Abstrak
Literasi bukan lagi hal asing dalam dunia pendidikan saat ini. Secara umum, literasi merupakan proses pembiasaan berpikir yang melibatkan aktivitas membaca dan menulis, yang kemudian berkembang menjadi kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, mengembangkan pengetahuan, hingga menciptakan karya. Minat baca di kalangan siswa SMA masih tergolong rendah karena belum banyak metode literasi yang dikemas secara menarik dan sesuai dengan karakter mereka. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di MA YPPP Al-Mas’udy Mojokerto, tim mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menginisiasi program “Mini Pojok Baca” dan Alat Peraga Edukasi (APE) berbentuk permainan ular tangga edukatif. Program ini dirancang untuk mengintegrasikan unsur literasi ke dalam aktivitas bermain yang interaktif dan menyenangkan. Metode kegiatan mencakup observasi, penyusunan modul, pembuatan ruang baca sederhana, serta pelaksanaan permainan literasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan keterlibatan dan antusiasme siswa terhadap aktivitas membaca, yang berkontribusi pada terbentuknya budaya literasi yang lebih menyenangkan dan berkelanjutan.
Kata kunci: Literasi, Mini Pojok Baca, Alat Peraga Edukasi, Minat Baca
Abstrack
Literacy has become an essential component in today’s educational landscape. In general, literacy is a process of cultivating thinking habits that involves reading and writing activities, which later develop into the ability to think critically, solve problems, gain knowledge, and create meaningful works. Reading interest among high school students remains relatively low due to the lack of engaging and student-centered literacy methods. Through the Community Service Program (KKN) at MA YPPP Al-Mas’udy Mojokerto, students from the University of 17 August 1945 Surabaya initiated the “Mini Reading Corner” and Educational Teaching Aids (ETA) in the form of an educational snakes and ladders game. This program was designed to integrate literacy into fun and interactive group activities. The methods involved observation, module development, creating a simple reading space, and conducting educational games. The results indicate increased student enthusiasm and participation in reading activities, contributing to the formation of a more enjoyable and sustainable literacy culture.
Keywords: Literacy, Mini Reading Corner, Educational Teaching Aids, Reading Interests
Pendahuluan
Literasi bukan lagi hal yang asing dalam dunia pendidikan saat ini. Literasi tidak sekadar membaca dan menulis, tetapi merupakan proses pembiasaan berpikir yang mampu mendorong kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, serta penciptaan karya. Idealnya, budaya literasi tidak hanya dibangun pada peserta didik di tingkat dasar, tetapi juga perlu ditanamkan secara kuat pada siswa tingkat SMA, karena pada tahap ini kemampuan berpikir secara logis, reflektif, dan analitis mulai berkembang (Prameswari et al., 2022).
Namun demikian, rendahnya minat baca di kalangan siswa masih menjadi persoalan yang cukup serius. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri siswa maupun dari lingkungan sekitar. Faktor internal mencakup kurangnya ketertarikan terhadap aktivitas membaca, rendahnya kemampuan memahami teks, serta lemahnya motivasi belajar. Di sisi lain, faktor eksternal meliputi lingkungan belajar yang belum mendukung, terbatasnya akses terhadap bacaan yang menarik dan sesuai usia, serta pengaruh teknologi digital seperti media sosial dan permainan daring yang cenderung mengalihkan fokus siswa dari aktivitas literasi. Tanpa strategi intervensi yang tepat, kondisi ini dapat berdampak pada menurunnya daya pikir kritis, imajinatif, dan reflektif siswa yang sangat penting dalam proses belajar.
Rendahnya literasi ini juga tercermin dalam data asesmen internasional. Berdasarkan hasil PISA tahun 2018, skor literasi siswa Indonesia, khususnya dalam bidang matematika dan sains, masih tertinggal dibandingkan dengan rata-rata negara-negara OECD. Dalam bidang matematika, skor Indonesia tercatat sebesar 379, sedangkan rata-rata OECD adalah 487. Hanya 28% siswa Indonesia yang mampu mencapai Level 2 atau lebih, yaitu level di mana siswa dapat memahami situasi sederhana yang direpresentasikan secara matematis. Di bidang sains, hanya 40% siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 78% (OECD, 2018). Data ini menjadi indikator bahwa kemampuan berpikir logis, kritis, dan literatif siswa perlu dikuatkan melalui pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan (Ananingtyas et al., 2023).
Dalam konteks nasional, pemerintah Indonesia sebenarnya telah menggagas berbagai program peningkatan literasi, salah satunya melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang diluncurkan sejak tahun 2016. Program ini menekankan pentingnya membangun budaya membaca di lingkungan sekolah secara sistematis dan berkelanjutan. Namun, dalam implementasinya, banyak sekolah masih menghadapi hambatan, terutama dalam hal keterbatasan sumber daya, minimnya inovasi pendekatan, dan rendahnya partisipasi aktif siswa. Di sinilah letak urgensi untuk menghadirkan pendekatan yang lebih kreatif, ringan, dan menyenangkan agar kegiatan literasi tidak lagi dianggap sebagai beban, melainkan menjadi bagian dari pengalaman belajar yang menggembirakan.
Selain dari sisi formal, permasalahan literasi juga erat kaitannya dengan perkembangan karakter siswa. Literasi yang kuat bukan hanya ditunjukkan dari tingginya jumlah buku yang dibaca, tetapi dari bagaimana siswa dapat memahami, merefleksikan, dan menerapkan informasi dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, pendekatan literasi tidak bisa hanya berbentuk instruksi teks atau tugas membaca semata, tetapi perlu dirancang secara kontekstual, menyentuh sisi emosional dan sosial siswa. Aktivitas yang menggabungkan unsur permainan, diskusi, dan pilihan personal terbukti lebih efektif dalam membangun hubungan positif siswa dengan kegiatan literasi.
Salah satu pendekatan yang diyakini dapat menjadi solusi alternatif adalah penggunaan media pembelajaran yang kreatif dan interaktif. Media pembelajaran tidak hanya menjadi alat bantu belajar, tetapi juga mampu membangun suasana belajar yang lebih hidup dan partisipatif. Salah satu media yang mudah diterapkan dan dekat dengan kehidupan siswa adalah permainan edukatif. Menurut Kaltsum (2017) dalam kutipan (Fachrudi et al., 2024), permainan edukatif mampu merangsang kreativitas, imajinasi, serta meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam proses belajar. Ular tangga merupakan salah satu permainan tradisional yang populer di kalangan pelajar karena sederhana, fleksibel, dan menyenangkan. Dengan sedikit modifikasi konten, permainan ini dapat dijadikan sebagai media literasi yang efektif, terutama jika dikaitkan dengan materi yang relevan dengan kehidupan remaja. Selain permainan, strategi lain yang dapat digunakan untuk membangun budaya literasi adalah penyediaan ruang baca sederhana namun nyaman di lingkungan sekolah. Mini Pojok Baca, misalnya, merupakan bentuk media literasi yang bersifat informal namun memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan minat baca siswa. Keberadaan sudut baca ini dapat menjadi alternatif tempat bagi siswa untuk membaca secara mandiri dan bebas memilih bahan bacaan yang sesuai minat, tanpa tekanan.
Secara khusus, sekolah swasta di daerah seperti MA YPPP Al-Mas’udy Mojokerto seringkali menghadapi tantangan tambahan dalam membangun budaya literasi, seperti keterbatasan dana operasional, belum tersedianya perpustakaan yang lengkap, dan belum meratanya pelatihan guru dalam strategi literasi modern. Oleh karena itu, perlu adanya intervensi berbasis masyarakat dan perguruan tinggi seperti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga memperkaya pendekatan literasi di sekolah melalui inovasi yang sederhana dan aplikatif. Salah satu prinsip penting dalam membangun minat baca remaja adalah menciptakan hubungan emosional yang positif antara siswa dan aktivitas membaca. Ketika membaca dipersepsi sebagai kewajiban akademik yang membosankan, siswa cenderung menjauh. Sebaliknya, jika membaca dikemas dalam bentuk permainan, kegiatan sosial, atau aktivitas kompetitif yang menyenangkan, maka siswa lebih mudah terlibat secara alami. Oleh sebab itu, strategi literasi berbasis permainan seperti ular tangga, ditambah dengan ruang baca terbuka seperti pojok baca, menjadi pilihan tepat untuk menjembatani ketertarikan remaja dengan literasi. Lebih dari itu, kekuatan pendekatan visual, penggunaan warna-warna cerah, papan permainan besar, serta elemen interaktif seperti tantangan, sharing, dan diskusi kelompok juga menjadi faktor penentu keberhasilan. Permainan tidak hanya membangun suasana yang cair, tetapi juga membuka ruang untuk kerja sama, pemecahan masalah bersama, dan komunikasi antarteman sebaya (peer learning). Ini sejalan dengan prinsip pembelajaran aktif (active learning) yang menekankan keterlibatan siswa secara fisik, mental, dan emosional dalam proses belajar.
Menyikapi berbagai permasalahan dan potensi tersebut, tim KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya merancang kegiatan pengabdian masyarakat di MA YPPP Al-Mas’udy Mojokerto yang berfokus pada peningkatan minat literasi siswa kelas XII. Program ini diwujudkan melalui dua media utama, yaitu Mini Pojok Baca dan Alat Peraga Edukasi (APE) berbentuk permainan ular tangga. Mini Pojok Baca disiapkan di area sekolah yang strategis dan nyaman, serta diisi dengan beragam buku hasil donasi, seperti buku motivasi, latihan soal UTBK, novel remaja, dan bacaan edukatif lainnya. Siswa diberi kebebasan memilih buku yang ingin dibaca agar tercipta pengalaman membaca yang santai dan tidak terbebani. Sementara itu, APE Level Up Literacy dirancang sebagai papan permainan ular tangga berukuran besar, yang dapat dimainkan secara berkelompok. Setiap kotak dalam permainan memuat tantangan berupa soal literasi, pertanyaan opini, sharing session, atau aktivitas “truth or dare” bertema edukasi. Pendekatan ini dirancang untuk menjaga antusiasme siswa, mendorong diskusi, dan melibatkan mereka secara aktif dalam proses belajar. Strategi ini sejalan dengan pendapat (Ananingtyas et al., 2023) yang menyatakan bahwa permainan edukatif mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan tidak kaku. Lebih dari sekadar media pembelajaran alternatif, Mini Pojok Baca dan permainan APE Literasi juga dirancang untuk mendorong terbangunnya kebiasaan literasi jangka panjang di lingkungan sekolah. Ketika siswa terbiasa mengakses bacaan yang relevan dan menarik secara sukarela, mereka akan lebih mudah membentuk hubungan emosional yang positif terhadap aktivitas membaca. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi meningkatkan kapasitas literasi yang tidak hanya bermanfaat bagi akademik, tetapi juga kehidupan sosial dan pribadi mereka.
Dengan memanfaatkan pendekatan yang menyenangkan, ringan, dan ramah usia, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pemicu awal yang berkelanjutan dalam membentuk budaya literasi di sekolah. Tidak hanya itu, melalui keterlibatan aktif guru, pihak sekolah, dan siswa dalam pelaksanaan program ini, muncul pula harapan bahwa kegiatan sejenis dapat dikembangkan lebih lanjut dan diadaptasi di sekolah lain sebagai model praktik literasi yang mudah diterapkan dan berdampak nyata.
Metode Pelaksanaan
Rancangan Kegiatan
Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh tim KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di MA YPPP Al-Mas’udy Mojokerto. Program ini dirancang dengan pendekatan literasi yang partisipatif dan kreatif, bertujuan untuk meningkatkan minat baca siswa melalui media yang interaktif dan menyenangkan. Kegiatan utama meliputi pembuatan Mini Pojok Baca dan penerapan Alat Peraga Edukasi (APE) dalam bentuk permainan ular tangga literasi, yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa tingkat SMA. Tujuan dari kegiatan ini adalah menciptakan suasana belajar yang lebih aktif, kolaboratif, dan menyenangkan, serta menghadirkan alternatif media literasi yang inovatif dan tidak monoton. Permainan ular tangga edukatif berfungsi sebagai pemantik interaksi antarsiswa dan sebagai alat peningkat motivasi membaca melalui tantangan-tantangan literasi berbasis soal. Pelaksanaan kegiatan dibagi menjadi empat tahapan utama, yaitu:
1. Observasi Lapangan
Tahap awal diawali dengan pendekatan langsung ke pihak sekolah melalui penyerahan proposal kegiatan KKN. Tim menjelaskan maksud dan tujuan program yang berfokus pada peningkatan minat literasi siswa. Setelah proposal diterima dan disetujui oleh pihak sekolah, tim mendapatkan informasi terkait jumlah siswa, kelas sasaran, serta kondisi lingkungan belajar di sekolah.
2. Tahap Perencanaan
Sebelum melakukan observasi lapangan, tim KKN terlebih dahulu menyusun program kerja berdasarkan isu literasi yang dianggap relevan bagi siswa tingkat SMA. Dua poin utama dalam program ini adalah Mini Pojok Baca dan Alat Peraga Edukasi (APE) Level Up Literacy, yang dirancang sebagai media pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, serta sesuai dengan karakter remaja. Tim kemudian menyusun proposal resmi dan menyerahkannya kepada pihak MA YPPP Al-Mas’udy Mojokerto. Hasil koordinasi menunjukkan respons positif dari pihak sekolah dan disepakati waktu pelaksanaan, kelas sasaran, serta bentuk dukungan yang diberikan. Tim selanjutnya mengembangkan media yang dibutuhkan. Mini Pojok Baca diisi dengan buku-buku hasil donasi, mencakup buku pelajaran SMA, latihan soal UTBK, buku motivasi, pengembangan diri remaja, novel, biografi, dan bacaan edukatif lainnya. Sedangkan APE dalam bentuk ular tangga dirancang menggunakan aplikasi Canva, dicetak dalam ukuran banner 5 x 3 meter, dan dilengkapi dengan dadu serta kartu tantangan yang berisi pertanyaan literasi.
3. Pelaksanaan Kegiatan
Program dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2025, bertempat di MA YPPP Al-Mas’udy Mojokerto. Kegiatan dibagi menjadi dua sesi, yaitu pagi hari untuk siswa laki-laki dan siang hari untuk siswi perempuan. Masing-masing sesi dimulai dengan perkenalan program dan penjelasan alur kegiatan. Sesi pertama berupa Mini Pojok Baca, di mana siswa diarahkan membaca buku pilihan secara bebas selama 15 menit. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan permainan APE Level Up Literacy secara berkelompok. Dalam permainan ini, beberapa kotak berisi tantangan literasi yang harus diselesaikan oleh pemain sebelum melanjutkan ke langkah berikutnya.
4. Evaluasi
Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap keterlibatan siswa selama mengikuti program dan diskusi bersama guru pendamping. Evaluasi ini mencakup respons siswa terhadap media literasi yang digunakan serta sejauh mana pendekatan yang diterapkan mampu menarik minat baca secara aktif.
Ruang Lingkup dan Objek Penelitian
Ruang lingkup kegiatan ini mencakup aktivitas literasi siswa kelas XII MA YPPP Al-Mas’udy Mojokerto. Objek utama kegiatan adalah siswa kelas XII sebagai sasaran program, serta guru pendamping sebagai pihak yang terlibat dalam pelaksanaan dan evaluasi. Materi literasi yang digunakan meliputi buku bacaan hasil donasi dan kartu tantangan literasi yang disisipkan dalam permainan ular tangga. Alat dan media yang digunakan dalam kegiatan ini antara lain:
- Banner permainan ular tangga ukuran 5 x 3 meter
- Kartu tantangan literasi (berisi soal bacaan, sharing session, truth or dare)
- Dadu permainan
- Buku bacaan edukatif, buku SMA, buku motivasi
Tempat dan Waktu Penelitian
Program dilaksanakan di MA YPPP Al-Mas’udy Mojokerto yang berlokasi di Simbaran, Simbaringin, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto pada tanggal 15 Juli 2025. Pelaksanaannya dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi pagi untuk siswa laki-laki dan sesi siang untuk siswa perempuan. Setiap sesi dilaksanakan selama ±1 jam, mencakup pembukaan, kegiatan membaca bebas di Mini Pojok Baca, dan permainan APE ular tangga literasi secara berkelompok.
Teknik Pengumpulan Data
Observasi langsung, yaitu pengamatan terhadap keaktifan dan antusiasme siswa selama mengikuti program. Observasi dilakukan saat sesi membaca bebas di Mini Pojok Baca dan saat permainan ular tangga berlangsung. Fokus pengamatan mencakup keterlibatan siswa, respons terhadap media, dan interaksi antar peserta.
Wawancara informal dilakukan pada tahap awal kegiatan bersama kepala sekolah dan guru pendamping. Wawancara bertujuan untuk menggali kondisi awal terkait literasi siswa di sekolah, seperti kebiasaan membaca, jenis bacaan yang diminati, dan kendala yang dihadapi. Selain itu, tim juga menanyakan jumlah siswa, latar belakang kelas sasaran, serta dukungan yang tersedia dari pihak sekolah untuk mendukung kegiatan literasi.
Definisi Operasional Variabel Penelitian
Variabel utama dalam kegiatan ini adalah minat literasi siswa, yang diartikan sebagai ketertarikan siswa dalam membaca secara sukarela, baik secara individu maupun kelompok. Minat ini tercermin dari keaktifan siswa dalam memilih buku bacaan, partisipasi saat menjawab tantangan literasi, serta respons antusias selama mengikuti kegiatan. Adapun dua media utama yang digunakan dalam kegiatan adalah:
1. Mini Pojok Baca
Merupakan sudut baca sederhana yang diisi dengan berbagai buku edukatif seperti buku pelajaran, latihan soal, novel, buku motivasi, dan bacaan populer lainnya. Tujuannya untuk menstimulasi minat baca melalui suasana membaca yang lebih santai dan bebas pilihan.
2. APE Ular Tangga Literasi
Permainan berukuran besar berbentuk ular tangga yang dilengkapi dengan dadu, dan kartu soal. Beberapa kotak permainan mengandung tantangan terkait pengetahuan umum, sharing session, truth or dare dan aktivitas literasi lainnya yang bertujuan membangun ketertarikan siswa terhadap membaca dan berpikir kritis secara menyenangkan.
Hasil dan Pembahasan
Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh tim KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di MA YPPP Al-Mas’udy Mojokerto merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam meningkatkan budaya literasi di kalangan siswa SMA. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan rendahnya minat baca di kalangan remaja, yang sering kali dihadapkan pada keterbatasan akses bahan bacaan menarik dan dominasi penggunaan teknologi digital. Dalam kegiatan ini, tim merancang dua media utama, yakni Mini Pojok Baca dan Alat Peraga Edukasi (APE) Level Up Literacy berupa permainan ular tangga yang dimodifikasi secara edukatif. Program ini mendapat tanggapan positif dari pihak sekolah, terutama kepala sekolah yang memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaannya. Berdasarkan hasil pendekatan awal, sekolah menyatakan bahwa fasilitas literasi yang menarik dan partisipatif masih sangat terbatas. Karena itu, program ini dikembangkan untuk menghadirkan ruang baca alternatif sekaligus sarana pembelajaran yang menyenangkan. Mini Pojok Baca dihadirkan sebagai ruang santai untuk membaca secara bebas, sedangkan APE Level Up Literacy dirancang untuk menanamkan literasi melalui interaksi permainan. Konsep ini bertumpu pada literasi partisipatif yang tidak hanya menekankan pada keterampilan membaca, namun juga pemahaman, refleksi, dan komunikasi melalui pendekatan non-formal yang menyenangkan.
Mini Pojok Baca menjadi salah satu media literasi utama yang diperkenalkan dalam kegiatan ini. Rak sederhana ditempatkan di area strategis yang mudah dijangkau siswa, berisi beragam buku hasil donasi seperti buku pelajaran SMA, latihan soal UTBK, buku motivasi dan pengembangan diri, serta novel dan biografi remaja. Siswa diberi kebebasan untuk memilih bacaan dan membaca dalam suasana santai selama 15 menit. Observasi selama kegiatan menunjukkan bahwa siswa menunjukkan minat tinggi untuk membaca, baik secara individu maupun dalam kelompok kecil. Beberapa siswa memilih untuk membaca sambil duduk di sekitar rak, sementara yang lain terlihat berdiskusi santai tentang isi buku dengan temannya. Suasana ini mencerminkan terciptanya lingkungan belajar yang nyaman dan inklusif, tanpa tekanan. Mini Pojok Baca juga memberi siswa pengalaman membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dan bebas dari tuntutan akademik yang kaku. Hal ini sejalan dengan pendapat (Meilinda et al., 2020) bahwa lingkungan literasi yang mendukung, relevan, dan bebas tekanan mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara signifikan. Dengan menghadirkan variasi jenis bacaan, siswa dapat mengeksplorasi minat masing-masing dan mulai membangun hubungan positif dengan kegiatan membaca, yang pada gilirannya dapat memperkuat kebiasaan literasi dalam jangka panjang.
Di sisi lain, APE Level Up Literacy dalam bentuk permainan ular tangga besar menjadi media kedua yang mendapat respon luar biasa dari para siswa. Permainan ini dirancang dalam ukuran 5×3 meter, dicetak di banner, dilengkapi dadu serta kartu tantangan literasi yang berisi soal bacaan, opini, sharing, dan bentuk aktivitas lain yang mendorong siswa berpikir kritis. Pelaksanaan permainan dibagi menjadi dua sesi, yakni pagi untuk siswa laki-laki dan siang untuk siswa perempuan, guna menciptakan suasana yang lebih kondusif dan fokus. Dalam permainan, setiap kelompok siswa bergerak sesuai lemparan dadu, lalu menjawab tantangan yang tertera pada kotak tertentu. Aktivitas ini tidak hanya melatih keterampilan berpikir dan berkomunikasi, tapi juga memacu kepercayaan diri dan interaksi sosial. Permainan berlangsung dengan penuh semangat, ditandai dengan tawa, sorakan, dan diskusi ringan antar peserta. Suasana belajar yang awalnya dianggap “berat” pun berubah menjadi menyenangkan dan energik. Dalam konteks ini, (Ananingtyas et al., 2023) menegaskan bahwa media pembelajaran berbasis permainan mampu mengurangi kejenuhan dan menjadikan aktivitas belajar lebih hidup. Permainan juga memperkuat soft skills siswa, seperti kerja sama tim, keberanian berbicara, dan kemampuan menyampaikan pendapat secara logis. Hal ini menjadikan permainan tidak hanya sebagai alat bantu belajar, melainkan juga sebagai sarana pembentukan karakter.
Evaluasi terhadap kegiatan dilakukan secara kualitatif melalui pengamatan langsung oleh tim KKN terhadap keaktifan, partisipasi, dan antusiasme siswa selama kegiatan berlangsung. Pengamatan dilakukan tanpa instrumen formal, namun tetap memperhatikan indikator seperti ketertarikan siswa saat membaca, partisipasi saat permainan, dan interaksi antar siswa. Hasil observasi menunjukkan bahwa pendekatan literasi berbasis media kreatif terbukti mampu mengaktifkan siswa yang sebelumnya pasif terhadap kegiatan membaca. Para siswa tidak hanya terlibat secara kognitif, namun juga emosional dan sosial. Model literasi seperti ini menciptakan suasana belajar yang lebih kontekstual, menyenangkan, dan adaptif terhadap kebutuhan generasi muda. Temuan ini juga diperkuat oleh (Fachrudi et al., 2024) yang menyatakan bahwa permainan edukatif sederhana seperti ular tangga dapat menjadi media efektif untuk meningkatkan literasi dan numerasi, terutama di kalangan siswa yang memiliki keterbatasan akses terhadap pembelajaran konvensional. Media semacam ini bersifat fleksibel, mudah direplikasi, dan tidak memerlukan sumber daya yang besar, sehingga sangat relevan untuk diterapkan di sekolah-sekolah menengah, khususnya di wilayah non-perkotaan seperti Mojokerto.
Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa pendekatan literasi yang dirancang sesuai karakteristik siswa mampu memberikan dampak positif terhadap pembiasaan membaca. Melalui Mini Pojok Baca dan APE Level Up Literacy, siswa tidak hanya diajak membaca, tetapi juga diberi ruang untuk merespon bacaan secara aktif dan kreatif. Konsep pembelajaran yang menyenangkan ini memberi pengalaman belajar yang membekas, karena siswa merasa terlibat secara utuh dalam prosesnya. Selain itu, media yang digunakan terbukti mampu menjembatani kesenjangan antara literasi formal di kelas dan kebutuhan literasi fungsional di kehidupan nyata. Oleh karena itu, kegiatan ini dapat menjadi model awal yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut di sekolah-sekolah lain, baik oleh mahasiswa KKN maupun oleh pihak sekolah secara mandiri. Literasi tidak harus selalu diajarkan dalam bentuk ceramah atau tugas, namun dapat dikembangkan melalui pendekatan yang menyenangkan, partisipatif, dan relevan dengan kehidupan siswa. Dengan strategi yang tepat dan media yang sesuai, membentuk budaya literasi yang berkelanjutan bukanlah sesuatu yang mustahil, bahkan di lingkungan dengan keterbatasan sarana sekalipun.
Kesimpulan
Kegiatan pengabdian masyarakat di MA YPPP Al-Mas’udy Mojokerto menunjukkan bahwa pendekatan literasi yang disesuaikan dengan karakteristik dan minat siswa, seperti melalui Mini Pojok Baca dan permainan APE Level Up Literacy, mampu meningkatkan minat baca secara signifikan. Mini Pojok Baca menciptakan lingkungan membaca yang nyaman dan bebas tekanan, sementara permainan edukatif ular tangga menghadirkan literasi dalam bentuk yang menyenangkan, interaktif, dan menumbuhkan semangat belajar. Keduanya tidak hanya mengaktifkan siswa secara kognitif, tetapi juga membentuk kebiasaan positif, meningkatkan rasa percaya diri, dan memperkuat kerja sama. Pendekatan ini membuktikan bahwa kegiatan literasi tidak harus selalu bersifat formal, dan strategi berbasis partisipasi serta media kreatif sangat potensial diterapkan untuk mendorong budaya literasi di sekolah menengah, terutama di lingkungan dengan keterbatasan akses bacaan.
Penulis:
1. Dr. (Cand.) Fiky Two Nando, S.T., M.T.
2. Yuanka Siwi Pramudya Hapsari
3. Inayah Aulia Nursyabani
4. Yuyun Setyawati
5. Murdianto
6. Berdinus Xanana Derio Jogo
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Daftar Pustaka
Ananingtyas, R. S. A., Hakim, M. H., Akbarita, R., Robby, R. R., Sanwidi, A., Jinani, F. R., & Ariska, F. (2023). Pengenalan dan Pengembangan APE Berbasis Gerakan Literasi Nasional pada KB Anugrah. Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Nusantara (JPPNu), 5(1), 52-67.
Marsidi, M., & Agustin, I. H. (2024). Peningkatan Kemampuan Literasi dan Numerasi Melalui Media Pembelajaran Ular Tangga di SDN Sukorejo 6. Dedication: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 8(1), 41-48.
Meilinda, N., Malinda, F., & Aisyah, S. M. (2020). Literasi digital pada remaja digital (Sosialisasi pemanfaatan media sosial bagi pelajar Sekolah Menengah Atas). Jurnal Abdimas Mandiri, 4(1).
Prameswari, J. Y., Sumadyo, B., & Susanti, D. I. (2022). Sosialisasi implementasi gerakan literasi sekolah di SMP Al Falah, Pondok Melati, Bekasi. Jurnal ABDIMAS ADPPI, 1(01), 14-20.
Utomo, E. S., Azis, A. F. A., Pramesti, S., Achmad, N. F., Enjelita, F., & Andella, N. C. (2024). Pendampingan Optimalisasi Kemampuan Literasi Numerasi Siswa Melalui Program Kampus Mengajar. Jurnal Abdimas Indonesia, 4(2), 581-589.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












