Perjuangan Buruh Harian di Ruteng dalam Terang Rerum Novarum

Perjuangan Buruh Harian
Eufrasia Novantina Resi (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Buruh harian di Ruteng merupakan kelompok pekerja yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Mereka bekerja di ladang, proyek bangunan, atau pekerjaan kasar lain tanpa jaminan tetap. Upah yang diterima seringkali tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, sehingga sulit mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Kondisi ini menunjukkan wajah ketidakadilan sosial yang masih dialami kaum kecil.

Dalam terang ajaran Gereja, khususnya Rerum Novarum karya Paus Leo XIII, persoalan buruh tidak bisa dipandang sebelah mata. Dokumen ini menegaskan bahwa hak-hak pekerja merupakan bagian dari keadilan sosial. Karena itu, nasib buruh harian di Ruteng perlu menjadi perhatian serius semua pihak.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Rerum Novarum mengingatkan bahwa kerja bukan hanya sarana mencari nafkah, melainkan juga bagian dari martabat manusia. Paus Leo XIII menulis: “Bekerja bukanlah sesuatu yang memalukan; justru kerja memuliakan manusia, karena melaluinya manusia menopang hidupnya dengan cara yang terhormat” (RN, 17).

Namun, realitas di Ruteng menunjukkan buruh sering diperlakukan sekadar tenaga tanpa penghargaan terhadap harkat pribadi mereka. Situasi ini bertentangan dengan prinsip dasar Ajaran Sosial Gereja.

Buruh bukan alat produksi, melainkan subjek yang memiliki hak. Jika martabat mereka diabaikan, maka tatanan sosial akan timpang dan tidak adil. Karena itu, keadilan harus ditegakkan demi menghormati martabat kerja.

Salah satu tuntutan utama Rerum Novarum adalah hak buruh atas upah layak. Paus Leo XIII menegaskan: “Upah harus cukup untuk memberi nafkah kepada seorang pekerja yang rajin dan hemat” (RN, 34). Kenyataannya, upah buruh harian di Ruteng sering jauh di bawah kebutuhan minimum.

Mereka pun terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sulit diputus. Ketidakadilan ini memperlebar kesenjangan antara majikan dan pekerja. Upah layak bukanlah belas kasihan, tetapi hak yang melekat pada martabat manusia. Karena itu, memperjuangkan upah yang adil adalah wujud nyata iman Kristiani.

Selain soal upah, Rerum Novarum menekankan pentingnya solidaritas antara buruh, majikan, dan masyarakat. Relasi kerja yang sehat seharusnya dibangun atas dasar saling menghargai. Namun, di Ruteng, posisi buruh yang lemah sering membuat mereka tidak memiliki suara dalam menentukan nasib.

Baca juga: Martabat Buruh Harian dalam Perspektif Centesimus Annus

Hal ini membuka peluang eksploitasi dan ketidakadilan yang terus berulang. Maka, solidaritas harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata. Gereja mengajak semua pihak untuk membangun hubungan kerja yang memanusiakan, bukan sekadar menguntungkan segelintir orang.

Peran Gereja lokal menjadi sangat penting dalam memperjuangkan nasib buruh harian. Gereja dipanggil untuk menjadi suara profetis yang mengingatkan akan keadilan dan martabat kerja. Selain itu, Gereja dapat memberikan pendidikan sosial agar umat semakin peka terhadap penderitaan kaum kecil.

Dengan dukungan umat, Gereja bisa mendorong lahirnya kebijakan dan tindakan sosial yang lebih adil. Ajaran Rerum Novarum memberikan dasar moral untuk membela hak-hak buruh. Perhatian pada mereka berarti perhatian pada pembangunan masyarakat yang lebih manusiawi.

Pada akhirnya, perjuangan buruh harian di Ruteng adalah cermin dari pergulatan nyata antara keadilan dan ketidakadilan. Rerum Novarum menegaskan bahwa keadilan dalam kerja adalah tuntutan iman, bukan pilihan tambahan.

Upah yang layak, penghargaan terhadap martabat manusia, dan solidaritas sosial harus diperjuangkan bersama. Masalah buruh bukan hanya isu ekonomi, melainkan juga persoalan moral dan iman.

Gereja dan masyarakat dipanggil untuk berdiri bersama kaum lemah. Dengan itu, Ruteng dapat membangun kehidupan yang lebih adil, sejahtera, dan bermartabat bagi semua orang.

 

Penulis: Eufrasia Novantina Resi
Mahasiswa Pendidikan Keagamaan Katolik, Sekolah Tinggi Pastoral Santo Sirilus Ruteng
Dosen Pengampu: Dr. Benediktus Denar, S. Fil. M. Th

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses