individu maupun kelompok. Berikut karakteristik token ekonomi :
a. Perilaku yang akan diperkuat dinyatakan secara jelas
b. Prosedur didesin untuk memberikan stimulus yang diperkuat ketika perilaku yang diinginkan muncul
c. Aturan dibuat untuk menentukan penukaran token pada obyek yang diperkuat

Melakukan token ekonomi:
1. Menentukan perilaku target
Langkah awal yang dilakukan dalam pengaplikasian token ekonomi adalah menentukan perilaku target. Perilaku target yang dimaksud adalah perilaku yang diinginkan dan bisa perilaku yang tidak diinginkan. Dalam hal ini, penentuan perilaku target harus observable dan operasional. Yakni penegasan kepada individu terhadap perilaku yang harus dilakukannya.

2. Identifikasi item yang dapat digunakan sebagai token
Token yang digunakan harus nyata dan dapat diberikan secepat mungkin kepada invidu yang menjadi target perubahan perilaku. Token juga harus bersifar praktis agar mempermudah konselor untuk memberikan perubahan perilaku kepada klien. Token yang dimaksud bisa berupa uang, point, bintang, dll.

3. Identifikasi back up reinforcer
Efektivitas token ekonomi bergantung pada back up reinforcer yang diberikan. Hal ini disebabkan, karena token ekonomi dilakukan secara bersamaan dengan back up reinforcer. Back up reinforcer harus dipilih secara khusus dan disesuaikan dengan karakteristik individu sebagai target perubahan tingkah laku. Back up reinforcer bisa berupa sesuatu yang bisa dimakan seperti snack atau minuman, suatu barang berupa mainan, activity reinforcer seperti game yang menyenangkan, dll.

4. Memutuskan jadwal yang tepat untuk pemberian reinforcement
Konselor harus menetapkan jadwal terlebih dahulu sebelum memberikan reinforcement kepada klien. Konselor mengatur, pada saat apa klien harus mendapatkan reinforcement dan apakah tetap berkelanjutan atau tidak.

5. Menetapkan banyaknya token yang bisa ditukar
Konselor juga harus menentukan seberapa banyak token yang harus ditukar oleh si klien. Jika jumlah token tersebut telah berhasil dikumpulkan, maka klien akan mendapatkan back up reinforcer dari konselor.

6. Menentukan waktu dan penukaran token
Waktu dan tempat penukaran token harus direncanakan terlebih dahulu oleh konselor. Jika klien telah mengumpulkan token dari perilaku yang diinginkan selama waktu yang ditentukan, maka klien akan mendapatkan back up reinforcer.

7. Memutuskan untuk memperlakukan response cost
Respomse cost tidak selalu dipakai dalam token ekonomi. Jika tujuan nya untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan, maka tidak perlu menggunakan response cost. Akan tetapi, jika tujuannya untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, maka harus diberlakukan response cost.

Jadi, dengan menggunakan konseling melalui pendekatan behavioristik teknik token ekonomi, kecanduan anak terhadap gadget sedikit demi sedikit dapat terkurangi. Jika token ekonomi sudah terlaksana dengan baik, maka selanjutnya orang tua harus memberi contoh dan mengawasi anak dalam penggunaan gadget.

Gadget memang bisa memudahkan hidup kita Namun, kita perlu membatasi waktu penggunaanya sehingga tidak mengganggu waktu berharga bersama keluarga, teman, sahabat. Selain itu akseslah situs-situs yang bermanfaat yang membuat kita semakin cerdas.

Bintan Sabrina
Mahasiswa IAIN Pekalongan

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI