Perkembangan era digital membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi dan memperoleh informasi.
Saat ini, hampir semua informasi dapat diakses melalui gawai dan internet. Mulai dari berita politik, isu sosial, hiburan, hingga opini pribadi, semuanya bisa ditemukan dengan mudah di berbagai platform digital.
Kondisi ini membuat masyarakat, khususnya mahasiswa, perlu memiliki kemampuan berpikir logis dan kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.
Berpikir logis adalah kemampuan untuk memahami informasi secara runtut dan masuk akal berdasarkan fakta yang ada.
Sementara itu, berpikir kritis berarti mampu menganalisis, mengevaluasi, dan mempertanyakan informasi sebelum menerimanya sebagai kebenaran.
Di era digital, kedua kemampuan ini saling berkaitan dan sangat penting untuk dimiliki. Tanpa logika dan sikap kritis, pengguna media digital akan mudah percaya pada informasi yang bersifat menyesatkan atau manipulatif.
Salah satu permasalahan utama di era digital adalah maraknya penyebaran berita hoaks. Informasi palsu sering dikemas dengan tampilan yang menarik dan judul yang provokatif sehingga mudah menarik perhatian pembaca.
Banyak orang langsung membagikan informasi tersebut tanpa membaca isi secara menyeluruh atau mengecek sumbernya.
Hal ini menunjukkan rendahnya kebiasaan berpikir kritis dalam menggunakan media digital.
Mahasiswa sebagai generasi muda sekaligus agen perubahan seharusnya mampu bersikap lebih bijak dalam menghadapi informasi digital.
Dengan berpikir logis, mahasiswa dapat menilai apakah suatu informasi sesuai dengan fakta dan data yang jelas.
Dengan berpikir kritis, mahasiswa mampu membandingkan informasi dari berbagai sumber, memahami konteks, serta melihat tujuan di balik penyampaian suatu pesan digital.
Dalam dunia digital, kemampuan berpikir logis dan kritis juga berperan penting dalam proses komunikasi.
Saat menyampaikan pendapat di media sosial, mahasiswa perlu menyusun argumen yang jelas dan tidak didasarkan pada emosi semata.
Komentar yang asal dan tidak logis justru dapat memicu konflik dan kesalahpahaman. Oleh karena itu, berpikir sebelum berbicara atau menulis menjadi hal yang sangat penting.
Selain itu, era digital juga menghadirkan algoritma media sosial yang dapat membentuk sudut pandang pengguna.
Konten yang sering dilihat akan terus ditampilkan, sehingga seseorang bisa terjebak dalam satu sudut pandang tertentu.
Dengan berpikir kritis, mahasiswa dapat menyadari hal ini dan berusaha mencari informasi dari berbagai perspektif agar pemahamannya lebih luas dan tidak biasa.
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, kemampuan berpikir logis dan kritis merupakan modal dasar dalam memahami proses komunikasi di era digital.
Mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen media, tetapi juga calon komunikator yang bertanggung jawab.
Oleh sebab itu, kemampuan untuk memilah informasi, menganalisis pesan, dan menyampaikan pendapat secara logis menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan.
Kesimpulannya, berpikir logis dan berpikir kritis adalah bekal penting dalam menghadapi era digital yang penuh dengan arus informasi.
Mahasiswa perlu membiasakan diri untuk tidak langsung percaya pada informasi yang diterima, tetapi terlebih dahulu menganalisis dan memeriksa kebenarannya.
Dengan begitu, era digital dapat dimanfaatkan secara positif untuk meningkatkan pengetahuan, memperluas wawasan, dan membangun komunikasi yang sehat.
Penulis: Dava Raya Maulana (1152500127)
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













