Merosotnya Ekonomi Indonesia Harus Segera Dipulihkan

Merosotnya Ekonomi Indonesia
Merosotnya Ekonomi Indonesia

Belakangan ini, hampir di semua sektor ekonomi Indonesia sedang dalam upaya pengembangan. Namun, faktanya, di tengah pandemi ini malah menjadikan ekonomi merosot. Bahkan, Indonesia akan terancam mengalami resesi. Resesi akan memberikan pengaruh besar pada penurunan seluruh kegiatan ekonomi, seperti investasi, lapangan pekerjaan, dan penurunan keuntungan perusahaan. Perlu adanya upaya pemulihan ekonomi agar resesi tidak terjadi. Laju ekonomi Indonesia harus tetap dipantau, meskipun sektor kesehatan menjadi fokus utama pemerintah saat ini.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tergolong kurang baik. tercatat pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi diprediksikan minus -4,72 persen. Padahal, berdasarkan RPJMN 2020-2024, pertumbuhan ekonomi di Indonesia ditargetkan meningkat rata-rata 6% per tahunnya hingga 2024 mendatang. Jika keadaan terus memburuk dan pertumbuhan ekonomi tetap minus, Indonesia akan mengalami resesi.

Pemicu Penurunan Ekonomi

Sektor ekonomi merupakan aspek yang menjadi tolak ukur atas kemajuan suatu negara. Apabila sektor ekonomi mengalami penurunan, tentu sektor yang lain akan ikut terdampak. Penurunan ekonomi akibat pandemi ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu pemicu penurunan ekonomi saat ini yaitu banyaknya perusahaan yang merumahkan hingga memutuskan hubungan kerja dengan para pekerjanya, Pemutusan hubungan kerja pada saat ini adalah dampak semakin banyaknya perusahaan mengurangi aktivitas, atau bahkan menghentikan produksinya.

Berdasarkan catatan dari Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan jumlah pekerja yang terdampak COVID-19 sebanyak 2.084.593 orang yang berasal dari sektor formal maupun informal dari 116.370 perusahaan. Dari jumlah tersebut, 241.431 pekerja formal dari 41.236 perusahaan sudah di-PHK. Banyak yang terdampak akan kebijakan ini, Terutama bagi pekerja sendiri. Hal ini mengakibatkan kekurangan finansial bagi keluarga pekerja. Sehingga kebutuhan sehari-hari terhambat. Apabila tidak ada pemasukan, daya beli masyarakat akan berkurang. Tentu saja tingkat konsumsi rumah tangga akan menurun.

Melemahnya Konsumsi Rumah Tangga

Bahkan, penurunan tingkat konsumsi rumah tangga diperkirakan akan melemah dan tidak tumbuh. Perkiraan pada kuartal II, tingkat konsumsi yang tadinya bisa tumbuh sekitar 3% akan melemah di kisaran 0%. Sejalan dengan prediksi ini, pemerintah telah mengalokasikan anggaran perlindungan sosial untuk masyarakat. Namun, anggaran tersebut tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan apabila tidak ada pemasukan sama sekali. Bukan hanya dari pihak pekerja yang dirugikan, namun negara akan merasakan dampaknya pula. Sektor ekonomi Indonesia babak belur akibat kebijikan ini. Karena, pada dasarnya yang menggerakkan pertumbuhan sektor ekonomi adalah dunia usaha. Apabila dunia usaha macet, tentunya pertumbuhan ekonomi akan merosot.

Di samping itu, kenaikan angka pengangguran di Indonesia berdampak pula pada pertumbuhan ekonomi. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Suharso Monoarfa menjelaskan tingkat pengangguran terbuka diproyeksi akan meningkat 4 juta hingga 5,5 juta di tahun 2020. Apalagi di tengah pandemi ini banyak perusahaan yang tidak menerima pekerja baru. Bahkan lebih banyak memberhentikan pekerja daripada menerima.

Pemulihan Perekonomian

Sektor ekonomi merupakan cermin perkembangan dari suatu negara. Jika pertumbuhan sektor ekonomi terus menurun di tengah pandemi ini,  Indonesia akan mendapat dampak lebih parah dibanding krisis yang terjadi pada 1998. Diperlukan strategi pemulihan ekonomi yang cepat dan tepat untuk menghindari hal krisis pada negara ini. Harapannya perekonomian pulih pada kuartal ketiga. Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi kondisi ekonomi akan terus mengalami kontraksi di penghujung kuartal kedua tahun ini.

Strategi pemulihan ekonomi dapat dimulai dengan cara pembukaan ekonomi secara bertahap dengan tatanan baru sesuai protokol pencegahan penyebaran virus korona. Hal ini tidak hanya dapat memulihkan ekonomi, namun juga dapat terhindar dari virus. Di samping itu, untuk menangani dampak pandemi korona pada ekonomi Indonesia pemerintah bisa gunakan sisa-sisa anggaran lalu. Seperti yang dikemukakan oleh Ekonom Senior, Rizal Ramli, pemerintah bisa gunakan sisa SAL (Saldo Anggaran Lebih), dan juga SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) yang ada di Bank Indonesia, kurang lebih jumlahnya Rp 290 triliun.

Pemerintah tentu akan melakukan berbagai cara untuk memulihkan keterpurukan ekonomi Indonesia di tengah pandemi ini. Terkait dengan konteks rencana pembangunan nasional, tahun ini Indonesia akan memasuki tahun pertama pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Pada pembangunan lima tahun ke depan akan difokuskan pada pembangunan berkualitas dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan, serta menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.

Strategi Pemerintah

Pada sektor ekonomi, pemerintah membentuk agenda untuk memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan berkualitas yang menitikberatkan pada peningkatan daya dukung dan kualitas sumber daya ekonomi berkelanjutan. Tidak hanya itu, pemerintah juga akan memperkuat pada peningkatan nilai tambah, memperluas lapangan pekerjaan, peningkatan kegiatan ekspor, dan memperluas daya saing ekonomi di skala global. Untuk mencapai rencana tersebut, Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional mengemukakan bahwa pembangunan akan dilaksanakan dengan efisiensi dalan penggunaan dana.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara memperkuat alokasi pendanaan pada program prioritas, memperbesar kapasitas pendanaan dengan cara memperbanyak kerja sama pemerintah dengan badan usaha serta masyarakat. Terlepas dari sistem pendanaan, strategi pemulihan dapat dilakukan di bidang pengelolaan dunia usaha. Cara ini dapat ditempuh dengan memperbaiki kemampuan pengelolaan baik sektor publik maupun swasta. Termasuk upaya untuk mengurangi intervensi pemerintah dan kegiatan-kegiatan yang kurang produktif lainnya. Dengan hal tersebut, perekonomian akan pulih secara perlahan.

Sinta Widianingrum
Mahasiswa Sampoerna University

Editor: Muhammad Fauzan Alimuddin

Baca Juga:
Keterpurukan Ekonomi Rumah Tangga di Indonesia pada Masa Pandemi Covid-19
Gentingnya Kependudukan, Lingkungan dan Ekonomi di Indonesia
Pengaruh Arus Globalisasi dalam Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya di Desa Kertamukti

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI