Melalui Alat Pembuat Cocopeat Sederhana, Mahasiswa KKN Undip di Desa Kebonagung Dorong Potensi Ekonomi dan Kurangi Sampah Lingkungan

KKN Tim 1 IDBU-76 UNDIP
Mahasiswa KKN Tim 1 IDBU-76 UNDIP melakukan penyerahan Mesin Cocopeat kepada Perwakilan Kelompok Tani Desa Kebonagung (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Grobogan, MMI – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IDBU-76 Universitas Diponegoro (Undip) periode 2024/2025 yang bertugas di Dusun Tebon Krajan, Kecamatan Tegowanu, Desa Kebonagung, Kabupaten Grobogan, berhasil melaksanakan program kerja yang menjawab langsung kebutuhan masyarakat.

Mereka merancang dan membuat dua jenis alat pembuat cocopeat sederhana untuk mengatasi masalah limbah sabut kelapa yang menumpuk sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi warga.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sejak diterjunkan pada 7 Juli 2025, tim KKN IDBU-76 Undip di Desa Kebonagung telah mengidentifikasi berbagai potensi dan tantangan di masyarakat. Salah satu yang paling menonjol adalah melimpahnya limbah sabut kelapa kering yang seringkali hanya menjadi sampah tanpa diolah.

Berangkat dari minimnya informasi dan keterbatasan alat, para mahasiswa berinisiatif menciptakan solusi teknologi tepat guna yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Baca juga: Implementasi Teknologi Ramah Lingkungan Berbasis Energi Surya untuk Pengering Rengginang

Program kerja utama yang diusung adalah pembuatan Alat Alternatif Pembuat Cocopeat Sederhana yang dinamakan “Cocovator”. Inovasi ini terdiri dari dua varian alat, yaitu unit yang menggunakan mesin penggerak dari pompa air bekas dan satu unit lainnya bekerja secara manual.

Keunggulan utama dari kedua alat ini adalah biaya produksi yang murah serta bahan bakunya mudah dijangkau di lingkungan sekitar, sehingga mudah untuk direplikasi oleh warga.

Alternatif Alat Pembuat Cocopeat Sederhana yang Diciptakan Mahasiswa KKN Tim 1 IDBU-76 UNDIP (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Pada tanggal 16 Juli 2025, telah dilaksanakan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan dan penggunaan alat. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan cara kerja alat, tetapi juga menumbuhkan kesadaran (awareness) bahwa limbah sabut kelapa bisa diolah menjadi cocopeat, sebuah media tanam organik yang subur dan bernilai jual.

Program ini ditujukan secara khusus bagi Kelompok Tani dan Ibu-ibu PKK di Desa Kebonagung, namun terbuka untuk seluruh warga dusun agar siapa pun dapat mengolah limbah sabut kelapa di rumahnya.

Salah seorang perwakilan Mitra KEPM (Kelembagaan Ekonomi Petani Makmur), Bapak Sriyono, menyambut baik inovasi ini. “Warga desa sebenarnya sudah tahu kalau sabut kelapa bisa jadi media tanam, tapi kami butuh alat alternatif untuk membuatnya karena mesin yang ada di pasaran saat ini harganya tergolong mahal.” ujarnya.

Warga menunjukkan antusiasme yang cukup baik selama sesi demonstrasi, membuktikan bahwa program ini tepat sasaran. Dengan adanya alat ini, warga kini memiliki solusi nyata untuk mengurangi tumpukan sampah sabut kelapa. Harapan besarnya, pengolahan cocopeat ini dapat menjadi sumber penghasilan baru bagi keluarga dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat Desa Kebonagung.

Program KKN yang akan berakhir pada 19 Agustus 2025 ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan. Universitas Diponegoro melalui para mahasiswanya berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program yang inovatif dan solutif, memberikan manfaat nyata bagi pengembangan masyarakat.

 

Penulis: Rizky Adi Firmansyah
Mahasiswa Teknik Industri, Universitas Diponegoro

Dosen Pengampu: Faradhina Azzahra, S.T., M.Sc.

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses