Perkembangan ekonomi dan industri di Surabaya pada akhir abad ke-19 hingga awal ke-20 membawa dampak besar bagi wajah kota. Hal ini dapat terjadi disebabkan kebijakan Agrarische Wet pada 1870 yang dikeluarkan pemerintah Belanda.
Banyak kesempatan pekerjaan yang muncul akibat kebijakan ini. Hal ini menjadi daya tarik bagi banyak masyarakat Indonesia pada masa itu, termasuk Madura. Mereka berdatangan ke Surabaya untuk mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.
Namun, di tengah laju modernisasi dan urbanisasi yang pesat, munculnya para migran ini tidak sepenuhnya terintegrasi dengan masyarakat lokal. Walaupun mereka berkontribusi terhadap perekonomian kota, kehadiran mereka justru memperkuat munculnya segregasi di Surabaya.
Hal ini menunjukkan kompleksitas dalam interaksi sosial dan ekonomi. Lalu, bagaimana migrasi besar ini membentuk pola segregasi sosial di Surabaya?
Latar Belakang Migrasi Madura ke Surabaya
Kondisi fisik Pulau Madura kurang mendukung kondisi usaha pertanian. Sebagian besar wilayahnya berupa tanah kapur yang terbentuk pada zaman Pleistosen, sedangkan sekitar 18,20% berupa lahan kosong dengan kondisi fisik, teknis, dan hidrologis kritis.
Curah hujan di pulau ini hanya sekitar 1.276 mm per tahun, dengan tipe iklim Aw yang dicirikan dengan curah hujan pada bulan terkering sebesar 13,95 mm sehingga kekeringan tersebut tidak dapat diimbangi oleh curah hujan total sepanjang tahun.
Baca Juga: Dampak Transmigrasi di Papua
Kombinasi komposisi tanah yang kurang subur dan curah hujan yang rendah menyebabkan lahan pertanian di Madura sulit dikembangkan. Keadaan tersebut semakin diperparah dengan praktik kepemilikan tanah, seperti jual beli, gadai, sewa, dan sistem bagi hasil.
Selain itu, pada masa penjajahan Belanda, penduduk Madura menghadapi tekanan ekonomi yang berat akibat tingginya sistem pajak dan sewa tanah.
Perkembangan industri gula di Hindia Belanda membawa berbagai dampak baru, antara lain meningkatnya permintaan ekspor gula ke Eropa. Hal ini diiringi dengan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja untuk operasional pabrik gula. Perluasan lapangan kerja di sektor ini menarik minat masyarakat Madura untuk mencari nafkah di Surabaya.
Selain itu, berkembangnya perusahaan perkebunan swasta juga membuka akses ke wilayah pedalaman Surabaya yang mendorong meningkatnya migrasi dari Madura ke wilayah tersebut.
Lapangan kerja yang tersedia di perkebunan banyak memberikan peluang bagi para migran. Tidak hanya terbatas pada sektor perkebunan, kegiatan perdagangan di wilayah pesisir Jawa Timur yang terletak di seberang Selat Madura juga meningkat.
Hal ini menarik minat banyak pedagang, termasuk masyarakat Madura, untuk menetap dan meneruskan kegiatan perdagangannya di wilayah tersebut.
Secara geografis, kedekatan Pulau Madura dengan Jawa Timur memudahkan proses migrasi. Kemudahan ini semakin didukung oleh perbaikan infrastruktur pelabuhan dan transportasi pada abad ke-19 yang memudahkan pergerakan penduduk antara kedua wilayah tersebut.
Segregasi Sosial antara Warga Lokal dan Warga Madura
Bagaimana ini bisa terjadi? Terdapat beberapa hal yang perlu diketahui untuk memahami segregasi sosial yang terjadi di Surabaya sebagai bentuk implikasi migrasi masyarakat Madura.
Hal yang perlu diketahui adalah pendidikan di Madura tidak memiliki tingkat yang sama dengan di Surabaya, fakta ini diperkuat dengan kondisi persebaran sekolah di Madura yang tidak intensif.
Kondisi tersebut berimplikasi pada kemampuan warga Madura yang rendah. Tentu, dengan kemampuan yang rendah, pekerjaan yang didapat pun tidak memperoleh upah yang tinggi.
Dengan demikian, kemungkinan mereka untuk mendapatkan pekerjaan dalam sektor formal cukup sulit, sebab syarat yang diperlukan sektor formal lebih ketat dibanding dengan sektor informal. Secara tidak langsung, hal ini memicu terbentuknya stratifikasi sosial antara masyarakat Madura dan Surabaya.
Pekerjaan di sektor formal sangat memengaruhi pola pemukiman masyarakat Madura di Surabaya, warga Madura yang bekerja di sektor informal cenderung tinggal di kawasan yang sesuai dengan kemampuan finansial mereka. Pemukiman ini umumnya berada di daerah pinggiran atau kawasan yang kurang berkembang.
Hal ini mempertegas kondisi segregasi sosial tadi. Selain itu, bagaimana masyarakat Madura ini dilihat oleh masyarakat umum sangat berpengaruh juga akan bagaimana mereka diterima di Surabaya, pada masa ini banyak stigma buruk bagi warga Madura.
Sebagai warga dari luar Surabaya, mereka seringkali dianggap “kasar”, hal ini berakar pada perbedaan latar belakang budaya dan pendidikan. Stereotip ini tentu membuat kondisi segregasi di sana semakin buruk.
Oleh sebab itu, tidak aneh apabila terjadi beberapa konflik antara warga lokal dengan warga Madura. Selain itu, warga Madura memiliki kebiasaan untuk membentuk kelompok yang berdasar kampung asal mereka di Madura.
Memang, hal ini berdampak positif bagi warga Madura itu sendiri, tetapi hal ini menciptakan semacam eksklusifitas tersendiri sehingga terjadinya pemisahan sosial dan memperlambat proses integrasi sosial dengan komunitas lain di Surabaya.
Akan tetapi, apabila dibandingkan dengan masa lalu, kondisi ini sudah mengalami perubahan. Pada saat ini, komunitas Madura di Surabaya jauh lebih terintegrasi di Surabaya. Tidak hanya Surabaya, daerah lain pun begitu.
Hal ini dapat dilihat dari berbagai budaya Madura yang tersebar di Indonesia. Memang, awalnya memang warga Madura kesulitan untuk beradaptasi di Surabaya, tetapi dalam masa modern komunitas Madura aktif dalam berbagai sektor, terutama perdagangan, kuliner, dan budaya.
Baca Juga: Kilas Balik Sejarah Makna Filosofis Tradisi Carok di Madura
Hidangan khas Madura seperti sate dan soto telah menjadi elemen ikonik dalam dunia kuliner Surabaya, sementara semangat kewirausahaan masyarakat telah memainkan peran penting dalam merevitalisasi ekonomi di berbagai daerah.
Keterlibatan masyarakat Madura dalam kerangka perkotaan yang lebih kohesif menunjukkan evolusi Surabaya menjadi kota metropolitan yang dinamis dan multikultural. Pergeseran ini menyoroti Surabaya sebagai model persatuan dalam keberagaman, yang meningkatkan reputasinya di panggung global.
Referensi
Susanto, H. (2004). Dampak Sosial Segregasi Etnis Madura di perkotaan: Studi
Kasus tentang Segregasi Etnis Madura di Wilayah Kelurahan
Wonokusumo Kecamatan Semampir Kota Surabaya (Doctoral dissertation, Tesis).
Fatoni, A. (2020). Memaknai Kekerasan Orang Madura Di Perantauan: Studi
Sosial Keberagamaan Masyarakat Madura Di Semampir Jawa Timur. Harmoni, 19(1), 115-131.
Hidayat, Nur Azizah and Hariri, Achmad (2017) ANALISIS SOLIDARITAS DAN SURVIVALITAS PEDAGANG MADURA DI PASAR TRADISIONAL SURABAYA. Trisula, 2 (4). pp. 508-516. ISSN 2527-5364.
Hartono, M. (2010). Migrasi orang-orang Madura di ujung timur Jawa Timur: Suatu kajian sosial ekonomi. HISTORIA Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah, 8(1).
Penulis:
1. Dede Setiana
2. Fani Qurotul Aini
Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Padjadjaran
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












