Implementasi Teknologi Ramah Lingkungan Berbasis Energi Surya untuk Pengering Rengginang

Implementasi Teknologi Ramah Lingkungan Berbasis Energi Surya untuk Pengering Rengginang
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Abstract

Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) are the main drivers of the local economy, including in Trawas District, Mojokerto Regency. One of the MSMEs’ flagship products in the region is rengginang. However, the traditional rengginang drying process is highly dependent on the weather and is less hygienic, impacting quality and production flow, especially during the rainy season. Through this community service activity, the implementing team implemented a simple solar-powered dryer as an appropriate technology to support a more efficient and clean rengginang production process. The activity was carried out in a participatory manner through the stages of needs identification, tool design, user training, and evaluation of results. The results of the community service showed that the use of this dryer can speed up drying time, improve product quality, and reduce the risk of contamination. MSME partners welcomed this technology because it is easy to use and can operate without dependence on sunny weather or electricity. This activity is expected to encourage.

Keywords: MSME production capacity and contribute to sustainable community economic empowerment.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Abstrak

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan penggerak utama ekonomi lokal, termasuk di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Salah satu produk unggulan UMKM di wilayah tersebut adalah rengginang. Namun, proses pengeringan tradisional rengginang sangat bergantung pada cuaca dan kurang higienis, sehingga berdampak pada kualitas dan kelancaran produksi, terutama saat musim hujan. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, tim pelaksana mengimplementasikan alat pengering sederhana berbasis energi surya sebagai teknologi tepat guna untuk mendukung proses produksi rengginang yang lebih efisien dan bersih. Metode kegiatan dilakukan secara partisipatif melalui tahap identifikasi kebutuhan, perancangan alat, pelatihan penggunaan, hingga evaluasi hasil. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa penggunaan alat pengering ini mampu mempercepat waktu pengeringan, meningkatkan mutu produk, dan mengurangi risiko kontaminasi. Mitra UMKM menyambut baik teknologi ini karena mudah digunakan dan dapat beroperasi tanpa ketergantungan pada cuaca cerah maupun listrik. Kegiatan ini diharapkan mendorong peningkatan kapasitas produksi UMKM serta berkontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Kata Kunci: UMKM, Rengginang, Teknologi Tepat Guna, Energi Surya, Pemberdayaan Masyarakat

Pendahuluan

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan ekonomi di Indonesia, terutama di wilayah pedesaan. UMKM berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja, mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, serta menjadi wahana pemberdayaan masyarakat. Di wilayah Kabupaten Mojokerto, khususnya Kecamatan Trawas, geliat pertumbuhan UMKM terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pelaku usaha di daerah ini yang memanfaatkan potensi sumber daya lokal untuk menghasilkan produk-produk olahan pangan tradisional, salah satunya adalah rengginang.

Rengginang merupakan makanan ringan berbahan dasar beras ketan yang banyak diproduksi oleh UMKM rumahan karena proses pembuatannya sederhana dan bahan bakunya mudah didapat. Produk ini tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga memiliki nilai budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Di Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, usaha produksi rengginang masih menjadi salah satu sumber pendapatan utama bagi sebagian ibu rumah tangga. Namun demikian, dalam praktiknya, para pelaku UMKM masih menggunakan metode tradisional dalam proses produksinya, terutama pada tahap pengeringan.

Pengeringan merupakan proses yang sangat krusial dalam menentukan kualitas akhir rengginang. Saat ini, sebagian besar pelaku UMKM masih mengandalkan metode pengeringan terbuka dengan cara menjemur di bawah sinar matahari secara langsung. Metode ini memiliki keterbatasan signifikan, terutama saat menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu. Ketika musim hujan tiba atau kelembapan tinggi, proses pengeringan menjadi terganggu, sehingga produksi terhambat dan kualitas produk menurun. Selain itu, metode ini juga memiliki risiko higienitas karena produk rentan terpapar debu, serangga, dan mikroorganisme dari lingkungan terbuka.

Permasalahan tersebut menunjukkan perlunya inovasi teknologi yang mampu membantu pelaku UMKM dalam meningkatkan efisiensi produksi dan menjaga kualitas produk. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah penggunaan alat pengering berbasis energi surya. Teknologi ini memanfaatkan panas matahari dalam sistem tertutup atau semi-tertutup untuk mengeringkan produk secara lebih higienis, stabil, dan efisien, tanpa bergantung langsung pada kondisi cuaca. Selain ramah lingkungan, teknologi ini juga dapat dirancang sebagai alat tepat guna dengan biaya terjangkau dan pemeliharaan yang mudah dilakukan oleh masyarakat.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, tim pelaksana berupaya untuk mengimplementasikan alat pengering energi surya kepada pelaku UMKM pengolah rengginang di Desa Selotapak. Kegiatan ini meliputi pelatihan penggunaan alat, pendampingan teknis, dan evaluasi hasil pengeringan. Diharapkan, implementasi teknologi ramah lingkungan ini dapat menjadi solusi konkret untuk meningkatkan kapasitas produksi, mutu produk, dan daya saing UMKM di wilayah pedesaan secara berkelanjutan.

Kajian Literatur

UMKM dan Perannya dalam Ekonomi Lokal

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Selain menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, UMKM juga memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UKM (2023), UMKM menyumbang sekitar 60,5% terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja di Indonesia. Keunggulan utama UMKM terletak pada fleksibilitas, adaptabilitas, serta keterlibatannya dalam menggerakkan ekonomi rakyat, khususnya di daerah pedesaan.

Di Kabupaten Mojokerto, potensi UMKM menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 9 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021–2026, jumlah UMKM di Kecamatan Trawas meningkat dari 545 unit pada tahun 2018 menjadi 1.940 unit pada tahun 2020. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa sektor UMKM di daerah tersebut, termasuk di Desa Selotapak, memiliki peran strategis dalam mendorong kemandirian dan ketahanan ekonomi lokal. Namun, sebagian besar UMKM di sektor pangan masih menggunakan metode produksi tradisional, yang membuat mereka sulit bersaing dalam hal efisiensi dan kualitas produk.

Produksi Rengginang sebagai Produk Pangan Tradisional

Rengginang adalah makanan ringan tradisional berbahan dasar ketan yang memiliki rasa khas dan daya simpan lama. Proses pembuatannya relatif sederhana, melibatkan tahap pencucian, pengukusan, pencetakan, pengeringan, dan penggorengan. Produk ini sangat populer di kalangan UMKM rumahan karena bahan bakunya mudah didapat dan tidak memerlukan peralatan modern. Di banyak desa seperti Selotapak, rengginang menjadi produk unggulan yang mendukung pendapatan keluarga.

Meski demikian, dalam praktiknya, pelaku UMKM rengginang menghadapi tantangan signifikan dalam hal konsistensi kualitas dan efisiensi produksi, khususnya pada tahap pengeringan. Dalam penelitian oleh Siswoyo, Listriyana, dan Yekti (2023), proses pengeringan rengginang secara tradisional di ruang terbuka rentan terhadap fluktuasi cuaca serta kontaminasi debu, serangga, dan kelembapan tinggi, terutama saat musim hujan. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan mutu, daya tahan, dan nilai jual produk. Maka dari itu, dibutuhkan intervensi teknologi sederhana yang dapat membantu menjaga kualitas produk secara konsisten.

Tantangan Pengeringan Tradisional dalam Produksi Pangan

Pengeringan merupakan tahapan penting dalam produksi pangan seperti rengginang. Teknik pengeringan konvensional yang menggunakan sinar matahari langsung di ruang terbuka sangat tergantung pada kondisi cuaca, membutuhkan waktu yang lama, dan rentan terhadap kontaminasi. Dalam situasi cuaca tidak menentu, proses ini menjadi tidak efisien dan meningkatkan risiko penurunan mutu akibat pertumbuhan mikroorganisme, terutama jamur.

Penelitian oleh Sarira, Susilo, dan Fatmawati (2021) menyatakan bahwa pengeringan terbuka pada produk pangan seperti jagung menyebabkan ketidakseimbangan kadar air dan mengurangi kualitas keseluruhan produk. Hal ini sejalan dengan temuan Siswoyo et al. (2023) yang menunjukkan bahwa pelaku UMKM rengginang mengalami hambatan produksi pada musim hujan dan mendung, sehingga tidak dapat memenuhi standar kualitas secara konsisten. Fakta-fakta ini menegaskan pentingnya pengembangan metode pengeringan alternatif yang lebih efisien dan higienis.

Teknologi Tepat Guna Berbasis Energi Surya untuk Pengeringan

Teknologi tepat guna merupakan solusi praktis dan terjangkau yang dirancang untuk menyelesaikan permasalahan spesifik masyarakat lokal dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Salah satu bentuk teknologi yang banyak dikembangkan adalah alat pengering berbasis energi surya, yang menggunakan panas matahari untuk mengeringkan produk pangan dalam ruang tertutup atau semi-tertutup. Teknologi ini memiliki beberapa keunggulan, di antaranya efisiensi waktu, kontrol kelembaban dan suhu, serta higienitas proses.

Dalam studi oleh Kusmiyati dan Ratnawati (2021), penggunaan alat pengering tenaga surya pada UMKM pengolah kopi menunjukkan peningkatan efisiensi pengeringan serta kestabilan kualitas produk. Selain itu, teknologi ini relatif mudah dioperasikan, tidak bergantung pada energi listrik dari jaringan PLN, dan dapat dibangun dengan biaya terjangkau. Penerapan teknologi semacam ini sangat relevan bagi UMKM pengolah makanan tradisional di desa-desa seperti Selotapak yang belum seluruhnya terakses fasilitas produksi modern.

Relevansi Teknologi Ramah Lingkungan dalam Pemberdayaan UMKM

Penerapan teknologi ramah lingkungan berbasis energi terbarukan menjadi salah satu pilar dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan. Untuk sektor UMKM, adopsi teknologi seperti alat pengering tenaga surya memberikan berbagai manfaat, mulai dari efisiensi proses produksi, peningkatan kualitas produk, hingga pengurangan emisi dan konsumsi energi fosil.

Kusmiyati & Ratnawati (2021) menyatakan teknologi pengering berbasis energi matahari mampu mendorong transformasi proses produksi UMKM menjadi lebih efisien dan mandiri, tanpa membebani biaya operasional. Pendekatan ini sejalan dengan arah pemberdayaan masyarakat desa yang berbasis inovasi lokal, kemandirian, dan keberlanjutan lingkungan. Melalui integrasi antara kebutuhan nyata pelaku UMKM dan pengembangan teknologi yang sesuai, kegiatan pengabdian masyarakat dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produktivitas dan daya saing UMKM lokal.

Berdasarkan kajian teori dan hasil-hasil penelitian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa tantangan dalam pengolahan rengginang di tingkat UMKM, khususnya pada tahap pengeringan, menuntut solusi inovatif yang efisien, higienis, dan ramah lingkungan. Teknologi pengering berbasis energi surya menjadi alternatif tepat guna yang menjawab tantangan tersebut. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini dirancang untuk mengimplementasikan teknologi tersebut guna mendukung pemberdayaan UMKM secara berkelanjutan.

Metode

Rancangan Kegiatan

Kegiatan pengabdian ini dirancang dalam bentuk pelatihan dan pendampingan penggunaan alat pengering berbasis energi surya kepada pelaku UMKM produsen rengginang di Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan efisiensi proses pengeringan, menjaga mutu produk, serta mengurangi ketergantungan terhadap kondisi cuaca.

Pendekatan partisipatif digunakan agar mitra terlibat aktif dalam seluruh proses pelaksanaan, mulai dari:

1. Identifikasi masalah dan Kebutuhan Mitra

Tim pelaksana melakukan observasi dan wawancara langsung dengan pelaku UMKM untuk memahami permasalahan nyata di lapangan terkait proses pengeringan rengginang secara tradisional.

2. Perancangan dan Penyusunan Alat Pengering Energi Surya

Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan, alat pengering sederhana berbasis energi surya disusun menggunakan bahan lokal yang mudah didapat serta biaya terjangkau.

3. Pelatihan dan Pendampingan Penggunaan Alat

Kegiatan pelatihan dilakukan untuk mengenalkan cara penggunaan dan pemeliharaan alat. Tim juga memberikan pendampingan praktik langsung agar mitra mampu mengoperasikan alat secara mandiri.

4. Uji Coba Lapangan dan Implementasi Alat

Alat digunakan secara langsung dalam proses produksi oleh mitra. Tim mencatat respons pengguna, durasi pengeringan, dan hasil mutu produk.

5. Monitoring dan Evaluasi

Dilakukan dengan membandingkan proses dan hasil sebelum dan sesudah penggunaan alat. Aspek yang dievaluasi mencakup efisiensi waktu, kebersihan produk, serta persepsi mitra terhadap manfaat teknologi.

Ruang Lingkup dan Objek Kegiatan

Lokasi Kegiatan

Kegiatan ini dilaksanakan di UMKM Rengginang Mak Namah, yang beralamatkan di Dusun Selotapak, Desa Selotapak, RT 06/RW 01, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Waktu Pelaksanaan

Kegiatan berlangsung selama 12 hari, dimulai dari tahap persiapan, pelatihan, hingga evaluasi akhir. Jadwal pelaksanaan disesuaikan dengan ketersediaan mitra dan tim pelaksana untukk memastikan partisipasi aktif selama program berlangsung.

Subjek Kegiatan (Mitra)

Subjek kegiatan adalah Ibu Namah, pemilik UMKM Rengginang Mak Namah, yang merupakan produsen rengginang skala rumah tangga.

Objek Kegiatan

Objek kegiatan adalah proses pengeringan rengginang yang selama ini dilakukan secara tradisional dengan menjemur langsung di bawah sinar matahari terbuka. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengimplementasikan alat pengering sederhana berbasis energi surya sebagai solusi teknologi tepat guna yang efisien, higienis, dan ramah lingkungan.

Bahan dan Alat

Bahan utama yang digunakan adalah beras ketan sebagai bahan baku pembuatan rengginang. Alat utama dalam kegiatan ini adalah alat pengering sederhana berbasis energi surya, yang dirancang secara lokal dengan material sederhana seperti rangka kayu/aluminium, kaca/mika transparan, alas kawat, dan pelat penyerap panas. Desain alat masih bersifat prototipe dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan lapangan.

Teknik Pengumpulan Data

Data dikumpulkan melalui pendekatan kualitatif deskriptif, menggunakan tiga metode utama:

  1. Observasi langsung, dilakukan selama proses pelatihan dan pendampingan untuk mencatat perubahan pada proses produksi rengginang, termasuk durasi pengeringan dan hasil akhir produk.
  2. Wawancara terbuka, dilakukan dengan Ibu Namah selaku pemilik UMKM Rengginang Mak Namah pada tanggal 29 Juni 2025, untuk menggali persepsi mitra terhadap tantangan pengeringan tradisional serta harapan atas penggunaan alat pengering berbasis energi surya.
  3. Dokumentasi, berupa foto-foto kegiatan, catatan waktu pengeringan, dan hasil produksi sebelum serta sesudah penggunaan alat pengering.

Definisi Operasional

  • Efektivitas Alat Pengering: diukur berdasarkan waktu pengeringan, kebersihan produk, dan tingkat kekeringan rengginang pasca proses pengeringan.
  • Respon Mitra: diukur berdasarkan kenyamanan penggunaan alat, kemudahan pengoperasian, dan persepsi terhadap kualitas hasil produksi.

Teknik Analisis Data

Data dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif, dengan tiga teknik sebagai berikut:

Analisis Deskriptif

Menggambarkan secara naratif hasil dari observasi dan wawancara mengenai perubahan proses produksi.

Analisis Tematik

Mengidentifikasi pola atau tema yang muncul dari wawancara terkait pengalaman mitra dalam menggunakan alat.

Evaluasi Dampak

Menilai dampak penerapan alat pengering terhadap proses produksi rengginang melalui perbandingan sebelum dan sesudah implementasi.

Hasil dan Pembahasan

Kegiatan ini menggunakan pendekatan partisipatif untuk mendorong keterlibatan aktif mitra dalam setiap tahap pelaksanaan. Model ini dinilai efektif untuk meningkatkan rasa memiliki, sekaligus memastikan bahwa solusi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan. Pelaksanaan kegiatan dibagi dalam lima tahapan utama sebagai berikut:

Identifikasi Masalah dan Kebutuhan Mitra

Tahap awal pelaksanaan kegiatan diawali dengan observasi lapangan dan wawancara langsung dengan pelaku UMKM “Rengginang Mak Namah” di Dusun Selotapak, Desa Selotapak, Kecamatan Trawas. Dari hasil wawancara, diketahui bahwa permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah kesulitan dalam proses pengeringan rengginang saat musim hujan. Rengginang yang dijemur di luar ruangan tidak mengering sempurna, bahkan berisiko ditumbuhi jamur karena kelembaban udara yang tinggi. Hal ini menyebabkan keterlambatan produksi dan penurunan mutu produk.

Mitra menyampaikan bahwa mereka membutuhkan solusi berupa alat atau metode yang dapat membantu proses pengeringan agar tetap berjalan meskipun dalam kondisi cuaca mendung atau hujan.

Penyusunan Alat Pengering Energi Surya

Menanggapi kebutuhan tersebut, tim pelaksana merancang alat pengering sederhana berbasis energi surya dengan bahan lokal seperti kayu, plastik UV, dan kawat ram. Desain alat disesuaikan dengan kebutuhan mitra, yakni dapat digunakan meskipun sinar matahari terbatas, dengan ruang tertutup untuk menjaga higienitas. Alat ini tidak bergantung pada listrik dan dirancang agar mudah dirakit serta digunakan secara mandiri oleh pelaku UMKM.

Pelatihan dan Pendampingan Penggunaan Alat

Setelah alat selesai dibuat, tim melaksanakan kegiatan pelatihan dan pendampingan langsung kepada mitra. Pelatihan mencakup penjelasan teknis penggunaan alat, cara merawat alat, serta simulasi proses pengeringan. Mitra mengikuti proses dengan antusias, menunjukkan keterlibatan aktif serta semangat dalam mempelajari teknologi baru yang ditawarkan.

Uji Coba Lapangan dan Implementasi Alat

Alat pengering sederhana berbasis energi surya yang telah dirakit kemudian diuji langsung di lokasi UMKM “Rengginang Mak Namah”. Uji coba ini dilakukan dengan menggunakan rengginang basah hasil produksi mitra. Berdasarkan hasil pengamatan dan catatan waktu pengeringan selama proses uji coba, diketahui bahwa sebelum menggunakan alat pengering, proses penjemuran tradisional membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 hari, terutama saat cuaca mendung atau hujan. Selama periode tersebut, rengginang sering kali tidak mengering sempurna, serta berisiko ditumbuhi jamur akibat kelembaban tinggi.

Setelah penggunaan alat pengering tenaga surya, durasi pengeringan berhasil dipersingkat menjadi sekitar 6 hingga 8 jam dalam cuaca cerah, dan sekitar 1 hingga 1,5 hari dalam kondisi mendung. Selain itu, alat membantu melindungi produk dari debu, serangga, dan kontaminasi udara terbuka lainnya.Efektivitas pengeringan ini menunjukkan bahwa alat sederhana yang dirancang dengan memanfaatkan panas matahari dalam ruang semi-tertutup mampu meningkatkan efisiensi proses sekaligus menjaga kualitas dan higienitas produk.

Sebagai pendukung, berikut ini disajikan perbandingan waktu dan hasil pengeringan sebelum dan sesudah penggunaan alat:

Tabel 1. Perbandingan Proses Pengeringan Rengginang

Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dilakukan dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah penggunaan alat. Hasil observasi menunjukkan:

  • Waktu pengeringan menjadi lebih efisien
  • Produk rengginang lebih kering merata
  • Risiko kontaminasi berkurang karena pengeringan tidak langsung terpapar udara terbuka

Mitra menyampaikan bahwa alat ini sangat membantu mengatasi tantangan cuaca dan dapat meningkatkan kualitas produk secara signifikan.

Tanggapan Mitra

Mitra UMKM “Rengginang Mak Namah” menyambut baik kegiatan ini dan mengapresiasi alat pengering sederhana yang telah diberikan. Berdasarkan wawancara tindak lanjut setelah implementasi alat, mitra menyampaikan bahwa alat ini:

  • Membantu proses pengeringan tetap berjalan saat cuaca tidak mendukung.
  • Menghasilkan rengginang yang lebih kering, bersih, dan tahan lama.
  • Mudah digunakan dan tidak memerlukan listrik.
  • Memberikan rasa percaya diri untuk meningkatkan produksi saat permintaan tinggi.

Kesimpulan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berhasil mengimplementasikan alat pengering berbasis energi surya sederhana sebagai solusi atas permasalahan pengeringan rengginang secara tradisional yang sangat bergantung pada cuaca. Pendekatan partisipatif yang diterapkan mampu mendorong keterlibatan aktif mitra dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari identifikasi masalah, perancangan alat, pelatihan, hingga uji coba dan evaluasi.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penggunaan alat pengering energi surya membantu mempercepat proses pengeringan, menjaga kebersihan produk, serta memberikan kenyamanan produksi bagi mitra, terutama saat musim hujan. Teknologi sederhana ini terbukti dapat meningkatkan efisiensi dan mutu produksi UMKM rengginang di Desa Selotapak dengan biaya yang terjangkau dan mudah dioperasikan.

Dengan demikian, penerapan teknologi tepat guna ramah lingkungan ini tidak hanya menjawab kebutuhan praktis pelaku UMKM, tetapi juga mendukung pemberdayaan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Ke depan, diharapkan inovasi ini dapat direplikasi oleh UMKM lain di wilayah serupa yang menghadapi tantangan serupa dalam proses produksi pangan tradisional.

 

Penulis:
1. Elisa Sulistyorini, S.T., M.T.
2. Fero Diky Firmansyah
3. Martha Kristianita Putri
4. Cintya Ayu Lestari
5. Soputan Sylvia Setyani
6. Fatih Nur Rahmawan
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

 

Daftar Pustaka

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia. (2023). Data statistik UMKM 2023. https://kemenkopukm.go.id

Kusmiyati, A. S., & Ratnawati, J. (2021). Pengembangan pengering energi surya untuk peningkatan kualitas produksi kopi. Aptekmas: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(4), 100–110. https://jurnal.polsri.ac.id/index.php/aptekmas/article/view/3529

Pemerintah Kabupaten Mojokerto. (2021). Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 9 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2021–2026. https://jdih.mojokertokab.go.id

Sarira, P., Susilo, E., & Fatmawati, N. (2021). Penerapan pengering surya pada petani jagung di Papua. Community Development Journal, 5(1), 15–25. https://doi.org/10.31004/cdj.v5i1.25049

Siswoyo, N. A. S., Listriyana, A., & Yekti, G. I. A. (2023). Aplikasi penggunaan solar oven sebagai alternatif food dryer dalam upaya peningkatan produksi rengginang. INTEGRITAS: Jurnal Pengabdian, 8(1), 1–10. https://unars.ac.id/ojs/index.php/integritas/article/view/4314

 

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses