Mojokerto, MMI – Kesehatan masyarakat merupakan fondasi utama dalam menciptakan kehidupan desa yang sejahtera. Salah satu instrumen vital dalam mewujudkan hal tersebut adalah Posyandu, yang selama puluhan tahun telah menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan tingkat dasar. Di sinilah masyarakat, khususnya ibu dan anak, mendapatkan akses langsung terhadap layanan kesehatan tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pusat pelayanan medis. Namun, dalam pelaksanaannya, posyandu tidak lepas dari berbagai kendala seperti keterbatasan sumber daya manusia, minimnya edukasi kesehatan yang komprehensif, serta terbatasnya variasi pelayanan yang tersedia.
Dalam konteks inilah, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) R-18 hadir membawa semangat kolaboratif melalui program kerja bertajuk “Posyandu Sehat Bersama”, yang dilaksanakan di Desa Simbaringin. Program ini menjadi salah satu wujud nyata sinergi antara akademisi dan masyarakat dalam memperkuat layanan kesehatan dasar secara partisipatif.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut, dimulai pada tanggal 16 Juli 2025 di Dusun Kedung Kendo, berlanjut pada 17 Juli di Dusun Watusimbar, dan ditutup pada 18 Juli di Dusun Mengungkung. Di setiap lokasi, mahasiswa KKN hadir sebagai mitra aktif, bukan sekadar pendamping. Mereka membantu kader desa dalam pelaksanaan seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari menyiapkan alat-alat timbang, mengatur alur antrean, mencatat data kesehatan, hingga memberikan penyuluhan singkat kepada para ibu dan lansia yang hadir.
Yang menjadi pembeda dari kegiatan posyandu kali ini adalah cakupan pelayanannya yang luas. Tidak hanya melayani ibu hamil dan balita, kegiatan ini juga menyentuh kelompok lansia yang sering kali luput dari perhatian. Di sela kegiatan, diselenggarakan senam bersama lansia yang dipandu oleh mahasiswa dengan penuh semangat dan keceriaan. Setelah senam, para lansia mendapat layanan pemeriksaan kesehatan seperti pengecekan gula darah, kolesterol, dan asam urat. Seluruh proses dilakukan dengan tertib, humanis, dan berorientasi pada kenyamanan peserta.
Respons dari masyarakat luar biasa positif. Para kader Posyandu mengaku sangat terbantu dengan kehadiran mahasiswa yang tidak hanya sigap secara fisik tetapi juga komunikatif dalam menjelaskan berbagai informasi kesehatan. Para ibu merasa lebih diperhatikan karena mendapat penjelasan langsung terkait status gizi anak mereka serta tips-tips sederhana untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak dengan pola makan yang lebih sehat dan terjangkau. Para lansia pun merasa diperhatikan, karena biasanya kegiatan kesehatan bagi mereka hanya sebatas senam pagi, namun kali ini dilengkapi dengan pengecekan indikator penting kesehatan yang sangat dibutuhkan.

Kehadiran mahasiswa juga membawa warna baru dalam pelaksanaan kegiatan. Suasana Posyandu yang biasanya berlangsung formal dan terburu-buru, kini menjadi lebih hidup, akrab, dan menyenangkan. Mahasiswa mengajak balita bermain sambil menunggu giliran timbang, hingga membantu lansia menuju meja pemeriksaan. Hal-hal kecil seperti ini ternyata memberikan kenyamanan yang besar bagi warga.

Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung yang sangat berharga bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar berinteraksi dengan masyarakat lintas usia, tetapi juga memahami secara langsung tantangan di bidang pelayanan kesehatan dasar. Dari proses pencatatan manual, keterbatasan alat, hingga pentingnya pendekatan sosial dalam menyampaikan edukasi kesehatan, semuanya menjadi pengalaman lapangan yang tidak bisa digantikan oleh teori semata.
Program “Posyandu Sehat Bersama” ini tidak hanya menjadi bentuk kegiatan KKN biasa, melainkan potret kolaborasi yang saling menguntungkan. Masyarakat mendapatkan manfaat layanan yang lebih optimal, sementara mahasiswa memperoleh pembelajaran kehidupan yang sesungguhnya. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi refleksi bahwa pembangunan desa bukan hanya tugas perangkat desa atau tenaga medis, tetapi juga membutuhkan dukungan dari kalangan akademisi dan pemuda.
Harapannya, kegiatan seperti ini tidak berhenti di masa KKN saja. Akan sangat baik apabila program serupa bisa diintegrasikan dalam agenda rutin desa maupun sebagai program pengabdian berkelanjutan oleh perguruan tinggi. Karena ketika mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah desa berjalan bersama, maka pelayanan kesehatan yang merata dan bermartabat bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan.
Penulis:
1. Dr. (Cand.) Fiky Two Nando, S.T., M.T.
2. Mahasiswa KKN R-18
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












