Medan, MMI – Menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.00 WIB, gerbang Toko Shafa Aneka Snack di Bandar Selamat masih tertutup rapat. Namun, puluhan warga medan telah berkerumun, bersiap melakukan “war” kue Lebaran demi mengamankan stok terbaik. Semakin sore, ternyata semakin besar antusias warga untuk berburu kue Lebaran. Bukan hanya ibu-ibu, ternyata bapak-bapak juga ikut antusias membantu para ibu berburu kue Lebaran.
Meskipun telah beroperasi sejak pukul 07.30 WIB, arus pengunjung terpantau masih membeludak hingga malam hari. Bahkan saat jeda berbuka puasa, warga tetap setia menunggu di lokasi, bahkan beberapa di antaranya memilih untuk berbuka puasa di area Toko Shafa Aneka Snack. Hal ini dilakukan demi mematuhi satu kesepakatan tak tertulis: siapa yang datang lebih awal, dialah yang berhak mendapatkan stok terbaik.
Pemandangan ini bukan tanpa alasan. Melambungnya harga bahan baku kue selama Ramadhan—seperti mentega, tepung, dan cokelat yang mencapai ratusan ribu rupiah—membuat uang Rp100.000 terasa tidak berarti. Kondisi tersebut mendorong warga mencari alternatif yang lebih ramah di kantong. Membeli kue siap saji langsung dari produsen atau grosir dianggap jauh lebih praktis dan menyelamatkan angaran hari raya.
Grosir Kue: Penyelamat Anggaran Lebaran
Ketertarikan warga terhadap harga miring ini bahkan melampaui batas kecamatan. Salah seorang warga asal Helvetia mengaku rela menempuh jarak jauh dan mengantre pada malam hari demi harga yang lebih murah. “Kami dari Helvetia, memang jauh ke sini, tapi harga di sini yang murah-murah,” ujarnya saat menanti gerbang dibuka.
Kegigihan warga dalam mencari toko kue ini membuktikan bahwa jarak yang jauh antar-kecamatan tidak lagi menjadi penghalang demi mendapatkan harga yang jauh lebih murah.
Baca juga: Di Balik Meriahnya Lebaran: Berkah Besar atau Risiko Tersembunyi
Masyarakat lebih memilih untuk meluangkan waktu serta tenaga ekstra daripada harus membayar harga dua kali lipat di pasar atau toko sekitar rumah. Pilihan tersebut dianggap sebagai cara paling efisien bagi warga untuk tetap bertahan di tengah kenaikan harga bahan pokok.
Gerbang Dibuka, “War” Kue Dimulai
Perjuangan warga dalam berburu kue Lebaran ekonomis ternyata tidak berakhir setelah menemukan toko saja. Perjuangan yang sebenarnya baru dimulai tepat pukul 19.15 WIB ketika operasional toko kembali dibuka. Situasi yang semula tertib seketika berubah menjadi “war” kecil. Dengan sigap, para pengunjung—baik ibu-ibu maupun bapak-bapak—bergerak cepat menuju deretan rak sempit untuk mengamankan toples incaran mereka.

Fenomena ini menjadi potret nyata kegigihan warga dalam menyiasati efisiensi ekonomi di tengah melonjaknya harga bahan pokok pembuatan kue. Meskipun harga mentega dan cokelat melambung tinggi, hal tersebut tidak menyurutkan semangat apalagi membuat warga pesimis dalam mempersiapkan hari yang fitri. Mereka justru memilih memberikan tenaga ekstra untuk menempuh jarak jauh dan mengantre sejak sore hari demi mendapatkan harga yang lebih ekonomis.
Lelahnya perjuangan mengantre akhirnya terbayar lunas saat warga keluar dengan kantong plastik besar di genggaman mereka. Senyuman yang merekah membuktikan bahwa antusiasme masyarakat tidak menurun sedikit pun walau harus berdesakan di tengah situasi “war” kue. Bagi warga, persiapan Lebaran tetap harus maksimal tanpa harus memeras habis seluruh isi dompet.
Penulis:
- Elsa Tri Setia Simbolon (2505181085)
- Hernawati Indah Pardosi (2505181015)
Mahasiswa Teknik Komputer dan Informatika, Politeknik Negeri Medan
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












