Banyak orang tua merasa bingung ketika anak terlihat sering makan atau jajan, tetapi berat badannya tetap sulit naik. Tidak sedikit pula anak yang hampir setiap hari mengonsumsi camilan manis, minuman kemasan, gorengan, atau makanan cepat saji, namun tubuhnya tetap tampak kurus. Kondisi ini sering dianggap sepele karena anak terlihat aktif dan tidak rewel. Padahal, pola makan seperti ini dapat menjadi tanda bahwa kebutuhan zat gizi anak belum terpenuhi secara optimal.
Menurut (WHO, 2023), kualitas makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak tidak hanya membutuhkan makanan yang membuat kenyang, tetapi juga makanan yang mengandung zat gizi lengkap seperti protein, vitamin, mineral, lemak sehat, dan serat
Kenyang Belum Tentu Bergizi
Banyak jajanan anak mengandung kalori tinggi, tetapi rendah zat gizi. Makanan seperti keripik, minuman manis kemasan, permen, biskuit, hingga makanan ultra-proses memang dapat membuat anak cepat kenyang, namun belum tentu membantu pertumbuhan optimal.
WHO menekankan bahwa pola makan sehat sebaiknya didominasi oleh makanan segar atau minimally processed food, bukan makanan tinggi gula, garam, dan lemak. Anak yang terlalu sering mengonsumsi jajanan rendah gizi dapat mengalami kondisi yang dikenal sebagai hidden hunger atau “lapar tersembunyi”. Artinya, kebutuhan energi mungkin tercukupi, tetapi tubuh kekurangan mikronutrien penting seperti zat besi, zinc, vitamin A, dan vitamin D. Kondisi ini dapat memengaruhi daya tahan tubuh, konsentrasi belajar, hingga pertumbuhan anak
Mengapa Anak Bisa Tetap Kurus?
Berat badan anak dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya seberapa sering ia makan. Anak dapat tetap kurus meskipun sering jajan karena beberapa hal berikut:
1. Asupan protein kurang
Protein berperan penting dalam pembentukan jaringan tubuh dan mendukung pertumbuhan anak. Namun, banyak jajanan anak justru didominasi gula dan tepung dengan kandungan protein yang rendah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa asupan protein yang rendah berkaitan dengan gangguan pertumbuhan dan status gizi anak.
2. Anak cepat kenyang oleh camilan
Konsumsi camilan terlalu sering dapat membuat anak merasa kenyang sebelum waktu makan utama. Akibatnya, anak cenderung mengurangi konsumsi makanan utama yang lebih bergizi seperti lauk sumber protein, sayur, dan buah. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan snacking dapat memengaruhi rasa kenyang (satiety) dan pola makan berikutnya.
3. Kualitas makanan kurang baik
Tubuh anak membutuhkan makanan dengan kualitas gizi yang baik, bukan sekadar tinggi kalori. Banyak makanan ultra-proses memiliki kandungan energi tinggi tetapi rendah vitamin, mineral, dan protein. Konsumsi makanan ultra-proses pada anak dikaitkan dengan kualitas diet yang lebih buruk dan ketidakseimbangan asupan zat gizi akibat tinggi natrium, lemak jenuh dan trans, serta tinggi gula.
4. Aktivitas tinggi atau adanya infeksi berulang
Pada beberapa anak, kebutuhan energi dapat meningkat karena aktivitas fisik yang tinggi atau adanya infeksi berulang. Kondisi ini menyebabkan energi dan zat gizi yang masuk lebih banyak digunakan tubuh untuk proses pemulihan dibandingkan pertumbuhan, sehingga berat badan anak sulit bertambah. Selain itu, kebiasaan jajan sembarangan atau konsumsi makanan yang tidak terjamin kebersihan dan keamanannya juga dapat meningkatkan risiko infeksi, terutama diare dan infeksi saluran cerna. Infeksi yang terjadi berulang dapat mengganggu penyerapan zat gizi dan memperburuk status gizi anak. Pangan yang tidak aman dapat menciptakan siklus antara penyakit dan malnutrisi, terutama pada anak-anak.
Waspadai Pola Jajan Berlebihan
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses pada anak berkaitan dengan masalah kesehatan jangka panjang. Selain meningkatkan risiko obesitas, pola makan rendah kualitas juga dapat menyebabkan kekurangan zat gizi penting. Makanan ultra-proses umumnya tinggi gula, garam, lemak, dan bahan tambahan pangan, tetapi rendah vitamin dan mineral. Bila dikonsumsi terlalu sering, anak dapat terbiasa dengan rasa yang terlalu manis atau gurih sehingga semakin sulit menerima makanan sehat seperti sayur dan buah
Peran Orang Tua Sangat Penting
Orang tua tidak harus melarang jajanan sepenuhnya, tetapi perlu membantu anak membangun kebiasaan makan yang lebih sehat. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Membiasakan makan utama 3 kali sehari dengan menu gizi seimbang
- Menyediakan camilan sehat seperti buah, puding susu, telur, atau roti isi
- Membatasi minuman tinggi gula dan makanan ultra-proses
- Mengutamakan lauk sumber protein seperti telur, ikan, ayam, tempe, dan tahu
- Memantau berat badan dan tinggi badan anak secara rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan
Menurut pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) Kemenkes RI juga menekankan pentingnya pemberian makanan yang beragam, cukup, dan sesuai usia untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak.
Jangan Tunggu Anak Tampak Sakit
Anak yang tampak aktif belum tentu memiliki status gizi yang baik. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kualitas makanan anak sehari-hari, bukan hanya jumlah makannya. Bila berat badan anak sulit naik dalam waktu lama, anak tampak sangat kurus, mudah lelah, atau sulit makan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Referensi:
- Elizabeth, L., Machado, P., Zinöcker, M., Baker, P., & Lawrence, M. (2020). Ultra-Processed Foods and Health Outcomes: A Narrative Review. Nutrients, 12(7), 1955. https://doi.org/10.3390/nu12071955
- Kementerian Kesehatan RI. 2020. Pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
- Mshida, H.A., et al. (2018). Water, sanitation and hygiene practices and its impact on infectious diseases and under-nutrition among children below five years of age in low income countries. Journal of Biodiversity and Environmental Sciences. 12, No. 3, p. 378-391
- Njike, V. Y., Smith, T. M., Shuval, O., Shuval, K., Edshteyn, I., Kalantari, V., & Yaroch, A. L. (2016). Snack Food, Satiety, and Weight. Advances in nutrition (Bethesda, Md.), 7(5), 866–878. https://doi.org/10.3945/an.115.009340
- Salam, A.R., Das, K.J., & Bhutta, Z.A. (2015). Current Issues and Priorities in Childhood Nutrition, Growth, and Infections. The Journal of Nutrition. Volume 145, Issue 5
- 2021. Fed to Fail? The Crisis of Children’s Diets in Early Life. 2021 Child Nutrition Report. New York: UNICEF
- 2025. Ultra-processed Foods and Children State-of-the-art review. USA: UNICEF
- Weffort, V. R. S., & Lamounier, J. A. (2024). Hidden hunger – a narrative review. Jornal de pediatria, 100 Suppl 1(Suppl 1), S10–S17. https://doi.org/10.1016/j.jped.2023.08.009
- World Health Organization. 2023. Infant and Young Child Feeding. Geneva: World Health Organization. Available from: WHO Infant and Young Child Feeding Fact Sheet
Penulis: Khansa Zahroosita Fatikasari, S.Gz. (NIM. 20250312048)
Mahasiswa Pendidikan Profesi Dietisien, Universitas Esa Unggul
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












