Refleksi Pemuda Merdeka di Tengah Pandemi Covid-19

Pandemi
Refleksi Pemuda Merdeka di Tengah Pandemi Covid-19

Setiap tahun masyarakat dan pemuda Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus. Tepat 75 tahun silam (1945-2020), para pemimpin bangsa berkumpul untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia yang dibacakan oleh Ir. Soekarno dengan didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta di sebuah rumah hibah dari Faradj bin Said bin Awadh Martak di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Momentum tersebut tentunya mengingatkan betapa besarnya penghargaan terhadap perjuangan dan pengorbanan para tokoh-tokoh bangsa sebagai pejuang dalam meraih kemerdekaan di atas tanah sendiri.

Sejatinya peringatan hari kemerdekaan bukanlah sekadar peringatan biasa, melainkan peringatan peristiwa yang sarat makna akan perjuangan dan pengorbanan para pahlawan bangsa. Substansi inilah yang harus dipertahankan sebagai refleksi kemerdekaan. Kendati persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini masih jauh dari esensi kata kemerdekaan sesungguhnya. Persoalan-persoalan ketimpangan yang masih marak terjadi seperti krisis identitas pancasilais dari masyarakat hingga para pemimpin bangsa. Hal tersebut masih kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, pengangguran, perampokan, prostitusi dan patologi sosial lainnya.

Bencana Non-Alam

Situasi tersebut diperparah dengan kondisi bangsa hari ini yang dilanda bencana ‘non alam’ yakni wabah pandemi Coronavirus Disease (Covid-19). Sebagai suatu bangsa yang beriman kepada Tuhan sebagaimana terdapat pada sila pertama Pancasila. Tentunya meyakini bahwa bencana ini sebagai salah satu dari ulah perbuatan manusia. Kontemplasi bersama untuk bangkit dari musibah ini sangat diharapkan, agar bangsa Indonesia mampu melewati ujian pelik yang terjadi saat ini.

Semangat keimanan berdasarkan keyakinan masing-masing harus dimunculkan dalam pelbagai situasi yang terjadi saat ini. Dengan demikian memunculkan kekuatan penghayatan terhadap nilai-nilai ke-Tuhan-an (monoteisme) yang dijadikan sebagai napas setiap sanubari individu. Sehingga, perilaku yang ditopang oleh akal, moral dan nurani yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Sehingga implikasi setiap perbuatan yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemimpin birokrasi diharapkan menciptakan keadilan sosial, demi suatu peradaban yang lebih baik pada masa mendatang.

Negara dengan Bonus Demografi

Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar nomor 5 di dunia dengan populasi 268.583.016 jiwa (data per 30 Juni 2020). Hal ini merupakan modal bagi Bangsa Indonesia untuk membangun kekuatan yang lebih kuat. Selain itu, spirit gotong-royong berdasarkan filosofis bangsa dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika merupakan kekayaan yang tidak mudah digoyahkan oleh apapun. Ditambah lagi dengan meningkatnya jumlah usia produktif yang dapat dikatakan sebagai bonus demografi yang terjadi saat ini.

Meningkatnya usia produktif memiliki peranan penting sebagai regenerasi emas untuk menciptakan bangsa yang lebih baik. Pemuda adalah seseorang yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang kuat yaitu revolusioner, optimis, berpikir maju dan memiliki semangat yang tinggi. Dalam kaitannya dengan SDM, potensi dan kemampuannya, pemuda dapat menjadi agen perubahan (agen of change) yang memiliki pola pikir dinamis serta adaptif dengan perkembangan zaman apalagi di era globalisasi serba teknologi seperti saat ini.

Peran pemuda sangat dibutuhkan, mengutip ungkapan Bung Karno; “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda niscaya akan ku guncang dunia”. Ungkapan tersebut menunjukkan betapa besar peran pemuda dalam kemajuan bangsa. Seperti saat ini, seluruh bangsa di dunia tak terkecuali Bangsa Indonesia dihadapkan dengan tantangan besar yakni melawan wabah Covid-19. Hal ini turut menyadarkan pemuda sebagai garda terdepan untuk mengurangi dampak bencana Covid-19 terhadap komponen di berbagai sektor penopang bangsa seperti ekonomi, sosial, hukum, pendidikan, kesehatan, politik, dan sebagainya.

Pemuda Gerda Terdepan

Jika dilihat hari ini, pertanyaannya “betulkah pemuda menjadi garda terdepan sebagai pengejawantahan diri dengan segala potensi yang dimiliki untuk melawan berbagai krisis yang terjadi?”. Apalagi kita akan merayakan HUT Republik Indonesia ke-75, dimana perayaan tersebut terdapat makna filosofis bahkan dapat menjadi cambuk sendiri buat bangsa ini, bahwa kontradiktif filosofis sebagai esensi hari kemerdekaan Indonesia 1945 dengan perayaan 2020 hari ini dengan segala persoalan krisis yang menghantui.

Meskipun demikian, ‘angin segar’ bagi bangsa selalu ada selama pengejawantahan nilai-nilai Pancasila dijalankan dengan baik untuk bangkit dari segala ke-terpuruk-an dari segala sektor komponen baik hukum, ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, politik dan lain-lain. Pemuda memang sangat diharapkan perannya untuk membantu pemerintah dengan mengaktualkan nilai-nilai akademis mereka dalam menjawab krisis yang terjadi.

Era Globalisasi

Di era globalisasi yang semakin berkembang turut memudahkan aktivitas masyarakat khususnya para pemuda bangsa ini. Realitas saat ini menunjukkan banyak orang menikmati kehidupan serba santai dengan gaya hidup yang hedonis. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang seperti berpacaran, bermain game, menyemarakkan kehidupan malam sampai pagi tanpa menonjolkan nilai aksiologi, atau pola hidup lainnya yang berada di lingkungan kurang produktif. Prinsip demikian menunjukkan kurangnya disiplin pada potensi diri untuk dapat lebih produktif.

Bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri,. Melainkan asas kebermanfaatan untuk masyarakat pada umumnya terlebih makna filosofi ‘harga diri’ negeri ini yang penuh perjuangan. Untuk itu, di hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 sebagai pemuda penerus bangsa, marilah kita menjadikan momentum ini sebagai refleksi diri untuk bangkit dari segala keterpurukan. Terutama “mengecas ulang” daya juang sebagai gerakan nyata dengan mental heroik seperti para tokoh bangsa terdahulu. Selain itu, mampu berjuang melebihi tokoh-tokoh bangsa terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan dari penjajah, dengan meneladani semangat perjuangan para pejuang yang selalu berkobar kendati dalam situasi sesulit apapun. Selamat ulang tahun Republik Indonesia ke-75.

Hanafi
Mahasiswa IAIN Madura
Pengurus HMI Tarbiyah IAIN Madura

Editor: Lorensius Amon

Baca Juga:
Gerakan Tasik Atasi Corona: Bentuk Pengabdian Pemuda Pemudi di Tasikmalaya
IKAMI Talk, Sandiaga Uno: Milenial Harus jadi Solusi Bukan Jadi Masalah di Masa Pandemi
Penerapan Program Afiliasi Berbasis Virtual Grub dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sebagai Upaya Peningkatan Perekonomian pada Masa Covid-19

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI