Semua Punya Internet, Tapi Mengapa Pengetahuan Politik Masih Rendah?

Malang — Di era digital, informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Berita politik, isu sosial, hingga berbagai perdebatan publik terus bermunculan di layar gawai setiap hari. Kondisi ini membuat banyak orang beranggapan bahwa generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki pemahaman politik yang baik karena hidup di tengah banjir informasi. Namun, sebuah penelitian terbaru justru menunjukkan fakta yang lebih menarik.

Sebanyak 21 mahasiswa mengungkap bahwa akses pendidikan masih menjadi faktor yang mempengaruhi cara mahasiswa memperoleh dan memahami informasi. Meskipun teknologi semakin berkembang, tidak semua mahasiswa memiliki kondisi belajar yang sama.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah memiliki perangkat belajar yang cukup memadai. Sebanyak 76,2 persen mahasiswa menggunakan kombinasi telepon pintar dan laptop untuk kegiatan belajar. Namun, masih terdapat 19 persen mahasiswa yang hanya mengandalkan telepon pintar sebagai perangkat utama. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesenjangan akses pendidikan masih ditemukan, bahkan di lingkungan pendidikan tinggi.

Tantangan juga terlihat pada kualitas akses internet. Sebanyak 42,9 persen responden mengaku memiliki kualitas internet yang sangat baik, sementara 47,6 persen menilai kualitas internet mereka cukup baik. Disisi lain, masih terdapat responden yang mengalami kualitas jaringan kurang memadai, yang berpotensi menghambat proses pembelajaran dan akses informasi.

Menariknya, mayoritas mahasiswa menyadari pentingnya akses pendidikan terhadap kualitas belajar. Sebanyak 71,4 persen responden menyatakan bahwa keterbatasan akses pendidikan sangat mempengaruhi kualitas belajar mereka. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan perangkat dan internet yang memadai bukan lagi sekadar fasilitas pendukung, melainkan kebutuhan utama dalam proses pembelajaran modern.

Lalu bagaimana dengan pengetahuan politik?

Di sinilah fakta yang cukup mengejutkan muncul. Meskipun hidup di era digital, tingkat pemahaman politik mahasiswa masih didominasi pada kategori “cukup”. Sebanyak 85,7 persen responden mengaku cukup memahami isu-isu politik yang berkembang, sementara sebagian lainnya masih merasa kurang memahami perkembangan politik yang terjadi.

Penelitian ini juga menemukan bahwa media sosial menjadi sumber utama informasi politik bagi mahasiswa. Sebanyak 85,7 persen responden memperoleh informasi politik melalui media sosial. Angka tersebut menunjukkan bahwa platform digital kini memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk cara pandang dan pengetahuan politik generasi muda.

Yang paling menarik, seluruh responden sepakat bahwa keterbatasan akses pendidikan berpengaruh terhadap pengetahuan politik mahasiswa. Sebanyak 61,9 persen bahkan menilai pengaruh tersebut sangat besar, sementara sisanya menilai pengaruhnya cukup signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan memahami isu politik tidak hanya dipengaruhi oleh minat individu, tetapi juga oleh kemudahan dalam mengakses pendidikan dan informasi.

Fakta-fakta tersebut memberikan gambaran bahwa tantangan generasi muda saat ini bukan lagi sekadar mencari informasi. Informasi tersedia di mana-mana dan dapat diakses kapan saja. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memperoleh akses pendidikan yang memadai sehingga informasi yang diterima dapat dipahami secara kritis, dianalisis secara mendalam, dan digunakan untuk membangun kesadaran sebagai warga negara.

Di tengah derasnya arus informasi digital, akses pendidikan yang merata menjadi lebih dari sekadar kebutuhan akademik. Akses pendidikan merupakan fondasi penting dalam menciptakan generasi muda yang tidak hanya aktif di dunia maya, tetapi juga memiliki pemahaman yang baik terhadap berbagai persoalan yang memengaruhi kehidupan masyarakat.


Penulis:
1.⁠ ⁠Ardeandra Khairunnisa Rachman
2.⁠ ⁠Christina Giselle Iona Wardaya
3.⁠ ⁠Safa Khairunisa
4.⁠ ⁠Daniel Valentino Halomoan Pardede
5.⁠ ⁠Marjorie Anna Firdaus
Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB)


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses