Malaysia, MMI – Pada Selasa, 2 Juli 2025, sebanyak 19 mahasiswa IPB University memulai perjalanan pengabdian mereka di Sekolah Buku Jalanan Chow Kit (BJCK), Kuala Lumpur, Malaysia.
Melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Internasional yang berlangsung hingga 29 Juli 2025, para mahasiswa lintas fakultas ini terjun langsung mendampingi anak-anak di kawasan Chow Kit.
Di tengah hiruk-pikuk Kuala Lumpur, kawasan Chow Kit sering kali dipandang sebelah mata. Tak banyak yang menengok apa yang terjadi di lorong-lorong sempitnya.
Anak-anak yang matanya seharusnya berbinar ceria di bangku sekolah, namun kini hanya menatap kosong masa depan yang tak pasti.

Mereka adalah anak-anak tanpa kewarganegaraan. Mereka adalah korban tak langsung dari berbagai faktor kompleks, dengan salah satu yang terbesar adalah pernikahan sesama pekerja migran yang tidak terdaftar di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) maupun catatan sipil lokal.
Situasi ini secara terang-terangan membatasi hak asasi manusia, menghalangi anak-anak ini untuk mendapatkan hak dasar mereka, khususnya pendidikan.
Tanpa dokumen resmi yang sah, seperti akta kelahiran atau surat nikah orang tua yang diakui secara hukum, anak-anak ini otomatis menjadi tidak terlihat di mata sistem.
Akibatnya, mereka kesulitan untuk mendaftar di sekolah formal, bahkan sekadar mengikuti ujian kesetaraan.

Namun, di balik segala keterbatasan, berdirilah gerakan kecil dengan cita-cita besar, Buku Jalanan Chow Kit (BJCK). Gerakan ini hadir sebagai ruang belajar bagi anak-anak yang lahir di tengah keterbatasan.
Semangat kebersamaan ini tak lahir begitu saja. Butuh tangan-tangan yang mau menyingsingkan lengan baju, menjemput anak-anak ke jalan, dan merajut kepercayaan dari para orang tua.
Kini, semangat itu pun semakin tumbuh dengan hadirnya mahasiswa yang ikut terjun langsung, salah satunya dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Internasional, para mahasiswa berkesempatan belajar sekaligus mengabdi di Chow Kit.
Mereka tidak sekadar datang mengajar, tetapi juga mendengar dan belajar bersama anak-anak, saling menguatkan mimpi di sudut Chow Kit.
Kita sering lupa bahwa pendidikan tidak selalu harus berdinding tembok megah. BJCK membuktikan, di manapun ruang belajar bisa hidup, asal ada niat dan keberpihakan.
Menurut Bang Azril, pengurus pembangunan komunitas Buku Jalanan Chow Kit, pendidikan di Chow Kit adalah cara untuk mengembalikan makna belajar ke akarnya.
“Bagi kami, BJCK bukan sekadar mengajar baca tulis, tapi menjadi pengingat bahwa masih banyak anak di sudut kota ini yang butuh uluran tangan, bahkan hanya untuk bisa menulis nama sendiri. Kami ingin menyalakan harapan, agar mimpi mereka tak padam hanya karena lahir di tempat yang sering dilupakan,” ujarnya.
Chow Kit mungkin tetap akan jadi kawasan padat, dengan banyak tantangan sosial. Namun setidaknya, lewat buku-buku jalanan, selalu ada jalan untuk mereka menemukan mimpinya.
Penulis:
1. Cheerisha Balya Akhlima
2. Dayinta Syakira Pynastika Sofyan
Mahasiswa IPB University
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














