Kajian Manuskrip: Lantunan Dalailul Khairat di Negeri Syariat

dalailul khairat

Filologi dan Kodikilogi

Menurut Wikipedia, Filologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “philos” yang berarti cinta dan “logos” yang berarti senang bertutur, juga merupakan ilmu yang memperbaiki teks untuk siap dibaca dan terbebas dari sebuah kesalahan. Sedangkan Kodikologi mengkhususkan pada pemahaman yang mengkaji fisik naskah bahkan semua hal yang menyebabkan naskah itu ada. dapat dikatakan, bahwa dengan ruang lingkup seperti ini maka Kodikologi bisa disebut juga dengan ilmu sejarah manuskrip juga dapat berfungsi sebagai ilmu bantu Filologi.

Melantunkan kitab Dalail Khairat sudah menjadi tradisi dan rutinitas masyrakat Aceh di masjid, dayah, pesantren, surau dan “meunasah-meunasah” (mushalla). Seperti halnya Alquran, Dalail Khairat ini juga kerap dimusabaqahkan. Apalagi dalam bulan atau momentum maulid Nabi Muhammad SAW, perayaan/peringatan maulid kerap diisi dengan ceramah dan zikir maulid berupa pembacaan Dalail Khairat.

Sejarah

Namanya adalah Abu ‘Abdullah Muhammad bin Fattah bin ‘Abdurrahman bin Sulaiman Al-Jazuli. Beliau lahir di daerah Jazulah, salah satu daerah di kawasan Sus, di selatan Maroko. Beliau memiliki nasab yang tersambung hingga ke sahabat Ali bin Abi Thalib. Tidak ada yang tahu pasti tanggal kelahirannya, ada yang mengatakan beliau lahir pada tahun 807 H.

Beliau dikenal dengan Sidi Muhammad Ben Sleman, dan sekarang nama tersebut menjadi nama sebuah kawasan di kota Marrakech. Beliau mulai mempelajari Al-Quran dan ilmu lainnya di tanah kelahirannya hingga akhirnya berkelana dari daerahnya di sekitar akhir abad ke-8 atau awal abad 9 masehi.

Imam al-Jazuliy belajar di Fas yaitu sebuah kota yang cukup ramai yang terletak tak jauh dari Mesir. Di kota ini pula ia menulis kitab Dalail Khairat yang terkenal itu. Kitab ini merupakan kumpulan Shalawat dengan beragam versi redaksi. Sebagaimana al-Barzanji , muatan salawat dengan berbagai variannya, sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW dengan keindahan bahasa.

Adapun sebab musabab Sayyid Muhammad Al-Jazuli mengarang kitab Dalailul Khairat adalah karena pada suatu saat beliau singgah di suatu desa bertepatan dengan waktu (habisnya) sholat dhuhur. Tetapi beliau tidak menjumpai seorang pun yang dapat beliau tanyai untuk mendapatkan air wudlu. Akhirnya beliau menemukan sebuah sumur yang tidak ada timbanya, maka beliau berputar-putar di sekitar sumur dalam keadaan bingung karena tidak menemukan alat untuk menimba air, sehingga mnemukan anak kecil yang membantunya.

Nusantara dan Dalailul Khairat

Tradisi sufisme Islam bisa kita lihat di seluruh fase peradaban Islam di Nusantara. Mulai dari Aceh, Sumatera, Kalimantan, Jawa hingga Sulawesi. Salah satu literatur yang menjadi bagian dari tradisi sufistik adalah pembacaan Dalail Khairat.

Jejak sejarah mencatat bahwa Dalail Khairat sudah rutin dibaca oleh masyarakat Aceh sejak abad ke 17. Aceh sebagai pintu masuknya Islam di Nusantara memiliki banyak sekali kesenian islami yang tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan peradaban Islam.

Satu di antaranya adalah seni membaca Dalail Khairat yang oleh masyarakat Aceh disebut dengan Dalae Khairat atau Dalae (berdalail). Membaca kitab Dalail Khairat sudah menjadi tradisi dan ritual rutin bagi para jamaah masjid, dayah, pesantren, surau dan meunasah-meunasah desa di Aceh. Seperti halnya Alquran, Dalail Khairat ini juga kerap dimusabaqahkan pada peringatan hari besar Islam, terutama momentum maulid Nabi Muhammad saw.

Tradisi Masyarakat

Lumrahnya kegiatan melantunkan dalilul khairat “Dalaee” di lakukan dalam seminggu sekali yaitu, pada malam jum’at. Dan ada juga pada malam selasa dan malam lainnya. Ia juga kerap dilantunkan pada peringatan hari besar Islam, khususnya peringatan maulid nabi Muhammmda SAW. Cara pelantunanya juga bervariasi, dengan tilawah dan juga langgam lainnya, kemudian di penghujung urutan bacaan disusul dengan syair-syair yang di lantunkan dengan irama yang bervariasi. Begitu indahnya bunyi lantunan dalailul khairat di negeri syariat yang rutin dilantunkan oleh masyarakat.

Keutamaan Mengamalkan Dalailul Khairat

Keutamaan mengamalkan Dalailul Khairat yang sangat masyhur di kalangan para pengamal wirid ini adalah cepatnya terkabul hajat yang diinginkan oleh para pembacanya. Sewaktu-waktu menginginkan suatu hal, mudah sekali keinginan tersebut terkabul. Namun meski begitu, hendaknya para pengamal Dalailul Khairat dalam membaca wirid ini bertujuan murni mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ila Allâh) tanpa mengharap pamrih apa pun yang bersifat duniawi. Dengan demikian, wujud rasa keikhlasan dalam mengamalkannya. Wallahu a’lam.

Armayanda
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah DKI Jakarta

Editor: Muhammad Fauzan Alimuddin

Baca juga:
Perlukah Marah dalam Islam?
Dampak Covid-19 terhadap Ekonomi maupun Bisnis Syariah serta Peran Lembaga Keuangan Sosial Islam
Reproduksi Remaja dalam Islam

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI