Phubbing: Ketika Kehadiran Fisik Berubah Menjadi Ketiadaan Makna

Fenomena phubbing
Ilustrasi Fenomena Phubbing (Foto: Dok. MMI)

Di meja makan keluarga, di kafe saat bertemu teman lama, atau di pertemuan kerja, pemandangan ini kini begitu akrab: dua orang duduk berhadapan, tetapi masing-masing matanya tertancap pada layar ponsel.

Mereka ada secara fisik, namun pikiran dan perhatiannya melayang ke dunia maya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Fenomena ini bernama phubbing—gabungan kata phone dan snubbing, yang berarti tindakan mengabaikan orang yang ada di depan kita karena lebih sibuk berinteraksi dengan gawai pintar.

Masalah ini bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan krisis besar dalam komunikasi antarpribadi yang bisa kita bedah secara mendalam menggunakan prinsip-prinsip dasar teori komunikasi, atau Foundation of Communication Theory.

Secara mendasar, teori komunikasi mengajarkan bahwa komunikasi adalah proses timbal balik untuk berbagi makna, membangun pemahaman, dan mempererat hubungan.

Harold Lasswell merumuskan komunikasi sebagai rangkaian: siapa berkata apa, lewat saluran apa, kepada siapa, dan dengan dampak apa.

Sementara Wilbur Schramm menegaskan bahwa komunikasi hanya berhasil jika ada kesamaan bidang pengalaman dan perhatian antara pengirim dan penerima pesan.

Komunikasi yang efektif juga menuntut kehadiran penuh, baik secara fisik maupun psikis, lengkap dengan bahasa tubuh, kontak mata, dan respons yang saling mendukung.

Di sinilah letak masalah utama phubbing: perilaku ini meruntuhkan hampir seluruh prinsip dasar tersebut.

Dalam pandangan model komunikasi transaksional, kedua pihak yang berkomunikasi berperan aktif bergantian mengirim dan menerima pesan.

Namun saat terjadi phubbing, keseimbangan ini hancur.

Salah satu pihak berusaha menyampaikan pesan, tetapi pihak lainnya membagi perhatiannya atau bahkan mengalihkannya sepenuhnya ke gawai.

Akibatnya, pesan yang dikirimkan tidak diterima dengan utuh, maknanya hilang, atau diartikan secara keliru.

Pihak yang diabaikan merasa tidak dihargai, dianggap tidak penting, atau bahkan merasa ditolak.

Ini persis sesuai penjelasan Teori Pelanggaran Harapan (Expectancy Violations Theory) dari Judee Burgoon: dalam interaksi sosial, kita memiliki harapan tentang bagaimana orang seharusnya bersikap.

Saat seseorang lebih memilih ponsel daripada lawan bicaranya, itu dianggap pelanggaran norma komunikasi yang menimbulkan rasa tidak nyaman, kecewa, hingga marah.

Elemen paling krusial yang rusak akibat phubbing adalah perhatian dan umpan balik.

Dalam teori komunikasi, umpan balik adalah elemen yang membedakan komunikasi satu arah dan dua arah, yang menjamin pesan dipahami.

Saat kita menatap layar, kita tidak memberikan respons yang tepat: jawaban terlambat, singkat, tidak nyambung, atau bahkan bertanya ulang hal yang baru saja disampaikan.

Ini membuat komunikasi menjadi dangkal dan tidak bermakna.

Schramm juga mengingatkan bahwa makna tidak ada pada kata-kata saja, melainkan pada konteks dan pemahaman bersama.

Bahasa tubuh seperti menunduk, tidak menatap mata, atau wajah tertunduk adalah pesan tersendiri yang berbunyi: “Saya tidak tertarik padamu” atau “Ada hal yang jauh lebih penting daripada kamu”.

Pesan tersirat ini jauh lebih keras dampaknya daripada kata-kata yang terucap.

Masalah lain yang muncul adalah gangguan atau noise.

Dalam model Shannon-Weaver, gangguan adalah segala sesuatu yang mengganggu penyampaian pesan.

Dulu gangguan berupa suara bising atau jarak, kini gangguan utamanya justru ada di dalam diri kita sendiri: notifikasi masuk, keinginan tahu berita terbaru, atau rasa takut ketinggalan informasi.

Gawai menjadi pesaing utama perhatian kita, dan sayangnya, sering kali ia yang menang.

Akibatnya, pesan yang disampaikan orang di hadapan kita terhalang, terpotong, atau hilang sama sekali.

Padahal, komunikasi yang baik menuntut kita untuk meminimalkan gangguan dan memusatkan fokus sepenuhnya pada lawan bicara.

Dampak jangka panjang phubbing sangat serius. Dari sisi teori hubungan antarpribadi, komunikasi adalah pondasi kepercayaan dan keintiman.

Jika kebiasaan mengabaikan ini terus berulang, rasa percaya memudar, kehangatan hubungan hilang, dan jarak emosional makin lebar meski fisik berdekatan.

Fenomena “kesepian di tengah keramaian” menjadi nyata: kita duduk bersama, tetapi hati dan pikiran terpisah jauh.

Penelitian menunjukkan phubbing menurunkan kepuasan hubungan, memicu konflik, hingga meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.

Hal ini karena kebutuhan dasar manusia untuk didengar, diperhatikan, dan diakui—yang seharusnya dipenuhi lewat komunikasi—tidak terpenuhi.

Mengapa perilaku ini makin meluas? Salah satunya karena pergeseran makna “kehadiran”.

Banyak orang menganggap cukup ada fisik saja, padahal dalam komunikasi, kehadiran psikis jauh lebih menentukan.

Ada juga anggapan bahwa mengecek ponsel sebentar saja tidak apa-apa.

Padahal dalam teori komunikasi, perhatian adalah sumber daya terbatas; saat kita membagi fokus, kualitas pemahaman otomatis menurun.

Belum lagi peran desain aplikasi yang sengaja dirancang untuk memancing perhatian kita terus-menerus, membuat kita sulit melepaskan diri.

Akibatnya, komunikasi tatap muka yang mendalam dan bermakna perlahan tergantikan oleh interaksi cepat dan dangkal lewat layar .

Lalu, apa solusinya jika kita merujuk kembali pada dasar-dasar teori komunikasi?

Pertama, kita harus sadar kembali bahwa komunikasi adalah niat dan kehadiran penuh.

Jika kita sedang berinteraksi dengan orang lain, itu berarti kita berjanji untuk memberikan perhatian sepenuhnya.

Kedua, mengembalikan fungsi umpan balik: berikan respons yang jelas, tatap mata, dan tunjukkan bahwa kita benar-benar mendengar.

Ketiga, mengelola gangguan dengan sadar: simpan atau matikan ponsel saat berkomunikasi agar tidak ada pesaing perhatian.

Prinsip kuncinya adalah apa yang dikemukakan Wilbur Schramm: komunikasi yang baik lahir dari kesamaan perhatian dan kesamaan pemahaman.

Teknologi memang memudahkan kita terhubung dengan siapa saja di mana saja.

Namun teori komunikasi mengingatkan kita bahwa kemudahan itu tidak boleh mengorbankan kualitas hubungan dengan orang yang paling dekat dengan kita.

Phubbing adalah bukti nyata bahwa kemajuan alat komunikasi belum tentu beriringan dengan kemajuan cara kita berkomunikasi.

Justru tantangan terbesar sekarang adalah: bagaimana kita tetap hadir seutuhnya, di tengah godaan dunia digital yang tak pernah berhenti memanggil.

Pada akhirnya, komunikasi sejati bukan soal seberapa cepat kita berbalas pesan, melainkan seberapa dalam kita bisa saling memahami dan saling hadir.

Menghentikan phubbing sama artinya dengan menyelamatkan makna komunikasi itu sendiri, agar kita tidak menjadi makhluk yang terhubung secara teknis, namun terputus secara emosional dan manusiawi.

Karena, seperti prinsip dasar komunikasi yang tak lekang oleh waktu: yang terpenting bukan sekadar berbicara, melainkan memastikan pesan kita sampai dan dipahami, dan yang lebih penting lagi—mendengar dengan sepenuh hati.


Penulis: Alex Yohanes Jog Beribe
Mahasiswa Prodi Ilmu Filsafat, IFTK Ledalero


Dosen Pengampu: Amandus B. S. Klau, S.Fil., M.I.K.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses