Ejekan di Game Online: Candaan yang Bisa Menjadi Kebiasaan Berbahaya

Game Online
Ilustrasi Toxic Gaming (Sumber: MMI)

Ketika ruang hiburan digital mulai terbiasa dengan hinaan, etika bermain dan cara berkomunikasi ikut dipertaruhkan.

Game online kini menjadi hiburan yang dekat dengan banyak anak muda. Melalui game, seseorang bisa bermain bersama teman, melatih kerja sama, dan melepas penat. Namun, di balik keseruannya, ada kebiasaan yang sering dianggap biasa, yaitu saling mengejek saat bermain. Kata-kata kasar, hinaan, bahkan ucapan yang menyinggung fisik, daerah, suku, atau ras sering muncul seolah-olah itu hanya bagian dari permainan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Menurut saya, ejekan di game online tidak bisa terus dianggap sebagai candaan biasa. Walaupun terjadi di dunia virtual, ucapan yang menyakitkan tetap bisa berdampak pada orang yang menerimanya. Jika dibiarkan, kebiasaan mengejek dapat membentuk perilaku toxic dan membuat pemain terbiasa merendahkan orang lain.

Ejekan biasanya muncul ketika permainan tidak berjalan sesuai harapan. Saat tim kalah, ada pemain yang melakukan kesalahan, atau strategi gagal, sebagian orang langsung meluapkan emosi dengan kata-kata kasar. Awalnya mungkin dianggap spontan, tetapi jika dilakukan berulang-ulang, ucapan seperti itu bisa menjadi kebiasaan. Pemain yang terbiasa menghina di dalam game bisa kehilangan rasa bersalah saat berbicara kasar.

Masalahnya, tidak semua orang bisa menerima ejekan dengan santai. Ada pemain yang terlihat diam, tetapi sebenarnya merasa malu, tersinggung, atau tidak nyaman. Apalagi jika ejekan sudah menyentuh fisik, asal daerah, bahasa, suku, ras, atau identitas tertentu. Candaan seperti itu bukan lagi sekadar gurauan, melainkan sudah masuk ke perilaku yang merendahkan orang lain.

Kebiasaan mengejek juga membuat lingkungan bermain menjadi tidak sehat. Pemain baru atau pemain yang masih belajar bisa takut mencoba karena khawatir dihina ketika melakukan kesalahan. Padahal, setiap orang pasti pernah belajar dari awal. Jika setiap kesalahan selalu dibalas dengan hinaan, game online tidak lagi menjadi tempat hiburan, tetapi berubah menjadi ruang yang penuh tekanan.

Selain itu, budaya toxic di game online dapat mengganggu kerja sama tim. Pemain menjadi lebih sibuk mencari siapa yang salah daripada memperbaiki permainan. Komunikasi yang seharusnya membantu strategi justru berubah menjadi saling menyalahkan. Akibatnya, suasana bermain menjadi tidak nyaman dan tujuan utama game sebagai hiburan ikut hilang.

Dunia online memang sering membuat orang merasa bebas berbicara karena tidak bertemu langsung dengan lawan bicaranya. Namun, kebebasan di ruang digital tetap memiliki batas. Di balik layar, tetap ada manusia yang memiliki perasaan. Karena itu, pemain perlu sadar bahwa kata-kata yang diucapkan saat bermain tetap memiliki dampak.

Karena itu, ejekan di game online tidak seharusnya dinormalisasi. Bercanda saat bermain memang boleh, tetapi candaan tetap harus tahu batas. Jika sebuah ucapan membuat orang lain merasa direndahkan, malu, atau tersakiti, maka ucapan itu tidak bisa disebut sebagai candaan yang wajar.

 

Penutup

Untuk mengurangi kebiasaan ini, pemain perlu mulai menjaga ucapan saat bermain. Mengkritik cara bermain teman satu tim boleh saja, tetapi sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang lebih sopan dan jelas. Komunitas game juga perlu berani menegur perilaku toxic, bukan malah membiarkannya menjadi hal biasa.

Pada akhirnya, game online seharusnya menjadi ruang untuk bersenang-senang, bekerja sama, dan melatih sportivitas. Menang atau kalah adalah hal biasa, tetapi menghargai sesama pemain tetap penting. Jika pemain bisa mengontrol emosi dan menjaga bahasa, dunia game online akan menjadi tempat yang lebih sehat dan nyaman untuk semua orang.

 


Penulis: Abdul Safar
Mahasiswa Pendidikan Komputer, Universitas Mulawarman


Dosen Pengampu: Marwah Ulwatunnisa, S.Pd.,M.Pd.


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses