Abstrak
Penelitian ini berakar dari minimnya jangkauan serta standar pengajaran di kawasan Afrika Sub-Sahara, utamanya Ethiopia, yang terdampak oleh beragam faktor seperti kemiskinan, ketegangan sosial, dan minimnya sarana prasarana sekolah. Dalam agenda kemajuan dunia, sektor edukasi merupakan poin krusial dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terlebih sasaran keempat yang menegaskan urgensi atas tersedianya pendidikan yang merata, setara, serta bermutu. Target kajian ini ialah guna mendalami cara kerja inisiatif UNICEF dalam membantu perwujudan SDGs 4 di Ethiopia, untuk memetakan ragam proyek yang dijalankan demi memperluas jangkauan dan mutu belajar, untuk menelaah variabel-variabel yang memuluskan maupun merintangi eksekusi program, serta untuk mengukur sejauh mana efektivitas kontribusi UNICEF dalam memajukan sistem edukasi di wilayah tersebut. Teknik riset ini memakai metode kualitatif lewat tinjauan pustaka dengan mengkaji beragam rujukan sekunder, layaknya laporan faktual dari UNICEF, berkas SDGs milik PBB, serta artikel akademis terkait. Olah data dikerjakan secara deskriptif kualitatif agar tercapai pemahaman utuh perihal penerapan aktivitas pendidikan di Ethiopia. Hasil riset ini menguraikan bahwa UNICEF memegang andil vital dalam menyukseskan SDGs 4 lewat beraneka aksi, meliputi perluasan cakupan sekolah, pembekalan tenaga pendidik, perbaikan fasilitas ruang kelas, maupun pemberian layanan belajar di zona rawan perang. Walau demikian, operasional proyek tersebut tetap menjumpai aneka rintangan, misalnya defisit anggaran, kondisi keamanan labil, dan problem letak geografis. Kajian ini diproyeksikan bisa memberi sumbangsih bagi literatur Hubungan Internasional, utamanya terkait kiprah entitas global dalam kemajuan dunia, dan menjadi pedoman guna menyusun regulasi pendidikan yang jauh lebih optimal di negara-negara dunia ketiga.
Kata Kunci: SDGs 4, pendidikan, UNICEF, Ethiopia, Afrika Sub-Sahara.
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan pilar fundamental demi perkembangan sebuah bangsa. Secara internasional, sekolah bukan sekadar hak dasar manusia, melainkan instrumen krusial guna memacu kemajuan finansial, menekan angka kemiskinan, serta memperbaiki taraf hidup khalayak luas (United Nations 2015).
Rancangan pengembangan dunia pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) menjadikan sekolah sebagai prioritas utama, khususnya poin keempat terkait urgensi pengajaran yang terbuka, setara, serta bermutu bagi siapapun. SDGs 4 pun menggarisbawahi perlunya pemerataan kesempatan belajar dan penguatan kapasitas pengajar sebagai elemen pembangunan berkelanjutan.
Akan tetapi, kawasan Afrika Sub-Sahara tetap bergulat dengan beragam rintangan pendidikan. Minimnya angka partisipasi murid, buruknya mutu pengajaran, serta defisit sarana maupun tenaga pendidik adalah kendala nyata yang terus bertahan (World Bank (2018). Selain itu, ketimpangan kesempatan belajar di sana masih sangat tajam, terutama jenjang menengah (UNESCO, 2022).
Keadaan tersebut kian genting karena perselisihan serta gejolak politik di sejumlah negara Afrika Sub-Sahara, yang berdampak pada lumpuhnya sistem pengajaran serta melonjaknya kuota anak kehilangan akses sekolah layak (UNICEF 2021). Kondisi ini menjadikan pendidikan pada zona perang sebagai isu dunia yang butuh atensi mendalam berbagai elemen.
Ethiopia, selaku satu negara di Afrika Sub-Sahara, juga mengalami problematika serupa. Meski ragam ikhtiar telah dijalankan demi membenahi ranah pengajaran, tetap ada jurang pemisah kualitas serta akses, utamanya di pelosok pedesaan dan area bersengketa (UNICEF 2022).
Melalui situasi ini, fungsi pihak luar menjadi sangat vital demi menopang kemajuan pengajaran. UNICEF sebagai lembaga global mempunyai peran kunci dalam membantu otoritas Ethiopia lewat beragam skema pendidikan, misalnya perluasan akses, lokakarya guru, pendirian sarana sekolah, hingga pelayanan sekolah di lokasi konflik (UNICEF 2023). Sebab itulah, kajian ini penting demi membedah penerapan skema tersebut yang menunjang perwujudan SDGs 4 di Ethiopia.
Kendala itu bukan cuma memicu minimnya taraf edukasi publik, melainkan turut memengaruhi status kemasyarakatan serta finansial dalam cakupan global. Buruknya mutu sekolah membatasi kecakapan para pekerja, hal mana kemudian menghambat kemajuan usaha serta mempertinggi angka pengangguran. Bagi masa depan, keadaan tersebut bisa melanggengkan jeratan kemelaratan serta memperlebar jurang pemisah sosial di dunia ketiga.
Disamping itu, minimnya sarana belajar turut membebani golongan lemah, layaknya bocah di pelosok desa serta zona perang, yang punya kesempatan kian tipis guna meraih pengajaran pantas. Ketidakadilan tersebut membuktikan kalau sekolah belum benar-benar sanggup diraih merata oleh tiap golongan masyarakat, sebab itu dibutuhkan tindakan sangat mendalam dari aneka elemen.
Dalam lingkup ini, kemitraan antara penguasa serta pihak global terasa amat krusial guna mengurai hambatan belajar. Kerjasama tersebut membuka ruang bagi bantuan berupa dana, pengembangan kemampuan pengajar, serta pengadaan sarana sekolah lebih layak. Gabungan ini diinginkan sanggup memacu pemenuhan sasaran SDGs 4 secara jauh lebih tangguh serta tahan lama.
Berikutnya, riset ini pun dirasa penting lantaran sanggup menyajikan potret seputar sejauh mana keberhasilan agenda edukasi yang digerakkan pihak UNICEF dalam merespons tiap persoalan nyata. Telaah terhadap elemen pendorong serta perintang jalannya acara jadi vital demi memahami bagian mana yang patut ditegaskan atau dibenahi.
Lewat cara demikian, kajian ini tak cuma menitikberatkan pada rincian agenda, tetapi pula menyajikan penilaian yang sanggup jadi pondasi demi pembuatan aturan yang jauh lebih akurat. Temuan studi ini diharapkan sanggup memberi faedah tak cuma bagi kemajuan teori, tetapi pun bagi kenaikan taraf hidup warga lewat pembenahan mutu pengajaran, terutama pada wilayah berkembang semisal Ethiopia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini, adalah, Bagaimana implementasi program UNICEF dalam mendukung pencapaian SDGs 4 di Ethiopia?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
- Menganalisis implementasi program UNICEF dalam mendukung pencapaian SDGs 4 di Ethiopia.
- Mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan program tersebut.
1.4 Urgensi Penelitian
Penelitian ini memiliki urgensi yang sangat kompleks, karena pendidikan menjadi suatu bentuk faktor kunci dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyrakat. Peningkatkan akses dan kualitas pendidikan akan berdampak langsung terhadap pengurangan kemiskinan, peningkatan kesempatan kerja, serta pembangunan sosial yang berkelanjutan (United Nations, 2015).
Selain itu, penelitian iini penting dalam konteks Hubungan Internasional karena menunjukkan bagaimana peran aktor internasional dalam membantu negara berkembang mengatasi permasalahan domestic, khususnya di sektor pendidikan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi akademis, tetapi juga memiliki manfaat praktis bagi masyarakat luas.
Baca Juga: Pendidikan Moderasi Beragama pada Anak: Menanam Benih Damai sejak Dini
BAB II Landasan Teori
2.1 Human Capital Theory
Menurut Schultz, “Dengan berinvestasi pada diri mereka sendiri, manusia dapat memperluas jangkauan pilihan yang tersedia bagi mereka. Ini adalah salah satu cara orang bebas dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.” (Schultz, 1961). Teori modal manusia yang dikembangkan oleh Theodore W. Schultz pada tahun 1961 menjadi fondasi utama dalam memahami peran pendidikan sebagai investasi strategis untuk pembangunan ekonomi. Schultz, seorang ekonom Amerika yang memenangkan Nobel Ekonomi pada 1979, memperkenalkan gagasan bahwa pengetahuan, keterampilan, dan kesehatan merupakan bentuk modal yang setara dengan modal fisik seperti mesin atau infrastruktur. Menurutnya, investasi dalam pendidikan tidak hanya meningkatkan produktivitas individu tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan melalui efek spillover di mana pengetahuan menyebar ke masyarakat luas (Breton, 2014).
Pada tahun 1950-an, para ekonom memiliki sedikit keraguan bahwa modal fisik adalah faktor pembatas pertumbuhan PDB/kapita. Tetapi setelah mengamati hasil dari proyek modal di negara-negara pada tingkat pembangunan yang berbeda, Theodore Schultz 1961 menyimpulkan bahwa negara-negara tanpa banyak modal manusia tidak dapat mengelola modal fisik secara efektif, pertumbuhan ekonomi tidak dapat dilanjutkan kecuali modal manusia dan modal fisik suatu negara meningkat bersama-sama, dan karena investor swasta hanya tertarik untuk berinvestasi dalam modal fisik (Breton, 2014). Modal manusia adalah faktor yang paling mungkin membatasi pertumbuhan. Tiga kesimpulan Schultz dapat dilihat sebagai elemen dari teori pertumbuhan ekonomi modal manusia yang lengkap.
Menurut Schultz, pendidikan pada intinya adalah penanaman aset jangka panjang yang meningkatkan kapasitas seseorang untuk menghasilkan nilai. Ia memisahkan antara pengeluaran yang terkait dengan pendidikan, misalnya biaya sekolah dan potensi pendapatan yang dilewatkan selama masa studi, dengan keuntungan yang didapatkan, seperti kenaikan penghasilan seumur hidup dan peningkatan efisiensi. Schultz menekankan bahwa pendidikan formal, program pelatihan kejuruan, dan perpindahan penduduk dalam negeri merupakan cara utama untuk berinvestasi pada potensi insani. Manfaatnya tidak hanya terbatas pada aspek keuangan, seperti gaji yang lebih tinggi, tetapi juga mencakup dampak non-finansial, termasuk kesejahteraan yang lebih baik dan kepuasan kerja (Breton, 2014).
Salah satu kontribusi khas Schultz adalah perhatiannya pada efek limpahan atau dampak yang meluas. Pengetahuan yang diperoleh oleh seseorang tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri, tetapi juga meresap melalui hubungan sosial, kolaborasi, dan penciptaan inovasi bersama, yang pada gilirannya mendongkrak produktivitas ekonomi secara keseluruhan. Dalam sektor agrikultur yang merupakan tulang punggung ekonomi Etiopia—Schultz mengamati bahwa petani dengan tingkat pendidikan lebih tinggi lebih sigap dalam mengadopsi metode dan teknologi baru, yang berkontribusi pada peningkatan hasil panen dan penanggulangan kemiskinan di pedesaan. Gagasan ini juga diperkaya oleh Gary Becker dan Jacob Mincer, yang memperkuat kerangka analisis untuk mengukur imbal hasil investasi pendidikan, menunjukkan bahwa penambahan satu tahun studi dapat menaikkan pendapatan hingga 10%.
Menanggapi argumen yang menyebut teorinya “mengkomodifikasi manusia,” Schultz bersikukuh bahwa modal insani justru merupakan alat pembebasan individu dari jeratan kemiskinan struktural. Ia menganjurkan adanya kebijakan pemerintah untuk memberikan bantuan pendidikan, khususnya bagi kelompok yang kurang mampu, sebab sektor swasta cenderung mengabaikan keuntungan sosial yang dibawa oleh pendidikan. Prinsip ini bersifat global, namun amat krusial di kawasan Afrika Sub-Sahara, di mana rendahnya literasi menjadi kendala signifikan dalam mewujudkan perubahan ekonomi.
2.2 Literature Review
| No | Penulis & Tahun | Judul / Sumber | Fokus Penelitian | Temuan Utama |
| 1 | UNESCO (2026) | Laporan GEM Report Ethiopia
(https://www.unesco.org/gem-report/en/2026-gem-report-country-case-studies/ethiopia?hub=1074&utm) |
Kondisi pendidikan di Ethiopia | Ethiopia mengalami krisis pendidikan akibat konflik, kemiskinan, dan keterbatasan infrastruktur yang menyebabkan tingginya angka putus sekolah |
| 2 | UNICEF (2024) | Laporan Program Pendidikan UNICEF Ethiopia | Peran UNICEF dalam akses pendidikan | UNICEF berperan dalam memperluas akses pendidikan bagi anak-anak, termasuk di wilayah terdampak konflik |
| 3 | UNICEF (2024) | Annual Report UNICEF Ethiopia (https://www.unicef.org/ethiopia/media/12326/file/UNICEF%20Ethiopia-Annual-Report-2024.pdf.pdf?utm) |
Peningkatan kualitas pendidikan | Intervensi UNICEF mencakup pelatihan guru, pengembangan kurikulum, dan penyediaan fasilitas pendidikan |
| 4 | World Bank (2023) & UNDP (2020) | Laporan pembangunan & pendidikan
(https://ida.worldbank.org/en/topics/theme/human-capital?utm) |
Hubungan pendidikan dan pembangunan | Pendidikan berperan dalam meningkatkan human capital, memutus kemiskinan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi |
2.3 Research Gap
Meskipun berbagai penelitian telah membahas kondisi pendidikan di Ethiopia dan peran UNICEF dalam meningkatkan akses pendidikan, sebagian besar studi masih berfokus pada aspek deskriptif dan programatik. Penelitian sebelumnya cenderung menyoroti hasil intervensi tanpa mengaitkannya secara mendalam dengan kerangka teoritis, khususnya dalam perspektif human capital. Selain itu, masih terbatas penelitian yang secara komprehensif menganalisis peran UNICEF sebagai agen pembangunan dalam menghubungkan peningkatan akses dan kualitas pendidikan dengan transformasi ekonomi di Ethiopia.
Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi celah tersebut dengan mengkaji peran UNICEF melalui pendekatan human capital dalam konteks hubungan internasional serta peningkatan akses pendidikan, pelatihan guru, pembangunan fasilitas sekolah, serta pendidikan di wilayah konflik.
Baca Juga: Masa Depan Guru Bahasa Inggris di Era SDG 4: Masih Dibutuhkan atau Tidak?
2.4 Alur Pemikiran
Bagan alur pemikiran dalam penelitian ini menggambarkan hubungan antara krisis pendidikan di Ethiopia, intervensi aktor internasional, dan dampaknya terhadap pembangunan ekonomi. Krisis pendidikan ditandai dengan tingginya angka putus sekolah, rendahnya tingkat literasi, serta dominasi sektor agrikultur yang menciptakan vicious cycle sebagaimana dijelaskan oleh Theodore W. Schultz (Schultz, 1961; World Bank, 2020). Intervensi dilakukan oleh UNICEF melalui peningkatan akses pendidikan dan kualitas tenaga pengajar. Upaya ini dipahami sebagai bentuk investasi modal manusia yang berkontribusi pada peningkatan keterampilan dan produktivitas individu (Schultz, 1961; Becker, 1993).
BAB III Metode Penelitian
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan kategori penelitian deskriptif-analitis. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk memahami secara mendalam situasi krisis pendidikan di Ethiopia dan menganalisis kontribusi UNICEF dalam memperbaiki mutu pendidikan melalui sudut pandang modal manusia.
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah penelitian perpustakaan. Data diakses melalui berbagai sumber sekunder, seperti laporan resmi dari UNICEF, Bank Dunia, dan UNESCO, serta buku dan jurnal ilmiah yang berkaitan, termasuk tulisan Theodore W. Schultz mengenai teori modal manusia. Di samping itu, artikel ilmiah dan laporan penelitian yang relevan dengan pendidikan dan pembangunan ekonomi juga dimanfaatkan untuk memperkuat analisis.
Selanjutnya, metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, di mana data yang telah dihimpun diolah, dikelompokkan, dan diinterpretasikan untuk menjelaskan hubungan antara krisis pendidikan, intervensi internasional, dan pengaruhnya terhadap pembangunan ekonomi. Melalui analisis ini, diharapkan bisa diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang peran pendidikan sebagai investasi dalam modal manusia untuk mendorong perubahan ekonomi.
Baca Juga: Dari Ruang Kelas ke Ruang Radikalisasi
BAB IV Hasil dan Pembahasaan
4.1 Kondisi Pendidikan Ethiopia Tahun 2020-2026

Walaupun Ethiopia sempat mencatat kemajuan dalam perluasan kesempatan belajar di tingkat dasar, sejak 2020, sektor pendidikan di sana justru mengalami kemunduran. Munculnya berbagai persoalan, termasuk pertempuran, dampak pandemi COVID-19, dan krisis kemanusiaan, berujung pada semakin banyaknya anak yang terpaksa putus sekolah.
Angka anak usia sekolah dasar yang tidak bersekolah melonjak dari sekitar 1,8 juta pada 2017 menjadi 4,7 juta pada 2021, kemudian sedikit menurun menjadi kurang lebih 4,2 juta pada 2024. Tidak hanya itu, tingkat partisipasi sekolah juga tercatat merosot tajam selama periode konflik dan pandemi berlangsung.
UNICEF turut melaporkan bahwa gabungan pengaruh dari ketegangan bersenjata, perubahan cuaca, dan pandemi telah membuat kurang lebih 13 juta anak di Ethiopia tidak terdata dalam institusi pendidikan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kemudahan akses untuk bersekolah masih menjadi tantangan serius bagi negara Ethiopia maupun lembaga internasional yang bergerak di bidang pendidikan.
Selama periode dua dekade dari tahun 2000 hingga 2020, tercatat lonjakan jumlah siswa di tingkat sekolah dasar hingga 3,5 kali lipat, sementara jumlah tenaga pengajar mengalami pertumbuhan yang lebih signifikan, mencapai 6,2 kali lipat. Kebijakan desentralisasi turut membuka jalan bagi penempatan guru yang lebih efisien.
Di SNNPR, salah satu dari empat wilayah utama yang menjadi pionir penerapan desentralisasi (kini terbagi menjadi empat distrik), terjadi pergeseran penempatan guru dari perkotaan yang kurang padat penduduk ke sekolah-sekolah yang berlokasi di pedesaan dengan populasi padat. Hal ini berkontribusi dalam pemerataan distribusi tenaga pendidik di kawasan-kawasan terpencil yang memiliki kerentanan terhadap isu pangan dan peternakan (Garcia dan Rajkumar, 2008).
Seiring reformasi desentralisasi dan krisis yang melanda dalam sepuluh tahun terakhir, terjadi lonjakan investasi pada penyediaan layanan kesehatan. Sektor pendidikan pun demikian; anggaran kesehatan di tingkat melonjak lebih dari dua kali lipat antara tahun 2005 dan 2010. Hal ini turut mendongkrak jangkauan layanan antenatal dan perluasan imunisasi di wilayah pedesaan (Faguet dkk. , 2019). Sebagai ilustrasi, pada tahun 2000, hanya 11% anak berusia 12-23 bulan di pedesaan yang menerima vaksinasi lengkap. Angka ini melonjak menjadi 35% pada tahun 2016, namun sayangnya kembali merosot ke 22% pada proyeksi tahun 2024/25 (Ethiopian Statistical Service dan ICF, 2026).
Pada tahun 2026, tingkat partisipasi anak dalam pendidikan formal ternyata masih rendah, di mana mayoritas yang terdaftar tidak dapat melanjutkan ke jenjang selanjutnya, dengan angka hanya 33,1 persen yang sampai di sekolah menengah. Mutu pembelajaran juga menjadi perhatian serius, tercermin dari fakta bahwa 90 persen anak usia 10 tahun tidak menguasai kemampuan membaca atau pemahaman teks dasar. Anak-anak di wilayah pedesaan juga menghadapi tantangan lebih besar dalam mengakses pendidikan, mempertahankan status terdaftar, dan mencapai hasil belajar yang memuaskan.
Krisis yang ditimbulkan oleh pandemi COVID-19, ketegangan bersenjata, dan perubahan iklim telah memaksa setidaknya 13 juta anak di Ethiopia untuk meninggalkan bangku sekolah, yang bisa berimplikasi jangka panjang bagi prospek masa depan mereka. Dampak situasi genting pada sektor pendidikan semakin diperparah oleh berbagai kendala lain, seperti ketentuan sosial yang kaku terkait gender, beban tugas rumah tangga yang berat (khususnya bagi anak perempuan), dan jarak tempuh yang sangat jauh menuju sekolah. Sebagian besar anak yang putus sekolah berasal dari kelompok masyarakat peternak, pengungsi internal, atau mereka yang terpaksa mengungsi akibat konflik.
4.2 Program Pendidikan UNICEF di Ethiopia
– Akses dan pemerataan pendidikan dasar termasuk Pendidikan Dasar Alternatif (ABE)
Pemerintah terus memperluas akses untuk mencapai pendidikan dasar universal sejalan dengan tujuan Education for All. Kemajuan yang cukup besar telah dibuat melalui pembangunan sekolah dengan mengurangi jarak antara sekolah dan rumah siswa. Strategi ABE nasional (sejak 2006) telah memandu perluasan dan transformasi pusat ABE yang ada menjadi sekolah reguler dan pendirian pusat ABE baru. Penyediaan pendidikan alternatif ini menanggapi kebutuhan dan konteks yang berbeda dan, bersama dengan program dukungan khusus untuk meningkatkan kapasitas implementasi di daerah berkembang, telah meningkatkan pendaftaran kelompok etnis yang kurang beruntung dan sebelumnya kurang terlayani.
– Akses dan kesetaraan dalam pendidikan menengah
Dari 371.000 pada 1994/95 menjadi hampir 2 juta pada 2013/14, selama dua dekade terakhir jumlah siswa yang mendaftar ke sekolah menengah telah tumbuh secara dramatis—sekitar lima kali lebih banyak. Tetapi akses yang tidak setara ke sekolah-sekolah ini adalah masalah kronis. Lebih banyak sumber daya difokuskan pada wilayah metropolitan. Mengingat 32.048 sekolah dasar dan 2.333 sekolah menengah, perbedaan ketersediaannya cukup besar. Selain itu, beberapa elemen mempengaruhi permintaan pendidikan menengah, antara lain kemiskinan, sarana transportasi yang sedikit, kebutuhan bekerja (kendala keuangan dan waktu), pernikahan dini (masalah terkait gender), kurangnya perumahan yang dekat dengan sekolah (faktor sosial, budaya, dan ekonomi), dan disabilitas. Aspek-aspek penawaran dan permintaan ini jelas dalam jumlah pendaftaran yang berbeda di seluruh wilayah, dari di bawah 10% di Afar hingga lebih dari 100% di Addis Ababa.
– Mengenai guru dan administrator
Sesuai dengan kebijakan pengembangan guru, ESDP IV berupaya menugaskan guru yang layak secara moral, bersemangat, dan berkualitas secara intelektual di semua jenjang pendidikan umum. Dengan demikian, diprediksi pada tahun ajaran 2014/15, persentase guru sekolah dasar dengan ijazah akan meningkat dari 38% menjadi 100%. Tujuh puluh persen instruktur dasar memenuhi syarat pada tahun 2013/14; siklus pertama berada di 55% dan siklus kedua pada 92%. Meskipun gagal mencapai tujuan, peningkatan ini tidak boleh diabaikan karena persentase guru dengan kredensial tingkat diploma atau lebih tinggi telah meningkat empat kali lipat selama waktu ketika jumlah guru secara keseluruhan meningkat lebih dari 30% dan rasio murid-guru meningkat dari 51 menjadi 47. Selain itu, di tingkat menengah, 93% guru memiliki kredensial yang diperlukan gelar pertama atau gelar Master.
– Infrastruktur dan fasilitas Program Peningkatan Sekolah (SIP)
Dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas sekolah untuk memprioritaskan kebutuhan dan menerjemahkannya ke dalam tindakan yang ditangkap dalam rencana peningkatan sekolah. Hibah sekolah (berdasarkan pendaftaran) dicairkan ke sekolah untuk membiayai perbaikan yang direncanakan. Perbaikan infrastruktur dan fasilitas sekolah belum mencapai standar yang diharapkan di sebagian besar sekolah. Misalnya, sementara lebih dari 92% sekolah dasar melaporkan memiliki jamban, hampir 60% sekolah dasar tidak memiliki akses ke air, hanya 20% yang memiliki klinik dan sekitar setengahnya memiliki pusat pedagogis untuk alat bantu mengajar.
Pusat sumber daya untuk mendukung pendidikan inklusif baru-baru ini didirikan sebagai percontohan di 113 klaster. Kondisi fasilitas sekolah menengah lebih baik daripada sekolah dasar. Hampir semua sekolah menengah memiliki jamban; Empat dari lima memiliki air dan yang sama berbagi pasokan listrik.
Layanan perpustakaan disediakan di 72% sekolah menengah. Standar sekolah sekarang dinilai oleh layanan inspeksi sekolah, yang didirikan pada tahun 2012, yang menggabungkan inspeksi mandiri sekolah dengan kunjungan independen untuk mengukur kinerja dalam kaitannya dengan input, proses, dan output. Penilaian mandiri sekolah pertama, di delapan wilayah pada 2014/15, mendukung argumen bahwa kemajuan sedang berlangsung tetapi standar umumnya tetap di bawah tingkat yang diharapkan.
Program pendidikan UNICEF di Ethiopia untuk tahun 2020 hingga 2026 menitikberatkan pada empat poin penting, yaitu pemulihan proses belajar, peningkatan kualifikasi pengajar, pendidikan di masa krisis, serta perbaikan sarana pendidikan.
Baca Juga: Revolusi Belajar: Memanfaatkan AI Tanpa Kehilangan Daya Kritis
4.3 Evaluasi Program UNICEF di Ethiopia
Diantara tahun 2020 dan 2026, evaluasi atas inisiatif pendidikan UNICEF di Ethiopia mengungkap keberhasilan yang cukup signifikan dalam memperluas jangkauan pendidikan serta meningkatkan mutu pembelajaran, bahkan di tengah badai pandemi COVID-19, sengketa Tigray, dan krisis kemanusiaan lainnya. Untuk membuka pintu pendidikan, UNICEF memprioritaskan pengembalian anak-anak yang terdampak konflik, para pengungsi, dan penutupan sekolah.
Upaya ini diwujudkan melalui skema Pendidikan dalam Keadaan Darurat, perbaikan sekolah, pembentukan ruang belajar sementara, dan pembagian perlengkapan sekolah. Dampak positifnya terlihat dari kembalinya jutaan anak ke bangku sekolah, pemulihan fasilitas pendidikan di wilayah rawan seperti Tigray dan Amhara, serta penyediaan sarana belajar yang memungkinkan kelangsungan kegiatan mengajar. Namun, hambatan berupa kerusakan sarana sekolah, membludaknya jumlah pengungsi, akses terbatas di pedesaan, dan keterbatasan dana kemanusiaan masih membayangi kemajuan ini.
Mengenai kualitas pendidikan, UNICEF berupaya meningkatkan kompetensi pengajar, menyediakan materi pembelajaran, menyempurnakan kurikulum, dan menambal kesenjangan belajar yang tertinggal. Hasil-hasil penting meliputi pembekalan guru dengan metode mengajar yang berpusat pada siswa serta dukungan psikososial, penguatan kurikulum nasional, dan implementasi program Pemulihan Pembelajaran untuk membantu siswa yang tertinggal. Kendala yang masih membentang adalah kurangnya guru yang berkualifikasi, rusaknya fasilitas pendidikan, efek domino dari hilangnya kesempatan belajar akibat konflik dan pandemi, serta jurang perbedaan mutu pendidikan antara kota dan desa. Secara garis besar, UNICEF memainkan peranan vital dalam menjaga agar roda pendidikan terus berputar dan memulai upaya pemulihan sektor pendidikan di Ethiopia, walau realisasi cita-cita jangka panjang menuntut dukungan berkelanjutan dari pemerintah Ethiopia dan para mitra internasional.
Evaluasi program pendidikan UNICEF di Ethiopia menunjukkan bahwa antara tahun 2020 hingga 2026, organisasi ini cukup berhasil dalam meningkatkan akses pendidikan serta membantu pemulihan mutu pembelajaran. Ini terutama dilakukan melalui sejumlah inisiatif seperti Pemulihan Pembelajaran, Pelatihan Guru, Pendidikan dalam Situasi Darurat, dan Rehabilitasi Sekolah. Sasaran utama dari program ini adalah mengembalikan anak-anak yang terpengaruh oleh konflik, perpindahan populasi, dan pandemi COVID-19 ke sekolah, serta memperkuat kemampuan guru dan menciptakan lingkungan belajar yang aman.
Hasil dari program ini jelas terlihat melalui penyediaan kelas sementara, rehabilitasi sekolah di area yang terkena dampak konflik, distribusi alat pendidikan, serta pelatihan untuk guru dan dukungan psikososial bagi para siswa. Namun, efektivitas program masih terhambat oleh beberapa tantangan, seperti konflik bersenjata yang merusak sarana pendidikan, perpindahan penduduk yang mengganggu kelangsungan sekolah, keterbatasan sarana di wilayah pedesaan, serta tingginya kehilangan pembelajaran yang disebabkan oleh pandemi dan perang. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa UNICEF memiliki peran yang cukup signifikan dalam mendukung pemulihan sektor pendidikan di Ethiopia, walaupun pencapaian tujuan secara keseluruhan masih memerlukan dukungan berkelanjutan dari pemerintah Ethiopia dan mitra internasional lainnya.
4.4 Dampak Program UNICEF terhadap Human Capital Ethiopia
Program pendidikan yang dijalankan oleh UNICEF di Ethiopia dari tahun 2020 hingga 2026 memiliki peranan krusial dalam pengembangan modal manusia melalui peningkatan akses pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran, serta pengembangan keterampilan para pengajar. Berbagai inisiatif seperti Pemulihan Pembelajaran, Pelatihan Guru, dan Pendidikan dalam Situasi Darurat membantu anak-anak yang terdampak oleh konflik dan pandemi untuk mendapatkan kembali kemampuan dasar dalam membaca, menulis, dan menghitung, yang menjadi fondasi pendidikan. Selain itu, UNICEF juga memberikan dukungan dalam pelatihan para guru dan penyediaan materi ajar untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran (UNICEF, 2024). Dampak yang dihasilkan sejalan dengan konsep Teori Modal Manusia yang diuraikan oleh Theodore W. Schultz.
Menurut Schultz (1961), “Dengan melakukan investasi pada diri sendiri, individu dapat memperluas pilihan yang tersedia bagi mereka. Ini adalah salah satu cara bagi orang-orang yang merdeka untuk meningkatkan kesejahteraan mereka”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa investasi dalam pendidikan adalah sarana untuk memperkuat kemampuan individu sehingga mereka dapat memperluas peluang ekonomi dan kesejahteraan. Melalui peningkatan literasi dan keterampilan mendasar, program pendidikan UNICEF berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di Ethiopia yang pada akhirnya dapat memajukan produktivitas tenaga kerja dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Schultz (1961) juga mencatat bahwa pendidikan merupakan bentuk investasi dalam modal manusia yang sama pentingnya dengan investasi dalam modal fisik karena berfungsi untuk meningkatkan kapasitas produktif masyarakat. Oleh sebab itu, keberhasilan UNICEF dalam memperluas akses pendidikan serta meningkatkan kualitas pembelajaran dapat dilihat sebagai kontribusi penting terhadap pengembangan modal manusia yang berkelanjutan di Ethiopia.
4.5 Kontribusi Program Pendidikan UNICEF terhadap Pembangunan Ekonomi Ethiopia
Program pendidikan UNICEF di Ethiopia tidak hanya berfungsi dalam meningkatkan akses dan kualitas pendidikan, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi lewat pengembangan sumber daya manusia. Menurut Theodore W. Schultz (1961), pendidikan dianggap sebagai suatu investasi yang dapat menyempurnakan pengetahuan, keterampilan, dan produktivitas individu, sehingga memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi. Dengan berbagai program seperti Pemulihan Pembelajaran, Pelatihan Guru, Pendidikan dalam Situasi Darurat, dan Rehabilitasi Sekolah, UNICEF berupaya meningkatkan kemampuan dasar membaca, berhitung, dan keterampilan belajar anak-anak Ethiopia yang terpengaruh oleh konflik dan pandemi. Peningkatan kualitas pendidikan ini berkontribusi pada pengembangan sumber daya manusia yang lebih mahir dan produktif di masa depan. Menurut Bank Dunia, investasi dalam pengembangan sumber daya manusia memiliki peran vital dalam meningkatkan efisiensi tenaga kerja serta daya saing ekonomi suatu negara. Dalam konteks Ethiopia, peningkatan pendidikan memberikan akses kepada masyarakat terhadap peluang kerja yang lebih baik, meningkatkan pendapatan, serta mengurangi potensi kemiskinan. Dengan demikian, hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi dapat dipahami melalui cara bahwa pendidikan mengembangkan sumber daya manusia, sumber daya manusia selanjutnya meningkatkan produktivitas tenaga kerja, dan produktivitas yang lebih tinggi akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Karena itu, program pendidikan UNICEF dapat dianggap sebagai salah satu bentuk investasi untuk pembangunan berkelanjutan dan memberikan kontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat serta perkembangan ekonomi Ethiopia.
Baca Juga: Pendidikan Multikulturalisme di SD: Solusi Masa Depan atau Sebatas Formalitas Kurikulum?
BAB V Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa UNICEF memainkan peran penting sebagai agen pembangunan untuk mendukung sektor pendidikan di Ethiopia antara tahun 2020 hingga 2026. Program-program yang dijalankan oleh UNICEF mencakup berbagai inisiatif seperti Pemulihan Pembelajaran, Pelatihan Guru, Pendidikan dalam Situasi Darurat, dan Rehabilitasi Sekolah. Tujuannya adalah untuk memulihkan akses pendidikan, meningkatkan kualitas proses belajar, serta memastikan pendidikan yang berkelanjutan bagi anak-anak yang terdampak oleh konflik, pandemi COVID-19, dan krisis kemanusiaan. Berbagai program tersebut telah berhasil dalam memperluas akses pendidikan dengan menyediakan ruang kelas sementara, merenovasi sekolah, mendistribusikan alat-alat pendidikan, serta meningkatkan keterampilan para guru melalui pelatihan yang beragam.
Teori Modal Manusia yang diajukan oleh Theodore W. Schultz, yang menekankan bahwa pendidikan adalah investasi yang sangat penting untuk meningkatkan kapasitas individu dan produktivitas masyarakat. Meskipun demikian, pelaksanaan program-program UNICEF masih menghadapi berbagai tantangan, seperti konflik bersenjata yang merusak infrastruktur pendidikan, tingginya jumlah pengungsi dan pengungsi internal, keterbatasan akses pendidikan di daerah pedesaan, serta minimnya dana untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang terus meningkat. Oleh karena itu, keberhasilan program pendidikan UNICEF dalam mendukung pembangunan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia di Ethiopia masih membutuhkan dukungan yang berkelanjutan dari pemerintah Ethiopia, organisasi internasional, serta pemangku kepentingan lainnya.
5.2 Saran
UNICEF dapat dianggap berhasil sebagai lembaga pembangunan dalam bidang pendidikan di Ethiopia antara tahun 2020 hingga 2026 karena mampu memperluas akses pendidikan, membantu perbaikan kualitas pembelajaran, serta berperan dalam penguatan modal manusia sebagai dasar bagi pembangunan ekonomi. Pemerintah Ethiopia harus meningkatkan kolaborasi dengan UNICEF serta organisasi internasional lainnya untuk memperluas akses pendidikan, terutama di wilayah yang terkena dampak konflik dan daerah pedesaan dengan tingkat partisipasi sekolah yang masih rendah.
Selanjutnya, UNICEF harus terus melanjutkan dan memperluas program pemulihan pembelajaran serta pelatihan untuk guru agar dampak kerugian pembelajaran akibat konflik dan pandemi dapat diminimalkan. UNICEF juga perlu memperkuat program pendidikan dalam situasi darurat untuk memastikan pendidikan bagi anak-anak yang terkena dampak krisis kemanusiaan tetap berlanjut.
Penulis: Maria Yolani Edison (2370750025)
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
BAB VI Daftar Pustaka
Becker, G. S. (1993). Human capital: A theoretical and empirical analysis, with special reference to education (3rd ed.). Chicago: University of Chicago Press.
Schultz, T. W. (1971). Investment in human capital: The role of education and of research. New York: Free Press.
Breton, T. R. (2014). The role of education in economic growth: Theory, history and current returns. Education Research, 56(2), 121–138.
Schultz, T. W. (1961). Investment in human capital. The American Economic Review, 51(1), 1–17.
Website, Laporan, dan Dokumen Resmi
United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 agenda for sustainable development. Retrieved from United Nations SDGs 2030 Agenda
United Nations Development Programme. (2020). Human development report 2020. Retrieved from UNDP Human Development Report
United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. (2022). Global education monitoring report: Sub-Saharan Africa. Retrieved from UNESCO Official Website
United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. (2026). Global education monitoring report: Ethiopia country case study. Retrieved from UNESCO GEM Report Ethiopia Case Study
UNICEF. (2021). Education in emergencies: Ethiopia. Retrieved from UNICEF Global Website
UNICEF. (2022). Education support in Ethiopia. Retrieved from UNICEF Ethiopia
UNICEF. (2023). UNICEF Ethiopia education programme overview. Retrieved from UNICEF Ethiopia
UNICEF. (2024). UNICEF Ethiopia annual report 2024. Retrieved from UNICEF Ethiopia
UNICEF Ethiopia. (2015). Education Sector Development Programme V (ESDP V) 2015/16–2019/20. Addis Ababa: Federal Democratic Republic of Ethiopia & UNICEF Ethiopia. Retrieved from Education Sector Development Programme V (ESDP V)
World Bank. (2018). World development report 2018: Learning to realize education’s promise. Washington, DC: World Bank. Retrieved from World Bank Official Website
World Bank. (2023). Human capital development report. Washington, DC: World Bank. Retrieved from World Bank Official Website
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













