Scroll Culture dan Masalah Fokus: Tantangan Kendali Diri di Kalangan Generasi Digital

bahaya scrolling
Scroll Culture dan Masalah Fokus: Tantangan Kendali Diri di Kalangan Generasi Digital. Sumber: MMI.

Scroll culture adalah kebiasaan menggulir konten yang disajikan dalam media sosial secara terus menerus tanpa batasan. Scroll culture pada media sosial kini telah menjadi fenomena yang melekat dalam kehidupan generasi digital.

Kebiasaan scrolling tanpa henti ini bukan hanya sekedar hiburan semata, tetapi cerminan dari pola konsumsi informasi yang serba cepat. Meskipun terlihat sederhana, kebiasaan tersebut memberikan dampak serius pada kemampuan fokus, pengendalian diri, dan kesehatan mental individu.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Perilaku scrolling yang berlebihan dalam jangka panjang dapat menurunkan kemampuan fokus serta melemahkan kemampuan berpikir kritis. Esai ini berargumen bahwa scroll culture merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap krisis perhatian di era digital.

Fenomena ini tidak hanya memengaruhi produktivitas dan kesejahteraan psikologis, tetapi juga membentuk ulang cara otak memproses dan memprioritaskan informasi.

Oleh karena itu, penting untuk sadar akan hal ini dan mengembangkan strategi psikologis yang berbasis kendali diri untuk menekan dampak negatifnya. Mengendalikan scroll culture bukan sekadar upaya menjaga fokus, tetapi juga langkah penting dalam mempertahankan kesehatan mental dan kualitas berpikir generasi digital.

Pada era teknologi saat ini, media sosial pada perangkat elektronik canggih memudahkan orang mendapatkan informasi singkat dengan cepat yang membentuk suatu kebiasaan yang disebut budaya scroll culture.

Menurut penelitian Pratama (2025) bahwa perilaku scrolling dapat menyebabkan berkurangnya rentang perhatian dan menyebabkan seseorang melakukan banyak tugas sekaligus, tetapi dengan cara yang kurang efektif.

Algoritma di media sosial memicu pelepasan dopamin yang membuat pengguna merasa kecanduan sensasi kepuasan sesaat sehingga sulit sekali untuk berhenti scrolling. Akibatnya, individu terjebak dalam siklus perilaku adiktif yang sulit dihentikan.

Fenomena ini disebut sebagai “scroll society“, budaya yang menyebabkan pengguna lebih banyak menggulir dari pada memahami isi konten secara mendalam.

Dengan demikian, scroll culture bukan sekadar kebiasaan digital, tetapi juga bentuk perilaku sosial baru yang menunjukkan perubahan mendasar pada cara generasi digital berinteraksi dengan informasi.

Kebiasaan scrolling yang berlebihan di media sosial telah terbukti memberikan dampak negatif yang cukup besar terhadap kemampuan fokus dan kesehatan mental penggunanya.

Pada penelitian Rahmawati (2025) menunjukkan bahwa aktivitas menggulir tanpa henti menyebabkan kelelahan mental, kelesuan emosional, hingga obesitas informasi yang berdampak pada gangguan konsentrasi dan motivasi belajar.

Psikolog dari IPB University (2025) menjelaskan fenomena “brain rot” yaitu penurunan kemampuan berpikir kritis dan kelelahan mental akibat paparan konten digital berkualitas rendah secara terus menerus yang sering terjadi pada remaja dan dewasa muda pengguna media sosial.

Lalu adapun fenomena doomscrolling (terus-menerus membaca berita negatif) dan zombie scrolling (membuka media sosial tanpa sadar dan tanpa tujuan yang jelas) yang memperparah keadaan ini karena pengguna terus mengekspos diri pada berita negatif atau konten tanpa makna.

Akibatnya, menimbulkan kecemasan, stres, depresi, dan menurunnya kendali diri serta kemampuan fokus jangka panjang. Pada akhirnya scroll culture berpotensi menimbulkan siklus ketidakmampuan mengatur perhatian yang merusak keseimbangan psikologis di generasi muda ini.

Baca Juga: Doomscrolling: Ketika Konsumsi Informasi Berlebihan Mengancam Kesehatan Mental

Membangun kendali diri di tengah di era digital merupakan tantangan besar karena pengguna menghadapi berbagai hambatan psikologis, emosional, dan sosial yang saling berkaitan. S

ecara psikologis, kebiasaan scrolling konten tanpa henti memicu pelepasan dopamin yang menimbulkan rasa senang sesaat, sehingga individu cenderung terus mencari kepuasan instan dan sulit menghentikan perilaku tersebut.

Dari sisi emosional, banyak pengguna menjadikan aktivitas scroll sebagai pelarian dari stres, kecemasan, atau kebosanan, sehingga media sosial berfungsi sebagai bentuk pengalihan diri yang tidak sehat.

Selain itu, tekanan sosial juga menjadi tantangan itu dengan adanya fenomena fear of missing out (FOMO) membuat pengguna merasa harus selalu terhubung agar tidak tertinggal informasi atau interaksi sosial.

Perilaku scrolling ini bahkan telah menjadi norma sosial yang dianggap wajar, sehingga sulit menyadari bahwa kebiasaan ini merugikan.

Meskipun kebiasaan scrolling sudah menjadi hal biasa bagi banyak orang, bukan berarti hal itu tidak bisa diubah. Ada beberapa cara yang bisa membantu mengendalikan diri di era digital ini, seperti belajar literasi digital, berlatih mindfulness, dan membatasi waktu penggunaan media sosial.

Menurut Pratama (2025), strategi digital wellbeing atau kesejahteraan digital penting dilakukan agar tidak terlalu bergantung pada media sosial.

Literasi digital membantu untuk memahami bagaimana algoritma bekerja, kenapa bisa terus tergoda untuk menggulir, dan bagaimana cara menggunakan media sosial secara lebih sadar. Dengan begitu, individu dapat bisa memilih informasi yang benar-benar bermanfaat bagi individu tersebut.

Selain itu, latihan mindfulness atau kesadaran diri juga bisa membantu individu dengan cara berhenti sejenak, menarik napas dalam, atau memperhatikan perasaan saat sedang scrolling media sosial, dan lebih sadar kapan harus berhenti.

Membatasi penggunaan waktu media sosial juga penting dengan menggunakan alarm, pengingat di ponsel, atau aturan pribadi yang dibuat. Dukungan dari teman, keluarga, atau lingkungan juga sangat berpengaruh, karena kebiasaan baru akan lebih mudah dibangun kalau dilakukan bersama.

Jadi, mengendalikan diri di era digital bukan hanya soal membatasi waktu di depan layar, tetapi juga soal belajar menggunakan teknologi dengan lebih bijak, sehat, dan seimbang agar tetap punya kendali atas perhatian dan hidup.

Baca Juga: Berapa Banyak Waktu yang Kamu Habiskan di Smartphone? Ini Pengaruhnya pada Kehidupan Remaja!

Scroll culture sudah menjadi bagian dari keseharian generasi digital yang membawa pengaruh besar pada kemampuan fokus dan kesehatan mental penggunanya.

Penelitian mengatakan bahwa kebiasaan menggulir media sosial secara terus-menerus bisa menyebabkan kelelahan pikiran, sulit berkonsentrasi, dan menurunnya semangat belajar.

Fenomena seperti doomscrolling juga ikut memperparah kecemasan, stres, hingga depresi, yang akhirnya melemahkan kemampuan kendali diri para pengguna. Scroll culture memang sulit untuk dihindari di era digital yang serba cepat, tetapi bukan berarti tidak bisa dikendalikan.

Untuk menghadapi hal ini, penting bagi kita untuk meningkatkan kesadaran psikologis lewat edukasi literasi digital, latihan mindfulness, serta membatasi waktu penggunaan media sosial.

Dengan cara yang tepat, generasi digital bisa lebih bijak dalam mengelola konsumsi media, menjaga kesehatan mental, dan meningkatkan produktivitas serta fokus dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Hanayra Yulza Pertiwi (G1C124045)
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi (UNJA)

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Daftar Pustaka

Pratama, A. R. W., & Amir, D. R. (2025). Dampak scrolling tanpa henti: Analisis dampak media sosial terhadap pola pikir, kesehatan mental, dan dinamika   kehidupan modern serta perspektif di era digital. Dalam Prosiding Seminar          Nasional Pendidikan Teknologi Informasi dan Pendidikan Matematika             (SENTIMAT) FPMIPA 2025, IKIP PGRI Bojonegoro (pp. 34-44).

Tsani, K. I., Aly, M., Garini, S. A., Putri, N. A., Yuwinanto, H. P., & Mutia, F. (2025). Dampak Scroll Culture terhadap Daya Konsentrasi Generasi Z: Tinjauan      Literatur Psikologi dan Media Digital. Jurnal Penelitian Inovatif, 5(4), 2723-   2730. https://doi.org/10.54082/jupin.1673

Latief, R. (2025). Relasi Scrolling Culture terhadap Kesehatan Mental Netizen di Media Sosial. Jurnal Al-Irsyad Al-Nafs: Jurnal Bimbingan dan Konseling    Islam, 12(1), 19-31. https://doi.org/10.24252/al-irsyadal-nafs.v12i1.60374

Giancola, D., Travers, R., & Coulombe, S. (2024). Scrolling through the COVID-19 pandemic: Exploring the perceived effects of increased social media use on the mental health of undergraduate university students. Social Media + Society, 10(1). 1-15. https://doi.org/10.1016/j.smns.2024.100071

IPB University. (14 Maret 2025). Psikolog IPB University: Kebiasaan doomscrolling dan zombiescrolling sebabkan brain rot dan kelelahan mental. https://www.ipb.ac.id/news/index/2025/03/psikolog-ipb-university-kebiasaan-doomscrolling-dan-zombiescrolling-sebabkan-brain-rot-dan-kelelahan-mental/

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses