Mengapa Bunyi Alarm Bisa Membuat Kita Kesal? Bagaimana Asosiasi Membentuk Respons Kita

teori Classical Conditioning
Ilustrasi Jam Weker (Foto: Dok. MMI)

“Tin… tin… tin…”

Baru beberapa detik berbunyi, tangan kita biasanya langsung refleks mencari ponsel untuk mematikan alarm.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bahkan, banyak orang langsung merasa kesal atau malas saat mendengarnya.

Padahal kalau dipikir-pikir, alarm hanyalah suara biasa.

Tidak berbahaya, tidak menyakitkan, tetapi entah kenapa bisa langsung merusak mood di pagi hari.

Fenomena ini ternyata dialami oleh banyak orang dan sering terjadi tanpa disadari.

Di kehidupan sehari-hari, alarm digunakan untuk membantu kita bangun pagi, mengingat jadwal penting, atau mengatur aktivitas agar tidak terlambat.

Namun anehnya, bunyi alarm justru sering terasa seperti “ancaman kecil” yang membuat orang enggan membuka mata, menarik selimut lagi, atau mengeluh begitu alarm berbunyi.

Seolah-olah otak sudah lebih dulu memberi sinyal bahwa sesuatu yang melelahkan akan segera dimulai.

Menariknya, hal sederhana seperti ini ternyata menunjukkan bahwa otak manusia bekerja dengan cara yang sangat unik.

Otak mampu mengingat, menghubungkan, bahkan membentuk respons tertentu hanya dari pengalaman yang terus berulang.

Karena itu, sebuah bunyi biasa seperti alarm bisa memunculkan emosi tertentu secara otomatis.

Dari sini muncul pertanyaan menarik, bagaimana sebenarnya otak bisa “belajar” membuat kita merasa kesal hanya karena sebuah suara?

Baca Juga: Semua Punya Internet, Tapi Mengapa Pengetahuan Politik Masih Rendah?

Alarm dan Kebiasaan Pagi yang Penuh Tekanan

Bagi sebagian besar orang, pagi hari identik dengan satu rutinitas yang sama, yaitu bunyi alarm.

Pelajar, mahasiswa, hingga pekerja hampir semuanya mengandalkan alarm sebagai tanda bahwa aktivitas baru telah dimulai, lengkap dengan segala kewajiban yang menyertainya.

Yang menarik bukan sekadar fungsinya sebagai pengingat waktu, melainkan reaksi emosional yang ditimbulkannya.

Banyak orang mengaku bahwa respons pertama mereka saat alarm berbunyi bukanlah semangat, melainkan rasa kesal.

Tombol snooze ditekan, selimut ditarik kembali, dan suasana hati pagi langsung memburuk hanya karena sebuah suara. 

Bukan Sekedar Keluhan Pribadi

Ternyata pengalaman ini dialami oleh jutaan orang dan telah terbukti secara ilmiah.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports menganalisis lebih dari tiga juta malam tidur dari 21.000 pengguna di berbagai negara, dan menemukan bahwa tombol snooze ditekan pada hampir 56 persen sesi tidur.

Penelitian lain dalam JMIR Human Factors (2024) juga menemukan bahwa pola penggunaan alarm berkaitan langsung dengan munculnya perasaan cemas dan tertekan di pagi hari.

Artinya, alarm bukan lagi sekadar pengingat waktu ia sudah terlanjur dikaitkan dengan tekanan, kewajiban, dan beban aktivitas yang menanti setiap harinya. 

Baca Juga: Apa sih Pengaruh Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental? Eksplorasi Komprehensif Sisi Terang, Sisi Gelap, dan Anatomi Psikologis di Era Digital

Ternyata, Psikologi Punya Jawabannya

Fenomena ini sebenarnya sudah lama dapat dijelaskan melalui ilmu psikologi, tepatnya melalui teori Classical Conditioning.

Teori yang pertama kali dikembangkan oleh Ivan Pavlov ini menjelaskan bagaimana suatu rangsangan yang awalnya biasa dapat berubah menjadi pemicu respons emosional tertentu, karena ia berulang kali hadir bersamaan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan.

Inilah yang terjadi setiap pagi ketika alarm berbunyi, dan otak kita sudah lebih dulu bereaksi sebelum mata benar-benar terbuka. 

Bagaimana Classical Conditioning Bekerja?

Menurut Pavlov (1927), classical conditioning atau pengondisian klasik merupakan proses belajar yang terjadi ketika suatu stimulus yang awalnya netral dipasangkan secara berulang dengan stimulus lain yang secara alami menimbulkan respons tertentu.

Melalui proses tersebut, stimulus netral akhirnya mampu memunculkan respons yang sama meskipun stimulus alami tidak lagi diberikan.

Teori ini berawal dari penelitian Pavlov terhadap anjing.

Dalam eksperimennya, Pavlov mengamati bahwa makanan secara alami menyebabkan anjing mengeluarkan air liur.

Selanjutnya, ia membunyikan bel setiap kali makanan diberikan.

Setelah dilakukan secara berulang, anjing mulai mengeluarkan air liur hanya karena mendengar bunyi bel, bahkan ketika makanan tidak disertakan.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa proses belajar dapat terjadi melalui pembentukan asosiasi antara dua stimulus yang muncul secara bersamaan (Pavlov, 1927).

Selain itu, Schunk (2020) menjelaskan bahwa classical conditioning berperan penting dalam memahami bagaimana berbagai respons emosional, sikap, dan kebiasaan dapat terbentuk melalui pengalaman belajar.

Dengan kata lain, perilaku tertentu dapat dipelajari ketika individu secara terus-menerus menghubungkan suatu stimulus dengan pengalaman tertentu.

Baca Juga: Mengapa Sandi Morse Masih Relevan untuk Belajar dan Melatih Fokus

Mengapa Alarm Bisa Memicu Rasa Kesal?

Hal yang sama ternyata juga terjadi pada bunyi alarm dalam kehidupan sehari-hari.

Pada awalnya, alarm hanyalah suara biasa yang netral dan tidak memiliki arti emosional tertentu.

Namun karena alarm terus hadir bersamaan dengan momen bangun pagi, rasa kantuk, tugas yang menumpuk, jadwal kuliah, atau aktivitas yang melelahkan, otak mulai membentuk hubungan antara bunyi alarm dan perasaan tidak nyaman.

Akibatnya, tanpa disadari seseorang bisa langsung merasa malas, kesal, bahkan tertekan hanya beberapa detik setelah alarm berbunyi.

Respons ini muncul secara otomatis karena otak telah terbiasa mengasosiasikan alarm dengan pengalaman yang kurang menyenangkan.

Semakin sering pengalaman tersebut terjadi, semakin kuat pula respons emosional yang terbentuk.

Unsur Classical Conditioning pada Bunyi Alarm

Jika dilihat melalui teori Classical Conditioning, bunyi alarm pada awalnya merupakan stimulus netral karena tidak menimbulkan reaksi emosional tertentu.

Sementara itu, rasa lelah, kewajiban bangun pagi, dan tekanan aktivitas sehari-hari menjadi stimulus tak bersyarat yang secara alami memunculkan respons berupa rasa malas atau kesal.

Setelah proses ini terjadi berulang kali, bunyi alarm berubah menjadi stimulus bersyarat.

Akhirnya, hanya dengan mendengar suara alarm saja, seseorang dapat langsung menunjukkan respons bersyarat berupa rasa kesal, enggan bangun, atau suasana hati yang memburuk.

Fenomena sederhana ini menunjukkan bahwa respons manusia ternyata banyak dipengaruhi oleh proses belajar dan asosiasi yang dibentuk oleh pengalaman sehari-hari.

Baca Juga: Fisika Satu Gigitan: Bagaimana Mesin Ekstrusi Mengubah Tepung Basah Menjadi Camilan Ringan

Dampak Conditioning dalam Kehidupan Sehari-hari

Classical Conditioning tidak hanya terjadi pada bunyi alarm, tetapi juga muncul dalam banyak pengalaman sehari-hari.

Otak manusia secara tidak sadar membentuk asosiasi dari pengalaman yang terus berulang.

Karena itu, suatu suara, aroma, atau situasi tertentu dapat langsung memunculkan respons emosional meskipun sebenarnya hal tersebut bersifat netral.

Proses ini menunjukkan bahwa perilaku manusia banyak dipengaruhi oleh pengalaman yang pernah dialami sebelumnya.

Contoh sederhana dapat dilihat pada suara notifikasi pesan. Awalnya, notifikasi hanyalah bunyi biasa.

Namun ketika seseorang sering menerima kabar penting, tugas mendadak, atau pesan yang membuat stres melalui notifikasi tersebut, lama-kelamaan suara itu dapat memicu rasa cemas atau tegang secara otomatis.

Hal serupa juga dapat terjadi pada lagu tertentu yang mengingatkan seseorang pada kenangan sedih, atau aroma rumah sakit yang membuat seseorang merasa takut karena pernah memiliki pengalaman tidak menyenangkan di tempat tersebut.

Fenomena-fenomena ini membuktikan bahwa asosiasi yang terbentuk melalui pengalaman dapat memengaruhi emosi dan perilaku manusia.

Semakin sering suatu stimulus dikaitkan dengan pengalaman tertentu, semakin kuat pula respons yang muncul.

Karena itu, Classical Conditioning membantu menjelaskan bagaimana manusia belajar bukan hanya melalui pemikiran sadar, tetapi juga melalui hubungan-hubungan sederhana yang terbentuk dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Jajan Terus tapi Tetap Kurus, Mengapa Bisa Terjadi?

Kesimpulan

Bunyi alarm sebenarnya bukan penyebab utama munculnya rasa kesal di pagi hari.

Rasa tersebut muncul karena otak telah menghubungkan alarm dengan pengalaman yang kurang menyenangkan, seperti rasa kantuk, kewajiban, tekanan aktivitas, atau rutinitas yang melelahkan.

Akibat asosiasi yang terjadi secara berulang, suara alarm akhirnya mampu memunculkan respons emosional secara otomatis.

Melalui teori Classical Conditioning dari Ivan Pavlov, dapat dipahami bahwa manusia mampu membentuk respons tertentu dari pengalaman yang terus diulang.

Sesuatu yang awalnya netral dapat berubah menjadi pemicu emosi karena sering hadir bersamaan dengan pengalaman tertentu.

Dalam kasus ini, alarm berubah dari sekadar suara biasa menjadi stimulus yang memunculkan rasa malas, kesal, atau enggan bangun pagi.

Fenomena sederhana ini menunjukkan bahwa proses belajar manusia ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Classical Conditioning membantu menjelaskan bagaimana pengalaman dapat membentuk kebiasaan, emosi, dan respons seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya.

Dengan memahami proses tersebut, kita menjadi lebih sadar bahwa banyak reaksi yang muncul dalam diri manusia sebenarnya terbentuk melalui pengalaman yang terus berulang.


Penulis:
1. Naila Ramadani (G1C124060)
2. Haniyah Azzahra (G1C124057)
3. Zuleika Calosa Putri (G1C124050)
4. Nur Aufa Hermasyawilla (G1C124074)
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Jambi


Dosen Pengampu:
1. Azkya Milfa Laensadi, S Psi., M.Si.
2. Dessy Pramudiani, S.Psi., M.,Psi., Psikolog
3. Annisa Andriani, M.Psi., Psikolog
4. Ayu Ulivia, M.Pd.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

  1. Cai, Z., Toor, B., Haghayegh, S., YouTube Seo, J., Redline, S., & Winkelman, J. W. (2025). Snooze alarm use in a global population of smartphone users. Scientific Reports, 15, Article 99563. https://doi.org/10.1038/s41598-025-99563-y
  2. Kim, J., Lee, J., & Dey, A. K. (2024). Understanding morning emotions by analyzing daily wake-up alarm usage: Longitudinal observational study. JMIR Human Factors, 11, e50835. https://doi.org/10.2196/50835
  3. Ormrod, J. E. (2020). Human learning (8th ed.). Pearson. 
  4. Pavlov, I. P. (1927). Conditioned reflexes: An investigation of the physiological activity of the cerebral cortex. Oxford University Press.
  5. Schunk, D. H. (2020). Learning Theories: An Educational Perspective (8th ed.). New York: Pearson.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses