Setiap empat tahun sekali, ada satu fenomena yang selalu muncul di Indonesia. Tiba-tiba media sosial penuh dengan perdebatan soal Argentina, Brasil, Inggris, Prancis, Portugal, hingga Jepang. Orang-orang yang sehari-harinya mungkin tidak punya hubungan apa pun dengan negara-negara tersebut mendadak berubah menjadi pendukung garis keras.
Ada yang rela begadang sampai subuh demi menonton pertandingan. Ada yang membeli jersey tim nasional favoritnya. Bahkan tidak sedikit yang ikut merasakan euforia saat menang dan patah hati saat tim dukungannya kalah.
Lucunya, banyak dari mereka sebenarnya bukan penggemar sepak bola yang aktif. Mereka mungkin jarang menonton Liga 1, Liga Inggris, atau Liga Champions. Namun ketika Piala Dunia dimulai, antusiasmenya bisa mengalahkan penggemar sepak bola yang biasanya mengikuti pertandingan setiap minggu.
Lalu muncul pertanyaan menarik, “Kenapa orang Indonesia bisa begitu total mendukung negara lain saat Piala Dunia?”
Kalau dipikir-pikir, jawabannya ternyata bukan sekadar karena sepak bola. Piala Dunia lebih dari sekadar turnamen olahraga. Di balik pertandingan selama 90 menit, ada cerita tentang identitas, komunitas, dan kebutuhan manusia untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Piala Dunia Bukan Cuma Soal Bola, Tapi Soal Rasa Memiliki
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita selalu ingin merasa terhubung dengan orang lain. Karena itulah kita bergabung dengan komunitas, organisasi, kelompok pertemanan, atau bahkan fandom tertentu.
Nah, saat Piala Dunia berlangsung, muncul sebuah ruang sosial yang sangat besar. Jutaan orang dari berbagai negara berkumpul dalam satu percakapan yang sama yakni sepak bola.
Ketika seseorang memakai jersey Argentina atau Brasil, sebenarnya ia tidak hanya sedang mendukung sebuah tim. Secara tidak sadar, ia juga sedang menunjukkan identitas dirinya sebagai bagian dari kelompok yang lebih besar. Di sinilah letak menariknya.
Seorang mahasiswa di Yogyakarta, pegawai kantor di Jakarta, pedagang di Makassar, hingga pekerja di Surabaya bisa merasakan emosi yang sama ketika Argentina bermain. Mereka mungkin tidak pernah bertemu satu sama lain, tetapi mereka merasa berada di kubu yang sama.
Saat tim favorit mencetak gol, mereka bersorak bersama. Saat tim kesayangan tersingkir, mereka sama-sama kecewa. Perasaan seperti ini membuat pertandingan sepak bola terasa jauh lebih emosional dibandingkan sekadar menonton olahraga biasa.
Karena yang sedang dipertaruhkan bukan hanya skor di papan pertandingan, tetapi juga rasa memiliki terhadap kelompok yang mereka dukung.
Kenapa Kita Bisa Dekat dengan Orang yang Bahkan Tidak Kita Kenal?
Fenomena ini sebenarnya sudah lama dijelaskan dalam ilmu sosiologi. Ada sebuah konsep yang dikenal sebagai imagined community atau “komunitas terbayang”, yang diperkenalkan oleh Benedict Anderson.
Sederhananya, manusia bisa merasa menjadi bagian dari suatu komunitas meskipun tidak mengenal semua anggotanya secara langsung. Contohnya sangat mudah ditemukan saat Piala Dunia.
Pendukung Argentina di Indonesia mungkin jumlahnya jutaan orang. Sebagian besar tidak pernah bertemu satu sama lain. Namun mereka tetap merasa terhubung. Mereka menggunakan simbol yang sama, memiliki harapan yang sama, dan merasakan emosi yang sama ketika pertandingan berlangsung.
Hal yang sama terjadi pada pendukung Brasil, Portugal, Inggris, atau negara lainnya. Mereka membentuk komunitas yang sebenarnya tidak terlihat secara fisik, tetapi sangat nyata secara emosional. Itulah mengapa suasana Piala Dunia selalu terasa spesial.
Baca juga: Profit and Loss Piala Dunia Qatar 2022
Selama satu bulan penuh, jutaan orang di berbagai belahan dunia merasa menjadi bagian dari cerita yang sama. Ada rasa kebersamaan yang muncul secara alami.
Dan di era modern yang serba cepat seperti sekarang, perasaan terhubung dengan banyak orang sering kali menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Messi, Ronaldo, dan Kekuatan media sosial yang bikin orang ikut demam Piala Dunia kalau diperhatikan, sebagian besar orang tidak memilih tim favorit secara acak. Biasanya ada cerita di baliknya.
Banyak orang mendukung Argentina karena mengidolakan Lionel Messi. Ada yang memilih Portugal karena mengagumi Cristiano Ronaldo. Sebagian lainnya jatuh cinta pada Brasil karena sejarah panjang mereka sebagai salah satu negara paling sukses dalam dunia sepak bola.
Ada juga yang mendukung Jepang atau Korea Selatan karena merasa dekat dengan budaya mereka. Pengaruh anime, manga, K-Pop, drama Korea, hingga berbagai produk budaya populer membuat banyak orang merasa memiliki keterikatan emosional dengan negara-negara tersebut.
Artinya, pilihan mendukung sebuah tim sering kali lahir dari pengalaman pribadi dan kedekatan emosional, bukan semata-mata karena faktor olahraga.
Selain itu, media sosial juga punya peran yang sangat besar. Saat Piala Dunia berlangsung, hampir semua platform dipenuhi konten sepak bola. Mulai dari meme lucu, prediksi pertandingan, cuplikan gol, analisis pemain, hingga perdebatan panas antarpendukung.
Orang yang awalnya tidak terlalu tertarik pada sepak bola pun akhirnya ikut terpapar. Lama-kelamaan mereka ikut membaca, ikut berkomentar, dan akhirnya ikut menonton pertandingan.
Fenomena ini sering disebut sebagai efek sosial. Ketika lingkungan sekitar sedang membicarakan satu topik yang sama, kita cenderung ingin ikut terlibat agar tidak merasa tertinggal dari percakapan. Akibatnya, Piala Dunia tidak hanya menjadi tontonan olahraga, tetapi juga menjadi bagian dari budaya populer global yang sulit dihindari.
Lebih dari Turnamen, Piala Dunia Adalah Pengalaman Sosial Bersama
Pada akhirnya, yang membuat Piala Dunia begitu istimewa bukan hanya aksi para pemain di lapangan atau trofi yang diperebutkan. Yang membuatnya spesial adalah kemampuannya menyatukan jutaan orang dalam satu emosi yang sama.
Selama sebulan penuh, orang-orang yang tidak saling mengenal bisa tertawa bersama, tegang bersama, berdebat bersama, bahkan sedih bersama karena pertandingan yang berlangsung ribuan kilometer dari tempat mereka tinggal.
Di tengah dunia yang semakin individual, Piala Dunia menjadi pengingat bahwa manusia tetap membutuhkan komunitas, identitas, dan rasa memiliki.
Jadi, ketika melihat temanmu rela begadang demi Argentina, Brasil, Portugal, atau Inggris, jangan buru-buru menganggap itu sekadar urusan sepak bola.
Karena bisa jadi, yang sebenarnya mereka cari bukan hanya kemenangan tim favorit, melainkan perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Dan mungkin, itulah alasan mengapa Piala Dunia selalu berhasil membuat miliaran orang di seluruh dunia jatuh cinta, lagi dan lagi.
Penulis: M. Faris Taqiyuddin
Mahasiswa Sosiologi, Universitas Sebelas Maret
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













