Miskinnya Literasi Digital di Era Milenial

literasi digital

Menilik sejarah panjang perjalanan panjang terciptanya internet rupanya membawa dampak yang signifikan terhadap kehidupan manusia. Dengan internet semuanya bahkan menjadi dekat dan mudah dengan hanya satu klik saja, dengan adanya internet semua kegiatan bahkan menjadi mudah hanya bermodalkan smart-phone dan paket data saja. Namun apa guna sebenarnya internet itu? Ya tentunya untuk hal yang bermanfaat sebagai contoh untuk mengakses literasi digital, literasi budaya, literasi keuangan dll.

Makna literasi di era kini belum lengkap jika seseorang tidak mampu mengakses dan membuat informasi digital. “Literasi adalah hal yang fundamental, hal yang strategis. Namun, literasi ini bukan pekerjaan yang mudah, karena memerlukan waktu yang lama,” kata Menkominfo Rudiantara di Jakarta, Senin (01/04). (dikutip dari laman Beritagar.id Selasa, 02 April 2019)

“Jika kalian literasi digitalnya rendah, Anda lah mangsa yang paling lezat untuk ditelan oleh hoaks, dengan ujaran kebencian, dengan fitnah-fitnah, dengan isu yang belum tentu benar atau mungkin dengan bully-bullyan yang akan terjadi,” kata Ganjar saat memimpin apel, Jumat. (dikutip dari laman regional.kompas.com, 18 Oktober 2019.)

“Maka, sangat penting untuk memasukan kurikulum literasi digital di sekolah agar mereka mendapat perlindungan,” kata Margaret di Kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (30/10/2019). (nasional.kompas.com 30 Oktober 2019.)

“Perlu ada peningkatan literasi digital, bagaimana kita melihat critical thinking kita terhadap suatu informasi. Dan literasi ini tidak bisa berjalan baik kalau pemerintah menjalankan hal-hal seperti pemblokiran, pembatasan akses internet,” kata Lintang. (nasional.kompas.com 15 Oktober 2019.)

“Kita bukan membatasi tapi terkait dengan pemanfaatan digital maka perlu ada proses pembelajaran,” kata Muhadjir usai membuka Seminar Pendidikan “Perubahan Pola Pikir Pendidikan Era Milenial” di Jakarta, Selasa (6/3/2018). (news.okezone.com Selasa 06 Maret 2018)

Sebenarnya Apa Sih Literasi Digital?

Menurut wikipedia.org Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Literasi digital juga merupakan kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mengkomunikasikan konten/informasi dengan kecakapan kognitif dan teknikal. Digital literasi lebih cenderung pada hal hal yang terkait dengan keterampilan teknis dan berfokus pada aspek kognitif dan sosial emosional dalam dunia dan lingkungan digital.

Apasih Masalah dari Literasi Digital?

Menilik banyaknya kutipan berita diatas nampaknya literasi digital yang berkembang di Indonesia ini masih belum optimal dalam pelaksanaannya dan pengaplikasiannya. Dalam dunia pendidikan saat ini nampaknya sebuah literasi digital belum digalakkan dan diterapkan. Literasi digital itu sangatlah penting, digitalisasi itu bukan hanya sekadar era melainkan sebuah kebutuhan bahkan menjadi kebutuhan primer setelah sandang, pangan, papan yang diperlukan oleh masyarakat abad 20, sehingga melahirkan sebuah idiom yaitu ‘harta-tahta-kuota’ karena saking pentingnya internet ada anggapan pula ‘lebih baik ngga punya pacar daripada ngga punya kuota’ itulah fenomena generasi millenial sekarang.  

Dan yang anehnya generasi millenial saat ini mengecek smartphone bisa beribu-ribu kali hanya untuk bermedsosria yang notabene cuma membuang-buang waktu saja. Tidak hanya remaja maupun anak-anak, banyak orang tua pun ikut bermedsos lewat Facebook. Melihat masyarakat Indonesia yang sekarang nampaknya lebih nyaman dengan  membaca bahan bacaan berbasis elektronik seperti e-book, e-journal, e-paper dan lainnya. Bahkan Lipton dan Hubble (2016:13) menjelaskan literasi tidak sekadar kemampuan elementer membaca, menulis dan berhitung.

Literasi dalam pengertian modern mencakup kemampuan berbahasa, berhitung, memaknai gambar, melek komputer, dan berbagai upaya mendapatkan ilmu pengetahuan. Dengan begitu artinya untuk menimba ilmu pengetahuan tidak hanya lewat dunia pendidikan formal saja, bahkan bisa lewat televisi, radio, youtube, atau membaca berita online. Dan setelah membaca berita secara online masyarakat tidak secara instan menyimpulkan dengan mentah-mentah, harus diimbangi dengan keterampilan berfikir yang kritis dan kemampuan menganalis yang baik pula agar tidak terjerumus ke berita yang sifatnya hoax atau tidak benar.

Pengetahuan memilih dan memilah sumber literasi digital yang akurat harusnya diberikan khususnya pada sekolah menengah baik menengah pertama ataupun atas. 3 bulan yang lalu tepatnya ada sebuah berita di Wamena bahwa masyarakat disana melakukan kerusuhan setelah mendapat kabar hoax dari sekolahan. Maka dari sini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tentang literasi digital itu perlu digalakkan didunia pendidikan agar tidak terulang sebuah peristiwa yang sama untuk kedua kalinya.

Dan melihat masyarakat Indonesia yang kebanyakan diprovokasi dengan mudah, istilah jawanya ‘gampang diobong karo geni’. Lalu masalahnya, apa yang mereka baca? Berkualitaskah bacaannya? Apakah mereka tahu metode membaca yang baik dan bisa meningkatkan kualitas hidup? Apakah mereka bisa menyikapi berita hoax dan fake?.

Lantas Solusinya Bagaimana?

Banyak dampak yang disebabkan oleh rendahnya akan literasi digital. Maka dari itu literasi harus direvolusi untuk mencerdaskan masyarakat khususnya generasi milenial. Perlu juga adanya intervensi agar program akselerasi literasi lebih cepat tercapai maka dengan dilakukannya beberapa langkah.

Pertama, pemahaman paradigma literasi tidak hanya membaca dan bahan bacaan bukan hanya manual, melainkan juga digital. Literasi tidak sekadar membaca dan menulis, namun juga keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan berbentuk cetak, visual, digital, dan auditori.

Kedua, pemenuhan akses internet di semua wilayah. Meski di ini kita berada di “benua maya”, namun masih banyak wilayah di Indonesia yang belum bisa mengakses Internet. Dengan menyediakan akses Internet, maka literasi digital akan semakin mudah. Suatu tempat yang tidak ada perpustakaannya juga bisa diganti e-library.

Ketiga, implementasi konsep literasi di semua lembaga pendidikan. Kemendikbud (2017:2) merumuskan gerakan literasi secara komprehensif. Yaitu literasi dasar (basic literacy), literasi perpustakaan (library literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy) dan literasi visual (visual literacy).

Selama ini, yang mendapat akses pengetahuan literasi hanya pelajar, mahasiswa, guru, dosen, petugas perpustakaan dan lainnya. Maka gerakan literasi yang digagas Kemendikbud harus didukung. Mulai dari gerakan literasi dalam keluarga, sekolah dan gerakan literasi nasional.

Keempat, menumbuhkan rasa cinta dan rasa ingin tahu pada ilmu pengetahuan, kebenaran dan fakta.

Kelima, masyarakat harus mau mengubah gaya hidup yang berawal dari budaya lisan, menjadi budaya baca. Karena kebanyakan masyarakat tidak mau membaca karena faktor kesibukan mencari nafkah, tidak suka membaca, dan bisa jadi tidak adanya bahan bacaan.

Mungkin yang keenam bisa diterapkannya kurikulum tentang literasi digital yang digagas oleh KPAI agar generasi milenial sekarang lebih bijak dalam penggunaan akses digital.

Tercapainya program literasi digital akan lebih cepat ketika masyarakat mampu mengubah pola pikir. Sikap konsumtif terhadap internet harus diimbangi dengan cara berpikir dan melek literasi secara komprehensif. Jika tidak mau, masyarakat akan menjadi korban internet yang dipenuhi pornografi, kriminalitas, berita hoax dan fake.

Karena fitrah manusia adalah membaca. Sebab, perintah pertama Allah SWT pada Nabi Muhammad SAW adalah membaca, bukan menulis, rebahan, nongki apalagi menyebar hoax. Generasi milenial harusnya membaca dan melek literasi. Jika tidak mau membaca dan melek literasi, mau jadi apa generasi ini? Apakah menjadi generasi yang terus-terusan gampang termakan berita hoax dan fake?

Rizki Adi Prasetyo

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI